Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Nema Si Gadis Pemberi Gula

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Siti Alifa Wulandari

   Di sebuah desa kecil yang di kelilingi sawah hijau dan pohon mangga yang rindang, hiduplah seorang gadis bernama Nema. Nema duduk di kelas empat SD. Nema dikenal sebagai anak yang ramah dan menyukai hal hal sederhana. Ia selalu menyapa siapa saja dengan senyuman manis di wajahnya.

   Pagi itu langit terasa begitu mendung, Nema duduk di kursi kayu teras rumah sambil memegang tas kecil ketika akan berangkat sekolah. Saat itu ibu memanggil nema untuk makan, lalu nema sebelum makan berkata “walaupun hari ini sepertinya akan turun hujan, aku tetap semangat pergi ke sekolah bu”. Ibu tersenyum bangga mendengarnya. Lalu Nema berangjat ke sekolah di antar ayahnya.

  Saat menuju ke sekolah, jalanan desa menjadi bsah karena hujan sudah mulai turun. Lalu Nema melihat teman teman lain yang murung karena turun hujan. Namun nema berteriak kepada mereka “Semangat ya, hari ini pasti tetap menyenangkan!”.

   Sesampainya di sekolah, Nema selalu menyapa orang orang yang ia temui sebelum sampai ke kelas.

“Selamat pagi pa!”

“Selamat pagi bu!”

“Halo teman teman!”

   Semua orang yang di sapa pada saat itu pasti membalas dengan senyum juga. Pa Darto, penjaga kebun di sekolah terkenal pendiam, namun ketika Nema menyapa pa Darto beliau sering terlihat lebih ceria. Di sekolah nema sering memmbantu jika ada teman yang kesulitan belajar atau sekedar lupa membawa pensil. Saat tiba di kelas suasana terasa berbeda karna hari ini banyak anak yang murung karena hujan. Tapi Bu Guru terlihat heran karena melihat Nema yang tetap ceria dibandingkan anak-anak yang lain. “kenapa kamu tetap bisa bersemangat padahal yang lain murung, Nema?”, kata Bu Guru heran.

Nema langsung menjawab “itu karena nema aku ingin menjadi hebat dengan terus belajar, bu!”.

Bu Guru tersenyum mendengar jawaban itu.

   Ketika bel istirahat berbunyi, Nema melihat seorang adik kelas itu terjatuh di dekat kantin, buku makanannya terjatuh. Beberapa anak yang lain hanya melihat tanpa membantu. Namun Nema segera berlari dan membantu mengambil buku dan makanan yang terjatuh. Setelah itu nema bertanya keadaan adik kelas yang bernama shinta. Tampaknya setelah terjatuh shinta murung, bukan karena sakit tapi karena bajunya yang kotor setelah terkena tumpahan bekal makanan yang dibawa.

“Terimakasih kak,” katanya pelan

Nema tersenyum sambil membantu membersihkan seragam shinta, lalu mengantarkannya ke kelas.

Setelah bel masuk berbunyi, di kelas Bu Guru bercerita kepada seluruh murid : “Anak-anak, ada banyak cara untuk membuat orang lain bahagia, tidak selalu dengan uang saja. Kadang, sikap ramah, senyuman yang tulus, dan membantu orang lain saja sudah sangat berarti.” Ternyata pada saat Nema menolong shinta tadi Bu Guru melihat perhatian nema yang begtu tulus. Begitupun teman-teman yang lain langsung ingat kepada Nema.

   Sejak hari itu, anak-anak di sekolah mulai meniru kebiasaan baik Nema. Mereka mulai saling menyapa, membantu teman, dan tidak pelit senyum lagi. Sekolah yang dulu ramai karena pertengkaran kecil, sekarang terasa lebih damai dan menyenangkan.

  Nema bukanlah anak yang paling pintar di kelas, juga bukan anak paling kaya di desanya. Namun, hampir semua orang mengenalnya. Bukan karena terkenal, tetapi karena sikap Nema yang ramah kepada siapa saja. Karena itulah, teman temannya memberi julukan kepada Nema yaitu “Gadis pemberi gula”.

Bionarasi Penulis

Haiii, nama ku Siti Alifa Wulandari. Aku adalah mahasiswi aktif dari Program Studi PGSD. Ketika memilih untuk menjadi guru di masadepan, membuatku belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar berdiri di depan kelas, tetapi hadir dengan sepenuh hati di setiap proses belajar peserta didik. Aku memiliki minat yang besar dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah dasar. Dari sinilah aku belajar untuk menjadi calon guru yang aktif, kreatif, inovatif dalam menyusun desain pembelajaran. Aku percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu di dukung dengan cara belajar yang menyenangkan. Karena cerita-cerita kecil yang bermakna cukup untuk meninggalkan jejak cukup besar dalam setiap proses belajar anak.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *