
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Mukidi
Siti Fatimah jengkel bukan kepalang. Itu gara-gara adanya anak sapi milik Haji Maman yang kini disuruh dipelihara oleh Safei. Setelah adanya sapi itu perhatian Safei kepadanya sangat jauh berkurang.
Kalau dulu mereka sering berduaan di tanggul selatan desa sambil membuat wayang-wayangan dari rumput. Tapi sekarang harus bertiga. Ditambah si anak sapi itu.
Ia sangat cemburu dengan perlakuan Safei kepada anak sapi itu. Sepertinya Safei sudah menemukan belahan hatinya yang baru.
Anak sapi betina berumur satu bulan itu diperlakukan Safei bak putri raja. Tiap pagi diberi sarapan dari dedak dan susu. Siangnya dimandikan di pinggiran Kali Cihonje yang sangat jernih. Dan sorenya diajak jalan-jalan ke padang ilalang di selatan desa. Semua perlakuan Safei kepada anak sapi itu semakin membuat Siti sangat cemburu.
“Sungguh ter….la…lu…!” kata hati Siti. Tapi tidak dengan logat Bang Haji Rhoma Irama.
Dahulu tiap pagi Siti sering ditemani Safei pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Siangnya mengantarnya belajar ke sekolah agama Pak Haji Rohman. Dan sorenya kadang membantunya belajar mengaji anak tetangganya di teras rumahnya.
Tapi kini semuanya tinggal kenangan. Perhatian Safei sangat berbeda setelah anak sapi itu ada. Tiap diajak pergi ke sungai, Safei langsung menjawab:
“Sebentar Siti aku bawa sapi dulu…!”
Tiap diajak mengantar pergi sekolah agama. Safei langsung menjawab:
“Maaf Siti, aku belum memandikan sapi….!”
Dan lain sebagainya. Mungkin semua pekerjaan rela ia lakukan demi sapi….sapi…sapi.
Sebenarnya Siti sangat mencintai sapi. Eh salah Safei maksudnya. Tapi sampai sekarang Safei belum pernah mengatakan cinta kepadanya. Atau istilah kerennya ditembak.
Tapi Siti yakin Safei juga mencintainya. Karena itu di buktikan oleh Safei yang sangat perhatian kepadanya. Tiap duduk beduannya, tidak lupa safei selaku mendendangkan lagu ciptaan Bang Roma Irama berjudul “Ani” yang dirubah sedikit bunyi syairnya.
“Siti……oooh…..Siti…..ku cinta padamu.. ku sayang padamu….!”
Syair lagu yang membuat perasaan Siti cenat-cenut. Melayang jauh diawang-awang. Cuma sayangnya, harus dinyanyikan oleh bibir Safei yang sumbang bin fals. Sungguh ter..la..lu.
Safei adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh Haji Maman. Dari umur enam tahun Safei telah bersama keluarga Haji Maman. Orang tuanya meninggal pada bencana tanah longsor di suatu desa di pelosok Tasikmalaya. Sejak berada dikampung itulah Safei dan Siti berteman dari kecil hingga sekarang.
Jarak umur Safei dan Siti sekitar 3 tahun. Kalau diteruskan sekolah, sekarang Safei mungkin duduk di kelas 2 Madrasah Awaliyah. Sedangkan Siti duduk dikelas 8 Madrasah Tsanawiyah. Setelah pagi membantu orangtua, sekitar jam 11 an Siti langsung ke pergi belajar di Pondok Pesantren Al-Amaliyah di Desa Sukasenang yang dikelola Pak Haji Rohman. Sekitar 2 kilometer dari rumah Haji Maman.
Tiap hari Safei membantu Haji Maman di penggilingan padi miliknya. Tapi sekarang Haji Maman melarang Safei berlama-lama di pengilingan. Ia harus merawat anak sapi yang diserahkan padanya.
“Siti kesini sebentar?”
Kata Safei suatu siang. Ia sengaja mencegat teman kecilnya karena ada sesuatu hal yang sedang mengganggu pikirannya.
Siti yang sudah bersiap-siap berangkat sekolah agama menghentikan langkahnya. Ada apa gerangan sang pujaan hatinya memanggilnya. Apakah sekarang pemuda didepannya itu akan menyatakan cinta. Pikir Siti mengharap.
“Ada apa kang……..sudah siang nih keburu telat. Nanti dimarahin lagi sama pak ustad!” kata Siti sok jual mahal. Ia berharap jawaban Safei untuk mau mengantarnya. Seperti dulu lagi.
Orang dihadapan Siti tidak langsung menjawab. Ia hanya menggaruk-garuk pipinya. Sekali-kali kedua tangannya ia gunakan untuk memilin-milin rambutnya supaya mirip dengan gaya poni. Walau Safei sadar hal itu tidak akan terjadi karena rambutnya keriting.
“Aduh Mar…akang lagi bingung nih. Bantu akang ya!”
Kata Safei dengan masih memilin-milin rambut yang ada di kepalanya. Sepertinya memang ada masalah besar melanda jiwanya. Bimbang, bingung, resah, gelisah bercampur aduk menjadi satu. Mungkin seperti kegalauan para ustad yang sedang menunggu job ceramah.
Siti ikut dibuat kebingungan dengan kelakuan Safei. Apa gerangan bantuan yang dapat ia berikan agar beban Safei menjadi berkurang. Kalau bantuan duit ia tidak punya. Kalau bantuan tenaga pasti lebih besar tenaga pemuda didepannya daripada tenaganya. Berarti bantuan apanya, batin Siti ikut mengkira-kira.
Tapi ia bertekad akan membantu Safei. Tapi membantu dengan cinta yang besar dan tulus kepada Safei lelaki pujaan hatinya. Terus apa gerangan masalah yang telah membuat Safei seperti sedang pusing tujuh keliling.
“Ada masalah apa kang…..!” Tanya Siti. Dengan memasang wajah serius Siti siap-siap menerima curahan hati belahan hatinya.
“Begini Mar..akang kan sudah hampir 3 bulan melihara sapi!” Kata Safei berhenti.
Sapi…… Ternyata urusan sapi lagi.. sapi lagi. Yang membuat Safei super galau. Rasa kesal mulai menjalari perasaan Siti. Tapi kenapa Safei kelihatan serius dengan apa yang ia alami. Apakah gerangan terjadi antara Safei dan sapinya.
Sebuah senyuman keluar dari bibir Siti. Sepertinya Safei sudah tidak sanggup lagi untuk memelihara anak sapi itu, pikirnya. Berarti kalau itu benar, nanti perhatian Safei akan kembali penuh kepadanya.
“Akang sudah tidak sanggup melihara anak sapi itu lagi!” Tanya Siti penuh pengharapan jawaban ya dari Safei.
Safei tidak menjawab. Tapi menggelengkan kepala. Siti tersenyum kecut. Ternyata apa yang ia pikirkan salah.
“Kalau begitu apa yang membuat akang bingung….?”
Safei tidak segera menjawab. Dahinya berkerut. Menandakan ada sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.
“Akang teh bingung…sampai sekarang anak sapi itu belum mempunyai nama. Jadi akang berniat mau memberi nama kepada anak sapi itu!” kata Safei.
Siti terkejut bukan kepalang.
“Cing atuh Mar….nama apa yang paling bagus untuh anak sapi itu?”
Siti tidak segera menjawab. Tapi nafasnya turun naik menahan kesal. Bagai ada batu besar menghimpit dadanya.
Ternyata Safei menyuruhnya berhenti hanya untuk membicarakan masalah sapi. Oalah sapi..sapi….! Mentang-mentang namanya mirip. Safei dan sapi.
Siti langsung membalikkan badan. Segera ia angkatkan kakinya menuju jalan ke pesantren. Diliriknya jam yang melingkar di lengannya. Menurut perhitungannya, hari ini ia pasti dihukum lagi oleh Ustad Asep. Gara-garanya… pasti karena terlambat lagi. Dan yang lebih membuatnya kesal. Ia terlambat gara-gara bicara masalah sapi.
Siti mencoba mempercepat langkahnya. Setidak-tidaknya kalau langkahnya cepat ia tidak akan terlalu lama terlambat sampai pesantren.
Ia sungguh menyesal tadi melayani permintaan Safei untuk berhenti. Dan lebih menyesal lagi karena ia harus mendengar masalah sapi lagi…sapi lagi.
“Hueyyyyy…….apa atuh Mar…namanya?”
Safei ternyata sudah berada disampingnya sambil mengayuh sepeda kumbang miliknya.
Siti tidak menjawab. Wajahnya lurus memandang ke depan. Langkahnya sangat cepat menjauhi Safei. Seperti atlet jalan cepat di arena Porseni. Tapi dengan sekali kayuh, Safie sudah berada lagi di samping Siti.
Tapi otaknya berpikir, seandainya ia tidak diantar oleh Safie, ia akan benar-benar telat. Dan pasti hukuman dari pak ustad akan diterimanya. Tapi masih bingung. Apakah nanti kalau sudah diberitahu, Safei akan mengantarkannya.
“Apa atuh namanya Mar….nanti akang antar ke pesantren!”
Perasaan Siti langsung gembira. Kalau nanti ia diantar oleh Safei, ia tidak akan terlambat lama. Tapi nama apa yang harus ia berikan.
“Safii…..!”
Jawab Siti sekenanya..
“Safii……sip Mar…..ayo naik. Nanti kamu terlambat…!”
Kata Safei sambil menghentikan sepeda kumbang yang dikendarainya didepan Siti.
Sebenarnya Siti masih kesal dengan Safei. Tapi seandainya tidak diantarkan oleh pemuda itu, ia pasti akan dimarahi lagi oleh Ustad Asep karena sudah sering terlambat.
“Ayo cepat……..!” kata Safei.
Dengan segera Siti naik ke boncengan sepeda Safei. Tapi mukanya masih masam. Karena masih kesal dengan kelakuan Safei.
“Safii…..oh…Safii. Nama yang indah sekali….!” Bunyi suara Safei bersenandung. Sambil kedua kakinya kuat mengayuh sepasang pedal sepeda kumbangnya.
Suara rantai sepeda semakin gemerisik saat sepeda dikayuh semakin kencang. Angin sepoi-sepoi mengusap wajah Siti yang kelihatan semakin dirundung kesal saat mendengar Safei bersenandung. Bukan karena suara Safei yang setengah sumbang dan setengah fals. Tapi karena Safeii menyanyikan lagu untuk Safii. Nama baru sang sapi.
“Buruan atuh kang. Siti hampir terlambat nih!”
Kata Siti sambil memukul punggung Safei. Safei yang terlihat masih bersenandung, langsung meningkatkan intensitas kayuhan sepedanya. Dan terlihat-semakin lama semakin cepat.
Mungkin kalau ada spedometernya bisa mencapai 60 kilo meter perjam. Jalanan yang mulus membuat sepeda semakin melaju kencang.
Badan Safei sedikit merunduk. Ia seperti membayangkan sebagai Valentino Rossi yang sedang balapan di Sirkuit Sepang.
Dan semakin lama-semakin cepat. Kerudung hijau yang dipakai Siti terlihat berkibar-kibar. Rambut yang berada di dalam kerudung seperti ingin keluar entah kemana.
Hanya beberapa detik lagi waktu yang dibutuhkan sepeda yang dikendarai Safei dan Siti untuk mencapai tikungan terakhir.
Tapi didirasakan Siti sepeda yang ia naiki tidak semakin pelan. Tetapi malah semakin cepat. Kedua tangan memegang erat sedel sepeda.
“Awas kang……!”
Jerit Siti membahana.
Dari arah berlawanan terlihat seorang yang mengendarai sepeda motor. Motor tersebut sepertinya dikendarai terlalu ke tengah jalan.
Safei terkejut. Dengan reflek ia tarik kedua tuas rem yang terletak di setang. Tapi kelihatannya sepeda masih melaju kencang.
Setang sepeda langsung Safei belokkan ke kiri.
Huusss.
Ujung setang sebelah kanan sepeda Safei hampir berbenturan dengan ujung setang sebelah kanan sepeda motor pengendara itu. Mungkin hitungannya hanya beberapa millimeter.
Sepeda yang dikendarai Safei dan Siti selamat dari tabrakan. Tapi laju sepeda masih belum berkurang. Safei turunkan kedua kakinya untuk mengurangi laju sepeda.
“Awas kang………!”
Lagi-lagi suara Siti membahana.
“braakkkkk!”
Sepeda segera berhenti setelah menabrak tumpukan pasir yang berada di sisi gerbang pondok pesantren. Badan Siti bisa melompat ke tumpukan pasir sebelum sepeda itu jatuh.
Tapi tidak dengan Safei. Badan Safei terpelanting ke depan. Dan langsung terhenti saat badannya menyangkut dipagar bambu pesantren.
“Akang teh waras enggak sih….. Naik sepeda seperti kesurupan saja. Untuk saya jatuhnya ke pasir. Kalau jatuhnya seperti akang pasti aku rebus di kuali besar!” Kata Siti tersungut-sungut sambil membersihkan pakaiannya dari butiran pasir.
Tanpa menunggu jawaban Safei, Siti langsung bergegas memasuki gerbang pesantren. Meninggalkan sendiri Safei yang masih belum bangun dari tempatnya jatuh.
Safei merasakan sesuatu yang hangat di bawah pantatnya. Serta bau yang khas yang mengikutinya. Aroma yang sering ia rasakan bila anak sapi peliharaannya buang hajat.
Ia kembang kempiskan hitungnya untuk memcari sumber bau itu.
“Dasar asem…!. Dapat upah kok kayak gini..!”
Ternyata ia menduduki sebuah harta karun. Segundukan kotoran sapi yang masih baru dan masih basah telah ia rusak. Baunya juga sangat tidak karuan. Melebihi kotoran si Safii, sapi kesayangannya!”
“Kurang ajar…ini semua gara-gara pengendara motor gelo itu…!”
Gerutu Safei sambil mencoba mengangkat sepeda yang masih terguling ditumpukan pasir.
Bau itu semakin lama semakin menyengat. Tapi itu semua tidak Safei hiraukan demi dapat menemukan sang pengendara motor yang membuat ia celaka.
Cepat-cepat ia naiki sepedanya. Tujuannya mencari pengendara motor tadi. Tapi hasilnya nihil. Orang yang dicari tidak ia temukan. Tapi ia yakin pasti suatu saat ia temukan karena ia sudah mengetahui ciri-ciri sepeda motor yang hendak menabraknya.
Keesokan harinya seperti biasa di hari Minggu. Di bawanya si Safii ke sungai untuk dimandikan. Perasaan sudah berbahagia karena sapi kesayangannya sudah resmi diberi nama. Walaupun tidak ada bubur merah tapi ia anggap nama yang diberikan Siti sudah merupakan bentuk peresmian.
“Huueeeengggg……..”
Safei kaget bukan kepalang. Sebuah sepeda motor melaju kencang disampingnya.
“Kurang asem…kalau mau mati bukan disini tempatnya. Tabrak tuh pohon asem yang ada didepan!”
Teriak Safei memaki sambil memegangi tali yang melingkat dileher sapinya.
“Braaaaaaaaak”
Untuk kedua kalinya ia terkejut.
Motor yang tadi ia maki-maki terlihat terjatuh di dekat pohon asem. Sekitar 20 meter dari tempatnya berada.
Safei jadi bingung dan terpana. Sedemikian ampuhkah apa yang ia katakan. Sehingga tidak sampai hitungan menit, motor yang tadi ia sumpahi benar-benar celaka.
Hatinya bimbang dan ragu. Antara menolong atau tidak.
Segera ia tambatkan tali sapi kesayangannya di sebuah kayu mahoni yang masih kecil. Motor yang berada didepannya langsung ia berdirikan. Sementara pengemudinya masih terlihat meringgis di bawah pohon asem.
“Kamu tidak apa-apa!” Tanya Safei kepada pengendara itu.
Sang pengendara hanya mengangguk. Tapi terlihat siku sebelah kanannya lecet dan berdarah.
Segera Safei melepas ikat kepalanya untuk digunakan menutupi luka yang berada disiku pengendara tadi.
Dahi Safei berkerut. sepertinya ia pernah melihat pengendara yang memakai helm yang ada disampingnya. Sedetik kemudian ia teringat sesuatu.
“Siti..!” kata Safei sambil memelototkan matanya.
Gadis itu tidak menjawab. Tapi ia tidak mengangguk atau menggeleng. dalam perasaan Safei yakin bahwa gadis ini adalah Siti.
“Betul kamu Siti..!!!” kata Safei mengulangi.
Pengendara itu mengangguk. Ternyata pengendara itu adalah Siti.
”Aduh Mar…..cewek kok naik motor kayak dikejar setan…kalau celaka seperti ini siapa yang merasakannya!” kata Safei sedikit kesal. Ternyata yang ngebut tadi adalah Siti.
Tapi ia bingung sejak kapan Siti bisa naik motor. Jangankan naik motor, naik sepedapun ia tidak bisa.
. “Ayo aku antar kamu pulang?” Tanya Safei.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu bisa pulang sendiri kan…soalnya akang mau membawa sapi ke sungai nih.!”
Siti tidak menjawab. Tapi menganggukkan kepala tanda setuju.
Pelan-pelan ia kendarai sepeda motor yang tadi jatuh itu. Semakin lama Siti dan motornya semakin mengecil. Dan akhirnya hilang ditikungan.
Sorenya seperti biasa ia membawa sapinya jalan-jalan dipadang ilalang. Sambil menghirup udara sore ia dapat membawa ternaknya makan rumput hijau yang bertebaran di padang tersebut. Sore itu ia ingin sapinya bahagia.
Hatinya terperanjat melihat pemandangan yang tidak biasa. Ia melihat sepasang muda-mudi sedang duduk berduaan di pinggir irigasi yang terletak di samping padang ilalang itu.
Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah wanita yang sedang asyik bersenda gurau itu adalah Siti. Dada Safei berdebar kencang. Seperti ada sesuatu yang bergejolak dihatinya. Ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan.
Tapi siapa lelaki itu. Lelaki yang berada duduk di samping Siti sepertinya belum pernah ia lihat. Apakah itu pacar Siti. Tapi mengapa ia tidak pernah menceritakan kepadanya.
Ingin rasanya Safei menghampiri mereka berdua. Tapi ia bingung untuk apa. Selama ini kan Siti cuma sebagai temannya. Jadi terserah kepada Siti untuk berbuat apa. Kecuali kalau Siti itu pacarnya.
Pacar… kenapa baru sekarang ia ingin memacari Siti. Padahal dahulu ia bertahun-tahun bersama Siti tidak pernah ingin memacari Siti. Mungkin karena merena berteman sejak kecil, sehingga Safei merasa mereka sudah saling memiliki. Tapi tidak salimg memacari lho…
Safei duduk termenung di bawah pohon Beringin. Dilihatnya Safii, sapinya sedang bahagia memilih rumput yang ingin dimakannya. Sesekali diliriknya sepasang muda-mudi yang sedang asyik duduk-duduk diirigasi. Tidak berapa lama kemudian mereka pergi mengendarai motor meninggalkan tempat itu.
Dahulu ia dan Siti sering duduk-duduk disitu. Dari mereka masih senang berenang bersama sampai sekarang beranjak dewasa. Mereka selalu asyik bercanda gurau tentang dunia anak muda. Sungguh indah sekali rasanya. Tapi itu dulu. Sekarang Siti asyik bercanda dengan pria lain. Bukan dirinya.
Perasaannya semakin tidak karuan. Ia putuskan untuk pulang saja. Pulang sambil membawa jiwa yang sedang gundah gulana. Karena Siti.
Sejak peristiwa di padang ilalang itu, hari-hari Safei terasa hampa. Keberadaan sapinya tidak membuatnya gembira. Tidak seperti dulu. Sekarang semua kegiatan ia lakukan dengan setengah hati. Gara-garanya cuma satu. Yaitu Siti yang telah direbut orang. Gara-gara Safei lebih memperhatikan sapi.
Siang itu seperti biasanya. Ia dengan tidak bersemangat membawa sapinya ke padang ialalang ke pinggir desa. Karena sapi ini hidupnya merana, batinnya. Ditinggalkan Siti. Ooh….Siti.
Jantungnya berdebar. Ternyata ia melihat Siti yang sedang berangkat ke sekolah agama. Ingin rasanya ia menyapa Siti. Tapi ada perasaan berkecamuk yang melanda jiwanya. Perasaan yang dahulu belum pernah ada.
“Berangkat…..Mar?” Tanya Safei memberanikan diri.
Orang yang ditanya tidak menjawab. Cuma mengangguk.
“Akang antar ya…!”Siti langsung menoleh. Sepertinya tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Akang antar boleh tidak…!” kata Safei memberanikan diri lagi.
“Mau antar Siti kang? terus Siti suruh naik di atas sapi gitu…!”Kata Siti sambil melanjutkan langkahnya.
“Ya tidak lah Mar…ya pake sepeda!” Kata Safei menyakinkan.
Siti tidak menjawab. Tapi ia terus melangkahkan kakiknya kedepan.Sepertinya ada kesempatan yang tidak boleh Safei sia-siakan. Segera ia berputar balik. Tapi tidak kerumah. Ia mampir dulu ke rumah Rojak.
“Jak..aku pinjam sepedamu dulu…!” kata Safei sambil mengambil sepeda yang terparkit di teras rumah.
“Jangan Fei….aku mau berangkat sekarang..!” terdengar teriakan dari dalam rumah. Tapi Safei tidak memperdulikan. Dengan segera ia meninggalkan rumah Rojak. Dan juga meninggalkan sapinya yang ia parkir di samping pagar rumah si Rojak.
“Ayo naik…..Mar!”Siti terkaget-kaget. Ia tidak menyangka sepeda yang berhenti disampingnya dikendarai oleh Safei. “Ayo buru naik….!” Ulang Safei.
“Tapi jangan ngebut seperti dulu kang ya!” kata Siti.
Safei mengangguk. Setelah sampai di depan gerbang Siti turun. Safei berpesan nanti sore ia akan menjemputnya. Dan Sitipun menyetujui.
Sore harinya ia sengaja tidak mengajak sapinya jalan-jalan.Dengan mengunakan pakaian yang paling bagus bergambar spiderman dan berdandan paling hot Safei berniat menjemput Siti. Semuanya demi Siti, batinnya
Siti terheran-heran saat diajak duduk dulu di pinggiran iragasi. Ada sesuatu yang aneh dalam diri Safei batinnya.
“Siti..akang teh ada yang mau diomongkan ke Siti.”
Siti masih dilanda kebingungan. Bingung dengan tujuan pembicaraan Safei. Tapi perkiraannya pasti masalah sapi lagi.
“Maksud akang apa…!” kata Siti. Safei segera mencabut beberapa bunga bakung yang tumbuh liar di pinggir irigasi. Kemuduan dengan kedua tangannya diserahkan kepada Siti. Pokoknya romantis..tis..tis.
“Sebenarnya akang teh bogoh ka Siti……apa Siti juga cinta ka akang!”
Siti terkesima dengan apa yang dialaminya. Sungguh tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Dadanya dibuat cenat-cenut. Hanya anggukan yang ia lakukan dan membuat Safei terlena hingga tubuhnya melayang jatuh ke air.
“Sekarang aku punya pacar euy…..!”
Teriak Safei sejadi-jadinya. Pakaian yang basah kuyup tidak ia hiraukan. Yang penting wanita yang ia cintai tidak lagi direbut orang. Apalagi direbut sapi.
Saat berenang kepinggir, telinganya mendengar tepukan tangan yang cukup meriah. Disambut bagai seorang atlet renang memenangkan perlombangan
Ia terkejut. Ternyata sepasang muda-mudi yang dulu pernah dilihatnya sudah berada di pinggir irigasi. Dan yang membuat ia bingung lagi ternyata ada dua Siti di hadapannya.
“Kang kenalkan ini saudara kembarku yang juga bernama Siti. Baru 2 hari dikampung ini….!” Kata Siti
Safei masih dilanda kebingungan. Bingung dengan apa yang ia lihat sekarang. Tapi untung gara-garanya hanya ada dua Siti. Yang satu Siti Fatimah dan disebelahnya Siti Aisyah.
Bukan masalah sapi. Yang membuatnya hampir kehilangan Siti.
Bandung, Mei 2013












Tinggalkan Balasan