
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Heri Isnaini
Pagi itu aku bangun sebelum azan subuh selesai. Dari kamar, suara air terdengar menetes di dapur. Barangkali keran belum tertutup sempurna. Suaranya teratur, jatuh ke dasar bak cuci piring, lalu menghilang di antara kesunyian rumah. Aku berbaring beberapa saat sambil mendengarkan bunyi itu. Di sebelahku, istriku masih tidur dengan selimut menutupi sebagian bahunya. Napasnya teratur. Sesekali tubuhnya bergerak kecil, seperti seseorang yang sedang berbicara dalam tidurnya.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun aku tidur di samping perempuan itu, tetapi pada pagi-pagi tertentu aku masih merasa sedang mengenalnya. Mungkin karena manusia memang tidak pernah selesai mengenal orang lain, bahkan orang yang setiap hari dilihatnya.
Aku bangun, mengambil wudu, lalu pergi ke masjid kecil di ujung gang. Udara masih dingin dan halaman rumah tetangga basah oleh embun. Beberapa orang tua berjalan dalam diam. Kami saling mengenal, tetapi pada waktu seperti itu tidak ada yang merasa perlu banyak berbicara.
Sepulang dari masjid, istriku sudah berada di dapur. Ia sedang membuat kopi. Aku duduk di beranda dan menunggu. Dari tempat itu aku dapat melihat pohon mangga yang tumbuh di tengah halaman. Pohon itu ditanam ketika anak pertama kami lahir. Waktu itu batangnya belum lebih besar daripada lenganku. Sekarang akarnya mulai mengangkat lantai teras dan cabang-cabangnya menyentuh kabel listrik.
Aku pernah ingin menebangnya. Istriku melarang. Akhirnya pohon itu tetap tumbuh, sementara anak-anak kami satu demi satu meninggalkan rumah. Begitulah waktu bekerja. Ia membesarkan pohon dan manusia dengan cara yang sama, tetapi tidak pernah memberi tahu kapan keduanya harus berpisah.
Istriku membawa kopi ke beranda dan duduk di sampingku. Kami tidak membicarakan apa-apa. Dari jalan terdengar suara pedagang sayur, kemudian suara motor yang melewati gang. Seekor burung hinggap di pagar, mematuk sesuatu di tanah, lalu terbang ke pohon mangga.
Aku memandang tangan istriku yang sedang memegang cangkir. Ada perubahan yang baru kusadari pagi itu. Kulitnya lebih tipis. Urat-urat di punggung tangannya mulai terlihat. Beberapa kuku jarinya memiliki garis putih. Tangan yang sama telah menyiapkan makanan untukku selama puluhan tahun, mengancingkan baju anak-anak, menyiram bunga, mencuci pakaian, dan sesekali menggenggam tanganku ketika kami berjalan.
Aku teringat sebuah larik yang pernah kutulis bertahun-tahun lalu: “Aku memahami kau juga adalah titipan” Dahulu larik itu kutulis sebagai ungkapan cinta. Pagi itu ia terasa seperti sesuatu yang lain. Sebuah peringatan. Aku tidak mengatakan apa-apa kepada istriku. Ia pun tidak tahu apa yang sedang kupikirkan.
Setelah sarapan aku membuka lemari tua di ruang kerja. Di dalamnya tersimpan buku-buku, surat, beberapa foto, dan kumpulan puisi yang sudah lama tidak kubaca. Aku mengambil satu buku yang sampulnya mulai pudar. Di halaman awal masih terdapat tanggal ketika buku itu pertama kali dicetak.
Aku membalik halaman demi halaman. Nama-nama lama muncul. Tempat-tempat yang sudah tidak ada. Orang-orang yang tidak lagi kukenal. Kemudian aku sampai pada puisi berjudul “Doa.” Aku membacanya perlahan.
“kata terbang beribu tahun
menggantung di sawangan
mengharap getarkan arsy”
Aku berhenti cukup lama. Ketika menulisnya dahulu, aku membayangkan doa sebagai kata yang bergerak menuju langit. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada Tuhan, lalu kubayangkan kata-kata itu terbang menembus awan, melewati cahaya, dan sampai kepada suatu tempat yang tidak dapat dijangkau manusia.
Sekarang aku tidak lagi membayangkan demikian. Semakin tua, aku semakin merasa bahwa doa tidak selalu bergerak ke atas. Kadang-kadang doa justru turun ke dalam kehidupan dalam bentuk yang tidak segera kita kenali. Ia turun sebagai kesempatan untuk bangun pada pagi hari. Sebagai tangan seseorang yang masih dapat kita genggam. Sebagai tubuh yang masih sanggup bersujud. Sebagai anak yang menelepon hanya untuk bertanya apakah kita sudah makan. Sebagai rumah yang masih memiliki suara. Aku menutup buku.
Dari dapur terdengar bunyi piring. Istriku sedang mencuci peralatan makan. Aku memandang ke arah sana dan tiba-tiba teringat bahwa aku hampir tidak pernah berdoa untuk hal-hal semacam itu. Aku berdoa untuk kesehatan, rezeki, keselamatan, keberhasilan, umur panjang. Aku berdoa ketika sakit, ketika anak-anak menghadapi ujian, ketika hendak bepergian, ketika seseorang yang kukenal berada di rumah sakit.
Akan tetapi, aku jarang berdoa agar diberi kemampuan menyadari bahwa seseorang yang sedang mencuci piring di dapur adalah anugerah. Mungkin karena manusia terlalu mudah menganggap sesuatu yang hadir setiap hari sebagai sesuatu yang pasti. Menjelang siang hujan turun. Aku duduk di beranda sementara istriku tidur. Hujan mengaburkan rumah-rumah di seberang jalan. Air mengalir dari talang dan jatuh ke halaman. Pohon mangga tampak lebih tua di bawah hujan.
Aku membuka kembali buku puisi itu. Di halaman lain kutemukan larik: “Kau adalah isyarat yang diberikan tuhan” Aku membaca kalimat itu beberapa kali. Kemudian memandang kamar tempat istriku tidur. Selama ini aku mengira isyarat Tuhan selalu datang melalui sesuatu yang besar. Peristiwa yang menggetarkan. Kejadian yang mengubah hidup. Mukjizat yang membuat manusia tidak dapat menyangkal.
Padahal mungkin Tuhan lebih sering berbicara melalui sesuatu yang sangat biasa. Melalui seseorang yang setiap pagi membuat kopi. Melalui suara pintu kamar dibuka. Melalui obat yang diletakkan di meja. Melalui pertanyaan sederhana tentang makan siang. Melalui pertengkaran kecil yang lima menit kemudian terlupakan. Melalui seseorang yang masih ada. Aku menutup buku.
Sore menjelang, Istriku keluar membawa dua cangkir teh dan duduk di sebelahku. Kami memandangi halaman yang basah karena hujan. Tidak banyak yang kami bicarakan. Sesekali ia menunjuk bunga yang patah terkena hujan. Aku membantunya memindahkan pot ke tempat yang lebih teduh. Setelah itu kami kembali duduk. Ia menyandarkan punggung pada kursi. Aku melihat wajahnya.
Untuk sesaat aku merasa seperti melihat perempuan yang pertama kali kukenal puluhan tahun lalu. Bukan karena wajahnya kembali muda, melainkan karena ingatanku sedang mempertemukan dua waktu sekaligus: perempuan yang dahulu berdiri di hadapanku dan perempuan yang sekarang duduk di sampingku. Aku menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar melihat proses seseorang menjadi tua.
Kami hanya hidup bersama, hari demi hari, sampai suatu pagi menemukan rambut yang memutih dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baru. Aku mengambil tangannya. Ia membiarkannya. Tidak ada kata-kata. Di meja, buku puisiku masih terbuka. Aku teringat larik lain: “Dalam setiap niat kusebut untukmu / dalam setiap gerak kuikrarkan namamu” Aku pernah menganggapnya sebagai kalimat tentang ibadah.
Sekarang aku membacanya sebagai sesuatu yang jauh lebih sederhana. Barangkali menyebut Tuhan tidak selalu berarti mengucapkan nama-Nya. Barangkali menyebut Tuhan adalah menyadari siapa yang memberi kita pagi, siapa yang membuat tubuh ini masih mampu bergerak, siapa yang menghadirkan seseorang ke dalam hidup kita, dan siapa yang kelak akan mengambil semuanya kembali.
Malam datang. Setelah makan, kami duduk di ruang tengah. Telepon dari anak-anak masuk satu per satu. Kami mendengarkan cerita mereka, tertawa pada beberapa bagian, kemudian menyimpan telepon ketika percakapan selesai. Rumah kembali tenang. Istriku mematikan televisi.
Aku mengambil buku puisi. “Masih dibaca?” tanyanya. Aku mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Aku membuka halaman “Demi Engkau” dan menemukan larik: “Puisiku adalah zikir yang dilantunkan / puisiku adalah doa yang disenandungkan” Aku membaca sampai selesai. Kemudian buku itu kututup. Aku tidak merasa perlu menulis apa-apa malam itu. Aku hanya duduk.
Di sampingku, istriku sedang melipat pakaian. Suara kain yang dilipat terdengar pelan. Di luar, hujan mulai turun lagi. Aku memandang tangannya. Kemudian wajahnya. Aku tiba-tiba merasa takut, tetapi bukan takut kehilangan. Lebih seperti takut tidak sempat menyadari betapa banyak hal telah diberikan kepadaku.
Aku pernah mengira doa adalah cara meminta agar Tuhan mempertahankan sesuatu. Malam itu aku memahami bahwa mungkin doa justru merupakan cara meminta agar kita tidak lupa bersyukur selama sesuatu itu masih berada di tangan kita.
Aku mengambil tangan istriku. Ia menoleh. Aku hanya tersenyum. Ia membalas senyum itu. Kami tidak mengatakan apa-apa. Hujan terus turun di luar rumah. Aku mendengarkan suara air di atas genting dan tiba-tiba teringat kepada ibuku, kepada masjid tempat aku belajar mengaji, kepada ayah yang dahulu selalu membangunkanku sebelum subuh, kepada anak-anak yang kini hidup jauh dari rumah, dan kepada perempuan yang duduk di sampingku malam itu.
Semuanya terasa seperti bagian dari satu perjalanan yang panjang. Aku tidak tahu ke mana ujungnya. Tetapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu mengetahuinya. Aku hanya perlu menjalaninya dengan baik. Sebelum tidur, aku berdiri di dekat jendela. Hujan telah berhenti.
Di halaman, pohon mangga bergoyang pelan. Air masih menetes dari ujung daunnya. Aku menengadah. Tidak ada yang kulihat selain langit yang gelap. Namun dalam hati aku mengucapkan sesuatu yang sangat sederhana: “Ya Tuhan, jangan jadikan aku terlalu sibuk meminta sehingga lupa melihat apa yang telah Engkau berikan.”
Aku kembali ke kamar. Istriku sudah berbaring. Aku mematikan lampu dan ikut berbaring di sampingnya. Tangannya mencari tanganku dalam gelap. Aku menggenggamnya. Malam terus berjalan. Dan untuk pertama kalinya aku merasa bahwa doa tidak selalu harus berupa kata-kata. Kadang-kadang ia hanya berupa dua tangan yang masih saling menggenggam, sementara waktu perlahan membawa keduanya menuju suatu tempat yang belum kami ketahui.
Bandung, 3 September 2026











