
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Mutiara Anjani Azzahra Lusiana
Di SDN Harapan Bangsa yang terletak di pinggir sawah Desa Cileunyi, Kabupaten Bandung, hidup seorang anak laki-laki bernama Jaka. Jaka merupakan siswa kelas 5B yang berbadan kecil dengan kulit sawo matang karena sering bermain di bawah terik matahari. Ia memang bukan anak paling pandai di kelas. Nilai matematikanya sering merah, tetapi ia memiliki satu kelebihan yaitu tangannya sangat cekatan. Jaka bisa memperbaiki banyak hal, mulai dari sepeda rusak milik teman-temannya hingga pagar sekolah yang roboh diterpa angin. Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, Jaka selalu berhenti di pagar belakang sekolah. Di balik pagar kawat yang mulai berkarat itu terdapat tanah kosong yang dipenuhi rumput liar dan beberapa pohon pisang. Di sanalah seekor anjing kampung tua tinggal.
Anjing itu bernama Kiba. Bulunya cokelat kusam, tubuhnya kurus, dan salah satu telinganya tampak terluka. Namun, setiap kali melihat Jaka datang, Kiba selalu menggoyangkan ekornya dengan semangat.
โPagi, Kiba,โ ucap Jaka sambil tersenyum kecil.
Ia kemudian menyelipkan separuh roti tawar dari bekal sarapannya melalui celah pagar. Kiba langsung melahapnya dengan lahap.
Persahabatan itu sudah berlangsung hampir satu tahun. Jaka tidak pernah tahu siapa pemilik Kiba. Anjing tua itu muncul setelah banjir besar melanda desa tahun lalu. Sejak saat itu, Kiba tinggal di belakang sekolah dan hidup sendirian. Namun, tidak semua orang menyukai kedekatan mereka.
โIhh, Jaka temenan sama anjing liar!โ ejek Riko suatu pagi.
โNanti ketularan kutu lagi!โ tambah beberapa anak sambil tertawa.
Jaka hanya diam. Ia tidak suka bertengkar. Baginya, Kiba jauh lebih setia daripada sebagian orang yang suka mengejek tanpa alasan.
Suatu hari, Bu Dewi, wali kelas 5B, masuk ke kelas dengan membawa beberapa lembar kertas.
โAnak-anak, minggu depan sekolah kita akan kedatangan kepala dinas pendidikan kabupaten,โ katanya. Kemudian suasana kelas mejadi ramai.
โKarena itu, sekolah akan mengadakan kegiatan kebersihan dan proyek lingkungan. Setiap kelas harus membuat kegiatan bertema โPeduli dengan Sekitar.โโ
Semua siswa mulai berdiskusi dengan semangat. Ada yang ingin membuat taman kecil, ada yang ingin menghias kelas, dan ada pula yang ingin membersihkan selokan sekolah. Jaka berada satu kelompok dengan Riko, Sinta, dan Andi. Setelah berdiskusi cukup lama, mereka akhirnya memilih membersihkan area pagar belakang sekolah.
โBagian itu paling kotor,โ kata Sinta.
โIya, rumputnya tinggi-tinggi banget,โ sambung Andi.
Jaka terdiam sejenak.
โTapiโฆ di sana ada Kiba,โ gumamnya pelan.
Riko langsung mendengarnya.
โLagi-lagi anjing itu,โ katanya sambil memutar mata. โKalau kita bersihin tempat itu, anjingnya harus pergi.โ
Jaka tidak menjawab apa-apa, tetapi wajahnya tampak murung sepanjang pelajaran.
Malam harinya, Jaka sulit tidur. Ia duduk di depan rumah sambil memandang langit yang gelap. Angin malam bertiup pelan membawa suara jangkrik dari sawah. Ia takut Kiba akan diusir. Keesokan paginya, Jaka datang lebih awal ke sekolah. Seperti biasa, Kiba sudah menunggunya di balik pagar.
โKibaโฆโ bisik Jaka sambil mengelus kepala anjing itu dari sela pagar. โKalau mereka ngusir kamu gimana?โ
Kiba hanya menggonggong kecil dan menggoyangkan ekornya. Hari demi hari berlalu. Kegiatan membersihkan sekolah mulai dilakukan. Rumput liar di belakang sekolah dipotong. Sampah-sampah dibakar. Pagar tua mulai dicat ulang. Namun sejak area belakang sekolah ramai, Kiba mulai jarang terlihat. Jaka semakin khawatir.
โJangan-jangan Kiba pergiโฆโ pikirnya.
Suatu sore sepulang sekolah, hujan turun sangat deras. Langit menjadi gelap dan angin bertiup kencang. Ketika hendak pulang, Jaka mendengar suara gonggongan keras dari arah belakang sekolah.
โGuk! Guk! Guk!โ
โItu suara Kiba!โ seru Jaka.
Ia segera berlari menuju belakang sekolah meski hujan membasahi seragamnya. Sesampainya di sana, Jaka melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Di dekat gudang sekolah, seekor ular cukup besar melata di dekat kaki Andi yang sedang mengambil sapu namun Andi masih belum menyadari keberadaan ular itu. Sementara itu, Kiba terus menggonggong keras sambil berdiri di depan ular tersebut.
โAndi! Awas ular!โ teriak Jaka.
Andi langsung melompat ketakutan. Ular itu mulai bergerak liar. Beberapa siswa lain yang melihat kejadian itu ikut panik.
Namun Kiba tetap berdiri di depan ular sambil menggonggong keras. Pak Ujang, penjaga sekolah, segera datang membawa tongkat bambu dan berhasil mengusir ular itu ke semak-semak. Kemudian suasana menjadi hening, Andi masih gemetar ketakutan.
โTadiโฆ tadi kalau tidak ada Kibaโฆโ katanya pelan.
Semua siswa menatap anjing tua itu. Untuk pertama kalinya, Riko tidak berkata kasar. Kiba tampak lemas karena terkena hujan deras. Salah satu kakinya bahkan terluka terkena pecahan kayu di dekat gudang.
โKasihanโฆโ ucap Sinta pelan.
Jaka segera menghampiri Kiba dan memeluknya.
โTerima kasih, Kiba,โ katanya dengan mata berkaca-kaca.
Keesokan harinya, cerita tentang Kiba langsung menyebar ke seluruh sekolah. Banyak siswa yang awalnya takut kini mulai mendekat dan memberinya makanan. Bahkan Bu Dewi ikut datang melihat keadaan Kiba.
โTernyata dia menyelamatkan murid kita,โ ujar Bu Dewi sambil tersenyum.
Beberapa hari kemudian, kepala sekolah mengumpulkan siswa kelas lima di aula kecil sekolah.
โAnak-anak,โ katanya, โkita belajar satu hal penting minggu ini.โ
Semua siswa mendengarkan dengan serius.
โKita tidak boleh menilai makhluk hidup hanya dari penampilannya. Hewan juga bisa memiliki rasa setia dan peduli.โ
Jaka tersenyum kecil sambil melihat Kiba yang sedang tidur di dekat pot tanaman.
Akhirnya, sekolah memutuskan membuatkan tempat kecil untuk Kiba di belakang perpustakaan. Pak Ujang membuat kandang sederhana dari kayu bekas, sementara siswa kelas lima bergotong royong membersihkan area sekitarnya. Bahkan Riko ikut membantu mengecat kandang.
โKaโฆโ katanya pelan kepada Jaka. โMaaf ya dulu aku sering ngejek.โ
Jaka tersenyum.
โGapapa.โ
Sejak hari itu, suasana sekolah terasa sedikit berbeda. Anak-anak mulai terbiasa berbagi makanan dengan Kiba. Setiap pagi, anjing tua itu selalu duduk di dekat gerbang seolah menyambut siswa yang datang.
Kiba menjadi bagian dari SDN Harapan Bangsa. Beberapa minggu kemudian, kepala dinas pendidikan datang mengunjungi sekolah. Ia melihat taman yang bersih, kelas yang rapi, dan proyek lingkungan yang dibuat siswa. Namun ada satu hal yang paling menarik perhatiannya.
โAda anjing di sekolah?โ tanyanya heran.
Bu Dewi tersenyum lalu menceritakan bagaimana Kiba pernah menyelamatkan salah satu siswa. Kepala dinas itu tersenyum kagum.
โBagus,โ katanya. โBerarti sekolah ini bukan hanya mengajarkan pelajaran, tapi juga mengajarkan kepedulian dan kasih sayang.โ
Jaka mendengar ucapan itu dari kejauhan. Ia menunduk sambil tersenyum kecil.
Sore harinya, setelah semua kegiatan selesai, Jaka duduk di dekat kandang Kiba sambil memandangi langit jingga. Angin sore bertiup lembut melewati halaman sekolah yang mulai sepi.
โKamu sekarang punya banyak teman, ya,โ kata Jaka sambil mengelus kepala Kiba.
Kiba menggonggong kecil lalu merebahkan kepalanya di kaki Jaka. Di tempat sederhana itu, Jaka memahami satu hal. Kadang, persahabatan datang dari tempat yang tidak pernah kita duga. Dan seekor anjing tua di balik pagar sekolah telah mengajarkan banyak orang tentang arti kepedulian, keberanian, dan ketulusan.
Biografi Penulis
Halo, namaku Mutiara Anjani Azzahra Lusiana. Aku adalah mahasiswi IKIP Siliwangi angkatan 2025 dengan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Menjadi bagian dari dunia pendidikan adalah langkah awal bagiku untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menjadi pendidik yang mampu memberikan inspirasi bagi generasi masa depan.













Tinggalkan Balasan