Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kobong, Luka, dan Kenangan yang Tak Pulang

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Jenida Nurinda Dustriani

Di masa pandemi COVID-19, ketika dunia terasa sunyi dan penuh ketakutan, saya justru menemukan kebersamaan yang tak terlupakan. Saya dan beberapa teman mengaji di dekat rumah saya, di sebuah kobong sederhana yang menjadi tempat kami berkumpul, menginap, dan menjalani hari-hari bersama. Di sana, kami seolah lupa bahwa di luar ada virus yang membatasi jarak. Tidak ada jaga jarak, tidak ada maskerโ€”yang ada hanya kebersamaan, tawa, dan rutinitas mengaji siang dan malam.

Banyak sekali kesan yang tertinggal selama kami tinggal di kobong. Susah dan senang kami jalani bersama. Kami belajar menghafal Al-Qurโ€™an, mempelajari kitab-kitab, sekaligus belajar hidup mandiri jauh dari keluarga. Jika waktu bisa diulang, mungkin saya ingin kembali ke masa itu, masa di mana kebersamaan terasa begitu sederhana namun bermakna.

Suatu pagi, saya pergi ke warung dekat tempat pengajian untuk membeli keperluan masak dan jajan. Seusai dari warung, muncul ide iseng. Saya mengajak teman-teman berlari kembali ke kobongโ€”siapa yang sampai duluan akan menjadi pemenang dan saya janjikan satu makanan. Tanpa banyak pikir, saya langsung berlari sekencang mungkin. Namun ternyata, tidak satu pun dari mereka ikut berlari.

Di depan saya, ada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain. Tanpa saya duga, salah satu dari mereka menjahili saya dengan mengaitkan kaki. Seketika saya terjatuh keras. Tubuh saya terguling ke depan, kepala masuk ke dalam pasir bangunan, dan tangan saya menghantam aspal. Luka di tangan saya sangat parah hingga tulang bagian dalam terlihat. Sampai sekarang, bekas lukanya masih ada. Lebih memalukan lagi, guru ngaji saya melihat kejadian itu karena beliau sedang mengecat dinding rumahnya.

Malam harinya, saya tetap kembali mengaji meskipun tangan kiri saya tidak bisa digerakkan ke bawah. Selama hampir dua bulan, tangan itu harus selalu saya sanggah di pundak, seperti pose โ€œsasageyoโ€. Rasa sakit memang ada, tetapi saya tetap berusaha mengikuti kegiatan seperti biasa. Dari situlah saya belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Mengaji, wudhu, hingga shalat saya lakukan dengan satu tangan, sambil menahan perih dan malu.

Kejadian itu menjadi cerita viral di pengajian. Teman-teman sering mengingatnya dengan tawa, memberi saya julukan-julukan yang membuat kesal sekaligus menghibur. Sejak tangan saya diperban dan belum bisa digerakkan, saya kesulitan melakukan banyak hal, termasuk membawa motor karena daging tangan saya belum tumbuh sempurna. Namun di balik itu, saya justru merasakan perhatian dan kepedulian yang lebih dari teman-teman sekitar.

Malam-malam di kobong menjadi bagian yang paling saya rindukan. Kami tidur beralaskan tikar tipis, berbincang sebelum terlelap, dan tertawa tanpa alasan yang jelas. Di luar, dunia diliputi rasa takut oleh pandemi, tetapi di dalam kobong, kami menemukan rasa aman melalui kebersamaan dan doa-doa yang kami panjatkan bersama.

Seiring waktu, luka di tangan saya perlahan mengering. Bekasnya masih tertinggal hingga kini, menjadi pengingat akan satu kejadian yang tak akan terlupakan. Ketika saya kembali ke sekolah dan menceritakan kejadian itu di depan teman-teman SMA, mereka tertawa mendengarnya, dan saya ikut tertawa. Cerita memalukan itu berubah menjadi kenangan yang justru saya syukuri.

Pandemi akhirnya berlalu. Aktivitas kembali normal, dan kobong tidak lagi seramai dulu. Teman-teman satu per satu melanjutkan hidupnya masing-masing. Ada yang jarang mengaji, ada yang pindah, ada pula yang hanya tersisa dalam ingatan. Namun semua kenangan itu tetap hidup, tersimpan rapi di hati.

Kini, ketika mengingat masa COVID-19 di kobong, yang tersisa bukan rasa sakit atau malu, melainkan rasa syukur. Saya bersyukur pernah jatuh dan bangkit, pernah terluka dan dikuatkan, serta pernah bersama dalam masa sulit. Andai waktu bisa diulang, saya tidak ingin menghapus kejadian ituโ€”karena dari sanalah saya belajar arti kebersamaan, kesabaran, dan makna tumbuh menjadi manusia yang lebih kuat.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

8 tanggapan untuk “Kobong, Luka, dan Kenangan yang Tak Pulang”

  1. Avatar Ratna Maliana
    Ratna Maliana

    Tulisan ini terasa jujur dan hangat dalam menggambarkan kebersamaan di masa COVID-19 yang serba sulit. Di tengah kondisi penuh keterbatasan, cerita ini menunjukkan bahwa tetap ada kenangan yang akan selalu dirindukan. Pengalaman luka yang diceritakan justru memperkuat makna ketabahan dan rasa syukur. Nuansa kebersamaan yang dihadirkan terasa dekat dan menyentuh. Secara keseluruhan, tulisan ini memberi kesan yang mendalam.

  2. Avatar Arly Sekar Kusumo
    Arly Sekar Kusumo

    Judul yang sangat emosional dan puitis. Ada kesan nostalgia yang kuat, apalagi dengan ilustrasi perkampungan yang asri. Seperti diajak pulang ke masa lalu lewat kata-kata.

  3. Avatar Selfi Novita Mariam
    Selfi Novita Mariam

    Menurut saya tulisan ini menarik karena menunjukkan hubungan yang mendalam antara tema luka batin dan ingatan masa lalu. Penggunaan diksi yang berkarakter puitis dapat menciptakan suasana emosional sekaligus memperkaya makna yang hendak disampaikan oleh penulis. Di samping itu, urutan ide dalam tulisan tersusun secara logis sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti perjalanan emosi dan refleksi tokoh. Dari hal tersebut, tampak bahwa kekuatan karya ini terletak pada kemampuan penulis mengubah pengalaman pribadi menjadi refleksi yang bermakna.

  4. Avatar Emi Mutiara

    Tulisan ini jujur, hangat, ngegambarin kebersamaan COVID yang susah. Kenangan manis tetep dirinduin, luka bikin tabah & syukur kuat.

  5. Avatar Feby Aulia Trihapsari
    Feby Aulia Trihapsari

    Cerita ini terasa jujur, hangat, dan penuh makna tentang kebersamaan di masa sulit. Perpaduan antara kejadian lucu, menyakitkan, dan refleksi hidup membuat tulisan ini hidup dan relatable. Pesan tentang ketahanan, persahabatan, dan rasa syukur tersampaikan dengan kuat. Secara keseluruhan, ini adalah kenangan sederhana yang justru terasa sangat berharga.

  6. Avatar Yorensina Anip Kalakmabin
    Yorensina Anip Kalakmabin

    Tulisan ini menceritakan pengalaman masa pandemi dengan penuh kenangan dan makna.
    Kebersamaan di kobong terasa hangat meskipun dalam situasi sulit.
    Peristiwa jatuh dan terluka menjadi pengalaman pahit yang memberi pelajaran berharga.
    Penulis menunjukkan keteguhan untuk tetap belajar meski dalam kondisi terbatas.
    Akhirnya, semua kenangan itu menjadi sumber syukur dan kekuatan untuk menjadi lebih baik.

  7. Avatar Nanda Suhendi
    Nanda Suhendi

    tulisan ini menceritakan pengalaman seorang anak yang mengisi kegiatan ketika pandemi COVID 19 berlangsung dengan mengaji di pondok, menceritakan kesabaran seorang anak yang jatuh gara gara dijahili teman temannya, meskipun tangannya luka tetapi tidak menjadikan alasan untuk tidak terus mengikuti kegiatan

  8. Avatar Suci Barkah
    Suci Barkah

    Menurut saya, tulisan ini sangat menyentuh karena mampu menggambarkan pengalaman sederhana di masa pandemi dengan penuh makna. Penulis berhasil menghadirkan cerita yang jujur dan dekat dengan kehidupan, terutama tentang kebersamaan, perjuangan, dan proses belajar dari sebuah kejadian. Kisah jatuh dan luka yang dialami tidak hanya menjadi cerita fisik, tetapi juga menunjukkan kekuatan mental dan semangat untuk tetap menjalani aktivitas. Selain itu, nilai kebersamaan dan kepedulian teman-teman terasa kuat dan menjadi pesan positif bagi pembaca. Secara keseluruhan, tulisan ini memberikan pelajaran bahwa pengalaman sulit bisa menjadi kenangan berharga dan membentuk pribadi yang lebih kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *