
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Viona Septarania Putri
Pagi itu langit masih pucat ketika Rendi berjalan menuju sekolah. Embun menempel di ujung-ujung rumput liar di pinggir jalan setapak, membuat sandal karetnya basah setiap kali ia melangkah terlalu dekat ke semak. Tas merah kusam di punggungnya bergoyang kecil mengikuti irama langkah yang sengaja diperlambat. Dari kejauhan suara bel sekolah samar-samar sudah terdengar, memantul bersama kokok ayam dan deru sepeda motor para orang tua yang mengantar anak-anak mereka.
Tapi Rendi tidak buru-buru.
Ia berhenti di dekat kebun singkong milik Bu Darmi. Daun-daunnya lebar dan hijau gelap, bergerak pelan disentuh angin pagi. Rendi menendang batu kecil ke arah got sempit di samping jalan, lalu jongkok di bibirnya. Air di dalam got itu keruh dan mengalir malas, membawa daun kering dan bungkus permen entah dari mana. Di sisi semen yang retak, barisan semut hitam berjalan tergesa membawa remah-remah roti yang ukurannya hampir lebih besar dari tubuh mereka.
Rendi menghitungnya pelan dalam hati.
Satu… dua… tiga…
Strategi itu sudah sering berhasil. Kalau ia datang sesudah bel berbunyi, biasanya guru-guru sudah sibuk di kelas masing-masing. Tidak ada yang sempat memarahinya terlalu lama. Paling hanya dicatat terlambat lalu selesai.
Namun pagi itu nasibnya sedang tidak mau diajak bekerja sama.
Ketika ia akhirnya sampai di gerbang sekolah, Pak Hendra sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap. Seragam cokelatnya rapi, rambutnya licin disisir ke belakang, dan sepatu hitamnya mengilap terkena matahari pagi.
“Rendi.”
Hanya satu kata. Tidak keras, tidak membentak. Tetapi cukup membuat tengkuk Rendi terasa dingin.
Ia menelan ludah dan menunduk sedikit. Bau minyak kayu putih dari tubuh Pak Hendra bercampur dengan aroma tanah basah yang terbawa angin pagi.
“Besok jangan diulang lagi.”
Rendi mengangguk cepat lalu berlari kecil menuju kelasnya.
Kelas empat B berada di ujung koridor sebelah timur. Bangunannya sudah tua. Cat tembok warna hijau muda mengelupas di beberapa bagian seperti kulit yang terbakar matahari. Jendela-jendelanya tinggi dengan kusen kayu yang mulai keropos dimakan usia. Satu kipas angin menggantung miring di langit-langit, berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi berderak seperti dengkuran orang tidur.
Begitu masuk, aroma khas kelas langsung menyergap hidung Rendi: bau kapur tulis, kayu meja yang lembap, dan sedikit bau karet dari sepatu-sepatu basah anak-anak yang baru datang.
Aneh, tapi Rendi menyukai bau itu.
Bau yang membuatnya merasa sedang berada di tempat yang dikenalnya baik.
Ia duduk di bangku baris ketiga dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat pohon mangga besar di halaman sekolah. Kadang ada burung pipit hinggap di rantingnya, kadang daun-daunnya jatuh berputar ketika angin datang lebih kencang.
Hari Rabu adalah hari favoritnya.
Bukan karena matematika lebih sedikit atau karena jadwal olahraga. Hari Rabu berarti pelajaran Bahasa Indonesia bersama Bu Lastri.
Bu Lastri selalu datang membawa buku cerita. Tidak pernah absen.
Pagi itu perempuan berkacamata itu berdiri di depan kelas sambil memegang sebuah buku bersampul biru pudar.
“Seperti biasa,” katanya sambil tersenyum kecil, “sepuluh menit untuk cerita.”
Anak-anak langsung tenang.
Suara kipas angin tetap berdengung. Di luar kelas terdengar teriakan anak kelas satu yang sedang olahraga. Tapi ketika Bu Lastri mulai membaca, semua suara itu perlahan seperti menjauh.
Hari ini ceritanya tentang seorang pelaut yang tersesat di pulau tanpa nama.
Suara Bu Lastri naik turun seperti ombak. Kadang pelan ketika malam dalam cerita datang, kadang cepat saat badai menghantam kapal. Rendi menopang dagu dengan tangan sambil memandang keluar jendela, tetapi bayangan di kepalanya jauh berada di tengah laut. Ia bisa membayangkan air asin, langit gelap, dan kapal kayu yang terombang-ambing sendirian.
Untuk beberapa menit itu, semuanya lenyap.
Pak Hendra. Keterlambatan. Got dan semut-semut. Bahkan rasa dingin di kakinya karena embun pagi.
Yang ada hanya suara Bu Lastri dan laut yang hidup di dalam cerita.
Masalah mulai muncul saat jam istirahat pertama.
Matahari sudah naik tinggi dan halaman sekolah dipenuhi suara anak-anak. Ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang membeli cilok di depan pagar, ada juga yang duduk bergerombol sambil bertukar kartu gambar.
Rendi baru saja kembali dari tempat cuci tangan ketika suara Dimas terdengar.
“Kotak pensilku hilang.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat beberapa kepala menoleh.
Kotak pensil milik Dimas memang terkenal di kelas. Warnanya biru tua dengan gambar karakter kartun Jepang. Di dalamnya ada pensil warna lengkap yang sering dipamerkannya ke teman-teman.
“Tadi aku lihat kamu pegang,” kata Dimas sambil menatap Rendi lurus-lurus.
Rendi mengerutkan kening. “Aku cuma pinjam serutan.”
“Terus sekarang mana?”
“Aku balikin. Aku taruh lagi di mejamu.”
Dimas tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan.
Dan entah kenapa, gerakan kecil itu terasa lebih menyakitkan daripada kalau Dimas berteriak marah.
Pelan-pelan beberapa anak mulai mendekat.
Bagas berdiri di sebelah Dimas dengan wajah serius seperti polisi sungguhan. Shinta pura-pura sibuk memasukkan buku ke tas, padahal matanya terus melirik ke arah mereka. Nadia, teman sebangku Rendi, berdiri agak jauh sambil menggigit ujung pensilnya.
“Kamu cari baik-baik dulu,” kata Rendi pendek.
“Tapi tadi cuma kamu yang pegang.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Rendi merasakan panas naik ke lehernya. Tangannya mengepal di samping badan. Ada dorongan besar untuk membela diri lebih keras, untuk bilang bahwa dia bukan pencuri, bahwa dia cuma meminjam serutan karena pensilnya patah.
Tapi ia tahu percuma.
Kadang orang sudah menentukan jawaban sebelum pertanyaan selesai diucapkan.
Akhirnya Rendi memilih diam. Ia kembali ke bangkunya lalu duduk sambil memandangi meja kayu penuh coretan di depannya. Ada ukiran nama-nama lama, gambar hati, dan tulisan “Adit bodoh” yang sudah hampir hilang tertutup cat.
Di dadanya ada rasa sesak kecil yang sulit dijelaskan.
Kotak pensil itu ditemukan setelah istirahat kedua.
Terselip di belakang lemari kelas. Mungkin jatuh ketika anak-anak berebut mengambil buku, lalu terdorong lebih jauh saat lantai disapu pagi tadi.
Bagas yang menemukannya.
“Hei! Ketemu!”
Ia mengangkat kotak pensil itu tinggi-tinggi seperti baru menemukan emas.
Anak-anak langsung ribut lagi.
“Oh ternyata jatuh.”
“Kirain hilang.”
“Masih lengkap nggak?”
Dimas mengambil kotaknya cepat-cepat. Ia memeriksa isinya sebentar lalu memasukkannya ke tas.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada juga penjelasan.
Dan Rendi tidak meminta keduanya.
Tetapi sepanjang pelajaran terakhir, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Seperti kerikil kecil di dalam sepatu. Tidak cukup besar untuk membuat orang berhenti berjalan, tapi cukup mengganggu di setiap langkah.
Bu Lastri tampaknya menyadari itu.
Ketika bel pulang berbunyi dan anak-anak berhamburan keluar kelas seperti burung lepas dari sangkar, Bu Lastri memanggilnya.
“Rendi, bantu ibu bawa buku ke ruang guru, ya.”
Nada suaranya lembut. Bukan nada guru yang hendak menghukum.
Rendi mengangguk lalu mengangkat tumpukan buku tulis dari meja guru. Mereka berjalan melewati koridor yang mulai sepi. Matahari sore masuk miring dari sela-sela jendela, membentuk garis-garis cahaya di lantai.
Suara sapu dari kejauhan terdengar berdesir pelan.
Beberapa saat mereka berjalan tanpa bicara.
Di depan ruang guru, Bu Lastri berhenti.
“Tadi waktu istirahat ibu lihat dari jendela.”
Rendi menunduk menatap buku-buku di tangannya.
“Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa.”
Angin sore meniup pelan ujung jilbab Bu Lastri. Aroma kapur dari buku-buku bercampur dengan bau teh hangat dari ruang guru.
“Ada orang yang diam karena memang salah,” lanjutnya pelan. “Tapi ada juga yang diam karena tahu suaranya tidak akan dipercaya. Ibu tahu kamu yang kedua.”
Rendi perlahan mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya sejak siang tadi, dadanya terasa sedikit longgar.
Bu Lastri tersenyum kecil. Bukan senyum kasihan. Lebih seperti seseorang yang benar-benar mengerti.
“Taruh bukunya di meja itu, ya. Setelah itu kamu boleh pulang.”
Di perjalanan pulang, matahari mulai turun di balik sawah. Langit berubah kuning keemasan. Rendi melewati got yang tadi pagi ia datangi.
Semut-semut itu masih ada.
Barisannya panjang dan sibuk. Ada satu semut kecil yang membawa remah roti terlalu besar untuk tubuhnya. Berkali-kali ia jatuh dari batu kecil di pinggir got. Berkali-kali pula ia bangkit lagi dan mencoba mengangkat bebannya.
Rendi jongkok memperhatikannya cukup lama.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi melihat semut itu membuat perasaannya membaik sedikit demi sedikit.
Mungkin karena semut itu tidak berhenti meski berkali-kali jatuh.
Mungkin juga karena tidak ada semut lain yang menertawakannya.
Rendi berdiri lalu menepuk-nepuk celananya yang berdebu.
Besok pagi mungkin Pak Hendra sudah lupa soal keterlambatannya. Besok mungkin Dimas akan meminjam penggaris sambil bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan mungkin Rendi akan tetap meminjamkannya karena begitulah hidup berjalan di sekolah: banyak hal dibiarkan lewat begitu saja tanpa benar-benar selesai dibicarakan.
Besok Bu Lastri mungkin akan datang membawa cerita baru.
Tentang pelaut yang akhirnya menemukan pulau bernama.
Atau tentang seseorang yang tersesat lalu berhasil pulang.
Angin sore membawa aroma lumpur sawah dan rumput basah. Dari surau kecil di ujung kampung, suara adzan mulai terdengar, melayang pelan di udara senja.
Rendi mempercepat langkahnya.
Bukan karena takut terlambat.
Tetapi karena, untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar ingin segera sampai di rumah.












Tinggalkan Balasan