
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Hari ketika aku memutuskan meninggalkan sekolah itu, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa aku sedang menyerah. Pagi itu seperti pagi-pagi lainnya: halaman sekolah masih basah oleh embun, bendera merah putih menggantung setengah malas di tiang, dan anak-anak berlarian dengan tas yang hampir lebih besar dari tubuh mereka. Aku berdiri di depan kelas tiga dengan sepotong kapur di tangan. “Anak-anak,” kataku, “hari ini kita belajar menulis cerita.” Mereka bersorak kecil, seolah cerita adalah mainan yang baru dibagikan. Siti mengangkat tangan. “Pak Raka, cerita tentang apa?” “Tentang apa saja,” jawabku.
Lalu, seperti kebiasaan anak-anak yang selalu jujur tanpa sadar, Bima berkata dari bangku belakang, “Pak Raka juga punya cerita, kan?” Aku tersenyum. “Iya. Semua orang punya cerita.” Tapi aku tidak mengatakan bahwa ceritaku waktu itu sedang buntu.
Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Raka. Jam lima subuh ia sudah bangun. Bukan karena disiplin, tetapi karena tidur yang terlalu tipis. Tidur orang yang pikirannya penuh angka-angka kecil: harga beras, uang kontrakan, ongkos bensin motor yang hampir habis.
Raka adalah guru honorer di sebuah sekolah dasar pinggiran kota. Ia mengajar Bahasa Indonesia, kadang juga menggantikan guru lain jika berhalangan. Gajinya, jika dirata-ratakan, lebih mirip uang saku daripada penghasilan. Tiga ratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Itu pun kadang dibayar dua bulan sekali.
Di ruang guru, ia sering bercanda dengan Pak Darto. “Kalau begini terus, kita ini sebenarnya guru atau relawan kemanusiaan?” kata Pak Darto. Raka tertawa kecil. “Tergantung siapa yang melihat, Pak.” ujar Raka. Namun, ia tidak benar-benar tertawa.
Di rumah kontrakan sempit, ibunya yang sakit-sakitan sering bertanya dengan suara pelan, “Gaji bulan ini sudah cair, Nak?” Raka selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Sedang diproses, Bu.” Padahal ia tahu, kata diproses di dunia honorer sering berarti menunggu tanpa tanggal.
Suatu malam, harapan datang seperti pesan singkat yang salah alamat. Teleponnya berdering. Nomor tak dikenal. “Halo, ini Raka?” suara di ujung jalan menyapa “Iya.” jawab Raka. “Saya Ardi. Kita dulu satu SMA.” Raka mengernyit, mencoba mengingat. Ardi melanjutkan dengan suara penuh semangat. “Aku sekarang kerja di perusahaan penyalur tenaga kerja ke luar negeri. Lagi butuh sopir di Dubai. Gajinya lumayan. Sekitar dua puluh juta rupiah per bulan kalau dirupiahkan.”
Raka terdiam. Dua puluh juta. Angka itu terasa seperti dunia lain. “Kerjanya cuma nyetir mobil majikan. Kau kan dulu sering bawa mobil ayahmu waktu SMA?” tegas Ardi. “Iya, tapi…” kebingungan menyelimuti Raka. “Kesempatan bagus, Ka. Banyak orang antre.” Ardi coba meyakinkan.
Malam itu Raka tidak tidur. Ia duduk di teras kontrakan, memandangi jalan yang sunyi. Motor tuanya terparkir miring seperti hewan yang kelelahan. Dengan dua puluh juta per bulan. Ia bisa membayar pengobatan ibunya. Ia bisa berhenti meminjam uang dari tetangga. Ia bisa hidup seperti manusia normal.
Namun, keesokan harinya, saat ia masuk kelas tiga SD, keraguan itu kembali. “Pak Raka!” teriak Siti sambil mengangkat buku tulisnya. “Lihat, saya bisa bikin cerita!” Raka membaca tulisan anak itu dengan hati-hati. Kalimatnya sederhana. Ejaannya banyak salah. Tapi di akhir cerita, ada satu kalimat yang membuatnya diam lama. “Kalau saya besar nanti, saya mau jadi guru seperti Pak Raka supaya anak-anak bisa pintar.”
Ia menutup buku itu perlahan. Sore harinya Ardi menelepon lagi. “Gimana? Aku perlu jawaban minggu ini.” Raka menelan ludah, “Aku masih pikir-pikir.” “Pikir apalagi? Kau mau terus hidup begini?” tegas Ardi. Pertanyaan itu menempel di kepalanya sepanjang malam.
Seminggu kemudian, Ardi datang langsung ke rumah kontrakannya. Ia membawa formulir, “Kalau kau tanda tangan hari ini, bulan depan bisa berangkat.” Raka menatap kertas itu lama. Di luar, suara anak-anak sekolah pulang terdengar riuh. “Pak Raka!” teriak seseorang dari jalan. Ternyata Bima, muridnya. “Pak, besok jadi latihan lomba baca puisi, kan?” tanya Bima dengan semangat.
Raka terdiam. Ardi mendesah. “Kau ini terlalu baik, Ka. Hidup tidak dibayar dengan kebaikan.” Raka akhirnya mengangkat pena. Tangannya sedikit gemetar. Ia menandatangani formulir itu.
Sebulan kemudian, Raka tidak lagi datang ke sekolah. Anak-anak kelas tiga menunggu beberapa hari sebelum akhirnya terbiasa dengan guru pengganti. Waktu berjalan. Tahun berganti. Sekolah kecil itu tetap berdiri, dengan cat tembok yang semakin pudar. Nama Raka perlahan hilang dari percakapan.
***
Lima belas tahun kemudian. Sebuah mobil hitam berhenti di depan sekolah itu. Seorang pria keluar. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian. Ia menatap gerbang sekolah lama itu seperti seseorang yang melihat foto masa kecilnya sendiri. Itu Raka. Ia pulang setelah lima belas tahun bekerja sebagai sopir di luar negeri. Ia berhasil.
Ibunya sempat dirawat dengan baik sebelum meninggal beberapa tahun lalu. Ia punya tabungan, rumah kecil, dan kehidupan yang lebih tenang. Namun, sesuatu dalam dirinya selalu terasa kosong. Ia masuk ke halaman sekolah. Gedungnya tidak banyak berubah. Di dinding aula, terpajang papan besar berisi foto-foto alumni yang berhasil. Dokter. Polisi. Pengusaha. Ia melihat satu foto yang membuatnya berhenti. Di bawah foto seorang perempuan muda tertulis,
“Dr. Siti Rahmawati, M.Sc. – Peneliti Pendidikan, Universitas Oxford” Raka tersenyum kecil. Siti. Anak yang dulu menulis cerita sederhana itu.
Di bawah foto lain tertulis, “Bima Pratama – Juara Nasional Baca Puisi” Raka menelan ludah. Lalu ia melihat satu foto lagi. Foto seorang guru muda berdiri di depan kelas. Di bawahnya tertulis, “Raka Aditya, S.Pd.” – Guru Inspiratif (Tokoh dalam Buku “Guru yang Mengubah Hidup Kami”) Raka mengerutkan dahi. Ia belum pernah menulis buku.
Seorang guru yang kebetulan lewat melihatnya berdiri lama. “Bapak alumni?” Raka ragu-ragu. “Saya… dulu pernah mengajar di sini.” Guru itu tersenyum. “Ah, berarti Anda kenal Pak Raka.” Raka menatapnya bingung. “Itu foto beliau.” Guru itu menunjuk papan. “Kami sering menceritakan kisahnya ke murid-murid.” Raka perlahan bertanya, “Kisah apa?” Guru itu menjawab dengan tenang. “Kisah tentang seorang guru honorer yang tetap mengajar meski hidupnya sangat miskin. Katanya, ia tidak pernah meninggalkan murid-muridnya.”
Raka terdiam. Ia melihat foto itu lagi. Foto dirinya. Namun, kisahnya bukan kisah yang ia jalani. Guru itu melanjutkan, “Banyak murid kami yang jadi sukses karena cerita itu. Mereka percaya satu guru bisa mengubah hidup.”
Angin sore berhembus pelan. Raka menatap halaman sekolah itu lama sekali. Lalu untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa berat. Ia memang berhasil mengubah hidup banyak orang. Namun bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena apa yang mereka kira ia lakukan. “Di sekolah itu, di papan kenangan itu, aku masih seorang guru.” batin Raka.
Bandung, 4 Mei 2026











Tinggalkan Balasan