Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Inovasi Pembelajaran yang Memadukan Permainan Tradisional Congklak dengan Matematika SD

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Rahayu Setianingsih

Seiring perubahan zaman kini kita melihat perbedaan yang signifikan mengenai gaya atau teknik mengajar para guru 10 tahun ke belakang dibanding sekarang. Mengapa bisa demikian? 10 tahun yang lalu pembelajaran berfokus pada guru, metode yang dominan digunakan metode ceramah, guru menyiapkan materi siswa menerima, dan tanya jawab satu arah. Sedangkan saat ini kita dihadapkan dengan pembelajaran inovatif abad 21 yang menekankan kolaborasi.

Belajar bukan lagi proses individual, tapi saling terhubung antar siswa. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya kolaborasi yaitu, lingkungan belajar, peran guru sebagai fasilitator, dan penggunaan teknologi. Siswa aktif mencari, mencoba, dan menyimpulkan sedangkan guru berperan sebagai fasilitator. Namun bukan berarti yang dulu salah hanya saja fokus, alat, dan kebutuhannya yang berbeda. Lalu apakah inovasi pembelajaran harus mentok melulu memakai teknologi? Jawabannya tidak, inovasi pembelajaran merupakan cara baru yang dibuat/diusahakan untuk membuat proses pembelajaran lebih efektif dan bermakna. Fokus ke cara baru (belum pernah dialami) yang efektif bisa berupa objek nyata (konkret) maupun berbasis digital.

Matematika merupakan pelajaran yang kurang diminati oleh siswa sekolah dasar di Indonesia karena konsepnya yang abstrak membuat siswa sekolah dasar kesulitan dalam memahami konsep matematika. Siswa sekolah dasar cenderung memahami sesuatu yang bersifat kontekstual (nyata), sehingga matematika menjadi pelajaran yang ditakuti dari dulu sampai sekarang. Padahal mempelajari matematika sangat penting bagi kehidupan sehari hari, kehidupan sehari hari kita tidak mungkin tanpa matematika dasar. Bayangkan jika siswa  sekolah dasar tidak dapat memahami matematika dasar, mereka tidak dapat menghitung, tidak dapat memperkirakan waktu, dan lain-lain. Solusi yang sedang diusahakan oleh seluruh lembaga pendidikan yaitu dengan meng-upgrade  skill mengajar, pendidik dihimbau untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan namun tetap bermakna.

Membuat inovasi pembelajaran tentu membutuhkan waktu yang banyak bagi seorang pendidik untuk menyesuaikan media ajar dengan kebutuhan siswa. Pendidik perlu mengidentifikasi apakah media yang akan dipakai sesuai dan layak, inovasi pembelajaran tidak hanya mengikuti tren tetapi disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendidik perlu menimbang seberapa efektif media yang digunakan jika diimplementasikan di kelas. Mengapa perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa? Karena setiap siswa memiliki beragam karakter dan latar belakang sehingga pendidik perlu mengenal satu persatu dengan cara pemetaan kelas. Pemetaan kelas ini sebagai jembatan pendidik untuk membuat inovasi pembelajaran khususnya media ajar.

Contohnya inovasi pembelajaran COGAN (congklak bilangan). Congklak merupakan permainan tradisional Indonesia yang biasanya dipakai untuk hiburan mulai dari kalangan anak-anak maupun dewasa. Kini congklak dipakai sebagai media pembelajaran FPB dan KPK pada pembelajaran matematika. Keunikan media ini dapat mengubah konsep abstrak pada matematika menjadi konkret (nyata), kontekstual, dan fleksibel. Permainan congklak terbukti efektif dalam pembelajaran berhitung (Nataliya 2015). Permainan ini dapat dijadikan media pembelajaran matematika yang menarik bagi siswa SD. Permainan ini mampu mengembangkan kesabaran, ketelitian, serta bagaimana siswa terlatih untuk mengatur strategi (Heryanti, 2014).

Manfaatnya bukan hanya siswa memahami konsep FPB dan KPK tapi juga melatih penalaran, kerja sama, dan minat belajar. Jelas sekali media COGAN ini merupakan sebuah inovasi pembelajaran baru dan menarik bagi siswa sekolah dasar yang menyukai permainan, apalagi di era digital saat ini siswa SD lebih melek akan kecanggihan teknologi sehingga mereka sedikit-sedikit mulai asing dengan permainan tradisional. COGAN ini menggabungkan unsur tradisional dengan konsep abstrak sehingga siswa SD bisa mengenal sedikitnya permainan tradisional Indonesia dan dapat mengurai konsep abstrak yang sulit mereka pahami, sekarang dapat mereka lihat secara nyata. Media ajar COGAN ini dikenalkan oleh Muslihatun dkk 2019 pada siswa kelas IV  Sekolah Dasar Negeri 3 Karangasem. Kegiatan dilaksanakan dalam lima tahapan, yakni penyampaian materi FPB dan KPK, pemutaran video untuk pengenalan congklak, pembuatan COGAN, penggunaan COGAN dalam pembelajaran FPB dan KPK, dan terakhir evaluasi kegiatan (Muslihatun dkk 2019).

Kesimpulannya, keunikan media ajar congklak ada pada kemampuannya mengemas objek nyata dan konsep matematika abstrak sehingga memudahkan siswa memahami konsep yang abstrak. Tidak hanya melatih daya fikir bermain congklak juga dapat melatih kejujuran, kefokusan, dan motorik siswa.

Bionarasi Penulis:

Rahayu Setianingsih lahir di Cimahi, pada 21 Oktober 2002. Saat ini Rahayu sedang menempuh pendidikan tinggi di IKIP Siliwangi pada program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saat ini Rahayu sedang menempuh pendidikan tinggi di IKIP Siliwangi pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sebagai mahasiswa PGSD, ia fokus mendalami bidang pendidikan dasar, mulai dari teori pembelajaran, pengembangan media ajar, hingga praktik mengajar di sekolah dasar.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *