
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Mukidi
Sajak Perpisahan
Seorang perjaka tua memegang nasi terbungkus daun jati
sisa makanan tadi pagi,
mengharap pulang setiap petang,
menunggu setia sang kekasih hati
Sang belahan jiwa yang pergi dengan ratapan senja
bersama hujan petir bersahutan
pergi tergesa dengan berani menghadap Sang Pencipta
tanpa pesan atau pamitan
Setiap petang selalu berguman pelan
tanpa rintihan, ratapan dan airmata
hanya getaran bibir
mengucap ribuan dzikir,
terbalut hamparan selimut kerinduan,
kerinduan tanpa tepian.
Hanya hujan yang memberi setia
pada sumpah janji pada belahan hati
dalam tidur sanggup terhibur
dengan gaun panjang berujung renda
sang kekasih datang dengan bahagia.
Tapi,
Hanya sampai kabut subuh menjemput
tawa bahagia itu hilang terpana.
dan ia harus terpisah lagi,
berpisah untuk beribu kian kalinya.
Maret 2021













Tinggalkan Balasan