Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Pusaran Emosi Riley: Film Inside Out sebagai Kanvas Digital Regulasi Emosi Anak SD

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Kurniasih Dzurriyyah Thayyibah

Pernahkah kita melihat anak tiba-tiba menangis hanya karena mainannya diambil? Atau mendapati seorang anak marah karena keinginannya tidak terpenuhi? Beberapa saat kemudian, anak itu bisa kembali tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Perubahan emosi yang cepat seperti itu merupakan bagian dari kehidupan anak-anak, terutama pada usia sekolah dasar.

Bagi anak, mengenali dan mengelola emosi bukan perkara sederhana. Mereka mungkin tahu kapan sedang marah, sedih, senang, atau takut, tetapi belum tentu memahami alasan di balik perasaan tersebut. Lebih dari itu, mereka juga belum selalu tahu bagaimana mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya membuat anak pintar secara akademik. Anak juga perlu dibekali kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, berempati kepada orang lain, mengambil keputusan dengan bijak, dan mengelola perasaan ketika menghadapi berbagai persoalan. Inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam Social Emotional Learning (SEL) atau pembelajaran sosial-emosional.

Dalam konteks pendidikan saat ini, kemampuan sosial dan emosional menjadi semakin penting. Anak tidak hanya perlu belajar membaca, berhitung, atau memahami berbagai konsep pengetahuan. Mereka juga perlu belajar membaca dirinya sendiri: kapan harus bersabar, bagaimana menghadapi kekecewaan, mengapa seseorang bisa marah, dan bagaimana memahami perasaan orang lain.

Pembelajaran tentang emosi sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara. Guru dapat mengajak siswa berdiskusi, bermain peran, bercerita, atau melakukan kegiatan refleksi. Namun, di tengah perkembangan teknologi digital, ada satu media yang dapat membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan dunia anak, yaitu film.

Salah satu film yang menarik untuk digunakan adalah Inside Out. Film animasi ini mengangkat persoalan emosi manusia melalui cerita yang sederhana, lucu, sekaligus menyentuh.

Film tersebut bercerita tentang Riley, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang harus menghadapi perubahan besar dalam hidupnya setelah keluarganya pindah ke kota baru. Bagi orang dewasa, pindah rumah mungkin terlihat sebagai hal biasa. Namun, bagi Riley, perubahan tersebut menjadi pengalaman yang tidak mudah.

Menariknya, berbagai emosi Riley digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang hidup di dalam pikirannya. Ada Joy yang mewakili kebahagiaan, Sadness sebagai kesedihan, Fear sebagai ketakutan, Anger sebagai kemarahan, dan Disgust sebagai rasa jijik. Kelima emosi tersebut bekerja di sebuah pusat kendali yang mengatur berbagai respons Riley terhadap situasi yang ia hadapi.

Cara film ini menggambarkan emosi membuat sesuatu yang sebenarnya abstrak menjadi lebih konkret. Anak-anak dapat melihat bahwa rasa marah, takut, senang, atau sedih bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Setiap emosi memiliki fungsi dan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir serta bertindak. Salah satu pesan penting dari Inside Out adalah bahwa tidak semua perasaan negatif harus dihindari.

Selama ini, anak sering kali mendapat pesan bahwa sedih itu tidak baik, menangis berarti lemah, atau marah adalah sesuatu yang harus segera dihentikan. Padahal, emosi negatif juga mempunyai fungsi.

Kesedihan, misalnya, dapat membantu seseorang menerima kenyataan, mencari dukungan, dan membangun hubungan dengan orang lain. Ketika seseorang sedang sedih, ia mungkin membutuhkan orang lain untuk mendengarkan dan memberikan penguatan.

Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat diambil dari Inside Out: kita tidak harus selalu bahagia untuk menjadi baik-baik saja.

Pesan tersebut sangat relevan bagi anak-anak. Mereka perlu memahami bahwa merasa sedih, takut, kecewa, atau marah adalah hal yang manusiawi. Yang perlu dipelajari bukan bagaimana menghilangkan emosi tersebut, melainkan bagaimana mengenali, menerima, dan mengelolanya.

Dengan kata lain, anak tidak perlu diajarkan untuk menjadi manusia yang selalu ceria. Mereka justru perlu belajar menjadi manusia yang mampu memahami apa yang sedang dirasakannya.

Di kelas, konsep tentang emosi terkadang terasa abstrak jika hanya dijelaskan melalui definisi. Guru mungkin mengatakan, “Marah adalah emosi yang muncul ketika seseorang merasa terganggu atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.” Penjelasan tersebut benar, tetapi belum tentu mudah dipahami anak.

Film dapat menjadi jembatan antara konsep dan pengalaman.

Melalui gambar, suara, warna, karakter, dan cerita, anak dapat melihat bagaimana emosi bekerja dalam kehidupan seseorang. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan tentang emosi, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah perasaan dapat memengaruhi tindakan.

Di sinilah Inside Out memiliki potensi sebagai media pembelajaran. Film tidak sekadar menjadi tontonan untuk mengisi waktu luang, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa.

Guru, misalnya, dapat mengajak siswa berdiskusi setelah menonton film.

“Pernahkah kalian merasa seperti Riley?”

“Apa yang biasanya membuat kalian marah?”

“Ketika sedih, apa yang kalian lakukan?”

“Apakah menangis itu salah?”

“Bagaimana cara kita membantu teman yang sedang sedih?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuka ruang bagi siswa untuk mengenali dirinya sendiri.

Pembelajaran menggunakan Inside Out juga dapat diarahkan pada pengembangan empati. Setelah memahami emosi diri sendiri, siswa dapat diajak memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan.

Seorang teman yang tiba-tiba diam mungkin sedang sedih. Teman yang mudah marah mungkin sedang menghadapi persoalan tertentu. Seseorang yang terlihat takut belum tentu sedang mencari perhatian.

Dengan demikian, siswa belajar untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian kepada orang lain.

Dalam pembelajaran di sekolah dasar, film ini setidaknya dapat membantu siswa untuk mengenali berbagai jenis emosi, memahami fungsi setiap emosi, menerima perasaan yang tidak menyenangkan, serta meningkatkan empati terhadap orang lain.

Pembelajaran seperti ini juga sejalan dengan pendekatan berbasis pengalaman. Anak belajar melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Mereka dapat menghubungkan pengalaman Riley dengan pengalaman pribadi yang pernah mereka alami.

Meski menarik, penggunaan film dalam pembelajaran tidak berarti guru dapat begitu saja menayangkan film dan membiarkan siswa menontonnya tanpa arahan.

Film hanyalah media. Pemaknaan tetap membutuhkan peran guru.

Durasi Inside Out yang cukup panjang juga perlu disesuaikan dengan waktu pembelajaran. Guru dapat memilih bagian-bagian tertentu yang paling relevan dengan materi. Setelah itu, siswa dapat diajak berdiskusi, menuliskan pengalaman emosional mereka, membuat jurnal sederhana, atau bermain peran berdasarkan situasi yang ada dalam film.

Guru juga perlu mempertimbangkan usia siswa. Konsep emosi yang ditampilkan dalam film mungkin mudah dipahami oleh siswa kelas tinggi, tetapi dapat menjadi lebih abstrak bagi siswa kelas rendah. Karena itu, penjelasan guru tetap diperlukan agar pesan film tidak berhenti pada hiburan semata.

Jika digunakan secara tepat, film justru dapat membuat kelas lebih hidup. Anak tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi melihat, merasakan, berdiskusi, dan merefleksikan pengalaman mereka sendiri.

Pada akhirnya, Inside Out menunjukkan bahwa pembelajaran dapat hadir dari berbagai sumber, termasuk karya budaya populer yang dekat dengan kehidupan anak.

Film ini menarik karena mampu menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks: bagaimana manusia merasakan, mengingat, takut, marah, sedih, dan bahagia. Melalui karakter-karakter emosinya, anak-anak dapat memahami bahwa setiap perasaan memiliki tempat dan fungsi.

Di era digital seperti sekarang, pembelajaran memang tidak harus selalu terpaku pada buku dan ceramah. Guru dapat memanfaatkan film, animasi, video, gim edukatif, dan berbagai media digital lainnya selama penggunaannya tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak mengetahui banyak hal. Pendidikan juga tentang membantu anak memahami dirinya sendiri.

Dan mungkin, salah satu pelajaran paling penting yang bisa dibawa pulang siswa setelah menonton Inside Out adalah kalimat sederhana ini: tidak apa-apa untuk merasa sedih, takut, atau marah. Yang terpenting adalah belajar memahami dan mengelolanya.

Ketika anak mampu mengenali emosinya, ia sedang belajar mengenali dirinya. Ketika ia mampu memahami perasaan orang lain, ia sedang belajar menjadi manusia yang lebih berempati.

Pada titik itulah, sebuah film animasi tidak lagi sekadar menjadi tontonan. Ia berubah menjadi ruang belajar tentang kehidupan.

Bionarasi Penulis

Kurniasih Dzurriyyah Thayyibah merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) asal Bandung. Ia memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan, khususnya pemanfaatan media digital dalam menciptakan pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan mudah dipahami siswa. Ketertarikannya terhadap perkembangan teknologi mendorongnya untuk terus mengeksplorasi berbagai pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan karakter generasi saat ini.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *