
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Hilman Giat Lutfi Albasith
NAILONG - CAHAYA DI TENGAH LUMPUH
Di usia yang masih terlalu muda untuk menyerah,
tubuhku berkhianat.
Setengah jiwa terkurung,
setengah raga membeku.
*Stroke*—kata itu terdengar seperti vonis.
Di usia yang seharusnya berlari,
aku justru belajar kembali
cara memegang sendok,
cara mengeja namaku sendiri.
Aku berjuang sendirian.
Di kamar yang sunyi, hanya ada detak jam
dan bayanganku di cermin
yang tak lagi kukenali.
Teman-teman menjauh, perlahan.
Dunia terus berputar,
sementara aku tertinggal,
belajar berjalan di atas luka.
Lalu kau datang.
Bukan dengan rasa kasihan yang menusuk,
melainkan dengan senyum yang tenang.
Perempuan yang orang-orang panggil **Nailong**—
nama yang asing, tetapi hangat di lidahku.
Kau tidak bertanya,
*"Kapan sembuh?"*
Kau justru bertanya,
*"Hari ini sudah makan apa?"*
Kau tidak menatap kakiku yang menyeret.
Kau menatap mataku yang lelah.
Nailong,
kau duduk di sampingku,
mengajari kesabaranku bernapas kembali.
Kau mendengarkan ceracau tanganku yang kaku,
seolah-olah itu adalah puisi terindah.
Kau berkata,
*"Tidak apa-apa jika hari ini hanya mampu melangkah satu senti. Besok kita coba dua senti."*
Bersamamu, aku tidak lagi menjadi pejuang yang sendirian.
Aku hanyalah seorang lelaki muda
yang sedang belajar pulang
ke tubuhnya sendiri.
Jika stroke adalah badai yang mematahkan,
maka Nailong adalah tanah
yang memelukku
agar aku tidak hanyut selamanya.
Terima kasih
telah melihat aku,
bukan sakitku.
**— Untuk Nailong, yang mengerti tanpa harus diminta mengerti.**
PENULIS:
Hilman Giat Lutfi Albasith, lahir di Bandung pada 20 Juni 1995 dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Seluruh jenjang pendidikannya ditempuh di Padalarang, mulai dari SDN 3 Padalarang, SMPN 2 Padalarang, hingga SMAN 2 Padalarang, sebelum melanjutkan studi di Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia. Kariernya sebagai pendidik dimulai pada tahun 2017 dengan mengajar di SMAN 1 Cililin dan SMAN 1 Ngamprah. Berkat dedikasi dan komitmennya di dunia pendidikan, ia kini menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mengabdi di almamaternya, SMAN 2 Padalarang, sebagai guru Geografi.











