Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Sajak Perpisahan

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Mukidi

Sajak Perpisahan

Seorang perjaka tua memegang nasi terbungkus daun jati 
sisa makanan tadi pagi,
mengharap pulang setiap petang,
menunggu setia sang kekasih hati

Sang belahan jiwa yang pergi dengan ratapan senja
bersama hujan petir bersahutan
pergi tergesa dengan berani menghadap Sang Pencipta
tanpa pesan atau pamitan

Setiap petang selalu berguman pelan
tanpa rintihan, ratapan dan airmata
hanya getaran bibir
mengucap ribuan dzikir,
terbalut hamparan selimut kerinduan,
kerinduan tanpa tepian.

Hanya hujan yang memberi setia
pada sumpah janji pada belahan hati
dalam tidur sanggup terhibur
dengan gaun panjang berujung renda
sang kekasih datang dengan bahagia.

Tapi,
Hanya sampai kabut subuh menjemput
tawa bahagia itu hilang terpana.
dan ia harus terpisah lagi,
berpisah untuk beribu kian kalinya.


Maret 2021


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Sajak Perpisahan”

  1. Avatar Meta Agesta Kalih Purwasih_A1_PBSI 2023
    Meta Agesta Kalih Purwasih_A1_PBSI 2023

    Puisi Sajak Perpisahan menyajikan suasana duka dan kehilangan dengan bahasa yang puitis serta penuh penghayatan. Penggunaan citraan senja, hujan, dan penantian berhasil memperkuat nuansa kesepian yang dirasakan tokoh dalam puisi. Perpisahan yang digambarkan bukan sekadar perpisahan biasa, melainkan kepergian yang bersifat abadi sehingga menghadirkan kesan haru dan reflektif bagi pembaca. Diksi yang sederhana tetapi sarat makna membuat emosi penyair tersampaikan dengan baik, sekaligus mengajak pembaca merenungkan bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan berujung pada perpisahan yang harus diterima dengan ketulusan.

  2. Avatar Hana Ghina Hanifah
    Hana Ghina Hanifah

    “Sajak Perpisahan” adalah sebuah karya yang matang dalam hal penceritaan. Ia berhasil menangkap esensi sejati dari kesedihan yang abadi: bahwa bagian paling berat dari kehilangan bukanlah saat pemakaman, melainkan hari-hari panjang setelahnya ketika kita harus terus terbangun dan mendapati realitas bahwa mereka sudah tidak ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *