
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Ajeng Nuroniah
Pendidikan di era modern memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi berbagai tantangan global. Dalam konteks ini, profesi pendidik menjadi salah satu pilar utama dalam keberhasilan pendidikan. Seorang pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga membimbing, membina, serta menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik. Meskipun realitas menunjukkan bahwa kesejahteraan pendidik sering kali belum sebanding dengan beban dan tanggung jawab yang mereka emban, dedikasi dan semangat para pendidik tetap patut diapresiasi. Mereka tetap hadir di garis depan, berjuang dengan penuh kesabaran demi kemajuan anak bangsa.
Salah satu gambaran nyata tentang dedikasi seorang pendidik dapat dilihat dari sosok Bu Mega. Pada suatu pagi, ia sebenarnya merasa enggan untuk berangkat mengajar. Rasa lelah dan berbagai tekanan yang dirasakannya hampir membuatnya menyerah. Namun, kesadaran akan tanggung jawab yang besar sebagai seorang guru membuatnya mengesampingkan perasaan tersebut. Dengan semangat yang tersisa, ia tetap melangkahkan kaki menuju sekolah. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak memiliki kendaraan pribadi, sehingga ia harus berjalan kaki setiap hari. Meskipun demikian, perjalanan tersebut justru menjadi sumber motivasi tersendiri baginya. Ia melihat aktivitas masyarakat di pagi hari yang penuh semangat, sehingga perlahan memunculkan energi positif dalam dirinya.
Sesampainya di sekolah, harapan untuk beristirahat sejenak sirna ketika ia dihadapkan pada situasi yang cukup menantang. Seorang siswa laki-laki bernama Kiki terlihat sedang menangis dan mengamuk. Kejadian tersebut bukanlah hal yang pertama kali terjadi, melainkan sudah menjadi rutinitas hampir setiap pagi. Bu Mega pun mencoba mencari tahu penyebabnya dengan bertanya kepada orang tua Kiki. Diketahui bahwa Kiki merasa kesal karena tidak membawa mainan dari rumah, sedangkan jarak rumahnya cukup jauh sehingga tidak memungkinkan untuk kembali mengambilnya.
Kiki merupakan siswa kelas satu sekolah dasar yang memiliki kebiasaan membawa mainan ke sekolah setiap hari. Ia sangat bergantung pada mainan tersebut dan tidak bersedia menyimpannya, meminjamkannya, atau bahkan jika tersentuh oleh orang lain. Apabila hal tersebut terjadi, Kiki akan mengalami tantrum yang cukup lama, bahkan bisa berlangsung selama berjam-jam. Kondisi ini tentu menghambat proses pembelajaran, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi teman-temannya di kelas.
Menghadapi situasi tersebut, Bu Mega tidak tinggal diam. Ia berusaha mencari strategi agar Kiki tetap dapat mengikuti pembelajaran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memasuki dunia anak tersebut, yaitu melalui pendekatan bermain. Sementara itu, kegiatan pembelajaran di kelas sementara ditangani oleh guru pendamping hingga kondisi Kiki lebih terkendali. Pendekatan ini menunjukkan bahwa seorang pendidik dituntut untuk kreatif dan adaptif dalam menghadapi karakteristik peserta didik yang beragam.
Namun, permasalahan Kiki tidak berhenti pada perilaku tantrum saja. Ia juga menunjukkan sikap tidak mau mengakui kesalahan, sering meminta pulang, serta mengucapkan kata-kata kasar kepada teman maupun gurunya. Setelah dilakukan pengamatan selama beberapa minggu, ditemukan indikasi bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah paparan konten yang tidak sesuai dengan usianya, seperti tayangan yang mengandung unsur kekerasan. Hal ini terlihat dari kebiasaannya menggambar tokoh-tokoh dengan unsur kekerasan dan mengucapkan kalimat agresif ketika marah.
Selain itu, pola asuh orang tua juga turut berperan dalam membentuk perilaku Kiki. Berdasarkan pengamatan Bu Mega, Kiki cenderung kurang mandiri karena segala kebutuhannya selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Ia terbiasa dilayani, mulai dari memakai sepatu hingga membawa tas. Kondisi ini menyebabkan Kiki tidak belajar untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Bu Mega pun telah berupaya menjalin komunikasi dengan orang tua Kiki agar dapat bekerja sama dalam mengontrol penggunaan gadget, membatasi tontonan, serta melatih kemandirian anak. Namun, dalam praktiknya, orang tua sering kali kesulitan untuk konsisten karena rasa sayang yang berlebihan.
Permasalahan ini menimbulkan dilema bagi Bu Mega. Di satu sisi, ia harus memberikan perhatian khusus kepada Kiki agar dapat berkembang dengan baik. Namun, di sisi lain, perhatian yang berlebihan dapat memicu kecemburuan sosial dari peserta didik lainnya. Selain itu, keterbatasan fasilitas di sekolah, seperti tidak adanya guru bimbingan dan konseling, menjadi tantangan tambahan dalam menangani kasus ini secara profesional.
Dengan demikian, diperlukan upaya kolaboratif antara sekolah dan orang tua dalam menangani permasalahan perilaku peserta didik. Pendidik tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dari lingkungan keluarga. Selain itu, sekolah juga perlu mengupayakan adanya layanan bimbingan dan konseling untuk membantu menangani kasus-kasus serupa. Bu Mega sebagai pendidik telah menunjukkan dedikasi dan kesabaran yang luar biasa. Namun, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kesabaran tersebut harus dipertahankan tanpa adanya sistem pendukung yang memadai. Hal ini menjadi refleksi penting bagi semua pihak bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas seorang guru semata.
Bionarasi Penulis
Ajeng Nuroniah merupakan mahasiswa di bidang Ilmu Pendidikan yang lahir pada tahun 2003. Ia memiliki minat besar dalam dunia pendidikan serta kepedulian terhadap perkembangan karakter dan kedisiplinan peserta didik. Selain itu, Ajeng juga menyukai seni, khususnya menggambar, melukis, dan berbagai aktivitas kreatif. Minat tersebut menjadi bagian dari upayanya dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan inovatif. Kepeduliannya terhadap anak-anak di lingkungan sekitar yang belum tertib dan kurang mendapatkan pendidikan yang optimal mendorongnya untuk berkontribusi menjadi pendidik yang mampu membimbing, mendidik, serta menanamkan nilai-nilai positif.












Tinggalkan Balasan