Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Cerpen

  • Bangku Paling Belakang

    Bangku Paling Belakang

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Wasman Nurjaman Pagi itu halaman SD Harapan masih basah oleh embun. Daun-daun ketapang di depan gerbang bergerak pelan diterpa angin, sementara suara sapu dari penjaga sekolah beradu dengan riuh anak-anak yang baru datang. Beberapa murid berlari kecil menuju kelas sambil membawa bekal, ada yang tertawa keras di dekat kantin, ada pula […]

    Continue Reading

  • Bau Kapur dan Sepatu Karet

    Bau Kapur dan Sepatu Karet

    [Sumber gambar: AI] Penulis:  Viona Septarania Putri Pagi itu langit masih pucat ketika Rendi berjalan menuju sekolah. Embun menempel di ujung-ujung rumput liar di pinggir jalan setapak, membuat sandal karetnya basah setiap kali ia melangkah terlalu dekat ke semak. Tas merah kusam di punggungnya bergoyang kecil mengikuti irama langkah yang sengaja diperlambat. Dari kejauhan suara […]

    Continue Reading

  • Elegi Siti dan Sapi

    Elegi Siti dan Sapi

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Mukidi Siti Fatimah jengkel bukan kepalang. Itu gara-gara adanya anak sapi milik Haji Maman yang kini disuruh dipelihara oleh Safei. Setelah adanya sapi itu perhatian Safei kepadanya sangat jauh berkurang. Kalau dulu mereka sering berduaan di tanggul selatan desa sambil membuat wayang-wayangan dari rumput. Tapi sekarang harus bertiga. Ditambah si anak […]

    Continue Reading

  • Aku Masih Seorang Guru

    Aku Masih Seorang Guru

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Heri Isnaini Hari ketika aku memutuskan meninggalkan sekolah itu, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa aku sedang menyerah. Pagi itu seperti pagi-pagi lainnya: halaman sekolah masih basah oleh embun, bendera merah putih menggantung setengah malas di tiang, dan anak-anak berlarian dengan tas yang hampir lebih besar dari tubuh mereka. Aku berdiri […]

    Continue Reading

  • Sepertiga Sabtu yang Tidak Pernah Menjadi Milikku

    Sepertiga Sabtu yang Tidak Pernah Menjadi Milikku

    [Sumber gambar: AI] Penulis: CP Ada hal-hal yang lebih mudah dilakukan dalam diam. Bara tahu itu sejak pertama kali ia menyadari bahwa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat setiap kali Nada masuk ke ruang kelas B1 di lantai dua gedung PGSD tempat yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian penting dari hidupnya. […]

    Continue Reading

  • Selamat Datang Bapak Pejabat

    Selamat Datang Bapak Pejabat

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Heri Isnaini Pagi itu kantor berubah seperti panggung sandiwara yang terlalu kentara dipoles. Karpet yang biasanya kusam mendadak merah menyala, entah dari mana datangnya. Dinding yang retak ditutup kain dekorasi. Bahkan tanaman plastik di sudut ruangan yang selama ini berdebu, kini disemprot air agar tampak “hidup.” Aku berdiri di dekat meja […]

    Continue Reading

  • Sajadah yang Mengingat Namaku Lebih Dulu

    Sajadah yang Mengingat Namaku Lebih Dulu

    [Sumber gambar: Dokumentasi penulis] Penulis: Asep Khoerul Koswara Aku pulang sebagai musim guguryang kehilangan pohon keyakinan,daun-doaku rontok sebelum sempat kupetik.Dunia telah memeras jiwakuseperti kain lusuh yang dipelintir tak bersisa,meninggalkan bau lelah dan dosa. Aku berjalan dengan iman pincang,menyeret langkah seperti bayangan tanpa cahaya.Di dada, sesal beranak-pinak,menjadi hujan asin yang tak selesai jatuh. “يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ […]

    Continue Reading

  • Berpegang pada Tali Kebenaran

    Berpegang pada Tali Kebenaran

    [Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/] Penulis: Wahyu Gumelar Ahyar Saputra  Dio melangkah pelan di koridor kampus tempat ia menimba ilmu, sebuah universitas ternama di kota Bandung. Tak ada yang istimewa dari penampilannya: kemeja sederhana, tas ransel hitam, dan langkah yang mantap. Namun bagi sebagian orang di sekitarnya, justru itulah yang membuatnya tampak berbeda. Sementara mahasiswa lain bersenda […]

    Continue Reading

  • Kopi dan Hujan

    Kopi dan Hujan

    [Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/] Penulis: Rizky Alfajri Syabany Hujan turun perlahan pada sore yang sunyi di kota kecil tempat Rara menetap. Dari balik jendela kamarnya, ia memandang jalan yang basah, melihat orang-orang berjalan tergesa, menutupi kepala dengan apa saja yang sempat diraih. Aroma tanah basah menguar lembut, menyusup melalui celah jendela yang dibiarkan terbuka—aroma yang selalu […]

    Continue Reading

  • Kobong, Luka, dan Kenangan yang Tak Pulang

    Kobong, Luka, dan Kenangan yang Tak Pulang

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Jenida Nurinda Dustriani Di masa pandemi COVID-19, ketika dunia terasa sunyi dan penuh ketakutan, saya justru menemukan kebersamaan yang tak terlupakan. Saya dan beberapa teman mengaji di dekat rumah saya, di sebuah kobong sederhana yang menjadi tempat kami berkumpul, menginap, dan menjalani hari-hari bersama. Di sana, kami seolah lupa bahwa di […]

    Continue Reading