Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Resensi Buku “Literary Theory: An Introduction”

University of Minnesota Press

Resensi Buku Literary Theory: An Introduction

Ketika Teori Sastra Membongkar Batas-Batas Sastra

Judul: Literary Theory: An Introduction
Penulis: Terry Eagleton
Edisi: Second Edition
Penerbit: Blackwell Publishing
Tahun: 1996
Tebal: 249 halaman
ISBN: 978-0-631-20188-5

Membuka Pertanyaan yang Tidak Sederhana

Ada sesuatu yang agak mengganggu ketika sebuah buku berjudul Literary Theory: An Introduction justru dimulai dengan pertanyaan yang tampaknya paling sederhana: apa itu sastra? Pertanyaan tersebut segera menjadi tidak sederhana ketika Terry Eagleton menunjukkan bahwa kita ternyata tidak memiliki batas yang benar-benar kokoh untuk menentukan mana yang disebut sastra dan mana yang bukan.

Pada bagian pendahuluan, Eagleton menolak definisi sastra sebagai tulisan imajinatif atau fiktif. Sejarah memperlihatkan bahwa banyak karya yang sekarang dibaca sebagai sastra pada mulanya tidak selalu dimaksudkan demikian. Sebaliknya, tidak semua karya fiksi otomatis memperoleh status sebagai sastra. Oleh Sebab itu,, oposisi antara fakta dan fiksi tidak cukup untuk menjelaskan keberadaan sastra.

Eagleton kemudian membawa pembaca kepada gagasan kaum Formalis Rusia mengenai literariness, yakni kekhasan penggunaan bahasa dalam teks sastra. Bahasa sastra dianggap menyimpang dari bahasa sehari-hari, membuat bahasa menjadi lebih terasa, lebih tampak, dan dengan demikian membuat pengalaman yang sudah terbiasa kita lihat menjadi asing kembali. Konsep defamiliarization atau pengasingan menjadi penting di sini.

Namun Eagleton tidak berhenti pada Formalisme. Ia justru membongkar kelemahan definisi tersebut. Jika sastra adalah penyimpangan dari bahasa normal, persoalannya segera bergeser kepada pertanyaan: bahasa normal milik siapa? Bahasa Oxford tidak sama dengan bahasa para pekerja Glasgow; bahasa yang normal bagi satu kelompok dapat menjadi bahasa yang menyimpang bagi kelompok lain. Dengan demikian, “kelitereran” tidak berada secara abadi di dalam teks, tetapi bergantung pada relasi sosial dan historis tempat teks itu dibaca.

Di sinilah Eagleton mulai memperlihatkan arah utama bukunya: sastra bukan benda yang memiliki esensi tetap, melainkan kategori yang dibentuk oleh praktik sosial, sejarah, nilai, dan cara membaca.

Sastra sebagai Nilai

Salah satu bagian paling kuat dari pendahuluan Eagleton adalah pembahasannya mengenai nilai. Kita sering berbicara seolah-olah karya sastra memiliki nilai objektif. Shakespeare, misalnya, dianggap sebagai “sastra besar” seakan-akan kebesarannya melekat secara alamiah pada teksnya.

Eagleton mempertanyakan asumsi tersebut. Menurutnya, apa yang disebut sastra sangat dipengaruhi oleh value-judgements, yakni penilaian yang dibuat oleh masyarakat tertentu berdasarkan kepentingan, nilai, dan kerangka pemikiran tertentu. Karena nilai berubah, kategori sastra pun dapat berubah.

Argumen ini kemudian membawa Eagleton pada persoalan kanon sastra. Kanon bukanlah daftar karya yang secara alamiah sejak semula memiliki nilai abadi. Ia merupakan konstruksi historis yang dibentuk oleh kelompok tertentu dalam kondisi sosial tertentu. Bahkan karya yang sama dapat dibaca secara berbeda oleh masyarakat yang berbeda. Eagleton menyatakan bahwa karya sastra selalu mengalami semacam “penulisan kembali” ketika berpindah dari satu zaman ke zaman lain.

Dengan demikian, membaca bukanlah aktivitas yang sepenuhnya netral. Kita tidak pernah datang kepada teks dengan kepala yang benar-benar kosong. Kita membawa sejarah, pendidikan, kelas sosial, gender, kebudayaan, keyakinan, dan berbagai kepentingan yang ikut menentukan apa yang kita lihat dalam sebuah karya.

Dari Sastra Menuju Ideologi

Di titik ini buku Eagleton menjadi lebih politis. Ia tidak menerima anggapan bahwa penilaian sastra hanyalah persoalan selera individual. Di balik apa yang tampak sebagai selera terdapat struktur nilai yang dibentuk oleh masyarakat. Oleh Sebab itu,, persoalan sastra berkaitan dengan ideologi, yang oleh Eagleton dipahami sebagai cara keyakinan, persepsi, nilai, dan perasaan berhubungan dengan struktur serta relasi kuasa dalam masyarakat.

Contoh yang digunakan Eagleton mengenai penelitian I. A. Richards sangat menarik. Ketika mahasiswa diminta menilai puisi tanpa mengetahui nama pengarang dan judulnya, penilaian mereka berbeda-beda. Akan tetapi, di balik perbedaan tersebut ternyata terdapat kesamaan cara pandang yang berasal dari latar sosial mereka. Mereka membawa asumsi tertentu mengenai seperti apa sastra seharusnya dibaca dan dinilai.

Dengan kata lain, kritik sastra tidak pernah benar-benar bebas dari posisi sosial pembacanya. Ini merupakan salah satu gagasan paling penting Eagleton: bukan hanya karya sastra yang perlu dibaca secara kritis, tetapi juga cara kita membaca karya sastra.

Sastra dan Sejarah Kekuasaan

Bab pertama, “The Rise of English”, memperluas argumen tersebut. Eagleton menunjukkan bahwa konsep sastra modern memiliki sejarah. Pada abad ke-18, “literature” belum secara khusus berarti karya kreatif atau imajinatif seperti pengertian kita sekarang. Ia mencakup keseluruhan tulisan yang dianggap bernilai, termasuk sejarah, filsafat, esai, dan surat.

Perubahan besar berlangsung pada periode Romantik. Sastra mulai semakin diidentikkan dengan imajinasi dan kreativitas. Perubahan ini tidak berlangsung dalam ruang hampa. Ia berkaitan dengan perubahan masyarakat Inggris, perkembangan kapitalisme industri, dan perubahan hubungan antara seni, masyarakat, dan kelas sosial.

Eagleton bahkan membaca munculnya gagasan tentang imajinasi secara politis. Dalam masyarakat kapitalis yang semakin menekankan fakta, utilitas, produksi, dan pertukaran komoditas, seni dapat menjadi wilayah tempat nilai kreativitas, kebebasan, dan pengalaman manusia dipertahankan.

Namun Eagleton juga menunjukkan paradoksnya: sastra yang pada mulanya dapat menjadi kekuatan kritik terhadap kapitalisme akhirnya dapat pula berubah menjadi wilayah pelarian dari sejarah. Sang penyair mengasingkan diri ke dalam imajinasi, sementara seni semakin menjadi komoditas.

Pembahasan mengenai T. S. Eliot dan F. R. Leavis memperlihatkan bagaimana kanon sastra juga merupakan pertarungan ideologis. Ketika Eliot menaikkan posisi para penyair Metafisik dan merendahkan Milton serta kaum Romantik, ia sebenarnya bukan sekadar melakukan penilaian estetis. Ia sedang melakukan pembacaan tertentu terhadap sejarah dan masyarakat Inggris. Dengan demikian, sejarah sastra ternyata tidak hanya berisi pergantian pengarang dan karya, tetapi juga pergantian kekuasaan dalam menentukan karya mana yang layak disebut besar.

Dari Pengarang ke Teks, dari Teks ke Pembaca

Setelah membongkar sejarah pembentukan konsep sastra, Eagleton membawa pembaca kepada berbagai teori abad ke-20. Bab kedua membahas fenomenologi, hermeneutika, dan teori resepsi. Di sini perhatian berpindah dari struktur teks menuju pengalaman kesadaran, interpretasi, dan akhirnya pembaca. Dalam teori resepsi, teks sastra tidak dipahami sebagai benda yang sepenuhnya selesai di dalam dirinya sendiri. Teks menjadi aktual melalui aktivitas membaca. Eagleton bahkan merumuskan perubahan besar teori sastra modern sebagai pergeseran dari pengarang → teks → pembaca.

Bab ketiga membahas strukturalisme dan semiotika, terutama melalui Saussure, Jakobson, Lévi-Strauss, dan tokoh-tokoh terkait. Perhatian bergeser dari karya individual menuju sistem tanda dan struktur yang memungkinkan makna terbentuk. Eagleton menjelaskan bagaimana gagasan Saussure tentang tanda dan hubungan diferensial kemudian menjadi salah satu fondasi penting strukturalisme.

Bab keempat memasuki wilayah post-strukturalisme, termasuk persoalan dekonstruksi, ketidakstabilan makna, dan kritik terhadap gagasan bahwa bahasa mampu menghadirkan makna yang sepenuhnya tetap.

Bab kelima membawa pembaca kepada psikoanalisis, terutama Freud dan Lacan. Bahasa, hasrat, ketidaksadaran, subjektivitas, dan hubungan antara individu dengan struktur simbolik menjadi pusat perhatian. Indeks buku memperlihatkan luasnya pembahasan Eagleton mengenai Lacan, termasuk ego, desire, imaginary, symbolic order, unconscious, dan hubungan antara psikoanalisis dengan post-strukturalisme.

Urutan ini sebenarnya sangat penting. Eagleton tidak sekadar menyusun daftar teori. Ia memperlihatkan sebuah pergeseran pusat perhatian dalam studi sastra:

pengarang → teks → struktur → bahasa → pembaca → subjektivitas → kekuasaan.

Dan pada akhirnya semuanya kembali kepada persoalan politik.

Semua Kritik adalah Politik

Puncak buku ini terdapat dalam bagian “Conclusion: Political Criticism.” Di sini Eagleton membuat pernyataan yang sangat penting: tidak ada kritik sastra yang benar-benar nonpolitis. Bahkan kritik yang menganggap dirinya objektif sebenarnya bekerja berdasarkan pilihan nilai tertentu. Oleh Sebab itu,, persoalannya bukan apakah kritik bersifat politis atau tidak, melainkan politik macam apa yang bekerja di dalamnya.

Menariknya, Eagleton tidak kemudian menawarkan satu teori sastra Marxistis sebagai jawaban final. Ia justru menolak menggantikan satu ortodoksi dengan ortodoksi lainnya. Berbagai teori—strukturalisme, semiotika, psikoanalisis, dekonstruksi, resepsi—dapat digunakan secara strategis sesuai persoalan yang hendak dikaji.

Oleh Sebab itu,, sasaran akhir Eagleton bukan membangun “teori sastra yang benar”, tetapi memperluas objek kajian dari sastra menuju praktik-praktik diskursif dalam masyarakat. Ia bahkan menyarankan agar kita memikirkan sastra dalam kerangka yang lebih luas, yaitu budaya, praktik penandaan, dan efek diskursus. Dalam kerangka ini, yang penting bukan hanya apa isi suatu teks, tetapi bagaimana suatu wacana dibentuk, bagaimana ia bekerja, dan efek apa yang dihasilkannya dalam situasi sosial tertentu.

Paradoks Besar Buku Eagleton

Di sinilah paradoks Literary Theory: An Introduction menjadi menarik. Eagleton menulis sebuah buku tentang teori sastra, tetapi semakin jauh pembaca mengikuti argumentasinya, semakin kabur batas “sastra” itu sendiri.

Pada akhirnya ia mengatakan bahwa buku tersebut bukan lagi sekadar pengantar, bahkan dapat dianggap sebagai semacam “obituary” bagi objek yang hendak ditemukan: sastra. Ia tidak ingin menggantikan teori-teori yang dibahas dengan teori sastra versinya sendiri. Sebaliknya, ia mengusulkan agar sastra ditempatkan dalam medan yang lebih luas, yakni praktik-praktik diskursif masyarakat. Dengan demikian, judul buku ini mengandung ironi: Eagleton memperkenalkan teori sastra sambil membongkar kemungkinan adanya sastra sebagai objek yang stabil.

Kelebihan Buku

Ada beberapa kekuatan utama buku ini. Pertama, Eagleton berhasil membuat teori yang rumit menjadi argumentatif dan historis. Ia tidak menjelaskan teori sebagai kumpulan definisi, melainkan menunjukkan mengapa teori tertentu muncul dan persoalan apa yang hendak dijawabnya.

Kedua, teori tidak dipisahkan dari sejarah sosial. Formalisme, strukturalisme, hermeneutika, psikoanalisis, dan post-strukturalisme ditempatkan dalam perkembangan intelektual dan sosial yang lebih luas. Ketiga, buku ini mengajarkan sikap kritis terhadap kategori yang selama ini dianggap alamiah. “Sastra”, “nilai”, “kanon”, “pengarang”, “makna”, bahkan “pembaca” ternyata tidak sesederhana yang sering diasumsikan. Keempat, Eagleton tidak menyembunyikan posisi ideologisnya. Sejak awal ia mengakui bahwa tidak ada cara yang sepenuhnya netral dalam menyajikan teori.

Kelima, buku ini tetap relevan untuk pembaca yang ingin memahami hubungan antara sastra dan masyarakat. Bahkan ketika Eagleton mengkritik teori-teori yang berbeda, ia tidak sekadar menolaknya. Ia mencari apa yang dapat digunakan dari masing-masing teori untuk memahami persoalan tertentu.

Kelemahan dan Catatan Kritis

Namun buku ini juga tidak bebas dari persoalan. Kelemahan paling nyata adalah posisi Eagleton sendiri sangat kuat sebagai seorang kritikus Marxistis. Meskipun ia mengatakan tidak sedang menawarkan teori sastra Marxistis, pembaca tetap dapat merasakan bahwa hampir seluruh teori akhirnya diuji berdasarkan kemampuan mereka menjelaskan ideologi, sejarah, kelas, dan kekuasaan.

Akibatnya, beberapa teori kadang tampak lebih sebagai sasaran kritik daripada sebagai sistem pemikiran yang diberi kesempatan berbicara secara utuh. Kelemahan kedua adalah kecenderungan Eagleton membuat sejarah teori sastra bergerak secara cukup linear. Pembaca seolah dibawa dari Formalisme menuju fenomenologi, strukturalisme, post-strukturalisme, psikoanalisis, kemudian politik. Padahal perkembangan teori dalam kenyataannya jauh lebih tumpang tindih.

Kelemahan ketiga, terutama bagi pembaca Indonesia, adalah bahwa horizon sejarah yang digunakan Eagleton sangat kuat berpusat pada Eropa dan Inggris. Ini merupakan konsekuensi dari objek historis yang memang ia pilih, tetapi sekaligus menunjukkan keterbatasan buku ini jika digunakan sebagai satu-satunya fondasi untuk memahami sastra dunia.

Afterword: Eagleton Menilai Kembali Zamannya

Yang membuat edisi kedua semakin menarik adalah Afterword. Bagian ini menunjukkan bahwa Eagleton tidak sekadar mengulang buku 1983, tetapi melihat kembali perkembangan teori hingga 1990-an. Ia membahas new historicism, postmodernism, cultural studies, feminisme, dan post-colonial theory. Ia melihat perkembangan tersebut sebagai perluasan medan kajian budaya, tetapi juga memberikan kritik terhadap kecenderungan teori yang terlalu menekankan perbedaan, identitas, dan budaya sambil melupakan kondisi material.

Kritiknya terhadap post-colonial theory sangat menarik. Eagleton mengakui kontribusinya dalam membuka kembali pengalaman masyarakat yang dimarginalkan oleh sejarah kolonial, tetapi memperingatkan bahwa persoalan budaya tidak boleh sepenuhnya menggantikan persoalan ekonomi, tenaga kerja, sumber daya, dan relasi kekuasaan material.

Pada titik tertentu Eagleton bahkan mengkritik teori itu sendiri sebagai komoditas akademik. Teori dapat menjadi bentuk “cultural capital”: semakin rumit, baru, eksklusif, dan esoterik suatu teori, semakin tinggi prestisenya dalam pasar akademik. Ironinya jelas: teori yang dahulu dimaksudkan untuk membongkar kekuasaan dapat berubah menjadi komoditas baru di dalam institusi yang sama.

Penilaian Akhir

Literary Theory: An Introduction bukan buku pengantar yang netral. Ia adalah buku pengantar yang mengajari pembacanya untuk curiga terhadap kenetralan. Eagleton tidak memberi kita satu definisi sastra yang final. Sebaliknya, ia memperlihatkan mengapa definisi itu selalu bermasalah. Sastra tidak hanya berkaitan dengan teks, tetapi dengan cara teks diproduksi, dibaca, dinilai, dilembagakan, diwariskan, dan ditempatkan dalam relasi kekuasaan.

Oleh Sebab itu,, kekuatan terbesar buku ini bukan terletak pada kemampuannya menjawab pertanyaan “apa itu sastra?”, melainkan pada kemampuannya mengubah pertanyaan tersebut menjadi serangkaian pertanyaan baru: Siapa yang menentukan sesuatu sebagai sastra? Mengapa karya tertentu masuk kanon sementara karya lain disingkirkan? Nilai siapa yang bekerja di dalam penilaian sastra? Bagaimana sejarah mengubah cara kita membaca? Dan untuk kepentingan siapa sebuah cara membaca dipertahankan?

Pada akhirnya, Eagleton mengajak kita melihat bahwa sastra bukan hanya sesuatu yang dibaca; sastra adalah sesuatu yang diproduksi oleh sejarah, institusi, nilai, bahasa, pembaca, dan kekuasaan. Dan justru di sanalah buku ini menjadi penting. Bukan karena ia memberikan peta yang selesai tentang teori sastra, melainkan karena setelah membaca buku ini, kita mulai curiga terhadap peta yang selama ini kita anggap sebagai wilayah itu sendiri.

Resensator: Heri Isnaini


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: