
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Lilim Anisa Sariningsih
Di sebuah kota kecil yang selalu tampak sibuk meski malam telah larut, berdirilah sebuah rumah sederhana dengan halaman mungil yang dipenuhi pot-pot bunga. Rumah itu bukan rumah yang mewah, tetapi selalu hangat oleh tawa dan kasih sayang. Di sanalah Ica tumbuh, seorang gadis remaja yang sejak kecil hidup dalam pelukan cinta kedua orang tuanya.
Bagi Ica, rumah bukan sekadar tempat pulang. Rumah adalah senyum ibunya setiap kali ia membuka pintu sepulang sekolah. Rumah adalah suara ayahnya yang selalu bertanya, “Bagaimana sekolah hari ini, Nak?” Rumah adalah tempat di mana segala lelah seolah menghilang.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari kehangatan itu akan perlahan berubah menjadi kenangan.
Hari itu langit tampak mendung sejak pagi. Ica yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP sedang mengikuti ujian semester. Soal-soal di hadapannya sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi pikirannya sama sekali tidak mampu berkonsentrasi.
Dadanya terasa sesak.
Entah mengapa, ada perasaan asing yang terus mengusik. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Ada apa ini? Kenapa hatiku tidak tenang?” gumamnya dalam hati.
Ia berkali-kali menoleh ke arah jendela kelas. Angin bertiup pelan, dedaunan bergoyang tanpa suara. Waktu terasa berjalan begitu lambat.
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Tanpa sempat bercanda dengan teman-temannya, Ica segera berlari menuju rumah. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera sampai. Seolah hatinya tahu bahwa ada kabar yang sedang menunggunya.
Namun, rumah yang biasanya dipenuhi aroma masakan ibunya kali ini terasa berbeda.
Sunyi.
Sepi.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada sapaan lembut yang selalu menyambut kepulangannya.
Bahkan pintu rumah terbuka tanpa seorang pun menyongsongnya.
Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya ketika ayah datang menghampiri. Wajah lelaki yang selama ini selalu tampak tegar itu terlihat begitu lelah.
“Yah… ibu ke mana?” tanya Ica lirih.
Ayah menarik napas panjang.
“Ayo ikut Ayah.”
Hanya tiga kata itu.
Tidak ada penjelasan lain.
Di perjalanan menuju rumah sakit, ayah menggenggam tangan Ica erat.
“Nanti kalau melihat ibu, jangan menangis di depannya. Doakan ibu… bacakan Al-Qur’an untuknya.”
Kalimat itu membuat dada Ica semakin sesak.
Itulah pertama kalinya Ica melihat ibunya terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Tubuh yang biasanya sibuk memasak untuk keluarga kini hanya diam diselimuti selimut putih.
Selang infus menempel di tangannya.
Wajah yang biasanya penuh senyum tampak pucat.
Air mata Ica jatuh begitu saja.
Ia menggigit bibir agar tangisnya tidak pecah.
Di sampingnya, ayah tetap berdiri tegak. Meski matanya berkaca-kaca, lelaki itu masih berusaha menjadi tempat bersandar bagi anak-anaknya.
Hari-hari setelah itu berubah menjadi perjalanan panjang antara rumah, sekolah, dan rumah sakit.
Ica belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis.
Menjadi kuat adalah tetap tersenyum di depan orang yang sedang berjuang melawan sakit.
Tahun demi tahun berlalu.
Ica kini duduk di bangku SMA.
Penyakit ibunya memang belum benar-benar sembuh, tetapi keluarga kecil itu masih bisa menikmati kebersamaan. Mereka masih makan malam bersama, masih saling bercanda, dan masih memeluk satu sama lain.
Diam-diam, Ica selalu berdoa.
“Ya Allah… jangan ambil ibu dulu.”
Baginya, selama kedua tangan itu masih menggenggamnya, dunia masih terasa utuh.
Namun hidup sering kali berjalan tanpa meminta izin kepada hati manusia.
Malam itu adalah malam Kamis.
Langit gelap tanpa bintang.
Tiba-tiba kondisi ibu memburuk.
Ayah panik memanggil ambulans.
Ibu kembali dilarikan ke rumah sakit di Kota Cimahi.
Di rumah yang mendadak lengang, Ica hanya ditemani kakak perempuan dan keponakannya.
Tangisnya pecah.
Ia tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa.
Malam terasa begitu panjang.
Suara burung hantu dari kejauhan terdengar berkali-kali, seolah menjadi pertanda yang tidak ingin ia percayai.
Pagi harinya, Ica berlari menuju rumah sakit.
Di ruang ICU yang dingin, ia kembali melihat ibunya.
Kini kondisinya jauh lebih lemah.
Selang oksigen menutupi sebagian wajahnya.
Suara monitor jantung berbunyi pelan…
Tit… tit… tit…
Bunyi yang terdengar sederhana itu justru membuat hati Ica dipenuhi ketakutan.
Ia mendekat.
Menggenggam tangan ibunya yang mulai terasa dingin.
“Bu… ini Ica.”
“Ibu… bangun ya.”
“Ica sudah datang.”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada senyum.
Hanya sebutir air mata yang perlahan mengalir dari sudut mata ibunya.
Ica menoleh kepada ayah.
“Yah… kenapa ibu menangis?”
Ayah mengusap kepala putrinya.
“Ibumu sedang koma. Ia mungkin tidak bisa membuka mata… tapi ia masih bisa mendengar suara kita.”
Kalimat itu membuat Ica semakin rajin berbicara kepada ibunya.
Ia menceritakan sekolah.
Ia menceritakan teman-temannya.
Ia menceritakan hal-hal kecil yang dulu selalu didengarkan oleh sang ibu.
Ia berharap, di balik kesunyian itu, ibunya masih mendengarkan.
Malam Jumat.
Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari.
Ruangan ICU begitu sunyi.
Tiba-tiba terdengar suara seperti orang sedang cegukan.
Sekali.
Lalu hening.
Ica segera memanggil perawat.
Empat orang perawat bersama seorang dokter berlari menuju ruangan.
Pintu ditutup.
Selama tiga puluh menit mereka berusaha melakukan segala cara.
Ayah hanya mampu menundukkan kepala sambil menggenggam tasbih.
Ica terus melafalkan doa dengan suara bergetar.
Lalu pintu terbuka.
Dokter berjalan perlahan menghampiri mereka.
“Maaf…”
Hanya satu kata itu.
Namun cukup untuk meruntuhkan seluruh dunia Ica.
“Ibu telah berpulang pada pukul 01.30.”
Tangis yang selama ini berusaha ia tahan akhirnya pecah.
Ia merasa kehilangan separuh hidupnya.
Saat itu juga ia sadar…
Suara yang tadi mereka dengar bukanlah cegukan biasa.
Itulah napas terakhir seorang ibu yang sedang berpamitan kepada keluarganya.
Sejak malam itu, hidup Ica tidak pernah benar-benar sama.
Ia masih memiliki ayah yang luar biasa kuat.
Namun genggaman di tangan kirinya telah hilang.
Tak ada lagi perempuan yang menunggu kepulangannya.
Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya setiap pagi.
Tak ada lagi pelukan hangat ketika ia merasa lelah.
Yang tersisa hanyalah doa dan kerinduan yang tidak pernah selesai.
Waktu terus berjalan.
Luka perlahan belajar berdamai dengan kehidupan.
Ica tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Ia menikah.
Lalu Allah mempercayakan seorang putri kecil ke dalam pelukannya.
Untuk pertama kalinya, ia memahami bagaimana besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya.
Suatu malam, ketika putrinya tertidur di pangkuannya, Ica memandang langit yang dipenuhi bintang.
Air matanya kembali jatuh.
“Bu…”
“Lihatlah…”
“Anak perempuanmu kini telah menjadi seorang ibu.”
“Aku akhirnya mengerti mengapa dulu Ibu selalu mengutamakanku.”
“Aku mengerti mengapa cinta seorang ibu tidak pernah meminta balasan.”
Meski kini ia menjalani hidup tanpa genggaman ibunya, setiap pelukan yang ia berikan kepada putrinya seolah menjadi cara untuk menghadirkan kembali kasih sayang yang pernah ia terima.
Ia percaya, seorang ibu memang bisa pergi meninggalkan dunia.
Namun cinta seorang ibu tidak pernah benar-benar mati.
Cinta itu akan terus hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam setiap pelukan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena sesungguhnya, kehilangan bukanlah akhir dari kasih sayang.
Kasih sayang hanya berpindah tempat—dari genggaman tangan menjadi ruang paling dalam di hati.
Bionarasi Penulis
Nama saya Lilim Anisa Sariningsih, mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di IKIP SILIWANGI, status ibu satu anak ini lahir pada 25 April 1997. Sebagai seorang ibu dan mempunyai seorang anak perempuan menjadi mengingat pengalaman saya yang terjadi 14 tahun kebelakang dimana sejak saat itu saya masih duduk di pendidikan SMA sudah ditinggalkan oleh seorang ibu. Dengan karakter anak SD yang senang mendengarkan cerita dan membaca, pengalaman yang pernah terjadi pada diri saya membuat saya ingin membagi pengalaman saya lewat anak didik saya saat ini. Karena itu, melalui tulisan “ Langkah kecil tanpa genggaman seorang ibu”.











Tinggalkan Balasan