Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Keterbatasan Bukan Merupakan Sebuah Halangan

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Pitri Nurhayati

Pendidikan merupakan proses penting dalam membentuk karakter dan kemampuan anak sejak usia dini. Dalam pembelajaran sekolah dasar, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang menarik, nyaman, dan mudah dipahami oleh peserta didik. Inovasi pembelajaran sangat diperlukan agar anak-anak lebih aktif, semangat, dan tidak mudah bosan saat belajar. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah formal, tetapi juga dapat tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat, salah satunya di masjid.

Di tempat inilah nilai-nilai agama, akhlak dan karakter anak dibentuk sejak usia dini. Saya memiliki pengalaman yang sangat berkesan ketika ditunjuk untuk membantu seorang guru ngaji. Guru tersebut Bernama A, beliau memiliki keterbatasan fisik karena tidak dapat melihat, namun semangatnya dalam mengajar anak-anak mengaji sangat luar biasa. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu berasal dari teknologi canggih, tetapi juga dapat lahir dari ketulusan, kreativitas dan semangat seorang pendidik.

Guru ngaji tersebut sudah mengajar cukup lama di lingkungan kami. Meskipun beliau tunanetra, beliau mampu menghafal banyak surah Al-Qur’an, doa-doa harian dan tajwid dengan sangat baik. Anak-anak sangat menghormati beliau karena cara mengajarnya lembut, sabar dan penuh perhatian. Setiap sore setelah salat Ashar, anak-anak datang ke masjid untuk belajar mengaji.

“ Ayo anak-anak, sekarang kita mulai belajar,” ucap beliau dengan suara lembut ketika anak-anak mulai berkumpul. Anak- anakpun segara duduk rapi sambil membawa iqra dan Al-Qura’n masing-masing.

Suasana pembelajaran selalu terasa hangat dan menyenangkan. Namun, dalam proses pembelajaran tentu terdapat tantangan. Karena keterbatasan penglihatan, beliau mengalami kesulitan untuk memeriksa bacaan setiap anak secara langsung, terutama ketika jumlah murid cukup banyak. Oleh karena itu, saya ditunjuk untuk membantu beliau dalam kegiatan belajar mengajar. Tugas saya adalah membantu mengawasi bacaan anak-anak, membetulkan makhraj huruf, serta mendampingi anak-anak yang masih belajar membaca iqra dan mengatur giliran yang mengaji.

Awalnya saya merasa gugup karena belum memiliki banyak pengalaman mengajar anak-anak. Beliau selalu memberi motivasi kepada saya. Ucapan beliau “ Mengajar anak-anak itu harus sabar, karena mereka dalam proses belajar”. Saya mulai memahami bahwa pembelajaran anak sekolah dasar membutuhkan kesabaran, kreativitas dan suasana belajar yang menyenangkan.

Dari sinilah muncul sebuah inovasi pembelajaran sederhana tetapi sangat bermanfaat. Kami mulai membagi metode belajar menjadi beberapa kelompok kecil. Diterapkan metode tutor sebaya, anak-anak yang sudah lancar membaca Al-Qur’an membantu teman-temannya yang masih kesulitan. “Kak, saya masih bingung membedakan huruf ‘sa’ dan ‘sya’. Ujar seorang anak kepada saya. Saya kemudian mengajarkannya dengan perlahan sambil meminta teman disampingnya ikut membuat penjelasan.

Metode ini membuat proses belajar menjadi lebih aktif dan tidak hanya bergantung pada satu guru saja. Anak-anak juga menjadi lebih percaya diri karena dapat saling membantu dan belajar bersama.

Inovasi lain yang dilakukan adalah penggunaan lagu dan irama dalam menghafal doa serta surah pendek. Anak-anak sekolah dasar cenderung lebih mudah mengingat sesuatu melalui nyanyian atau pengulangan yang menyenangkan. Guru ngaji sering mengajarkan hafalan dengan nada tertentu sehingga anak-anak cepat mengingat bacaan tersebut. Metode ini membuat pembelajaran terasa tidak membosankan dan lebih mudah dipahami. Selain itu, kami menggunakan metode pembelajaran berbasis suara dan hafalan. Karena guru ngaji lebih mengandalkan pendengaran, maka anak-anak dibiasakan membaca Al-Qur’an dengan suara yang jelas dan benar.

Setiap anak membaca secara bergantian, kemudian guru akan mendengarkan dan memperbaiki kesalahan bacaannya. Cara ini ternyata sangat efektif untuk melatih fokus, keberanian dan kemampuan membaca anak-anak. Kami juga mencoba membuat suasana belajar lebih menyenangkan dengan memberikan motivasi dan penghargaan sederhana. Anak-anak yang rajin hadir atau mampu menghafal surah pendek diberikan pujian atau hadiah kecil seperti alat tulis. Hal ini membuat mereka semakin semangat datang ke masjid. Tidak sedikit anak yang awalnya malas mengaji menjadi lebih rajin karena merasa diperhatikan dan dihargai.

Dari pengalaman membantu beliau, saya menyadari bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Justru dengan segala keterbatasannya, beliau mampu menunjukkan dedikasi dan semangat yang luar biasa. Beliau selalu datang lebih awal ke masjid dan sekaligus menjadi imam shalat dan mempersiapkan pembelajaran dan menyapa anak-anak dengan ramah. Sikap beliau menjadi contoh nyata bagi kami semua tentang arti keikhlasan dalam mengajar.

Kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter anak-anak termasuk siswa  sekolah dasar. Mereka belajar tentang rasa hormat kepada guru, kepedulian terhadap sesama dan semangat untuk terus belajar. Anak-anak juga belajar bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi semua tetap bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain.

Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya belajar tentang kesabaran dalam menghadapi anak-anak, pentingnya kerja sama dalam pembelajaran dan cara menciptakan suasana belajar yang nyaman. Pengalaman ini juga membuat saya lebih menghargai perjuangan para guru yang dengan penuh pengabdian mendidik generasi muda. Inovasi pembelajaran di sekolah dasar sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan. Dalam pengalaman ini, inovasi muncul melalui kerja sama antara guru, pendamping dan peserta didik. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan.

Semangat beliau seorang guru ngaji tunanetra menjadi inspirasi besar dalam dunia Pendidikan terutama saya. Dengan keterbatasan yang dimiliki, beliau tetap mampu mengajar dengan penuh dedikasi dan menciptakan pembelajaran yang bermakna. Kehadiran saya dalam membantu proses mengajar menjadi salah satu bentuk inovasi yang mendukung keberhasilan pembelajaran. Dari pengalaman tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan yang baik lahir dari ketulusan hati, semangat berbagi ilmu, dan kerja sama yang kuat dalam mendidik anak-anak menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Biografi Penulis

Halo, nama saya Pitri Nurhayati, mahasiswi aktif sedang menempuh  pendidikan di Program Studi  Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Nonreguler tahun 2024. Menjadi mahasiswa PGSD merupakan salah satu langkah yang saya pilih untuk mengembangkan kemampuan sebagai calon pendidik yang profesional, kreatif dan bermanfaat. Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya waktu itu ketika dipercaya membantu seorang guru ngaji tunanetra dalam mengajar anak-anak. Saya belajar tentang arti kesabaran, keikhlasan dan semangat dalam berbagi ilmu, membuat saya lebih memahami pentingnya Kerjasama dan kepedulian terhadap sesama. Untuk kedepannya sebagai calon guru, saya berharap dapat terus berkembang, memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang mampu menginspirasi untuk orang lain melalui hal positif yang saya lakukan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *