
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Refi Murfianto
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sangat cepat dan banyak hal baru yang terus bermunculan, hal tersebut menuntut Guru untuk terus mengembangkan diri dan mengasah kompetensinya. Seorang guru memiliki peran yang fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia bukan hanya sebagai pelaksana pelayan publik di bidang pendidikan saja namun juga sebagai pigur pendidik.
Perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dapat terlihat pada anak didik yang cepat dalam menguasai teknologi informasi melalui gadgetnya. Hal tersebut menuntut guru untuk tidak kalah oleh peserta didik, bukan persoalan kalah dan menang sebagai rivalitas tapi guru harus membimbing dan mendampingi murid agar mampu menggunakan teknologi dan pengetahuan dengan bijak. Namun demikian, banyak guru yang memiliki kecenderungan berhenti mengembangkan diri setelah menjadi guru.
Banyak guru yang kurang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, hal ini karena banyak guru cenderung merasa di zona nyaman setelah menduduki posisi atau jabatan tertentu. Akibatnya apa yang disampaikan guru terbatas pada apa yang dipelajari semasa kuliah saja, padahal dunia dan ilmu pengetahuan serta teknologi terus berubah semakin maju. Implikasinya adalah kebutuhan kehidupan zaman sekarang tentu sangat berbeda dengan pada zamannya guru ketika kuliah dan menempuh ilmu.
Sebagai guru saya menyadari bahwa literasi sangat diperlukan dan harus dibiasakan. Hal tersebut diperlukan untuk menjawab tantangan zaman dan permasalahan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. Literasi bukan hanya membaca dan menulis saja, akan tetapi literasi juga kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, menghitung, berkomunikasi, mencari, menganalisis, mengevaluasi dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan International Literacy Association (Kemendikbudristek, 2022 dalam Murfianto & Suryati, 2026).
Melalui kebiasaan berliterasi akan memberikan dampak dalam pelayanan di dalam pendidikan, guru mampu menyajikan pembelajaran yang sesuai konteks dan kekinian bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan secara teoretis saja. Membaca berbagai perkembangan zaman, situasi lingkungan sekitar sekolah maupun murid dan kemudian menggunakan informasi dan pengetahuan dalam pengambilan keputusan sehari-hari adalah dampak dari implementasi literasi.
Budaya literasi tidak saja memberikan dampak yang signifikan terhadap peserta didik dan pelayanan pendidikan guru, akan tetapi melalui literasi diharapkan memberikan dampak positif dan bermakna bagi kehidupan peserta didik. Selain itu literasi mendorong guru untuk berinovasi baik dalam pembelajaran yang diberikan terhadap peserta didik, akan tetapi mendorong guru untuk berkarya.
Akan menarik bila guru sesekali memberikan contoh pembelajaran yang merupakan karya guru sendiri, bukan hanya sekedar bersumber dari media cetak atau online saja. hal tersebut dapat terwujud melalui budaya literasi yang dibiasakan sehingga berdampak dan bermakna baik untuk peserta didik maupun untuk guru dan lingkungan bermasyarakat. Oleh karena itu berliterasi merupakan aktivitas menulis dan membaca saja namun lebih dari itu, literasi juga menjadi pondasi bagi terwujudnya profesionalitas Guru yang mampu memberikan pelayanan berkualitas, efektif dan berkelanjutan.
Kebiasaan berliterasi merupakan budaya baik untuk selalu dikembangkan oleh guru dalam menjalani hari demi hari disekolah. Literasi dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan sehari-hari seperti menyempatkan membaca sedikit demi sedikit setiap hari, mencari informasi kebaruan, mencari referensi untuk pembelajaran sehingga contoh-contoh lebih update dan tetap kontekstual.
Melalui kebiasaan membaca tak lupa menuliskan catatan kecil setiap hari setelahnya untuk memberikan pengingat dan semangat, setiap gagasan dan pemikiran di tulis dalam catatan-catatan yang mudah diingat. Melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus diharapkan membuahkan hasil menjadi seorang guru literat dan pembelajar sepanjang hayat. Dalam mewujudkan hal tersebut maka penting untuk senantiasa konsisten walau sedikit demi sedikit.
Mengajari peserta didik alangkah baiknya jika bukan hanya mengajar teks demi teks saja, akan tetapi bagaimana guru memberikan gambaran terbaru dan terkini dunia masyarakat, bagaimana kondisi tersebut dikaitkan dengan pengalaman dan masa lalu, bagaimana pengalaman guru juga mewarnai pembelajaran. Guru yang senang dalam berliterasi kemungkinan lebih besar mampu memberikan contoh-contoh yang kontekstual, memberikan gambaran pembelajaran dan kehidupan yang lebih beragam serta suntikan motivasi dan semangat yang lebih dinamis ketimbang hanya memberikan pengajaran teks demi teks saja.
Dengan menyenangi menemukan dan mengasah pengetahuan baru menumbuhkan kesadaran bahwa berliterasi bukan hanya tuntutan kebijakan pemerintah atau program sekolah tetapi merupakan suatu kebutuhan dan kesenangan dalam belajar banyak hal. Melalui hal tersebut diharapkan smengat berliterasi menular terhadap peserta didik, bahwa belajar bukan hanya sebuah tuntutan tapi kesenangan dan kenikmatan dalam belajar hal baru, memahami kontekstual kehidupan dan tercipta insan pembelajar sepanjang hayat. Budaya literasi yang dimulai oleh guru dan ditularkan kepada peserta didik, sangat diharapkan mampu membangun masyarakat literat sehingga menciptakan lingkungan belajar bukan hanya disekolah saja.
Menjadi seorang guru sejatinya menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat, dinamika perubahan masyarakat, teknologi, ilmu pengetahuan menuntut guru untuk terus belajar sehingga mampu mengajarkan peserta didik memahami fenomena yang terjadi dalam masyarakat hari ini. Sebuah pendapat dari Ali bin Abi Thalib menyebutkan bahwa anak harus diajari sesuai zamannya. Pertanyaan besarnya bagaimana guru mengajarkan anak sesuai zamannya jika perbendaharaan pengetahuan guru berada sepuluh atau dua puluh tahun kebelakang.
Maka literasi menjadi jawaban untuk guru terus belajar dan memahami dinamika perkembangan kondisi terbaru dan bagaimana guru tetap beradaptasi dalam menghadapi setiap perubahan. Sadar atau tidak perkembangan zaman yang kian pesat mempengaruhi cara belajar peserta didik hari ini, pembelajaran teks saja tanpa memahami dinamika hari ini akan sangat menyulitkan guru. Literasi bukan tujuan ahir yang harus ada dalam diri seorang guru, melainkan proses yang membersamai guru dalam beradaptasi dengan perkembangan dunia yang semakin cepat.
Melalui tulisan ini mari kitaa renungkan lebih lanjut hubungan antara guru dan literasi tentang bagaimana peran keduanya dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat hari ini. Literasi bagi guru merupakan teman mengarungi dunia pendidikan hari ini, peserta didik yang belajar cepat melalui media mengharuskan guru juga belajar terus menerus. Besar harapan melalui budaya literasi yang dilakukan guru dapat menumbuhkan guru yang berkualitas sehingga pembelajaran menjadi lebih berkualitas dan menghasilkan masyarakat literat yang berkualitas juga.
Literasi bukan beban paksaan yang menjadi penyita waktu dalam keseharian dan di sela kesibukan, akan tetapi ia adalah kebutuhan akar guru memahami setiap persoalan dan kebaruan yang terjadi hari demi hari serta dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik memahami apa yang dia temui dalam kehidupan. Harapannya, setiap guru menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tuntutan profesi, melainkan kebutuhan untuk terus bertumbuh sebagai pembelajar. Ketika budaya literasi tumbuh dalam diri guru, manfaatnya akan mengalir kepada peserta didik, memperkuat kualitas sekolah, dan pada akhirnya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.












Tinggalkan Balasan