Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dari Dongeng Masa Kecil hingga Profesor Sastra: Pelajaran dari Prof. Yulianeta

[Sumber gambar: Dokumentasi Prof. Yulianeta]

Penulis: Heri Isnaini

Barangkali tidak ada yang menyangka bahwa sebuah dongeng yang diceritakan sebelum tidur dapat ikut menentukan jalan hidup seseorang. Pada mulanya ia hanya cerita: suara orang tua yang mengalir di ruang rumah, tokoh-tokoh yang datang membawa keajaiban, konflik yang sederhana, dan akhir cerita yang membuat seorang anak percaya bahwa dunia, betapapun rumitnya, masih menyimpan kemungkinan tentang kebaikan. Anak-anak mendengarkannya tanpa berpikir bahwa kelak cerita semacam itu dapat menjadi pintu menuju dunia yang jauh lebih luas.

Namun, bagi sebagian orang, cerita tidak pernah benar-benar selesai ketika kalimat terakhir diucapkan. Ia tinggal di dalam ingatan, tumbuh menjadi rasa ingin tahu, lalu perlahan-lahan menjelma menjadi jalan hidup.

Saya kira perjalanan Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. dapat dibaca dari kemungkinan sederhana itu. Jauh sebelum namanya dikenal sebagai Guru Besar Sosiologi Sastra di Universitas Pendidikan Indonesia, sebelum berbagai penelitian, buku, artikel ilmiah, dan jabatan akademik melekat dalam perjalanan hidupnya, ia adalah seorang anak yang tumbuh bersama cerita, bacaan, dongeng, wayang, ketoprak, dan puisi. Pengalaman-pengalaman sederhana itulah yang kemudian menjadi benih kecintaan terhadap sastra.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan semacam ini. Kita sering mengenal seorang profesor dari ujung perjalanannya, yaitu gelar akademik, ruang kerja, jabatan, publikasi, penelitian, dan berbagai capaian yang membuat namanya tampak begitu jauh dari kehidupan sehari-hari. Kita lupa bahwa sebelum menjadi profesor, ia pernah menjadi seorang anak yang mungkin hanya ingin tahu bagaimana sebuah cerita berakhir. Sebelum membaca teori tentang sastra, ia pernah menikmati cerita sebagai pembaca. Sebelum mengajarkan sastra kepada mahasiswa, ia pernah belajar mencintai sastra dari pengalaman yang sangat manusiawi. Mungkin justru di situlah seorang guru bermula: โ€œDari rasa ingin tahu.โ€

Sastra yang Tidak Pernah Sekadar Cerita

Kecintaan terhadap sastra kemudian membawanya menempuh pendidikan di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma, melanjutkan magister di Universitas Negeri Malang, kemudian menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada. Perjalanan akademik tersebut mengantarkannya pada kajian yang kemudian menjadi salah satu jejak penting dalam pemikirannya, yakni persoalan ideologi genderdalam novel Indonesia era Reformasi.

Di tangan seorang peneliti, novel tidak lagi sekadar cerita yang selesai ketika halaman terakhir dibaca. Novel dapat menjadi semacam cermin tempat masyarakat melihat dirinya sendiri, termasuk bagian-bagian yang selama ini disembunyikan di balik kebiasaan, tradisi, dan sesuatu yang dianggap sebagai kewajaran.

Melalui karya sastra, kita dapat menemukan bagaimana perempuan dan laki-laki ditempatkan dalam relasi sosial, bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana sebuah nilai diwariskan, dan bagaimana ketidakadilan kadang-kadang dapat diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Sebab itu, pertanyaan seorang peneliti sastra tidak berhenti pada siapa tokohnya, apa konfliknya, atau bagaimana cerita berakhir. Pertanyaannya dapat bergerak lebih jauh, seperti mengapa tokoh itu digambarkan demikian? Nilai apa yang sedang bekerja di balik sebuah cerita? Siapa yang memiliki suara dan siapa yang justru dibuat diam?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membawa Prof. Yulianeta pada kajian patriarki, familialisme, ibuisme, seksisme, dan hegemoni ideologi gender dalam karya sastra Indonesia. Dengan demikian, sastra baginya tidak pernah menjadi ruang yang terpisah dari kehidupan. Sastra adalah kehidupan yang dipantulkan kembali melalui bahasa. Ia memungkinkan kita melihat masyarakat dari sudut yang berbeda, bahkan kadang-kadang membuat kita mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya kita anggap biasa. Membaca sastra, dengan demikian, berarti belajar membaca manusia.

Mengajar Tanpa Menggurui

Ada satu pandangan Prof. Yulianeta yang menurut saya sangat layak direnungkan oleh para guru. Ia melihat karya sastra sebagai salah satu bentuk pendidikan yang mampu mengajarkan tanpa menggurui, mendidik tanpa memerintah, dan memberikan contoh tanpa harus secara eksplisit menunjuk. Kalimat ini sederhana, tetapi menyimpan gagasan pendidikan yang dalam.

Kita sering kali terlalu sibuk mengatakan kepada anak-anak apa yang harus mereka lakukan. Kita mengajarkan kejujuran, kesantunan, keberanian, kepedulian, penghormatan terhadap orang lain, dan berbagai nilai kehidupan melalui nasihat. Semuanya tentu saja penting. Namun, manusia tidak selalu tumbuh karena diberi nasihat. Ada kalanya seseorang justru belajar lebih dalam ketika ia menemukan sendiri makna sebuah pengalaman. Sastra bekerja di wilayah itu.

Ketika seorang anak membaca kisah tentang seseorang yang kehilangan sesuatu karena keserakahannya, ia tidak selalu membutuhkan ceramah panjang tentang buruknya keserakahan. Cerita telah memperlihatkan akibatnya. Ketika ia mengikuti perjalanan seorang tokoh yang tetap memilih menolong meskipun dirinya sendiri sedang berada dalam kesulitan, ia mungkin menemukan arti ketulusan tanpa pernah diberi definisi tentang apa itu ketulusan. Cerita tidak memaksa seseorang untuk menjadi baik. Ia hanya memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan kehidupan. Selebihnya, pembacalah yang menyelesaikan pendidikan itu di dalam dirinya sendiri.

Barangkali itulah salah satu keistimewaan sastra dalam pendidikan. Ia tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga mengajarkan cara memahami manusia lain. Melalui tokoh-tokoh yang sebenarnya tidak pernah kita temui, kita belajar merasakan penderitaan orang lain. Melalui konflik yang tidak pernah kita alami, kita belajar memahami pilihan yang mungkin berbeda dari pilihan kita sendiri. Sastra, pada akhirnya, menjadi latihan empati. Dan guru sastra tidak hanya mengajarkan tema, alur, penokohan, atau majas. Ia membantu peserta didik menemukan manusia di balik kata-kata.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kepemimpinan

Perjalanan Prof. Yulianeta tidak berhenti sebagai dosen dan peneliti. Dari ruang kelas, pengabdiannya perlahan berkembang ke ruang pengelolaan pendidikan tinggi. Di Universitas Pendidikan Indonesia, ia dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab akademik dan kepemimpinan yang secara bertahap memperluas cara pandangnya tentang pendidikan, dari lingkup departemen, program studi, hingga fakultas.

Langkah tersebut dimulai ketika ia dipercaya sebagai Sekretaris Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada 2016โ€“2019. Dalam posisi ini, ia berhadapan langsung dengan berbagai persoalan pengelolaan akademik di tingkat departemen. Koordinasi, administrasi akademik, pengembangan pembelajaran, serta komunikasi dengan berbagai pihak menjadi bagian dari kesehariannya. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman bahwa pendidikan tinggi tidak hanya dibangun melalui gagasan-gagasan besar, tetapi juga melalui kerja-kerja akademik yang sering kali berlangsung di balik layar.

Pengalaman itu kemudian berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada 2019โ€“2021. Tanggung jawabnya pun berkembang. Jika sebelumnya ia terlibat dalam koordinasi di tingkat departemen, sebagai ketua program studi ia harus melihat pendidikan secara lebih utuh: bagaimana kurikulum dikembangkan, bagaimana pembelajaran diselenggarakan, bagaimana dosen dan mahasiswa didampingi, serta bagaimana program studi merespons kebutuhan masyarakat dan perubahan dunia pendidikan.

Dari program studi, lingkup tanggung jawabnya kemudian meluas ke tingkat fakultas. Pada 2021โ€“2025, ia dipercaya sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FPBS UPI. Posisi ini membawanya pada pengalaman mengelola persoalan akademik dalam spektrum yang lebih luas, dengan beragam program studi, karakter dosen, kebutuhan mahasiswa, serta tuntutan pengembangan kelembagaan. Di sinilah pengalaman sebagai pengajar, peneliti, dan pengelola akademik bertemu dan saling melengkapi.

Sejak 2025 hingga 2030, ia kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu FPBS UPI. Peran ini membawa tanggung jawab yang semakin strategis. Pendidikan bukan hanya soal bagaimana proses pembelajaran berlangsung, tetapi juga bagaimana mutu dijaga secara berkelanjutan, bagaimana sistem dikembangkan, dan bagaimana fakultas memastikan bahwa lulusan yang dihasilkan tetap relevan dengan perubahan kebutuhan zaman.

Jika dilihat sebagai sebuah perjalanan, rangkaian tanggung jawab tersebut bukan sekadar perpindahan jabatan. Ada proses bertahap dari mengelola pekerjaan akademik, memimpin program studi, mengoordinasikan akademik di tingkat fakultas, hingga ikut memastikan arah dan mutu pendidikan secara lebih luas. Setiap tahap memberikan pengalaman baru sekaligus memperluas perspektifnya tentang apa yang sesungguhnya dibutuhkan sebuah lembaga pendidikan untuk terus bertumbuh.

Sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Sastra di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI, perjalanan tersebut mempertemukan dua dunia yang sejak awal menjadi bagian penting dari kehidupannya: dunia keilmuan dan dunia pengelolaan pendidikan. Pengalaman sebagai akademisi membuatnya dekat dengan proses belajar, penelitian, dan perkembangan ilmu pengetahuan; sementara pengalaman kepemimpinan memberinya kesempatan untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas, sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan dosen, mahasiswa, kurikulum, tata kelola, mutu, dan perubahan sosial.

Di titik inilah makna kepemimpinan menjadi lebih dari sekadar posisi struktural. Memimpin pendidikan berarti memahami bahwa keputusan yang dibuat di ruang rapat pada akhirnya akan kembali kepada pengalaman belajar mahasiswa di ruang kelas. Karena itu, kebijakan akademik, sistem penjaminan mutu, pengembangan dosen, maupun berbagai bentuk inovasi pendidikan idealnya tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi bermuara pada satu tujuan: menciptakan pendidikan yang bermutu, relevan, dan bermakna bagi mahasiswa.

Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks karena mahasiswa hari ini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak lagi hanya belajar dari buku, jurnal, dan ruang kuliah. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, video pendek, gim, kecerdasan buatan, serta beragam bentuk kebudayaan digital. Cara mereka membaca berubah. Cara mereka menulis berubah. Bahkan pengertian tentang teks, literasi, pengetahuan, dan proses belajar pun terus mengalami pergeseran.

Perubahan itu menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya mempertahankan apa yang sudah berjalan baik, tetapi juga berani bertanya: pendidikan seperti apa yang dibutuhkan generasi yang sedang tumbuh di tengah perubahan tersebut?

Bagi seorang akademisi sastra, pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang asing. Sastra sejak lama mengajarkan bagaimana membaca perubahan manusia dan masyarakat melalui bahasa, cerita, tokoh, konflik, dan berbagai tanda kebudayaan. Kemampuan membaca teks pada akhirnya juga merupakan kemampuan membaca zaman.

Karena itu, perjalanan Prof. Yulianeta dari ruang kelas ke ruang kepemimpinan bukanlah perjalanan meninggalkan dunia akademik. Justru sebaliknya, kepemimpinan menjadi ruang yang lebih luas untuk membawa nilai-nilai akademik, ketekunan dalam berpikir, keterbukaan terhadap perubahan, keberanian berinovasi, dan keberpihakan pada kualitas Pendidikan ke dalam kehidupan kelembagaan.

Ruang kelas tetap menjadi titik berangkatnya. Hanya saja, kini ruang itu telah meluas. Dari mendampingi mahasiswa belajar, ia turut mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan lebih banyak mahasiswa dan dosen untuk belajar, berkembang, dan menemukan masa depan pendidikan yang lebih baik.

Ketika Cerita Rakyat Menyeberangi Batas

Yang membuat perjalanan intelektual Prof. Yulianeta semakin menarik adalah bahwa perhatiannya tidak berhenti pada novel dan persoalan gender. Kajian dan aktivitas akademiknya juga bergerak ke wilayah cerita rakyat, literasi budaya, pembelajaran sastra, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), hingga sastra dan kebudayaan dalam konteks yang lebih luas.

