
[Sumber gambar: Dokumentasi Yulia Herliani]
Penulis: Yulia Herliani
Ada orang yang datang kepada sastra untuk mencari profesi, ada yang datang untuk mencari pengakuan, dan ada pula yang menemukan di dalam sastra sebuah jalan untuk memahami dirinya sendiri. Bagi Heri Isnaini, sastra tampaknya berada di wilayah terakhir itu. Ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga meneliti, mengajar, mengedit, dan terus kembali kepada sastra sebagai ruang untuk mempertanyakan manusia, tradisi, bahasa, dan Tuhan.
Heri lahir di Subang, 17 Juni. Pendidikan formalnya memperlihatkan perjalanan yang konsisten di bidang bahasa dan sastra: Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia, Akta Mengajar di Universitas Islam Bandung, Sastra Kontemporer di Universitas Padjadjaran, kemudian Doktor Ilmu Sastra di universitas yang sama. Namun perjalanan itu tidak berhenti sebagai jenjang akademik. Ia berkembang menjadi pencarian intelektual yang mempertemukan tradisi, puisi, spiritualitas, filsafat, dan pendidikan.
Salah satu pintu awalnya adalah mantra. Skripsinya membahas Mantra Asihan: Struktur, Proses Penciptaan, Konteks Penuturan, dan Fungsi. Mantra mula-mula hadir sebagai objek penelitian, tetapi kemudian mengalami transformasi menjadi sumber estetik dalam kepenyairannya. Dalam Singlar Rajah Asihan, misalnya, pola-pola mantra, asihan, dan tradisi mengalami ejawantah baru dalam puisi modern. Pembaca Yostiani Noor Asmi Harini melihat kemampuan Heri mentransformasikan pola mantra ke dalam puisi modern sebagai salah satu ciri penting kepenyairannya.
Di sini terdapat sesuatu yang khas, yakni “Heri tidak sekadar meneliti tradisi; ia membawa tradisi itu kembali ke dalam penciptaan.” Perjalanan berikutnya bergerak menuju tasawuf. Tesisnya mengkaji gagasan tasawuf dalam kumpulan puisi Isyarat karya Kuntowijoyo. Perhatian terhadap maqamat, ahwal, suluk, dan perjalanan spiritual kemudian menemukan gema dalam puisi-puisinya sendiri. Sastra tidak hanya diperlakukan sebagai representasi pengalaman religius, tetapi sebagai kemungkinan untuk mengalami pencarian itu.
Hal tersebut tampak kuat dalam puisi “Aku Tidak Akan Berhenti MencariMu.” Di dalamnya, pencarian Tuhan bergerak melalui kitab, huruf, kata, salat, zikir, nabi-nabi, sajak, dan puisi. Bahasa menjadi tempat pencarian sekaligus pengingat bahwa Tuhan tidak pernah dapat sepenuhnya ditangkap oleh bahasa. Maka kata mencari menjadi penting dalam membaca Heri. Ia bukan penyair yang merasa telah sampai. Ia adalah penyair yang masih berjalan.
Perjalanan itu kemudian bertemu dengan Sapardi Djoko Damono. Disertasinya mengkaji konsep mistik Jawa dalam puisi-puisi Sapardi dan menemukan hubungan dengan sangkan paraning dumadi, memayu hayuning bawana, serta manunggaling kawula Gusti. Penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana puisi modern dapat menyimpan lapisan tradisi dan pandangan hidup yang jauh lebih tua.
Pengaruh Sapardi terasa pula dalam kedekatan Heri dengan hujan. Ritus Hujan, antologi pertamanya, menjadikan hujan bukan hanya benda alam, melainkan ruang metaforis tempat pengalaman, ingatan, cinta, dan spiritualitas bertemu. Rebecca Fanany melihat dalam karya tersebut pertemuan metafora Nusantara dengan pengalaman Indonesia modern.
Namun, Heri tidak berhenti pada Sapardi. Ia membawa hujan, alam, kesederhanaan, dan keseharian memasuki wilayah yang lebih dekat dengan mantra, tasawuf, mistisisme Jawa, dan pencarian spiritual. Jika Sapardi menemukan kedalaman dalam benda-benda sederhana, Heri mengembangkan kedalaman itu melalui kelindan tradisi dan spiritualitas.
Puncak penting dari perjalanan tersebut tampak dalam Manunggaling Kawula Gusti. Antologi ini terbagi menjadi tiga bagian: Mantra, Rasa, dan Cinta. Ketiganya dapat dibaca sebagai gerak dari tradisi menuju pengalaman batin, lalu menuju hubungan dengan Yang Transenden. Pembacaan terhadap buku tersebut menunjukkan bahwa jarak, kerinduan, cinta, dan pencarian menjadi bagian penting dari perjalanan puitiknya.
Di sini terdapat paradox, bahwa manunggal membutuhkan jarak. Manusia mencari justru karena ia belum memiliki. Ia merindukan karena ada sesuatu yang belum sepenuhnya berada dalam genggamannya. Dengan demikian, kerinduan bukan gangguan dalam perjalanan spiritual, melainkan tenaga yang membuat pencarian terus berlangsung.
Namun, Heri bukan hanya penyair dan peneliti. Ia juga pengajar. Riwayat pekerjaannya memperlihatkan pengalaman panjang di dunia pendidikan, dari beberapa sekolah menengah di Kota Bandung hingga banyak perguruan tinggi dan lembaga bimbingan belajar. Pengajaran kemudian menjadi ruang lain tempat pengetahuan kesastraannya bertransformasi.
Bagi seorang pengajar bahasa dan sastra, teks bukan sekadar bahan kuliah. Sastra dapat menjadi cara untuk melatih kepekaan: membaca bahasa, memahami manusia, mengenali kebudayaan, dan mempertanyakan kehidupan. Apa yang diperoleh Heri dari mantra, puisi, tasawuf, semiotika, filsafat, dan tradisi tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Ia dibawa ke ruang kelas dan diwariskan kepada mahasiswa.
Jika penyair menciptakan kata dan peneliti menguji makna, pengajar membantu generasi berikutnya menemukan kemungkinan makna itu. Ia tidak hanya menempuh jalan sastra; ia membagikan jalan tersebut. Di luar ruang kelas, Heri juga aktif membangun ekosistem pengetahuan melalui berbagai jurnal. CV akademiknya mencatat keterlibatan sebagai editor in chief, editor, reviewer, mitra bestari, peer reviewer, editorial board, hingga journal manager di berbagai jurnal Ilmiah. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa sastra bagi Heri tidak berhenti pada produksi karya. Ia juga ikut menjaga ruang tempat pengetahuan tentang sastra diproduksi, dinilai, dan diedarkan.
Ada perubahan posisi yang menarik: dahulu ia membaca Kuntowijoyo, Sapardi, dan mantra; kemudian ia menulis; setelah itu karya-karyanya sendiri mulai dibaca oleh peneliti lain melalui strukturalisme, stilistika, semiotika, hermeneutika, dan perspektif religius. Dengan demikian, perjalanan tersebut membentuk sebuah lingkaran, yaitu membaca → meneliti → menulis → mengajar → dibaca kembali. Di dalam lingkaran itu, identitas Heri sebagai penyair dan akademisi tidak perlu dipertentangkan. Ia justru saling menghidupi.
Lalu, kepada apa sebenarnya Heri Isnaini hendak pulang? Pertanyaan itu mungkin tidak memiliki satu jawaban. Ia dapat pulang kepada Subang sebagai ruang asal, kepada mantra sebagai ingatan kebudayaan, kepada puisi sebagai bahasa, kepada cinta sebagai pengalaman manusiawi, kepada tradisi sebagai sumber pengetahuan, kepada pendidikan sebagai ruang pewarisan, dan kepada Tuhan sebagai tujuan pencarian spiritual.
Akan tetapi, “pulang” dalam kepenyairan Heri bukanlah akhir perjalanan. Pulang justru merupakan kesadaran bahwa pencarian belum selesai. Montase: Sepilihan Sajak menghimpun karya-karya dari beberapa periode kepenyairannya. Dalam prolognya, Heri menyebut periode tersebut sebagai masa pematangan spiritualis-akademis dalam memaknai pengalaman dan peristiwa. Sajak-sajaknya berkelindan membangun kesadaran tentang kekuatan Tuhan.
Kalimat itu barangkali menjadi kunci untuk membaca keseluruhan perjalanan Heri Isnaini. Ia menulis untuk mengalami. Ia meneliti untuk memahami. Ia mengajar untuk membagikan. Ia mengedit untuk menjaga pengetahuan. Ia membaca untuk menemukan kemungkinan baru. Lalu, ia kembali menulis.
Sastra, dengan demikian, bukan sekadar profesi bagi Heri. Ia merupakan cara membaca dunia dan cara mengalami keberadaan. Dari mantra ia belajar tentang daya kata; dari tasawuf tentang perjalanan batin; dari mistisisme Jawa tentang asal-usul dan hubungan manusia dengan Yang Transenden; dari Sapardi tentang kemungkinan menghadirkan kedalaman melalui kesederhanaan; dari pengajaran tentang pentingnya membagikan pengetahuan; dan dari kehidupan dia berkontemplasi tentang cinta, rindu, hujan, kehilangan, ingatan, dan waktu.
Barangkali di situlah Heri Isnaini menemukan jalan pulangnya: bukan dengan meninggalkan sastra, melainkan dengan semakin jauh masuk ke dalamnya. Ia masih berjalan, masih mencari, masih menulis, masih mengajar. Sebab selama pencarian belum selesai, sastra akan selalu menyediakan jalan. Dan, di sanalah Heri Isnaini berada.
Bandung, 4 September 2026











