
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Herman Priatna
Ada penyair yang menulis puisi untuk mengabadikan peristiwa. Ada pula yang menulis puisi untuk menyelamatkan sesuatu yang lebih rapuh: ingatan, cinta, kegelisahan, atau bahkan dirinya sendiri. Dalam Montase: Sepilihan Sajak, Heri Isnaini tampaknya berada di antara keduanya. Ia menulis tentang hujan, senja, rindu, kekasih, perjalanan, mitologi, tetapi di balik semua itu sesungguhnya ia sedang mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa aku dan ke mana aku mesti kembali?
Montase: Sepilihan Sajak diterbitkan CV Pustaka Humaniora pada Maret 2022. Buku setebal 133 + xiv halaman ini menghimpun pilihan puisi dari tujuh antologi Heri Isnaini yang ditulis dalam rentang 2015–2021. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan ulang, melainkan semacam rekaman perjalanan kepenyairan.
Dalam prolognya, Heri menyebut bahwa sajak-sajak itu dipilih berdasarkan tema dominan dari setiap antologi sekaligus mempertimbangkan respons pembaca, termasuk pembacaan puisi, musikalisasi, dan kajian ilmiah terhadap sejumlah sajaknya.
Di tangan Heri, puisi menjadi semacam ruang transit. Di sana cinta pernah singgah, hujan berkali-kali datang, kenangan duduk diam, sementara Tuhan perlahan-lahan menjadi tujuan perjalanan.
Hujan yang Tidak Pernah Sekadar Hujan
Membaca Montase berarti memasuki dunia yang sangat akrab dengan hujan. Kata itu hadir berkali-kali, bersama senja, gerimis, malam, beranda, rindu, dan penantian. Dalam “Bersama Hujan”, misalnya, hujan tidak hanya menjadi latar suasana, tetapi sekaligus membuka ingatan tentang kesendirian dan perjumpaan. Bahkan “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono sengaja dihadirkan sebagai jejak intertekstual.
Hujan kemudian berkembang menjadi semacam bahasa kedua bagi penyair. Ia dapat berarti kenangan, kesunyian, kerinduan, bahkan misteri keberadaan. Dalam “Meditasi Hujan”, Heri menulis tentang manusia sebagai kata dan air, tentang makna yang tidak pernah selesai dijelaskan. Hujan menjadi jalan untuk memasuki pertanyaan mengenai keberadaan manusia di dunia fana.
Di sinilah pembacaan terhadap Montase menjadi menarik. Hujan dalam buku ini bukan benda alam yang kebetulan turun dari langit. Hujan adalah perangkat kontemplasi. Prof. Aquarini Priyatna menangkap kecenderungan tersebut dengan cukup tajam. Dalam epilog, ia mencatat bahwa “hujan” muncul 48 kali, “cinta” 38 kali, “menunggu” 45 kali, dan “hati” 20 kali. Bagi Aquarini, cinta merupakan energi yang menggerakkan eksplorasi puitik Heri: cinta kepada kekasih, Tuhan, hujan, bahkan cinta itu sendiri.
Dengan demikian, hujan, cinta, dan menunggu sesungguhnya memiliki hubungan yang erat. Ketiganya merupakan bentuk pengalaman manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kuasanya. Orang yang mencintai akan menunggu. Orang yang menunggu akan mengingat. Orang yang mengingat akan bertanya. Dan dari pertanyaan itulah pencarian bermula.
Dari Kekasih Menuju Yang Dicintai
Pada lapisan awal, Montase terasa sangat romantik. Ada “Sekali Lagi Aku Jatuh Cinta”, “Aku Kangen”, “Soneta Tentangmu”, “Sajak Penantian”, “Kepada Kau Istriku”, dan sejumlah puisi lain yang berbicara tentang hubungan personal.
Namun romantisme Heri tidak berhenti pada hubungan antarmanusia. Perlahan-lahan, objek cintanya bergeser. “Kau” yang semula dapat dibaca sebagai kekasih kemudian menjelma “Engkau” yang transenden.
Pergerakan itu tampak jelas dalam bagian Manunggaling Kawula Gusti. Di sana terdapat “Salik”, “Kepada Tuhan”, “Aku Tidak Akan Berhenti MencariMu”, hingga “Warna”. Pada “Kepada Tuhan”, kesepian tidak lagi diselesaikan dengan kehadiran kekasih, melainkan dengan memanggil Tuhan. Sedangkan “Aku Tidak Akan Berhenti MencariMu” membawa pencarian itu ke tingkat yang lebih personal dan spiritual. Penyair mencari Tuhan melalui kitab suci, salat, zikir, huruf, kata, dan puisi. Bahkan ia mengaku lebih takut tidak menemukan Tuhan daripada takut terhadap ancaman atau kehilangan pahala.
Di titik ini, puisi tidak lagi sekadar menjadi ungkapan perasaan. Puisi berubah menjadi laku pencarian. Itulah yang membuat judul Montase terasa relevan. Sajak-sajak di dalamnya seperti kepingan-kepingan pengalaman yang perlahan disusun untuk menemukan gambar yang lebih utuh. Ada cinta di satu keping, kehilangan pada keping lain, mitologi pada bagian berikutnya, lalu doa dan pencarian Tuhan pada bagian yang lain.
Ketika Mitologi Masuk ke Dalam Puisi
Salah satu kekuatan Montase adalah keberanian Heri mempertemukan berbagai dunia. Islam, tasawuf, mitologi Jawa-Sunda, wayang, mantra, pengalaman personal, dan kehidupan modern tidak ditempatkan dalam ruang yang terpisah.