Cerita rakyat, misalnya, dapat ditempatkan sebagai bahan pengayaan literasi budaya bagi pembelajar BIPA. Sebuah cerita yang dahulu mungkin hanya hidup dalam ingatan masyarakat tertentu dapat menemukan kehidupan baru di ruang pembelajaran dan bahkan menjadi jembatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.

Di sini cerita rakyat memperoleh kehidupan kedua. Ia tidak lagi hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi menjadi bahan pembelajaran bahasa, pintu masuk kebudayaan, dan cara untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat membangun ingatan kolektifnya.

Saya kira inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan Prof. Yulianeta bahwa sesuatu yang lama tidak selalu harus ditinggalkan agar kita dapat menjadi modern. Justru yang lama sering kali perlu dibaca kembali agar kita tidak kehilangan arah ketika bergerak menuju masa depan.

Kita boleh mengenal begitu banyak cerita dari berbagai penjuru dunia. Anak-anak kita boleh menyukai anime, film, gim, komik, dan berbagai kebudayaan populer global. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang perlu kita pastikan adalah mereka tidak menjadi generasi yang mengenal dunia dari layar, tetapi asing terhadap cerita yang lahir dari tanah tempat mereka berpijak. Sebab ketika sebuah masyarakat kehilangan ceritanya, ia bukan hanya kehilangan hiburan. Ia berpotensi kehilangan cara untuk mengingat dirinya sendiri.

Profesor yang Terus Menjadi Pembelajar

Ada paradoks kecil dalam gelar profesor. Ketika seseorang telah mencapai jabatan akademik tertinggi, orang-orang sering menganggap bahwa perjalanan belajarnya telah selesai. Padahal, justru pada titik itulah seorang akademisi semestinya semakin menyadari bahwa pengetahuan tidak pernah selesai. Perjalanan Prof. Yulianeta memperlihatkan hal tersebut.

Menjadi profesor baginya bukanlah titik akhir, melainkan kesempatan untuk melihat dunia akademik dari perspektif yang lebih luas. Dari sosiologi sastra, kajiannya berkembang menuju persoalan gender dan ideologi; dari novel menuju cerita rakyat; dari sastra menuju budaya; dari pembelajaran sastra menuju BIPA; dan dari warisan kebudayaan menuju persoalan-persoalan kontemporer yang bersentuhan dengan dunia digital dan internasionalisasi Bahasa Indonesia.

Namun, yang membuat perjalanan itu terus bergerak bukan semata-mata karena banyaknya bidang yang dipelajari. Ada sesuatu yang lebih sederhana dalam kesehariannya: ia tetap senang belajar.

Menulis, meneliti, membaca, berdiskusi, mengikuti perkembangan ilmu, menghadiri forum akademik, bertemu dengan peneliti dari berbagai negara, mencoba pendekatan baru, hingga mengembangkan gagasan menjadi karya merupakan bagian dari kesehariannya sebagai akademisi. Ia tidak berhenti menulis setelah menjadi profesor. Justru menulis menjadi salah satu cara untuk terus berpikir, menguji gagasan, dan memahami kembali apa yang selama ini diyakininya.

Penelitian pun demikian. Baginya, penelitian bukan hanya kewajiban akademik atau cara menghasilkan publikasi. Penelitian adalah cara untuk tetap memiliki rasa ingin tahu. Ada pertanyaan yang harus dicari jawabannya, ada fenomena yang perlu dipahami, ada pengalaman masyarakat yang perlu didengarkan, dan ada pengetahuan yang mungkin belum pernah dilihat dari sudut pandang tertentu.

Barangkali karena itu pula ia tetap merasa nyaman duduk bersama mahasiswa. Dalam diskusi, bimbingan, penelitian, maupun berbagai kegiatan akademik, batas antara yang mengajar dan yang belajar tidak selalu setegas yang dibayangkan. Ada saat ketika ia menjelaskan, tetapi ada pula saat ketika pertanyaan mahasiswa justru membuatnya berpikir kembali. Ada gagasan yang datang dari pengalaman panjang, tetapi ada juga gagasan baru yang lahir dari percakapan dengan generasi yang lebih muda.

Duduk bersama mahasiswa, mendengarkan cara mereka melihat dunia, mengikuti bahasa dan kebiasaan generasi mereka, bahkan memahami cara mereka menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan, menjadi bagian dari proses belajar yang tidak kalah penting. Sebab mahasiswa bukan hanya penerima pengetahuan. Mereka juga membawa pengalaman, pertanyaan, dan cara pandang baru yang dapat memperkaya seorang dosen.

Di sanalah mungkin letak salah satu hal yang paling penting dalam menjadi guru: kesediaan untuk tidak selalu menjadi orang yang paling tahu.

Seorang guru memang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih panjang, tetapi itu tidak berarti ia memiliki semua jawaban. Ada kalanya guru perlu berhenti sejenak, mendengarkan, dan berkata dalam hati, mungkin ada sesuatu yang belum saya pahami. Sikap semacam itu membuat ruang kelas tidak menjadi tempat satu arah, melainkan ruang perjumpaan. Guru membawa pengalaman; mahasiswa membawa pertanyaan. Keduanya bertemu dan sama-sama bergerak menuju pemahaman.

Karena itu, bagi Prof. Yulianeta, menjadi akademisi tampaknya bukan hanya tentang mencapai suatu posisi, melainkan tentang menjaga agar rasa ingin tahu tetap hidup. Terus menulis agar pikiran tidak berhenti bergerak. Terus meneliti agar pertanyaan tidak kehilangan tempat. Terus berkarya agar pengetahuan dapat menemukan bentuk baru. Dan terus duduk bersama mahasiswa agar proses belajar tidak berubah menjadi sesuatu yang terlalu jauh dari kehidupan nyata.

Ada kesinambungan di dalam semua itu. Masa lalu tidak ditinggalkan ketika masa depan datang. Manuskrip lama dapat berbicara kepada generasi digital. Cerita rakyat dapat menemukan kehidupan baru dalam bentuk visual. Sastra dapat berdialog dengan persoalan gender, budaya, pendidikan, teknologi, bahkan dengan dunia global. Pengetahuan lama tidak harus disimpan sebagai sesuatu yang beku; ia dapat dibaca kembali, ditafsirkan kembali, dan dihidupkan kembali dalam konteks yang baru.

Barangkali itulah yang membuat seorang guru tetap relevan. Bukan karena ia mengetahui segala sesuatu, melainkan karena ia tidak berhenti bertanya. Guru yang berhenti belajar perlahan-lahan akan menjadi museum bagi pengetahuannya sendiri. Ia mungkin masih menyimpan banyak hal, tetapi pengetahuannya tidak lagi bergerak. Sebaliknya, guru yang terus belajar akan selalu memiliki kemungkinan untuk menemukan sesuatu yang baru, bahkan dari sesuatu yang telah lama dikenalnya.

Pada akhirnya, gelar profesor mungkin memang menandai pencapaian akademik tertinggi. Tetapi bagi seorang pembelajar, ia bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi pengingat bahwa semakin luas pengetahuan yang dimiliki, semakin panjang pula daftar hal yang belum diketahui.

Dan mungkin, di situlah perjalanan seorang guru sesungguhnya: tetap berjalan, tetap bertanya, tetap menulis, tetap meneliti, tetap berkarya, dan tetap bersedia duduk bersama mahasiswa untuk belajar, lagi dan lagi.

Cerita yang Tinggal

Sebuah dongeng dapat menjadi awal kecintaan terhadap sastra. Kecintaan terhadap sastra melahirkan kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca melahirkan pertanyaan. Pertanyaan membawa seseorang pada penelitian. Penelitian melahirkan pengetahuan. Dan pengetahuan, ketika dibagikan melalui pendidikan, kembali kepada manusia dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya.

Bukankah di situlah hakikat seorang guru? Ia mungkin tidak selalu menyaksikan hasil dari apa yang diajarkannya. Ia mungkin tidak tahu ke mana sebuah kalimat yang pernah disampaikannya akan pergi. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa buku yang pernah direkomendasikannya kepada seorang mahasiswa kelak menjadi bacaan yang mengubah cara mahasiswa itu melihat dunia.

Namun, pendidikan memang sering bekerja seperti itu: diam-diam, perlahan-lahan, tanpa banyak suara. Seperti dongeng yang diceritakan seorang ibu kepada anaknya pada malam hari. Cerita selesai. Anak itu tidur. Lampu dipadamkan. Rumah menjadi sunyi. Namun, sesuatu dari cerita tersebut mungkin tetap tinggal di dalam pikirannya, bahkan ketika ia sudah dewasa dan lupa siapa yang pertama kali menceritakannya.

Begitu pula seorang guru. Ia mungkin lupa apa yang pernah dikatakannya bertahun-tahun lalu. Tetapi murid-muridnya mungkin masih mengingat satu kalimat, satu buku, satu pertanyaan, atau satu cara pandang yang pernah dibawanya ke dalam kelas. Sesuatu yang tampaknya kecil pada saat itu dapat tumbuh menjadi bagian dari cara seseorang memahami dirinya, orang lain, dan dunia.

Maka, ketika kita berbicara tentang guru inspiratif, barangkali kita tidak sedang berbicara tentang seseorang yang hidupnya sempurna atau perjalanan akademiknya tanpa rintangan. Kita sedang berbicara tentang seseorang yang mampu merawat rasa ingin tahu, menjaga kecintaan pada ilmu, dan membagikannya kepada orang lain dengan tulus.

Pada Prof. Yulianeta, sesuatu yang kecil itu mungkin bermula dari cerita. Dari dongeng masa kecil. Dari bacaan. Dari kekaguman terhadap sastra. Cerita itu kemudian tumbuh dan berkelindan dengan perjalanan pendidikan, penelitian, penulisan, pengabdian, dan berbagai tanggung jawab akademik. Ia membawanya dari ruang kelas ke ruang penelitian, dari penelitian ke berbagai karya, dari ruang akademik ke ruang kepemimpinan.

Perjalanan itu juga membawanya melampaui batas ruang kelas di Indonesia. Sebagai visiting lecturer dan pengajar di berbagai negara, ia berkesempatan membawa bahasa dan sastra Indonesia ke ruang-ruang akademik yang berbeda, bertemu mahasiswa dari latar budaya yang beragam, dan berdialog dengan para akademisi dari berbagai tradisi keilmuan. Di sana, mengajar tidak lagi menjadi proses satu arah. Setiap ruang kelas baru menghadirkan pengalaman baru, pertanyaan baru, dan cara pandang baru yang juga memperkaya dirinya sebagai pembelajar.

Ada sesuatu yang menarik dari pengalaman tersebut. Ketika seorang guru mengajar di tempat yang berbeda, ia sesungguhnya juga sedang diuji untuk belajar kembali. Materi yang sama mungkin harus dijelaskan dengan cara berbeda. Konsep yang selama ini dianggap sederhana mungkin memunculkan pertanyaan baru ketika dilihat dari perspektif mahasiswa dengan latar budaya yang berbeda. Bahasa menjadi jembatan, sastra menjadi ruang perjumpaan, dan kelas menjadi tempat berbagai pengalaman bertemu.

Oleh karena itu, perjalanan akademiknya tidak hanya dapat dibaca sebagai perjalanan dari Indonesia ke dunia, tetapi juga sebagai perjalanan dari dunia kembali ke Indonesia. Apa yang ditemuinya dalam berbagai ruang akademik internasional dibawa kembali untuk memperkaya cara memandang pendidikan, penelitian, bahasa, sastra, dan mahasiswa di tanah air.

Mungkin inilah salah satu bentuk lain dari seorang profesor yang terus menjadi pembelajar: tidak berhenti ketika telah mencapai satu tempat, tetapi selalu bersedia melihat dunia dari tempat yang lain.

Pada akhirnya, setelah semua gelar, publikasi, karya, pengalaman mengajar di berbagai ruang, dan jabatan berlalu, yang paling layak dikenang bukanlah panjangnya daftar capaian, melainkan jejak yang ditinggalkan di dalam diri orang lain. Sebab, seorang guru pada akhirnya adalah seseorang yang meninggalkan cerita di dalam diri orang lain.

Cerita itu mungkin tidak selalu diingat kata demi kata. Bisa jadi nama bukunya terlupakan, kalimatnya tidak lagi persis diingat, bahkan wajah gurunya perlahan berubah dalam ingatan. Tetapi cara berpikir yang pernah ditanamkan, keberanian untuk bertanya yang pernah ditumbuhkan, atau kecintaan pada sesuatu yang pernah dibagikan dapat tinggal jauh lebih lama.

Dan seperti sastra yang baik, cerita semacam itu tidak pernah benar-benar selesai ketika halaman terakhir ditutup. Ia terus hidup dalam diri pembacanya.

Bandung, 30 Agustus 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: