
[Penulis: Rina Navadilah]
Perubahan zaman berjalan begitu cepat. Peradaban, budaya, teknologi, hingga kebiasaan sehari-hari manusia ikut berubah mengikuti perkembangan zaman. Perubahan tersebut juga terasa dalam kehidupan anak-anak. Jika dahulu halaman rumah, lapangan, dan tanah lapang menjadi tempat anak-anak berkumpul untuk bermain, kini suasana tersebut semakin jarang ditemukan. Anak-anak lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai dan berbagai permainan digital yang dapat dimainkan seorang diri.
Kemajuan teknologi tentu membawa banyak manfaat bagi kehidupan. Anak-anak dapat memperoleh informasi dengan mudah, berkomunikasi dengan cepat, dan menikmati berbagai bentuk hiburan melalui perangkat digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang perlahan mulai menjauh dari kehidupan mereka, yaitu permainan tradisional. Banyak anak zaman sekarang yang mungkin mengenal permainan melalui layar, tetapi tidak mengenal permainan yang dahulu dimainkan oleh orang tua atau kakek-nenek mereka.
Padahal, permainan tradisional bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Di dalamnya terdapat cerita, kebiasaan, nilai sosial, dan kearifan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Permainan seperti congklak, engklek, gobak sodor, egrang, petak umpet, dan berbagai permainan daerah lainnya merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Setiap permainan memiliki aturan, cara bermain, serta nilai yang dapat mengajarkan anak tentang kehidupan.
Ketika anak-anak bermain permainan tradisional, mereka sebenarnya sedang belajar tanpa merasa sedang belajar. Saat bermain gobak sodor, misalnya, anak harus bekerja sama dengan anggota kelompoknya agar dapat melewati penjagaan lawan. Mereka belajar menyusun strategi, berkomunikasi, dan memahami peran masing-masing. Dalam permainan engklek, anak belajar menjaga keseimbangan tubuh sekaligus mengikuti aturan permainan. Sementara itu, congklak dapat membantu melatih kemampuan berhitung dan konsentrasi.
Permainan tradisional juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar bersosialisasi. Anak-anak bertemu, berbicara, tertawa, berdebat, dan menyelesaikan masalah bersama. Mereka belajar bahwa dalam sebuah permainan tidak selalu ada kemenangan. Ada kalanya mereka menang, tetapi ada pula saat mereka harus menerima kekalahan. Dari pengalaman sederhana tersebut, anak belajar tentang sportivitas, kejujuran, kesabaran, dan menerima hasil dengan lapang dada.
Hal tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Kurniawan (2019) menjelaskan bahwa permainan tradisional merupakan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi serta memiliki berbagai fungsi dan makna. Permainan tersebut dapat dimainkan oleh berbagai kalangan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan permainan tradisional tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan masa kini.
Permainan tradisional juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan motorik anak. Berbeda dengan sebagian permainan digital yang dilakukan sambil duduk, permainan tradisional banyak melibatkan aktivitas fisik. Anak berlari, melompat, berjalan, menjaga keseimbangan, melempar, menangkap, dan bergerak mengikuti aturan permainan. Aktivitas tersebut dapat membantu mengembangkan koordinasi tubuh, kelincahan, ketepatan, kecepatan, serta daya tahan fisik.
Tidak hanya kemampuan fisik, permainan tradisional juga dapat melatih kemampuan kognitif anak. Dalam permainan tertentu, anak harus mengingat aturan, menentukan strategi, menghitung langkah, memperkirakan gerakan lawan, dan mengambil keputusan dengan cepat. Tanpa disadari, berbagai aktivitas tersebut melatih kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Dengan demikian, permainan tradisional sebenarnya dapat menjadi media pembelajaran yang sederhana tetapi kaya manfaat.
Puspitasari (2022) menyatakan bahwa permainan tradisional memiliki keterkaitan yang kuat dengan warisan budaya masyarakat karena mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan dalam interaksi sosial. Anak belajar memahami cara berkomunikasi, bekerja sama, menghargai teman, serta mengikuti aturan yang telah disepakati. Nilai-nilai tersebut sangat penting bagi perkembangan karakter anak, terutama pada usia sekolah dasar ketika mereka sedang membangun kemampuan sosial dan emosional.
Sayangnya, keberadaan permainan tradisional semakin terpinggirkan oleh perkembangan permainan modern. Game digital menawarkan tampilan yang menarik, suara yang beragam, tantangan yang terus berkembang, serta kemudahan untuk dimainkan kapan saja. Tidak mengherankan jika anak-anak lebih tertarik pada permainan yang tersedia di dalam gawai. Masalahnya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada keseimbangan penggunaannya dalam kehidupan anak.
Jika anak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan permainan yang bersifat individual, kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan teman dapat berkurang. Anak mungkin menjadi terbiasa menyelesaikan permainan sendiri tanpa perlu berkomunikasi atau bekerja sama dengan orang lain. Karena itu, orang tua dan guru perlu membantu anak menemukan keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan melakukan aktivitas bermain secara langsung.
Sekolah dapat menjadi salah satu tempat yang strategis untuk menghidupkan kembali permainan tradisional. Guru tidak harus mengajarkan permainan tersebut sebagai materi yang berdiri sendiri. Permainan tradisional dapat diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Misalnya, guru dapat menggunakan congklak untuk mengenalkan konsep berhitung, engklek untuk aktivitas motorik, atau gobak sodor untuk melatih kerja sama dan komunikasi.
Kegiatan tersebut juga dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Bayangkan sebuah kelas yang biasanya hanya duduk di dalam ruangan, kemudian berpindah ke halaman sekolah. Guru mengajak siswa bermain engklek atau gobak sodor. Anak-anak berlari, tertawa, dan saling menyemangati. Setelah permainan selesai, guru dapat mengajak mereka berdiskusi tentang aturan, kerja sama, sportivitas, dan nilai budaya yang terdapat dalam permainan tersebut.
Orang tua juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Pengenalan permainan tradisional dapat dimulai dari rumah. Orang tua dapat menceritakan permainan yang pernah mereka mainkan ketika kecil, kemudian mengajak anak mencobanya bersama. Kegiatan sederhana seperti bermain congklak atau petak umpet bersama keluarga dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi sekaligus mengenalkan budaya kepada anak.
Generasi yang lebih tua juga memiliki peran sebagai penjaga ingatan budaya. Mereka dapat menceritakan bagaimana permainan tradisional dimainkan pada masa lalu, siapa saja yang biasanya ikut bermain, dan nilai apa yang terkandung di dalamnya. Cerita tersebut akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Anak-anak tidak hanya mengetahui nama permainan, tetapi juga memahami alasan mengapa permainan tersebut penting untuk dilestarikan.
Asmawi et al. (2022) menjelaskan bahwa permainan tradisional mengandung berbagai nilai positif, seperti persatuan, kerja sama, toleransi, keadilan, kejujuran, sportivitas, dan kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berguna ketika anak bermain, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang terbiasa bekerja sama dalam permainan akan memiliki pengalaman untuk memahami pentingnya bekerja bersama dalam menyelesaikan persoalan.
Setiap daerah di Indonesia juga memiliki permainan tradisional yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan yang perlu dikenalkan kepada anak. Permainan tradisional dari Jawa Barat, misalnya, dapat memiliki bentuk dan aturan yang berbeda dengan permainan dari daerah lain. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Mengenalkan permainan tradisional berarti sekaligus mengenalkan keberagaman kepada generasi muda.
Pelestarian permainan tradisional tidak berarti menolak perkembangan teknologi. Anak-anak tetap perlu mengenal teknologi karena teknologi merupakan bagian dari kehidupan mereka. Yang perlu dilakukan adalah menciptakan keseimbangan. Gawai dapat digunakan untuk belajar dan bermain secara bijak, sementara permainan tradisional tetap diberi ruang sebagai sarana bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya.
Pada akhirnya, permainan tradisional bukanlah sekadar permainan dari masa lalu. Di balik kesederhanaan alat dan aturannya, terdapat nilai pendidikan yang sangat berharga. Anak belajar bergerak, berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, menghargai aturan, menerima kekalahan, dan menikmati kemenangan secara sportif. Semua pengalaman tersebut merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang mereka.
Jika hari ini kita masih melihat anak-anak bermain congklak, engklek, gobak sodor, atau permainan tradisional lainnya, berarti masih ada bagian dari warisan budaya yang terus hidup. Tugas kita adalah memastikan permainan tersebut tidak hanya menjadi cerita dari generasi terdahulu. Guru, orang tua, dan masyarakat perlu bersama-sama memberikan ruang agar anak-anak dapat mengenal, memainkan, dan mencintai permainan tradisional. Sebab, ketika sebuah permainan hilang, yang mungkin ikut hilang bukan hanya sebuah cara bermain, tetapi juga sebagian kecil dari identitas budaya yang membentuk kita.
Bionarasi Penulis
Rina Navadilah, yang akrab disapa Ririn, lahir di Bandung pada 17 November 1999. Ia saat ini sedang menempuh pendidikan di IKIP Siliwangi sambil menjalankan perannya sebagai ibu dari dua anak. Di tengah kesibukan keluarga dan perkuliahan, Rina juga aktif mengajar di MIS Cikawao, Kecamatan Saguling. Pengalaman sebagai ibu dan pendidik membuatnya memiliki ketertarikan terhadap dunia anak, khususnya dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.












Tinggalkan Balasan