Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menyoal Literasi di Ujung Jari

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Deni Mulyana, S.Pd.

Menyoal Literasi di Ujung Jari

Oleh: Deni Mulyana, S.Pd.

Sebuah ruang aula sekolah seketika senyap pada suatu pagi. Suasana riuh peserta pelatihan tiba-tiba berubah menjadi keheningan yang canggung ketika seorang pemateri literasi melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, tetapi sukses membuat seisi ruangan membeku.

“Berapa buku yang Bapak dan Ibu baca hari ini?”

Sunyi.

Guru-guru mulai saling pandang, berpura-pura sibuk membetulkan letak kacamata, atau tiba-tiba khusyuk mencari pulpen yang seolah-olah tenggelam di dasar tas. Pemateri, yang tampaknya sudah sangat maklum dengan respons semacam ini, kemudian menurunkan tingkat kesulitan pertanyaannya demi menjaga harga diri seisi ruangan.

“Baik, kalau begitu, minggu ini?”

Masih sunyi.

Hanya ada satu-dua tangan yang terangkat, itu pun dengan sangat ragu-ragu, seperti sedang menebak nomor undian. Penasaran, sang pemateri kembali menurunkan standarnya ke level paling darurat.

“Bulan ini? Atau… tahun ini?”

Ironis.

Hitungan jari tangan ternyata lebih dari cukup untuk mengetahui jumlah peserta yang mampu menuntaskan membaca satu judul buku dalam setahun. Pertanyaan tersebut penting karena peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, melainkan juga dari apa yang dicontohkan. Guru adalah role model.

Ironi tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menyalahkan guru. Justru sebaliknya, hal itu mengingatkan kita bahwa membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan menyusun program, membuat slogan, atau memasang pojok baca di setiap kelas. Budaya hanya akan tumbuh ketika orang-orang yang mengusungnya terlebih dahulu menjalankannya.

Selama ini, sekolah nyaris tidak pernah kekurangan program literasi. Gerakan membaca lima belas menit, pojok baca, resensi buku, hingga festival literasi silih berganti dilaksanakan. Namun, di balik berbagai kegiatan seremonial tersebut, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah guru-gurunya sendiri masih memiliki kebiasaan membaca?

Dalam psikologi pendidikan dikenal konsep social learning yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Salah satu gagasan utamanya menyebutkan bahwa manusia belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Artinya, keteladanan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan. Apa yang dilakukan guru sering kali memberikan dampak yang jauh lebih kuat daripada apa yang dikatakannya.

Sebuah adagium klasik yang satiris—“Jika guru kencing berdiri, maka siswa wajar saja kencing berlari”—sepertinya layak menjadi bahan renungan. Jika guru “alergi” membaca buku, jangan heran jika siswanya pun abai. Meminta siswa memiliki budaya membaca yang baik sementara gurunya sendiri mengidap book-phobia adalah sebuah kemustahilan utopis.

Ini seperti menyuruh ikan terbang di udara sementara kita sendiri, sang pelatih, sedang asyik menyelam di dasar air. Jauh panggang dari api. Kita memosisikan diri sebagai penonton yang berdiri di pinggir lapangan sepak bola sambil berteriak sekencang-kencangnya menyuruh pemain berlari. Sementara itu, kaki kita sendiri terikat di kursi malas bernama “kesibukan administratif.”

Alasan kita selalu seragam dan terdengar sangat valid: kami sibuk mengisi aplikasi kinerja, sibuk menyusun modul ajar yang tebalnya mengalahkan novel klasik, dan sibuk mengurus sertifikasi.

Buku?

Ah, itu barang mewah yang menyita waktu.

Akhirnya, aktivitas membaca di kalangan pendidik bergeser maknanya menjadi membaca pesan di grup komunikasi sekolah, membaca instruksi dinas, atau membaca status keluhan rekan sejawat di media sosial.

Selama bertahun-tahun, ada sebuah salah kaprah massal yang dipelihara dengan sangat baik di lingkungan sekolah. Jika ada siswa yang salah mengeja, tidak memahami isi teks bacaan, atau malas datang ke perpustakaan, semua telunjuk akan mengarah ke satu arah: guru bahasa.

Kasihan sekali guru bahasa.

Jika literasi diisolasi hanya dalam jam pelajaran bahasa, siswa akan menganggap membaca sebagai beban akademis—sebuah tugas yang harus diselesaikan demi mendapatkan nilai rapor, bukan sebagai keterampilan hidup (life skill). Guru bahasa seolah-olah memikul beban dosa literasi satu generasi di pundaknya. Seakan-akan, urusan memahami kalimat logis dan menalar teks adalah urusan eksklusif mereka yang mengajarkan tata bahasa.

Padahal, setiap mata pelajaran sesungguhnya adalah ruang literasi.

