
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Pagi itu kantor berubah seperti panggung sandiwara yang terlalu kentara dipoles. Karpet yang biasanya kusam mendadak merah menyala, entah dari mana datangnya. Dinding yang retak ditutup kain dekorasi. Bahkan tanaman plastik di sudut ruangan yang selama ini berdebu, kini disemprot air agar tampak “hidup.”
Aku berdiri di dekat meja administrasi, memandangi semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan kagum, bukan juga kesal sepenuhnya. Lebih seperti melihat ritual yang berulang terlalu sering untuk disebut kebetulan, terlalu absurd untuk disebut kewajaran.
“Jangan lupa, nanti kalau beliau masuk, semua berdiri,” kata Pak Arman, kepala bagian kami, dengan nada setengah berbisik tapi tegang. “Dan senyum. Jangan kaku. Ini penting.” lanjutnya.
Penting. Kata itu selalu muncul setiap kali pejabat datang. Seolah-olah seluruh makna kerja kami direduksi menjadi satu momen menyambut seseorang yang bahkan tak mengenal nama kami. Di belakang, Mbak Sari sedang menyusun snack dalam piring kecil. Ia menghela napas panjang. “Ini anggaran dari mana lagi sih?” gumamnya pelan. “Dari yang tidak boleh dipertanyakan,” jawabku. Kami tertawa kecil, tawa yang cepat padam, seperti takut didengar.
Menjelang siang, suasana makin padat. Semua orang bergerak lebih cepat, tapi juga lebih hati-hati. Seperti menari di atas kaca. Spanduk besar dipasang di aula: “Selamat Datang Bapak Pejabat dalam Kunjungan Kerja.” Kata-kata itu terasa terlalu besar untuk ruangan yang sebenarnya sempit dan penuh kompromi.
Aku melihat Pak Dedi, staf senior yang biasanya santai, kini berkeringat dingin sambil mengecek kursi satu per satu. “Kalau sampai ada yang goyang, habis kita,” katanya. “Memangnya beliau mau duduk lama?” tanyaku. “Bukan soal duduknya. Soal dilihatnya.”
Dilihat. Barangkali itu inti dari semuanya. Bukan kerja yang dinilai, tapi tampilan. Bukan substansi, tapi kesan.
Mobil hitam itu akhirnya datang. Semua orang langsung bergerak seperti dikomando. Pintu dibuka, senyum disiapkan, badan ditegakkan. Bahkan udara terasa ikut menahan napas.
Beliau turun dengan langkah pelan, diikuti beberapa orang berseragam rapi. Senyumnya tipis, tapi cukup untuk membuat beberapa orang di depan hampir membungkuk berlebihan.
“Selamat datang, Pak,” kata Pak Arman dengan suara yang dibuat lebih hangat dari biasanya. “Terima kasih, terima kasih,” jawab beliau singkat. Kami berbaris. Tepuk tangan terdengar, agak terlalu keras untuk situasi yang sebenarnya biasa saja. Aku ikut berdiri, ikut tersenyum. Tapi dalam hati, ada sesuatu yang mengganjal. Seperti sedang memainkan peran yang tidak pernah kupilih.
Ketika beliau melangkah masuk ke aula, sesuatu yang nyaris tak terlihat terjadi pergeseran kecil dalam susunan manusia. Yang berdiri di barisan depan bukan lagi mereka yang paling lama bekerja, atau yang paling memahami pekerjaan, melainkan mereka yang paling pandai membaca arah angin kekuasaan.
Roni, staf baru yang belum genap tiga bulan, tiba-tiba sudah berada di dekat Pak Arman. Tangannya sigap menarik kursi, suaranya lebih lantang dari yang lain. “Silakan, Pak, kursinya sudah kami siapkan khusus.” Aku melihat Pak Dedi yang tadi sibuk mengecek kursi kini tersingkir sedikit ke belakang. Wajahnya datar, tapi matanya menyimpan sesuatu entah lelah entah kalah.
Di sisi lain, seorang staf honorer berdiri sambil memegang map tebal. Ia tidak bergerak, tidak dipanggil, dan tampak seperti bagian dari furnitur. Status sosial di ruangan itu terasa seperti garis tak kasat mata: ada yang boleh mendekat, ada yang cukup melihat, dan ada yang bahkan tak dianggap ada.
“Pak, ini laporan capaian kami,” kata Roni lagi, menyodorkan map dengan dua tangan, sedikit membungkuk lebih dalam dari yang diperlukan. Beliau menerimanya sekilas, tanpa benar-benar melihat. Tapi senyum Roni melebar, seolah ia baru saja menerima penghargaan. Aku menoleh ke Mbak Sari. Ia mengangkat alisnya sedikit. “Cepat sekali dia belajar,” bisiknya. “Bukan belajar kerja,” jawabku pelan, “belajar posisi.”
Acara dimulai. Pidato demi pidato disampaikan. Kata-kata besar bertebaran: komitmen, integritas, pelayanan, peningkatan kualitas. Semua terdengar indah, bahkan terlalu indah untuk realitas yang kami jalani sehari-hari. “…dan kami sangat mengapresiasi kerja keras seluruh tim di sini,” ujar pejabat itu dari podium.
Tepuk tangan lagi. Tanganku ikut bergerak, otomatis. Seperti tubuhku tahu apa yang harus dilakukan, meski pikiranku tidak sepenuhnya setuju. Di belakang, Mbak Sari masih memegang piring snack. Matanya kosong seolah kata-kata di depan tidak pernah benar-benar sampai kepadanya.
Sesi tanya jawab dibuka. “Apakah ada masukan?” Hening. Bukan karena tidak ada masalah, tapi karena terlalu banyak yang tak boleh diucapkan. Pak Arman mengangkat tangan.
“Secara umum, Pak, kami sangat terbantu dengan kebijakan Bapak. Mungkin ke depan hanya perlu sedikit peningkatan koordinasi.”
Sedikit. Kata yang menutupi banyak hal. Padahal aku tahu, di balik kata itu, ada sistem yang sering macet, laporan yang menumpuk, dan target yang tak selalu masuk akal. Di belakangku, seseorang berbisik, “Ngapain juga jujur? Nggak ada untungnya.” Kalimat itu terasa lebih nyata daripada seluruh pidato.
Setelah itu, satu peristiwa kecil terjadi dan justru terasa paling jujur. Bu Dewi, pegawai lama, memberanikan diri maju. “Pak, mohon izin, soal sistem pelaporan yang baru, kami cukup kesulitan di lapangan…” Belum selesai, Pak Arman menyela cepat. “Nanti bisa dibahas internal, Bu.”
Senyumnya tegang. Beliau hanya mengangguk ringan, seolah persoalan itu terlalu kecil untuk ruang sebesar ini. Bu Dewi mundur perlahan. Tak ada yang menatapnya. Tak ada yang mendukungnya. Seolah keberanian adalah kesalahan kecil yang harus segera dilupakan. Di titik itu, aku merasa yang ditolak bukan sekadar kritik, tapi kejujuran itu sendiri.
Setelah acara selesai, semuanya kembali cepat. Kursi dirapikan, spanduk dilepas, sisa makanan dikumpulkan. Seperti mimpi yang dibongkar sebelum sempat diingat. Mobil hitam itu pergi. Dan bersama kepergiannya, sesuatu juga ikut hilang. Bukan semangat itu memang tidak pernah benar-benar datang. Tapi mungkin… ilusi. “Aman,” kata Pak Arman singkat. Seolah seluruh tujuan hari itu hanya satu, yaitu tidak membuat kesalahan.
Menjelang sore, kantor kembali seperti semula. Dinding retak kembali terlihat. Tanaman plastik kembali berdebu. Karpet merah sudah digulung entah ke mana. Aku duduk diam. Tak jauh dariku, Roni duduk sebentar di kursi Pak Arman, sekadar mencoba rasa. Ia tersenyum sambil berbicara di telepon. “Lumayan. Kelihatan tadi sama beliau. Bisa jadi jalan.” Jalan. Bukan kerja. Bukan makna. Tapi akses.
Tiba-tiba terasa jelas bahwa di tempat ini, setiap orang sedang membangun tangganya sendiri. Bukan untuk naik bersama, tapi untuk memastikan dirinya lebih tinggi dari yang lain. Individualisme di sini bukan tentang kemandirian berpikir, melainkan strategi bertahan yang sunyi dan saling menyingkirkan. Dan penjilatan bukan lagi sekadar sikap ia telah menjadi bahasa kedua yang fasih dipraktikkan tanpa pernah diajarkan.
Aku kembali ke mejaku. Komputer dinyalakan. Pekerjaan menunggu seperti biasa, tanpa spanduk, tanpa tepuk tangan. Mbak Sari lewat. “Capek ya.” “Capek pura-pura,” jawabku. Ia tersenyum tipis.
Di layar komputer, aku mulai mengetik laporan. “Kunjungan berjalan dengan lancar dan penuh makna.” Aku berhenti. Menatap kalimat itu. Lalu melanjutkan mengetik seolah-olah aku juga bagian dari upacara yang tak pernah benar-benar tertulis.
Barangkali yang paling jujur dari hari itu bukanlah pidato, bukan pula laporan ini. Yang paling jujur justru kegelisahan kecil yang kami sembunyikan di balik senyum. Kesadaran bahwa kami sedang merawat sesuatu yang rapuh, sebuah sistem yang lebih mementingkan wajah daripada isi, gema daripada suara, dan bayangan daripada tubuhnya sendiri.
Di titik itu, kami tidak lagi sekadar pekerja. Kami adalah penjaga ilusi. Dan yang paling mengerikan bukanlah bahwa ilusi itu kosong, melainkan bahwa kami tetap menjaganya, dengan sungguh-sungguh.
Bandung, 22 April 2026












Tinggalkan Balasan