Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Cerpen

  • Lie dan Hujan Yang Belum Reda

    Lie dan Hujan Yang Belum Reda

    [Sumber gambar: Gemini AI] Penulis: Heri Isnaini Malam itu hujan tumpah. Di halte kecil dekat terminal, Rie duduk sendirian sambil memandangi jalan yang memantulkan cahaya lampu kota. Bajunya basah di bagian pundak. Sejak satu jam lalu ia belum beranjak, seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak yakin akan datang. Di saku jaketnya, ada surat […]

    Continue Reading

  • Petang di Tepi Senja

    Petang di Tepi Senja

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Heri Isnaini Ayahku meninggal pada hari Senin, ketika hujan pertama bulan Juni turun di kampung kami. Persis di tanggal yang sama dengan tanggal kelahiranku 27 tahun yang lalu. Ibu bilang, pagi itu ayah masih sempat pergi ke sawah seperti biasa. Memakai caping tua yang bagian pinggirnya mulai sobek, sarung cokelat yang […]

    Continue Reading

  • Guru yang Memotivasiku Menjadi Guru

    Guru yang Memotivasiku Menjadi Guru

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Nazwa Septyani Amanda Putri Dulu, di sebuah ruang kelas sederhana dengan bangku-bangku kecil yang berderit pelan saat digeser, aku mengenal sosok yang sampai sekarang masih lekat dalam ingatan. Kami memanggilnya Bu YYH. Ia adalah guru kelasku saat kelas satu dan dua SD, masa di mana segala sesuatu masih terasa baru dan […]

    Continue Reading

  • Bangku Paling Belakang

    Bangku Paling Belakang

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Wasman Nurjaman Pagi itu halaman SD Harapan masih basah oleh embun. Daun-daun ketapang di depan gerbang bergerak pelan diterpa angin, sementara suara sapu dari penjaga sekolah beradu dengan riuh anak-anak yang baru datang. Beberapa murid berlari kecil menuju kelas sambil membawa bekal, ada yang tertawa keras di dekat kantin, ada pula […]

    Continue Reading

  • Bau Kapur dan Sepatu Karet

    Bau Kapur dan Sepatu Karet

    [Sumber gambar: AI] Penulis:  Viona Septarania Putri Pagi itu langit masih pucat ketika Rendi berjalan menuju sekolah. Embun menempel di ujung-ujung rumput liar di pinggir jalan setapak, membuat sandal karetnya basah setiap kali ia melangkah terlalu dekat ke semak. Tas merah kusam di punggungnya bergoyang kecil mengikuti irama langkah yang sengaja diperlambat. Dari kejauhan suara […]

    Continue Reading

  • Elegi Siti dan Sapi

    Elegi Siti dan Sapi

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Mukidi Siti Fatimah jengkel bukan kepalang. Itu gara-gara adanya anak sapi milik Haji Maman yang kini disuruh dipelihara oleh Safei. Setelah adanya sapi itu perhatian Safei kepadanya sangat jauh berkurang. Kalau dulu mereka sering berduaan di tanggul selatan desa sambil membuat wayang-wayangan dari rumput. Tapi sekarang harus bertiga. Ditambah si anak […]

    Continue Reading

  • Aku Masih Seorang Guru

    Aku Masih Seorang Guru

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Heri Isnaini Hari ketika aku memutuskan meninggalkan sekolah itu, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa aku sedang menyerah. Pagi itu seperti pagi-pagi lainnya: halaman sekolah masih basah oleh embun, bendera merah putih menggantung setengah malas di tiang, dan anak-anak berlarian dengan tas yang hampir lebih besar dari tubuh mereka. Aku berdiri […]

    Continue Reading

  • Sepertiga Sabtu yang Tidak Pernah Menjadi Milikku

    Sepertiga Sabtu yang Tidak Pernah Menjadi Milikku

    [Sumber gambar: AI] Penulis: CP Ada hal-hal yang lebih mudah dilakukan dalam diam. Bara tahu itu sejak pertama kali ia menyadari bahwa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat setiap kali Nada masuk ke ruang kelas B1 di lantai dua gedung PGSD tempat yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian penting dari hidupnya. […]

    Continue Reading

  • Selamat Datang Bapak Pejabat

    Selamat Datang Bapak Pejabat

    [Sumber gambar: AI] Penulis: Heri Isnaini Pagi itu kantor berubah seperti panggung sandiwara yang terlalu kentara dipoles. Karpet yang biasanya kusam mendadak merah menyala, entah dari mana datangnya. Dinding yang retak ditutup kain dekorasi. Bahkan tanaman plastik di sudut ruangan yang selama ini berdebu, kini disemprot air agar tampak “hidup.” Aku berdiri di dekat meja […]

    Continue Reading

  • Sajadah yang Mengingat Namaku Lebih Dulu

    Sajadah yang Mengingat Namaku Lebih Dulu

    [Sumber gambar: Dokumentasi penulis] Penulis: Asep Khoerul Koswara Aku pulang sebagai musim guguryang kehilangan pohon keyakinan,daun-doaku rontok sebelum sempat kupetik.Dunia telah memeras jiwakuseperti kain lusuh yang dipelintir tak bersisa,meninggalkan bau lelah dan dosa. Aku berjalan dengan iman pincang,menyeret langkah seperti bayangan tanpa cahaya.Di dada, sesal beranak-pinak,menjadi hujan asin yang tak selesai jatuh. “يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ […]

    Continue Reading