Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Guru Kecil di Bangku Belakang

[Sumber gambar: Foto penulis]

Penulis: Syahat Siti Nurwasilah

Bel istirahat baru saja berbunyi, tapi Bu Rahma masih berdiri di depan kelas 4B. Matanya tertuju pada Danu, murid yang duduk paling belakang, dekat jendela yang catnya sudah mengelupas. Sudah tiga hari ini Danu tidak mengumpulkan tugas menulis cerita pendek.

“Danu, boleh Ibu lihat buku tulismu?” tanya Bu Rahma sambil mendekat.

Danu menunduk. Buku tulisnya kosong, hanya ada coretan-coretan kecil di sudut halaman gambar sepeda, gambar rumah, gambar sosok yang tampak seperti seorang perempuan sedang memasak.

“Kenapa belum ditulis ceritanya, Nak?”

“Saya… saya nggak bisa nulis bagus kayak teman-teman, Bu,” jawab Danu pelan. “Tulisan saya jelek. Nanti diketawain.”

Bu Rahma menarik kursi kecil dan duduk di sebelah Danu. Ia tidak langsung menasihati, hanya menunjuk salah satu gambar di buku itu.

“Ini gambar siapa?”

“Ibu saya. Lagi masak sayur bayam. Setiap pagi sebelum saya sekolah.”

“Coba ceritakan itu ke Ibu. Pakai kata-katamu sendiri, nggak usah dipikirkan bagus atau jelek dulu.”

Danu mulai bercerita, awalnya terbata-bata, tentang ibunya yang bangun sebelum subuh, tentang bau sayur bayam yang selalu tercium di dapur kecil mereka, tentang caranya ibu selalu menyisihkan sepotong tempe goreng paling besar untuknya. Bu Rahma mendengarkan sambil sesekali mengangguk, lalu berkata,

“Nah, itu tadi cerita yang bagus sekali, Danu. Sekarang tulis saja persis seperti yang kamu ceritakan tadi. Tidak perlu kata-kata sulit. Cerita yang jujur itu yang paling kuat.”

Danu mengangguk pelan, meskipun matanya masih ragu. Ia menatap buku tulisnya yang kosong, lalu menatap Bu Rahma sekali lagi, seolah mencari kepastian bahwa apa yang dikatakan gurunya tadi benar-benar bisa ia lakukan.

“Tapi Bu, kalau nanti masih salah tulis hurufnya gimana?”

“Tidak apa-apa. Nanti kita perbaiki sama-sama. Yang penting kamu berani mulai dulu.”

Bel masuk berbunyi, mengakhiri percakapan mereka. Sepanjang sisa hari itu, Danu tampak lebih pendiam dari biasanya, tapi bukan karena takut ia sedang memikirkan kalimat demi kalimat yang ingin ia tuliskan tentang ibunya.

Keesokan harinya, Danu membawa selembar kertas dengan tulisan yang masih belum rapi, banyak coretan, tapi penuh dengan cerita tentang ibunya. Ia datang lebih pagi dari biasanya dan langsung menghampiri meja Bu Rahma sebelum bel berbunyi.

“Bu, saya sudah nulis,” katanya sambil menyodorkan kertas itu dengan tangan sedikit gemetar.

Bu Rahma membacanya perlahan. Ada bagian yang ejaannya masih keliru, ada kalimat yang belum tersambung dengan baik, tapi di balik itu semua, ada kejujuran yang terasa sangat kuat tentang seorang ibu yang bangun sebelum subuh demi menyiapkan sarapan, tentang tangan yang selalu wangi bawang goreng, tentang pelukan singkat sebelum Danu berangkat sekolah.

“Ini bagus sekali, Danu,” kata Bu Rahma sambil tersenyum. “Boleh Ibu bacakan ke teman-teman?”

Danu terdiam sejenak, ada rasa cemas yang muncul, tapi ia mengangguk pelan.

Saat jam pelajaran bahasa Indonesia dimulai, Bu Rahma berdiri di depan kelas dan membacakan tulisan Danu, kata demi kata, dengan suara yang pelan namun jelas. Untuk pertama kalinya, kelas 4B yang biasanya ramai menjadi hening. Beberapa anak menyimak sambil menopang dagu, ada pula yang matanya mulai berkaca-kaca ketika sampai pada bagian tentang tempe goreng yang selalu disisihkan untuk Danu.

Setelah selesai membaca, Bu Rahma menutup kertas itu dan berkata, “Nah, ini contoh cerita yang jujur. Tidak perlu kata-kata sulit untuk membuat orang lain tersentuh. Yang penting, tulis apa yang benar-benar kamu rasakan.”

Sejak hari itu, sesuatu berubah pada diri Danu. Ia tidak lagi duduk diam di bangku belakang sambil menunduk. Ia mulai berani mengangkat tangan saat ditanya, berani menjawab meski kadang jawabannya belum tepat, dan yang paling mengejutkan Bu Rahma, ia mulai membantu teman-temannya yang juga kesulitan menulis.

Suatu siang sepulang sekolah, Danu duduk di teras kelas bersama Ilham, teman sebangkunya. Ilham tampak frustrasi, kertas di depannya penuh coretan karena berkali-kali dihapus.

“Aku bingung mau nulis apa,” keluh Ilham sambil menggigit ujung pensilnya.

“Nggak usah takut jelek,” kata Danu, mengingat kata-kata Bu Rahma. “Tulis aja apa yang bener-bener kamu rasain. Kata Bu Rahma, itu yang paling penting.”

“Tapi tulisanku jelek, Danu. Nanti ditertawain kayak” Ilham berhenti, sadar ia hampir menyinggung apa yang dulu dialami Danu.

Danu hanya tersenyum kecil. “Aku juga dulu mikir gitu. Tapi coba aja dulu. Kamu suka apa? Cerita aja tentang itu.”

Ilham terdiam sejenak, lalu mulai bercerita tentang kakeknya yang setiap sore mengajaknya memancing di sungai belakang rumah. Danu mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk, persis seperti yang dilakukan Bu Rahma kepadanya beberapa hari lalu.

“Nah, itu ceritain aja kayak tadi,” kata Danu. “Nggak usah dipikirin bagus jeleknya.”

Dari kejauhan, Bu Rahma yang sedang merapikan meja guru melihat pemandangan itu sambil tersenyum. Ia sadar, terkadang pendidikan bukan soal siapa yang paling pintar mengeja atau merangkai kalimat sempurna. Terkadang, pendidikan adalah tentang memberi ruang bagi anak untuk percaya bahwa suaranya sekecil apa pun layak untuk didengar, dan tentang bagaimana kepercayaan itu bisa menular dari satu anak ke anak lainnya.

Minggu-minggu berikutnya, sudut kelas 4B berubah menjadi tempat yang lebih hidup. Danu dan beberapa teman yang dulu jarang bicara kini sering berkumpul saat istirahat, saling membacakan tulisan masing-masing, saling memberi masukan dengan cara mereka sendiri yang sederhana namun tulus. Bu Rahma sengaja tidak selalu ikut campur ia membiarkan mereka belajar saling percaya satu sama lain.

Pada akhir semester, sekolah mengadakan acara membaca cerita di depan orang tua murid. Danu, yang dulu paling takut tampil di depan kelas, mengangkat tangan lebih dulu untuk menjadi salah satu yang membacakan tulisannya. Ibunya duduk di barisan depan, tersenyum bangga meski tidak tahu bahwa cerita yang akan dibacakan anaknya adalah tentang dirinya sendiri.

Ketika Danu selesai membaca, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Ibunya menyeka sudut matanya sambil tersenyum. Bu Rahma yang berdiri di sisi ruangan hanya menatap haru, mengingat kembali seorang anak yang dulu duduk diam di bangku belakang, takut menulis, takut ditertawakan.

Dan dari bangku belakang yang dulu sunyi itu, kini tumbuh seorang guru kecil, yang belajar bahwa keberanian menulis dimulai dari keberanian jujur pada diri sendiri dan bahwa keberanian itu, sekali tumbuh, akan menular kepada siapa pun di sekitarnya.

Tentang Penulis

Syahat Siti Nurwasilah merupakan mahasiswa aktif semester 2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), IKIP Siliwangi. Ia memiliki ketertarikan besar pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan kisah-kisah sederhana namun sarat makna, yang menggambarkan dinamika dunia sekolah dasar mulai dari hubungan guru dan murid, semangat belajar, hingga nilai-nilai kehidupan yang tumbuh di ruang kelas. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses menumbuhkan keberanian, kejujuran, dan kepercayaan diri pada setiap anak. Cerpen ini merupakan salah satu bentuk kepeduliannya terhadap dunia pendidikan yang ia tuangkan lewat tulisan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *