
[Sumber: Dokumentasi penulis]
Penulis: Yusi Nursaadah
Udara pagi masih terasa dingin ketika suara ayam berkokok membangunkan penghuni rumah kecil pinggir desa. Rumah itu berdiri sederhana dengan dinding papan yang mulai kusam dimakan usia. Di halaman depan hanya ada beberapa pot bunga yang dirawat dengan penuh kasih sayang oleh pemilik rumah. Meski terlihat sederhana, rumah itu selalu dipenuhi dengan kehangatan.
Didalam rumah, seorang bernama Bu Rina sudah sibuk sejak sebelum matahari terbit. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan sambil sesekali melihat jam dinding yang hampir menunjukkan pukul lima pagi. Setelah nasi matang, ia menggoreng tempe dan telur untuk bekal anak semata wayangnya.
“Naya… bangun, Nak. Nanti terlambat sekolah,” panggilnya dengan lembut.
Tak lama kemudian, seorang gadis berusia sebelas tahun keluar dari kamar dengan mata yang masih ngantuk.
“Iya, Bu.”
Naya adalah anak sederhana. Ia tidak pernah meminta barang-barang mahal seperti teman- temannya. Ia tahu ibunya harus bekerja keras setiap hari demi memenuhi kebutuhan mereka berdua.
Ayah Naya telah meninggal dunia enam tahun yang lalu karena sakit. Sejak saat itu, Bu Rina menjalani hidup sebagai orang tua tunggal. Pagi hingga sore ia bekerja sebagai buruh cuci dirumah-rumah warga. Malam harinya, ia masih menerima jahitan kecil-kecilan agar mendapat tambahan uang.
Penghasilanya tidak seberapa, tetapi Bu Rina selalu berusaha agar Naya tetap bisa bersekolah.
“Buku matematika kamu sudah dimasukan ke tas ? tanya Bu Rina.
“Sudah Bu”
“Bekalnya jangan lupa dimakan, ya.”
Naya mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu bekal sederhana itu dibuat dengan penuh kasih sayang.
Sebelum berangkat, Naya mencium tangan ibunya.
“Ibu jangan lupa makan.”
“Iya, Nak.”
Setelah Naya berangkat berjalan kaki menuju sekolah, Bu rina mengambil ember besar berisi pakaian pelanggan. Hari itu ada tiga rumah yang harus ia datangi. Ia memanggul ember itu sambil berjalan menyusuri jalan kampung yang masih basah oleh embun.
Matahari semakin tinggi, tetapi pekerjaan Bu Rina belum juga selesai. Tangannya terus mengucek pakaian di bak cuci. Sabun membuat kulit tangannya kasar, bahkan beberapa jarinya mulai pecah-pecah. Meski begitu, ia tetap bekerja sambil tersenyum.
Sementara itu, disekolah, Naya sedang mengikuti pelajaran seperti biasa. Ia termasuk murid yang rajin dan selalu memperhatikan guru saat menjelaskan. Nilainya hampir selalu masuk tiga besar dikelas.
Sepulang sekolah, Naya melihat ibunya masih mencuci pakaian dirumah tetangga.
“Ibu….”
Bu rina menoleh sambil tersenyum.
Naya memperhatikan tangan ibunya yang memerah karena terlalu lama kena air dan deterjen.
“Bu..tangan ibu sakit?”
“Sedikit saja.”
“Nanti malam aku bantu memijat, ya.”
Bu rina mengusap kepala putrinya.
“Kamu belajar saja. Nilaimu harus tetap bagus.”
Malam harinya, listrik dirumah sempat padam. Naya mengerjakan pekerjaan rumah ditemani cahaya lampu minyak. Sementara itu, Bu Rina masih duduk diruang depan menjahit pakaian pesanan tetangga.
Naya diam-diam memperhatikan ibunya. Hatinya terasa sesak melihat perempuan yang paling ia sayangi itu hampir tidak pernah memiliki waktu untuk beristirahat.
Dalam hati ia berjanji.
“Suatu hari nanti aku akan belajar sungguh-sungguh. Aku ingin ibu tidak perlu bekerja sekeras ini lagi. Aku ingin melihat ibu tersenyum tanpa memikirkan uang setiap hari.”
Di sisi lain, Bu Rina juga memiliki doa yang selalu ia panjatkan setiap selesai sholat malam.
“Ya Allah…. jangan biarkan anakku berhenti sekolah hanya karena aku tidak mampu. Berikanlah aku kesehatan agar bisa terus bekerja sampai ia mampu mengejar cita-citanya.”
Hari-hari terus berlalu. Bu Rina tetap bekerja sebagai buruh cuci dari pagi hingga sore. Meskipun tubuhnya sering kelelahan, ia tidak pernah mengeluh di depan Naya. Baginya, selama putrinya masih bisa bersekolah, semua rasa lelah akan terasa ringan.
Namun, keadaan mulai berubah ketika beberapa pelanggan berhenti menggunakan jasanya. Ada yang pindah rumah, ada pula yang membeli mesin cuci sehingga tidak lagi membutuhkan bantuan Bu Rina. Penghasilannya pun semakin berkurang. Uang yang biasanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kini harus dihemat sebaik mungkin.
Suatu sore, pihak sekolah membagikan surat pemberitahuan mengenai biaya kegiatan belajar diluar sekolah. Naya menerima surat itu dengan perasaan gelisah. Ia memilih menyimpan surat tersebut di dalam tas.
Sayangnya, Bu Rina menemukannya saat hendak merapikan tas Naya.
“Kenapa tidak bilang ke ibu?” tanyanya lembut.
Naya menunduk. “Aku tidak ingin menambah beban ibu.”
Bu Rina tersenyum sambil menggenggam tangan putrinya.”Sekolahmu adalah tanggung jawab ibu. Jangan pernah merasa jadi beban.”
Meski berkata demikian, malam itu Bu Rina hanya bisa memandangi kaleng kecil tempat ia menyimpan tabungan. Isinya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Ia pun memutuskan menerima pekerjaan tambahan membersihkan rumah warga setiap akhir pekan.
Karena terlalu memaksakan diri bekerja, kondisi kesehatan Bu Rina mulai menurun. Suatu hari ia jatuh pingsan saat sedang mencuci pakaian. Tetangga segera membantunya pulang dan membawanya ke puskesmas. Dokter mengatakan bahwa Bu Rina mengalami kelelahan dan harus bersitirahat selama beberapa hari.
Melihat ibunya terbarung lemah, hati Naya terasa hancur. Ia mulai berpikir untuk berhenti sekolah agar bisa bekerja membantu ibunya. Namun ketika niat itu disampaikan, Bu Rina langsung menolak.
“Tidak, Naya. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap sekolah. Ibu bekerja justru supaya kamu punya masa depan yang lebih baik.”
Ucapan itu membuat Naya mengurungkan niatnya. Ia sadar bahwa berhenti sekolah hanya akan membuat semua perjuangan ibunya sia-sia.
Sejak saat itu, sepulang sekolah Naya mulai membantu di perpustakaan desa. Meski hanya menjadi relawan dengan uang transport yang tidak seberapa, ia senang karena dapat sedikit meringankan pengeluaran ibunya. Di perpustakaan itulah ia bertemu dengan Bu Maya, seorang petugas yang gemar membaca dan menulis.
Melihat kemampuan menulis Naya, Bu Maya menyarankan mengikuti lomba cerpen tingkat kabupaten.
“Cobalah iku,” kata Bu Maya. “Menulis bukan hanya soal menang, tetapi juga tentang menyampaikan isi hati.”
Malam itu Naya mulai menulis. Ia mengangkat kisah seorang ibu yang bekerja tanpa mengenal lelah demi pendidikan anaknya. Setiap kalimat yang ia tulis mengingatkannya pada perjuangan ibunya. Berkali-kali ia berhenti karena air matanya jatuh membasahi kertas.
Beberapa minggu kemudian, hasil lomba diumumkan. Dengan perasaan gugup, Naya datang bersama Bu Maya ke aula kabupaten. Saat nama juara pertama disebutkan, ia hampir tidak percaya ketika mendengar namanya dipanggil.
Naya berhasil meraih juara pertama. Selain mendapatkan piala dan uang pembinaan, ia juga memperoleh beasiswa pendidikan yang dapat meringankan biaya sekolahnya.
Sesampainya di rumah, Naya langsung memeluk ibunya.
“Bu, aku menang.”
Bu Rina tersenyum bangga, lalu memeluk putrinya erat. Air mata haru mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa perjuangan yang selama ini dijalani mulai menunjukkan hasil.
Sejak saat itu, Naya semakin rajin belajar. Beasiswa yang diterimanya membuat Bu Rina tidak lagi terlalu khawatir memikirkan biaya sekolah. Naya terus mempertahankan prestasinya hingga akhirnya lulus dan juga diterima di perguruan tinggi melalui jalur prestasi.
Selama kuliah, ia aktif mengikuti berbagai lomba menulis dan bekerja paruh waktu sebagai tutor. Semua penghasilannya ia tabung. Sementara itu, Bu Rina mulai mengurangi pekerjaannya karena usia dan kesehatannya tidak lagi sekuat dulu.
Empat tahun kemudian, Naya diwisuda sebagai salah satu lulusan terbaik. Saat berdiri di atas panggung, pandangannya langsung tertuju kepada ibunya yang duduk di deretan kursi paling belakang dengan kebaya sederhana.
Dalam pidato singkatnya, Naya berkata, “Keberhasilan ini bukan hanya milik saya. Semua ini adalah hasil perjuangan seorang ibu yang tidak pernah menyerah meskipun hidup dalam keterbatasan. Beliau mengajarkan bahwa kerja keras, doa, dan kasih sayang mampu mengalahkan keadaan.”
Bu Rina menangis sambil tersenyum. Semua kenangan tentang perjuangan yang pernah dilaluinya seakan terbayar kembali, hari-hari ketika ia mencuci pakaian sejak subuh, menjahit hingga larut malam, bahkan menahan rasa sakit demi memastikan putrinya tetap bisa belajar.
Setelah lulus, Naya memperoleh pekerjaan disebuah perusahaan penerbitan. Dari gaji pertamanya, ia membelikan ibunya kebaya baru, mesin jahit, dan memperbaiki rumah sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjuangan mereka.
Suatu sore mereka duduk bersama di teras rumah yang kini tampak lebih nyaman.
“Bu, sekarang ibu tidak perlu bekerja terlalu keras lagi,” kata Naya sambil menggenggam tangan ibunya.
Bu Rina tersenyum hangat.
“Sebenarnya ibu tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Mimpi ibu hanya satu, melihat anak ibu mendapatkan pendidikan yang layak dan hidup lebih baik.”
Naya memeluk ibunya dengan erat. Saat itulah ia benar-benar memahami bahwa dibalik langkah yang berhasil ia capai, selalu ada doa dan pengorbanan seorang ibu yang tidak pernah meminta balasan.
Mimpi sederhana Bu Rina akhirnya menjadi kenyataan. Bukan tentang rumah yang lebih bagus atau kehidupan yang mewah, melainkan melihat putri yang ia besarkan menjadi perempuan yang mandiri, berpendidikan, dan mampu menjalani hidup dengan penuh harapan.
Sejak hari itu, Naya berjanji akan menjaga ibunya sebagaimana ibunya telah menjaganya selama ini. Karena ia percaya, kasih sayang seorang ibu adalah kekuatan terbesar yang mampu mengubah kesulitan menjadi harapan, dan harapan itu akan selalu hidup dalam hati seorang anak yang tidak pernah melupakan perjuangan orang tuanya.
Bionarasi Penulis
Hallo, perkenalkan nama aku Yusi Nursaadah. Aku adalah mahasiswi aktif dari prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saat ini aku menempuh pendidikan untuk mempersiapkan diri menjadi seorang pendidik yang profesional, kreatif, dan bertanggung jawab. Aku memiliki minat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mengembangkan pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi peserta didik. Aku juga senang mempelajari berbagai hal baru yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan saya sebagai calon guru sekolah dasar.












Tinggalkan Balasan