Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Sepertiga Sabtu yang Tidak Pernah Menjadi Milikku

[Sumber gambar: AI]

Penulis: CP

Ada hal-hal yang lebih mudah dilakukan dalam diam. Bara tahu itu sejak pertama kali ia menyadari bahwa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat setiap kali Nada masuk ke ruang kelas B1 di lantai dua gedung PGSD tempat yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian penting dari hidupnya. Bukan karena Nada melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak. Nada hanya masuk, meletakkan tasnya di kursi barisan kedua dari depan, sisi dekat jendela, lalu mengeluarkan buku catatannya dengan cara yang terlihat seperti rutinitas yang sudah dilakukan ribuan kali. Tapi bagi Bara, pemandangan itu selalu terasa seperti sesuatu yang baru sesuatu yang tidak pernah cukup hanya dilihat sekali.

Bara tidak pernah duduk di barisan kedua. Ia selalu di barisan keempat, sisi kiri, cukup jauh untuk tidak mencolok, cukup dekat untuk masih bisa melihat. Itu mungkin yang membuat segalanya menjadi rumit sejak awal. Kelas karyawan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar hanya masuk satu hari dalam sepekan….Sabtu. Dari pagi hingga sore, tujuh jam dengan dua kali jeda, mereka yang di hari biasanya adalah guru honorer, staf administrasi sekolah, atau pegawai yang bermimpi memegang ijazah S-1, berkumpul di ruangan yang berbau spidol whiteboard dan pendingin udara yang tidak pernah dingin benar-benar.

Bara adalah guru kelas tiga di SD Negeri pinggiran kota. Dua puluh tujuh tahun, belum menikah, masih tinggal dengan ibunya, dan setiap Jumat malam ia menyiapkan kemeja yang sudah disetrika rapi karena entah mengapa ia selalu ingin terlihat tidak berantakan di hari Sabtu. Sebelum mengenal Nada, ia mengira itu hanya soal profesionalisme. Setelah mengenal Nada atau lebih tepatnya, setelah mengenal Nada dari kejauhan ia tahu itu bukan soal profesionalisme sama sekali. Nama Nada ia ketahui dari absensi yang dibacakan Bu Devi, dosen Psikologi Perkembangan Anak, di pertemuan pertama semester dua. “Nada Permata Sari?” “Hadir, Bu.”

Suaranya tidak istimewa dalam pengertian yang dramatis tidak seperti penyiar radio atau penyanyi. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kata hadir yang terdengar seperti seseorang yang benar-benar bermaksud mengatakan bahwa ia ada, bahwa ia hadir, bahwa kehadirannya bukan sekadar formalitas. Bara menuliskan nama itu di pojok buku catatannya lalu mencoretnya sebelum kelas selesai. Deri adalah satu-satunya orang yang tahu.

Deri duduk di sebelah Bara sejak hari pertama karena waktu itu semua kursi di sisi kanan sudah terisi dan Deri terlambat tiga menit dan sejak saat itu mereka menjadi semacam sepasang orang yang kebetulan selalu berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Deri bekerja sebagai penjaga perpustakaan di sebuah SMP swasta. Ia lebih banyak bicara dari Bara, lebih mudah tertawa, dan punya kebiasaan mencolek lengan orang setiap kali ingin mengatakan sesuatu yang menurutnya penting.

Ia mencolek lengan Bara pada suatu Sabtu di bulan ketiga, tepat ketika Nada sedang maju ke depan untuk presentasi tugas kelompok tentang metode pembelajaran berbasis bermain. “Eh,” bisik Deri, “kamu lihat ke sana mulu dari tadi.” “Lagi dengerin presentasi.” “Orang lain dengerin sambil nyatat. Kamu dengerin sambil senyum-senyum.” Bara tidak menjawab. Ia menunduk dan pura-pura menulis sesuatu di bukunya. Yang ia tulis adalah garis panjang yang tidak berarti apa-apa.

Deri tidak berkata apa-apa lagi. Tapi sejak hari itu, setiap kali nama Nada disebut dosen atau muncul dalam konteks apapun, Deri selalu melirik ke arah Bara dengan ekspresi seseorang yang sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang belum diajukan. Bara mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Nada. Hal-hal yang seharusnya tidak ia perhatikan, tapi masuk ke dalam kepalanya tanpa izin dan tinggal di sana lebih lama dari yang semestinya. Nada selalu datang lebih awal dari jadwal lima belas menit sebelum kelas dimulai, tidak lebih tidak kurang. Ia membawa bekal dari rumah, selalu dalam kotak makan berwarna merah bata yang dibungkus kain motif batik, dan ia makan dengan cepat di sela-sela jeda sesi pertama dan kedua sambil tetap membaca materi. Ia tidak pernah meninggalkan ruangan saat dosen sedang bicara, bahkan ketika ponselnya bergetar ia hanya melihat sekilas lalu meletakkannya kembali dengan ekspresi yang tidak bisa Bara baca bukan kesal, bukan senang, hanya semacam keputusan kecil yang diambil tanpa drama.

Nada adalah guru kelas satu di SD swasta di kecamatan yang berbeda dari sekolah Bara. Ia tahu itu dari percakapan kelompok yang pernah ia dengar tidak sengaja, atau mungkin sedikit sengaja, ia tidak mau mengakui yang mana. Dan Nada punya cincin tipis di jari manis tangan kirinya. Cincin perak sederhana yang kadang-kadang memantulkan cahaya lampu neon kelas dan membuat Bara, setiap kali melihatnya, merasakan sesuatu di dadanya yang tidak bisa ia namai dengan tepat. Ia tidak pernah bertanya tentang cincin itu. Kepada siapapun.

Deri pernah hampir menyebut topik itu suatu Sabtu siang ketika mereka makan siang bersama di kantin kecil di sudut gedung, setelah Deri entah bagaimana tahu lebih banyak tentang Nada dari jaringan pergaulannya yang lebih luas — tapi sebelum Deri selesai bicara, Bara memotong dengan, “Jangan.” Deri menutup mulutnya. Menatap Bara beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Oke.” Mereka makan siang dalam diam. Dan Bara merasa bahwa diam itu terasa seperti konfirmasi atas sesuatu yang belum pernah ia tanyakan.

Ada satu Sabtu yang berbeda dari semua Sabtu yang lain. Pertengahan semester, hujan turun sejak dini hari dan tidak berhenti sampai siang. Dosen Pembelajaran Tematik tidak masuk karena sakit, dan kelas diliburkan satu sesi. Sebagian besar mahasiswa pergi ke kantin atau pulang lebih awal. Bara memilih tinggal di kelas ada tugas yang belum selesai, atau setidaknya itulah alasan yang ia berikan kepada Deri yang mengajaknya ke kantin. “Nggak ikut?” tanya Deri dari pintu. “Duluan aja.”

Deri melirik ke arah barisan kedua sisi jendela, di mana Nada masih duduk dengan buku terbuka di mejanya. Lalu ia melirik kembali ke Bara. Lalu ia tersenyum kecil bukan senyum menggoda, tapi senyum seseorang yang sedang menyaksikan sesuatu yang membuatnya sedikit sedih. “Oke,” kata Deri. “Hati-hati.” Bara tidak yakin hati-hati yang dimaksud Deri itu untuk apa.

Ruangan menjadi sepi. Hanya tinggal empat orang termasuk Bara dan Nada, dan dua orang lainnya duduk di sudut belakang dan sibuk dengan percakapan mereka sendiri. Suara hujan mengisi ruangan deras, konsisten, seperti seseorang yang berbicara panjang tanpa jeda. Bara membuka laptopnya. Menulis tiga kata di dokumen tugasnya. Berhenti. Kemudian terdengar suara kursi bergeser, dan langkah kaki, dan Nada berdiri di sebelah mejanya dengan sebuah buku di tangannya — buku tentang pendekatan kontekstual dalam pembelajaran SD yang sudah lama Bara cari tapi tidak tersedia di perpustakaan kampus.

“Kamu yang minggu lalu nanya ke Bu Devi soal buku ini kan?” kata Nada. Bara mendongak. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bahwa mata Nada berwarna cokelat tua, dan ada sedikit kelelahan di sana bukan kelelahan yang membuat seseorang tampak kurang menarik, tapi kelelahan yang membuat seseorang tampak nyata. “Iya,” jawab Bara. “Aku punya. Boleh pinjam kalau butuh.” Nada meletakkan buku itu di sisi meja Bara. “Aku sudah selesai baca.” “Kamu yakin?” “Iya. Toh kita ketemu lagi Sabtu depan.” Bara menatap buku itu sebentar, lalu menatap Nada. “Makasih.” “Sama-sama.” Nada kembali ke mejanya.

Bara membuka buku itu dan menemukan, di halaman pertama, nama lengkap Nada yang ditulis dengan pulpen berwarna biru: Nada Permata Sari, PGSD Karyawan. Dan di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil: untuk suamiku, semoga bermanfaat. Bara menutup buku itu. Ia menatap layar laptopnya yang masih menampilkan tiga kata yang belum jadi kalimat. Di luar, hujan masih turun. Di barisan kedua sisi jendela, Nada menulis sesuatu di bukunya dengan tekun, tidak menyadari atau mungkin memang tidak perlu menyadari apapun.

Di jari manis tangan kirinya, cincin perak tipis itu memantulkan cahaya lampu neon. Bara menarik napas panjang. Kemudian mengetik lagi. Tugasnya tidak akan selesai sendiri, dan Sabtu masih panjang, dan beberapa hal memang harus tetap berjalan meskipun sesuatu di dalam dada terasa seperti baru saja memutuskan untuk diam selamanya. Deri tahu sesuatu yang berbeda terjadi ketika Bara keluar dari kelas sore itu dengan wajah yang tidak bisa ia baca. Mereka berdiri di depan gedung, menunggu hujan reda sedikit sebelum berjalan ke parkiran. Bara memegang buku pinjaman dari Nada di tangannya tapi tidak bicara apa-apa. Deri melirik buku itu, membaca nama di sampulnya, lalu melirik Bara. “Bar,” kata Deri pelan. “Jangan,” kata Bara, seperti sebelumnya.

Tapi kali ini suaranya berbeda. Lebih lelah. Seperti seseorang yang sudah berdiri terlalu lama dan baru saja memutuskan untuk duduk bukan karena sudah sampai di tujuan, tapi karena kakinya tidak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja. Deri tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sebelah Bara, membiarkan suara hujan mengisi ruang di antara mereka, dan itu sudah cukup. Sabtu-Sabtu berikutnya berjalan seperti biasa seolah tidak ada yang berubah, karena memang tidak ada yang berubah. Nada tetap datang lima belas menit lebih awal. Tetap duduk di barisan kedua sisi jendela. Tetap membawa kotak makan merah bata dalam kain batik. Tetap bicara dengan teman-teman kelompoknya dengan cara yang hangat dan mudah, seperti seseorang yang tidak pernah punya alasan untuk menjaga jarak dari dunia.

Bara mengembalikan buku itu dua Sabtu kemudian. Ia meletakkannya di meja Nada sebelum kelas dimulai, ketika Nada sedang berbicara dengan teman lain di depan ruangan. Di dalam buku itu, ia menyisipkan secarik kertas kecil. Bukan surat, bukan pengakuan. Hanya sebuah kalimat pendek yang ia tulis malam sebelumnya dan hapus tujuh kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menulisnya sekali lagi: Terima kasih. Buku ini sangat membantu. Semoga semua yang kamu doakan untuk orang-orang yang kamu cintai, terkabul. Ia tidak menandatanganinya. Tidak perlu.

Nada menemukan kertas itu di tengah-tengah sesi kedua, ketika ia membuka buku untuk mencari referensi. Bara melihatnya membaca hanya sekilas, karena ia tidak ingin ketahuan melihat dan melihat Nada mengernyitkan dahi sedikit, lalu melihat ke sekitar, lalu matanya bertemu dengan mata Bara selama setengah detik. Bara tidak berpaling. Ia sudah tidak punya energi untuk berpura-pura.

Nada tersenyum kecil senyum yang tidak Bara bisa artikan terima kasih, atau maaf, atau sesuatu yang lain yang tidak punya nama dalam bahasa yang ia tahu. Lalu Nada melipat kertas itu dengan rapi dan menyimpannya di dalam dompetnya. Bara menunduk ke bukunya. Di papan tulis depan, dosen sedang menulis tentang evaluasi pembelajaran autentik bagaimana mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, bagaimana menilai proses di balik hasil, bagaimana memahami bahwa tidak semua yang berharga bisa dimasukkan ke dalam kolom penilaian.

Bara menulis semua yang ditulis dosen itu di bukunya, kata per kata, dengan tulisan yang lebih rapi dari biasanya. Semester berakhir dua bulan kemudian. Pertemuan terakhir kelas karyawan PGSD semester itu diakhiri dengan sesi foto bersama di depan gedung tradisi kecil yang sudah berjalan beberapa tahun, kata dosen wali mereka. Semua orang berkumpul, tertawa-tawa, saling meminjam ponsel untuk memotret. Deri menarik lengan Bara masuk ke dalam kerumunan. Bara berdiri di barisan belakang. Nada berdiri di barisan depan, dua orang dari ujung kiri. Di sebelah Nada berdiri seorang laki-laki yang Bara tidak pernah lihat di kelas manapun bukan mahasiswa, tampaknya, karena ia berpakaian terlalu rapi untuk hari Sabtu kampus. Laki-laki itu meletakkan tangannya di pundak Nada dengan cara yang wajar dan alami, cara seseorang yang sudah melakukan hal itu berkali-kali dan tidak perlu berpikir dua kali.

Nada menoleh ke arahnya dan tersenyum. Bukan senyum kecil. Senyum yang penuh, yang membuat matanya ikut tersenyum, yang Bara belum pernah melihatnya ditujukan ke arah manapun selama satu semester ini. Seseorang menghitung, “Satu, dua, tiga” Blitz kamera menyala. Bara tersenyum ke kamera. Ia sudah cukup berlatih tersenyum pada hal-hal yang menyakitkan tanpa membiarkan rasa sakitnya terlihat. Di parkiran, setelah semua orang mulai berpencar, Deri berjalan di sebelah Bara tanpa berkata apa-apa.

Langit sore itu tidak hujan cerah, malah, dengan awan-awan putih yang bergerak lambat seperti tidak punya keperluan mendesak ke manapun. “Semester depan masih satu kelas sama kita,” kata Deri akhirnya. Bukan pertanyaan. “Iya.” “Kamu baik-baik aja?” Bara berjalan beberapa langkah sebelum menjawab. “Aku nggak pernah bilang apa-apa.” “Aku tahu.” “Berarti nggak ada yang perlu dibaik-baikin.”

Deri mengangguk pelan. Mereka sampai di motor Bara. Bara memasang helm, menghidupkan mesin, lalu berhenti sebentar sebelum pergi. “Der,” katanya. “Hm?” “Kadang-kadang hal yang paling menyakitkan itu bukan kehilangan sesuatu yang pernah kamu punya.” Deri menatapnya. “Tapi sadar bahwa kamu nggak pernah punya hak untuk memilikinya dari awal.” Ia tidak menunggu Deri menjawab. Motor melaju keluar dari parkiran, menembus sore yang cerah dan angin yang terasa lebih dingin dari seharusnya.

Sabtu berikutnya, Bara datang tepat waktu tidak lebih awal, tidak terlambat. Ia duduk di barisan keempat, sisi kiri. Mengeluarkan buku dan pulpennya. Membuka laptop. Di barisan kedua sisi jendela, Nada sudah duduk dengan buku catatannya. Lima belas menit lebih awal, seperti selalu. Dosen masuk. Kelas dimulai. Dan Bara belajar dengan sungguh-sungguh, dengan seluruh perhatiannya, dengan cara yang belum pernah ia lakukan sebelumnya bagaimana caranya hadir di sebuah tempat tanpa membiarkan tempat itu tahu bahwa sebagian darinya sudah lama tinggal di sana. Itu, mungkin, pelajaran paling sulit yang tidak ada di kurikulum manapun.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *