
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Helmiana Agusteen
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.” Nampaknya, pernyataan ini masih sulit diwujudkan dalam kehidupan bangsa kita. Jangankan untuk menghargai sejarah bangsanya, untuk mau belajar sejarah pun masih mengalami berbagai kesulitan. Itulah yang mungkin saya rasakan sebagai seorang guru sejarah pada masa sekarang.
Belajar sejarah kadang dianggap gamon, alias “gagal move on”. Bahkan, ada yang menganggap belajar sejarah membuat mengantuk, membosankan, dan hanya berisi kumpulan tanggal, bulan, dan tahun. Akibatnya, pelajaran sejarah dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak penting karena hanya dipandang sebagai pelajaran hafalan. Di era digital seperti sekarang, belajar sejarah pun dianggap tidak terlalu penting karena berbagai aplikasi pintar telah bermunculan dan dapat diandalkan untuk mendapatkan jawaban. Aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai aplikasi lainnya semakin mudah digunakan oleh siswa.
Lantas, bagaimana dengan peran guru sejarah di zaman sekarang? Jika melihat kondisi dan kemajuan teknologi saat ini, mungkin peran guru sejarah semakin tersingkirkan karena tanpa guru sejarah pun siswa dapat mempelajari sendiri berbagai materi sejarah. Guru sejarah seolah-olah dipaksa bersaing dengan keadaan. Selain teknologi yang semakin canggih dalam bidang pengetahuan, bermunculan pula berbagai bimbingan belajar daring yang menawarkan kemudahan dalam memperoleh informasi dan materi pembelajaran.
Dengan demikian, apakah kita harus mundur atau bahkan beralih profesi dengan tidak lagi menjadi guru sejarah?
Menurut saya, tentu tidak.
Sepatutnya kita berbangga dengan kedudukan kita sebagai seorang guru, terlepas dari apa pun mata pelajaran yang kita ajarkan. Sehebat apa pun perkembangan zaman dan teknologi, sepatutnya hal tersebut tidak sampai menyingkirkan peran seorang guru karena pada dasarnya guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi.
Itulah yang sedang saya upayakan: tetap menghadirkan sosok guru sejarah di tengah-tengah siswa. Walaupun tidak sempurna dan masih memiliki banyak kekurangan, sebisa mungkin saya tetap hadir dan membawa pengalaman sejarah masa lalu untuk dihadirkan kembali kepada siswa. Sejarah tidak lagi hanya membicarakan tanggal, bulan, dan tahun, tetapi juga menghadirkan hikmah, nilai, pengalaman, serta berbagai pelajaran dari masa lalu sebagai bekal bagi kehidupan mereka di masa depan.
Salah satu hal yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk memosisikan dirinya pada masa ketika suatu peristiwa sejarah terjadi. Saya berusaha membiarkan mereka merasakan, meskipun secara tidak langsung, apa yang mungkin dialami oleh manusia pada masa tersebut. Selanjutnya, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan pendapat tentang apa yang akan mereka lakukan apabila berada dalam kondisi tersebut.
Dengan cara seperti itu, pembelajaran sejarah dapat menjadi ruang diskusi antara siswa dan guru. Siswa tidak hanya duduk mendengarkan cerita tentang masa lalu, tetapi juga diajak berpikir, bertanya, berpendapat, bahkan membayangkan dirinya berada di tengah-tengah peristiwa sejarah.
Walaupun metode ceramah sering dianggap monoton dan jadul, menurut saya ceramah merupakan metode yang tidak akan pernah benar-benar ditinggalkan dalam pembelajaran sejarah. Sejarah pada dasarnya adalah cerita tentang manusia. Karena itu, kemampuan seorang guru dalam bercerita tetap memiliki tempat penting. Yang perlu diubah bukan keberadaan ceramahnya, melainkan bagaimana guru menyampaikan cerita tersebut agar mampu menghidupkan imajinasi dan pemikiran siswa.
Di sinilah tantangan guru sejarah menjadi semakin besar. Guru tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengemas sejarah menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa. Peristiwa masa lalu harus mampu dihubungkan dengan persoalan masa kini. Ketika membicarakan perjuangan para pahlawan, misalnya, siswa tidak hanya diminta menghafalkan nama dan tanggal perjuangan, tetapi juga diajak bertanya: nilai apa yang dapat kita teladani dari perjuangan tersebut dalam kehidupan kita hari ini?
Sejarah seharusnya tidak berhenti sebagai cerita tentang masa lalu. Sejarah harus menjadi cermin untuk membaca masa kini dan menjadi bekal untuk menatap masa depan. Jika siswa memahami hal tersebut, sejarah tidak akan lagi terasa sebagai kumpulan tanggal yang harus dihafalkan untuk menghadapi ujian.
Teknologi sebenarnya bukan musuh bagi guru sejarah. Justru teknologi dapat menjadi alat yang membantu guru menghadirkan sejarah dengan cara yang lebih menarik. Foto-foto lama, film dokumenter, peta digital, arsip, museum virtual, rekaman pidato, hingga berbagai sumber digital dapat digunakan untuk membuat siswa lebih dekat dengan peristiwa sejarah.
Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu mengarahkan penggunaannya. Siswa mungkin dapat menemukan jawaban melalui mesin pencari atau aplikasi kecerdasan buatan, tetapi mereka tetap membutuhkan guru untuk mengajukan pertanyaan yang tepat. Mereka membutuhkan seseorang yang membantu membedakan informasi yang benar dan keliru, fakta dan opini, sumber yang kredibel dan informasi yang menyesatkan.
Di sinilah guru sejarah memiliki peran yang tidak mudah digantikan oleh teknologi. Guru bukan sekadar tempat siswa memperoleh jawaban, melainkan seseorang yang membantu siswa belajar mempertanyakan jawaban. Guru sejarah seharusnya mampu mengajarkan bahwa setiap peristiwa memiliki latar belakang, sebab, akibat, perspektif, dan konteks yang harus dipahami secara kritis.
Satu catatan penting menurut saya: terlepas dari kenyataan bahwa kita menjadi guru sejarah yang terkadang hampir diabaikan, janganlah lupa bahwa kita tetap seorang guru. Bahkan, lebih dari sekadar guru mata pelajaran, kita adalah guru kehidupan.
Selama manusia hidup, manusia akan menciptakan sejarah. Setiap pilihan, tindakan, perjuangan, keberhasilan, bahkan kegagalan akan menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Tugas kita adalah menjadi mentor bagi siswa agar mereka mampu menciptakan sejarah yang luar biasa dalam kehidupannya.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Islam mengenai kedudukan guru yang sangat mulia. Guru bukan hanya “pengajar”, tetapi juga pembimbing akhlak dan penerus tugas para nabi. Beberapa peran utama guru dalam Islam antara lain sebagai pengajar ilmu, pendidik akhlak, pembimbing jalan hidup, penanam adab, serta penjaga dan penyebar ilmu.
Karena itu, mengajar bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga ibadah. Ilmu yang diajarkan dan memberikan manfaat kepada orang lain dapat menjadi amal yang terus dikenang. Inilah salah satu alasan mengapa profesi guru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Nilai seorang guru tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi atau fasilitas yang digunakan dalam pembelajaran, tetapi oleh ketulusan dalam mendidik dan manfaat yang ditinggalkan dalam kehidupan peserta didiknya.
Saya menyadari bahwa menjadi guru sejarah pada zaman sekarang bukanlah perkara mudah. Kita berhadapan dengan siswa yang hidup dalam dunia yang serba cepat. Mereka dapat memperoleh informasi hanya dengan beberapa sentuhan jari. Mereka dapat bertanya kepada mesin kecerdasan buatan dan mendapatkan jawaban dalam hitungan detik. Namun, justru di tengah keadaan seperti itulah guru harus semakin menemukan makna kehadirannya.
Guru tidak perlu berlomba dengan teknologi dalam hal kecepatan memberikan informasi. Guru harus unggul dalam hal yang tidak mudah dilakukan oleh mesin: memahami manusia, membangun karakter, menumbuhkan empati, memberikan keteladanan, dan menemani siswa menemukan makna dari apa yang dipelajarinya.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa sejarah akan selalu memiliki tempat selama manusia masih membutuhkan pengalaman masa lalu untuk memahami kehidupannya. Guru sejarah mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi siswa, tetapi guru sejarah tetap dapat menjadi orang yang membantu mereka memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi, apa maknanya, dan bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan.
Jadi, jangan takut menjadi guru sejarah di zaman sekarang. Jangan merasa kalah hanya karena siswa memiliki teknologi yang lebih canggih. Kita tidak sedang berkompetisi dengan teknologi. Kita sedang mendampingi manusia agar mampu menggunakan teknologi dengan bijak.
Saya sendiri masuk ke dunia sejarah bukan karena sejarah merupakan cita-cita pertama saya. Jurusan Pendidikan Sejarah justru merupakan pilihan ketiga ketika mengikuti SNMPTN. Namun, setelah menjalani perjalanan ini, saya bersyukur karena Allah telah menuntun saya berada di jalan ini.
Kini, cita-cita saya dalam mengajar bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menyampaikan materi kehidupan sebagai bekal bagi murid-murid saya kelak.
Semoga setiap pelajaran yang saya sampaikan tidak hanya membuat mereka mengetahui masa lalu, tetapi juga membantu mereka menjadi manusia yang lebih baik pada masa depan.
Insyaallah.
Bionarasi
Helmiana Agusteen adalah guru sejarah di SMAN 2 Padalarang sejak tahun 2007. Ia merupakan lulusan Pendidikan Sejarah UPI tahun 2007. Masuk ke jurusan sejarah bukanlah cita-cita awalnya karena Pendidikan Sejarah merupakan pilihan ketiga ketika mengikuti SNMPTN. Namun, setelah menjalani profesi tersebut, ia bersyukur karena Allah telah menuntunnya ke jalan pendidikan. Baginya, mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi sejarah, tetapi juga memberikan bekal kehidupan kepada murid-muridnya agar mampu menjalani masa depan dengan lebih baik.