Dalam “Arjuna Berambut Putih”, misalnya, Arjuna dipertemukan dengan Jibril dan cahaya. Dalam “Jaran Goyang”, idiom mantra menjadi struktur permainan bunyi sekaligus daya magis puisi. Sementara “Asihan Arjuna” dan “Mantra Berdandan” memperlihatkan bagaimana tradisi mantra dan pengasihan ditransformasikan menjadi bahasa puitik modern.
Menariknya, tradisi tersebut tidak hadir sebagai ornamen budaya semata. Ia menjadi bagian dari pencarian identitas penyair. Dalam “Bukan Pingkan dan Matindas”, Heri bahkan mempertemukan Sapardi, Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan persoalan manusia yang “diperbudak teknologi”. Sementara “Mesin Riwayat” bergerak lebih jauh dengan permainan rima yang sangat kuat untuk menyentil persoalan sosial dan moral.
Di sini terlihat bahwa Heri tidak sepenuhnya ingin menjadi penyair romantik yang hanya berbicara tentang kekasih dan hujan. Ia juga sedang membangun ruang puitik Nusantara, tempat mitologi, spiritualitas, modernitas, dan pengalaman sehari-hari dapat saling berkelindan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pembacaan Rebecca Fanany terhadap Ritus Hujan, salah satu sumber utama Montase. Fanany melihat puisi Heri sebagai pertemuan antara metafora khas Nusantara dan pengalaman modern Indonesia. Tradisi lama tidak ditiru begitu saja, tetapi diolah kembali dalam bentuk puisi bebas.
Di Bawah Bayang-Bayang Sapardi
Pengaruh Sapardi Djoko Damono merupakan salah satu hal yang paling mudah dikenali dalam Montase. Hujan, kesederhanaan ungkapan, romantisme, kesunyian, dan suasana intim menjadi sejumlah pintu masuk yang memperlihatkan hubungan estetik tersebut.
Heri bahkan menulis beberapa “Sajak-Sajak Untuk Sapardi”. Dalam sajak-sajak itu, kekaguman tidak berhenti sebagai pemujaan. Sapardi justru menjadi semacam guru intertekstual yang memungkinkan Heri berdialog dengan tradisi puisi Indonesia modern.
Namun di sinilah tantangan kepenyairan Heri berada. Hujan, senja, rindu, gerimis, dan penantian merupakan wilayah yang sudah sangat ramai dalam puisi Indonesia. Jika tidak diolah lebih jauh, metafora-metafora tersebut mudah jatuh menjadi formula.
Untungnya, Heri memiliki modal lain: mitologi, mantra, spiritualitas, dan pengalaman Nusantara. Justru ketika unsur-unsur itulah bertemu dengan romantisme, suara kepenyairannya terasa lebih personal. Mungkin Heri belum perlu meninggalkan hujan. Yang diperlukan adalah membuat hujan itu semakin menjadi miliknya sendiri.
Puisi sebagai Jalan Pulang
Pada akhirnya, Montase dapat dibaca sebagai perjalanan dari luar menuju ke dalam. Penyair mula-mula memandang hujan. Lalu ia melihat kekasih. Ia mengingat masa lalu. Ia menunggu. Ia memasuki mitologi. Ia menyentuh mantra. Ia berhadapan dengan kesunyian. Setelah itu ia bertanya tentang dirinya sendiri. Dari sana ia mulai mencari Tuhan.
Perjalanan tersebut menjadikan Montase lebih dari sekadar antologi puisi. Buku ini merupakan arsip pencarian diri seorang penyair. Pencarian itu tidak selalu berlangsung dengan khusyuk. Kadang ia romantik, kadang jenaka, kadang penuh permainan kata, kadang berhadapan dengan mitologi, bahkan sesekali menyentuh kritik sosial.
Akan tetapi, seluruh jalan tersebut bermuara pada kegelisahan yang sama: bagaimana manusia memahami keberadaannya dan menemukan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Pada bagian akhir, Heri menulis “Warna” dengan ungkapan yang sangat ringkas: Tuhan sebagai pemilik warna, lalu repetisi “Hu” yang menutup sajak. Seolah-olah setelah perjalanan panjang melalui kata-kata, penyair akhirnya sampai pada sesuatu yang tidak lagi membutuhkan terlalu banyak kata.
Itulah paradoks puisi: semakin jauh seseorang berjalan melalui bahasa, semakin ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh bahasa. Montase mengajak pembaca berjalan ke sana.
Bagi pembaca yang menyukai puisi romantik, buku ini menawarkan hujan, cinta, dan rindu. Bagi pencinta sastra Nusantara, ada mantra dan mitologi. Bagi pembaca yang tertarik pada sastra sufistik, ada pencarian menuju Yang Transenden. Dan bagi siapa saja yang pernah bertanya tentang dirinya sendiri, buku ini menyediakan sebuah cermin.
Heri Isnaini tidak sekadar menulis puisi tentang perjalanan. Ia menjadikan puisi itu sendiri sebagai perjalanan. Dari hujan menuju rindu. Dari rindu menuju cinta. Dari cinta menuju kesunyian. Dari kesunyian menuju pencarian. Dan dari pencarian menuju sebuah kemungkinan paling purba dalam diri manusia: menemukan jalan pulang.