Guru Matematika mengajarkan peserta didik membaca persoalan secara cermat. Guru IPA mengajak mereka memahami artikel ilmiah. Guru Sejarah melatih kemampuan membandingkan sumber. Guru Geografi membiasakan peserta didik membaca peta dan data. Guru Ekonomi mengembangkan kemampuan membaca grafik. Bahkan, guru Pendidikan Jasmani pun membangun literasi melalui pemahaman terhadap aturan permainan, kesehatan, dan gaya hidup.

Oleh karena itu, solusi yang lahir dari ruang-ruang pelatihan guru menjadi sangat krusial, yaitu mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam semua mata pelajaran. Ini bukan lagi sekadar imbauan manis di atas kertas dokumen kurikulum, melainkan sebuah gerakan masif.

Literasi harus dikeroyok berjamaah.

Ini adalah tanggung jawab kolektif dan kolegial, bukan proyek sektoral guru bahasa semata.

Mengapa gerakan ini harus menyusup ke setiap jam pelajaran?

Jawabannya sederhana: karena literasi bukanlah sebuah mata pelajaran, melainkan fondasi berpikir.

Ketika seorang guru Biologi meminta siswa membaca jurnal ilmiah sebelum praktikum, itu adalah literasi. Ketika seorang guru Ekonomi mengajak siswa membedakan infografik tentang inflasi yang asli dan hoaks, itu juga literasi.

Karena itu, mengintegrasikan literasi ke dalam seluruh mata pelajaran bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Literasi tidak lagi dipandang sebagai program tambahan, tetapi menjadi pendekatan utama dalam proses pembelajaran. Setiap guru memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghadirkan aktivitas membaca, berdiskusi, menafsirkan informasi, dan menulis sesuai dengan karakter mata pelajarannya.

Yang dibutuhkan sebenarnya bukan kegiatan yang rumit.

Selembar artikel pendek, sebuah infografik, satu halaman hasil penelitian populer, atau berita yang relevan dengan materi pelajaran dapat menjadi bahan diskusi sebelum pembelajaran dimulai. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan kecil seperti itu akan jauh lebih bermakna daripada kegiatan seremonial yang hanya berlangsung sesekali.

Budaya memang tidak dibangun oleh acara, melainkan oleh kebiasaan. Ia tumbuh perlahan melalui pengulangan. Karena itu, keberhasilan literasi semestinya tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari semakin seringnya guru dan peserta didik membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di sekolah.

Namun, mari kita kembali ke bumi.

Rencana megah integrasi literasi ini akan kembali menemui jalan buntu dan menjadi dokumen berdebu di lemari arsip jika hulu masalahnya tidak diselesaikan.

Hulunya adalah kita sendiri, sang role model.

Budaya tidak bisa diinstruksikan hanya melalui Surat Keputusan Kepala Sekolah atau Peraturan Menteri. Budaya hanya bisa ditularkan melalui keteladanan. Siswa adalah pengamat yang sangat jeli. Mereka tahu mana guru yang benar-benar mencintai ilmu pengetahuan dan mana guru yang sekadar menggugurkan kewajiban mengajar demi memenuhi prasyarat tunjangan.

Jika kita ingin melihat siswa kita memegang buku dengan binar mata penuh antusiasme, mereka harus terlebih dahulu melihat pemandangan itu di meja guru mereka.

Saat jam istirahat atau waktu luang di sela-sela mengajar, biarkan siswa melihat kita sedang membalik halaman-halaman buku, bukan sekadar mengusap layar gawai dengan tatapan kosong.

Sebab, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat.

Mereka mungkin tidak mengingat semua nasihat yang kita sampaikan di depan kelas. Mereka mungkin lupa dengan slogan literasi yang ditempel di dinding sekolah. Namun, mereka bisa saja mengingat seorang guru yang setiap hari duduk membaca buku ketika waktu luang.

Dan mungkin, dari situlah sebuah kebiasaan kecil mulai tumbuh.

Pertanyaan reflektif dari forum diskusi guru di setiap pelatihan seharusnya tidak dilupakan begitu saja setelah acara penutupan dan pembagian konsumsi selesai. Pertanyaan itu harus terus berdengung di telinga kita setiap kali melangkah masuk ke gerbang sekolah.

Sebelum kita sibuk membenahi peringkat PISA negara, atau sebelum kita menuntut siswa melahap buku-buku di perpustakaan, beli atau pinjamlah satu buku minggu ini. Bacalah. Selesaikan.

Membangun budaya literasi sejatinya bukanlah mimpi.

Besok, ketika kita kembali melangkah masuk ke gerbang sekolah, mari tengok cermin di ruang guru dan tanyakan kepada diri sendiri: apakah literasi di ujung jari kita hari ini masih sebatas hitungan jari yang enggan terangkat karena absen membaca, atau sekadar sapuan jemari tanpa arah di layar gawai?

Mari kita ubah makna tersebut.

Jadikan ujung jari kita sebagai penggerak yang aktif membalik halaman buku demi menularkan keteladanan nyata.

Sebab, keteladanan bukanlah nasihat yang cukup diucapkan, melainkan kebiasaan hidup yang harus dipertontonkan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: