Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bangku Paling Belakang

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Wasman Nurjaman

Pagi itu halaman SD Harapan masih basah oleh embun. Daun-daun ketapang di depan gerbang bergerak pelan diterpa angin, sementara suara sapu dari penjaga sekolah beradu dengan riuh anak-anak yang baru datang. Beberapa murid berlari kecil menuju kelas sambil membawa bekal, ada yang tertawa keras di dekat kantin, ada pula yang sibuk menunjukkan mainan baru kepada temannya.

Di tengah keramaian itu, Ilham berjalan pelan menuju kelas lima.

Tasnya sudah tampak pudar warnanya. Tali sebelah kirinya bahkan sedikit robek dan dijahit ulang menggunakan benang hitam. Anak itu berjalan sambil menunduk, seolah berusaha tidak menarik perhatian siapa pun. Rambutnya tipis dan agak berantakan, sementara tubuhnya yang kurus membuat seragam putihnya terlihat sedikit kebesaran.

Begitu masuk kelas, Ilham langsung menuju tempat duduknya di pojok paling belakang dekat jendela.

Bangku itu sudah seperti dunianya sendiri.

Dari sana ia bisa melihat halaman sekolah, pohon mangga yang tumbuh di dekat lapangan, dan langit yang kadang berubah warna perlahan ketika sore mulai datang. Kadang-kadang, ketika pelajaran terasa terlalu ramai, Ilham lebih memilih memandangi daun-daun yang bergerak di luar jendela daripada menatap papan tulis.

Ia memang jarang berbicara.

Kalau guru bertanya, jawabannya pendek-pendek. Kalau teman-temannya bercanda, ia hanya tersenyum kecil lalu kembali diam. Saat jam istirahat tiba dan anak-anak lain berhamburan keluar kelas untuk bermain bola atau membeli cilok di kantin, Ilham tetap tinggal di bangkunya.

Ia membuka buku tulis bagian belakang yang sampulnya mulai lepas.

Di situlah ia menggambar.

Kadang gambar rumah-rumah kecil di tepi sawah. Kadang jembatan bambu. Kadang anak-anak berseragam merah putih yang berjalan beriringan melewati jalan tanah.

Pensilnya bergerak pelan tetapi rapi, seolah setiap garis sudah dipikirkan matang-matang di dalam kepalanya.

Namun tidak semua anak mengerti itu.

“Ilham mah aneh.”

“Kerjaannya gambar terus.”

“Mungkin dia nggak ngerti pelajaran.”

Bisik-bisik seperti itu sering terdengar di kelas, terutama dari beberapa anak laki-laki yang duduk di depan. Mereka menganggap Ilham terlalu pendiam untuk anak seusianya. Karena ia jarang bicara, mereka juga mengira Ilham tidak pintar.

Ilham biasanya hanya diam mendengar semua itu.

Ia sudah terlalu sering menelan kata-kata sendirian.

Tetapi Bu Nisa, wali kelas mereka, memperhatikan hal yang berbeda.

Guru itu tahu Ilham selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Tulisan tangannya rapi. Nilainya memang tidak selalu paling tinggi, tetapi hampir tidak pernah buruk. Dan yang paling Bu Nisa perhatikan adalah gambar-gambar kecil di pinggir buku tulis Ilham yang selalu hidup dan penuh detail.

Kadang ada gambar sepeda tua dengan rantai berkarat. Kadang anak kecil memegang payung di jalan berlumpur. Kadang sekolah reyot dengan atap bocor.

Bu Nisa sering berhenti lebih lama ketika memeriksa buku Ilham.

Ada sesuatu dalam gambar-gambar itu yang terasa jujur.

Suatu pagi, saat pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, Bu Nisa berdiri di depan kelas sambil membawa beberapa lembar kertas gambar.

“Hari ini kita akan membuat tugas tentang cita-cita,” katanya sambil tersenyum. “Kalian bebas menggambar apa pun yang ingin kalian capai nanti.”

Kelas langsung ramai.

“Aku mau gambar dokter!”

“Aku mau jadi tentara!”

“Aku mau jadi YouTuber!”

Suara anak-anak saling bersahutan memenuhi ruangan.

Bu Nisa tertawa kecil lalu melanjutkan, “Besok semua harus mempresentasikan gambar kalian di depan kelas. Ceritakan juga alasannya.”

Ilham tidak ikut berseru seperti yang lain.

Ia hanya menunduk memandangi kertas kosong di mejanya cukup lama.

Malam harinya, di rumah kecil berdinding anyaman bambu, Ilham menggambar di bawah lampu yang cahayanya redup kekuningan. Sesekali ia menghapus garis yang menurutnya kurang tepat, lalu menggambarnya lagi dengan lebih hati-hati.

Ibunya yang sedang melipat pakaian sempat melirik.

“Belum tidur, Ham?”

“Sebentar lagi, Bu.”

Ilham kembali menekuni gambarnya tanpa banyak bicara.

Keesokan paginya, kelas lima terlihat lebih meriah dari biasanya. Banyak anak membawa gambar berwarna-warni. Ada gambar dokter memakai jas putih, polisi dengan topi besar, pilot, guru, bahkan pemain sepak bola.

Satu per satu murid maju ke depan kelas.

“Aku mau jadi dokter supaya bisa menyembuhkan orang sakit,” kata Rani penuh percaya diri.

Teman-temannya langsung bertepuk tangan.

“Aku mau jadi polisi supaya bisa menangkap penjahat!” seru Dika sambil mengangkat gambarnya tinggi-tinggi.

Kelas kembali ramai oleh tepuk tangan dan tawa.

Sementara itu, Ilham masih duduk di bangku belakang sambil memegang kertas gambarnya erat-erat. Sudut kertas itu sedikit terlipat karena terlalu lama diremas tangannya sendiri.

Wajahnya tampak tegang.

Beberapa kali ia menarik napas panjang lalu menunduk lagi.

“Sekarang giliran Ilham,” kata Bu Nisa lembut.

Kelas mendadak lebih sunyi.

Ilham berdiri perlahan. Langkahnya kecil-kecil menuju depan kelas. Sepatu hitamnya yang mulai pudar menggesek lantai keramik hingga menimbulkan suara pelan.

Begitu sampai di depan, ia mengangkat gambarnya dengan ragu.

Di atas kertas itu terlihat gambar sebuah sekolah sederhana di tengah desa. Bangunannya tidak besar. Dindingnya terbuat dari kayu, dengan halaman luas dan pohon rindang di sampingnya. Ada jalan kecil menuju sekolah itu, melewati sawah dan sungai.

Beberapa anak terlihat bingung.

“Kamu mau jadi guru?” tanya Bu Nisa pelan.

Ilham menggeleng.

Tangannya masih gemetar kecil saat memegang gambar.

“Saya ingin membangun sekolah, Bu,” jawabnya lirih.

Kelas mendadak hening.

Tidak ada yang bercanda lagi.

Ilham menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Di kampung nenek saya… sekolahnya jauh.” Ia berhenti sebentar, seperti sedang mencari keberanian. “Kalau hujan turun, jalannya jadi lumpur. Banyak anak nggak masuk sekolah karena takut jatuh atau nggak punya kendaraan.”

Ia menunjuk gambar jalan kecil di kertasnya.

“Saya pengen mereka punya sekolah yang dekat… supaya tetap bisa belajar.”

Suara Ilham tidak keras. Bahkan nyaris tenggelam oleh bunyi kipas angin tua di langit-langit kelas. Tetapi entah kenapa, semua anak mendengarnya dengan jelas.

Untuk pertama kalinya, teman-temannya benar-benar memperhatikan Ilham.

Mereka melihat matanya yang jujur. Melihat garis-garis gambar yang dibuat dengan teliti. Melihat mimpi besar yang selama ini diam-diam disimpan anak pendiam di bangku paling belakang itu.

Bagas, yang biasanya paling suka bercanda, kini hanya terdiam sambil memandangi gambar Ilham.

Rani menurunkan tangannya pelan.

Bahkan Dika yang sedari tadi paling ribut ikut menatap tanpa bicara.

Bu Nisa tersenyum hangat. Ada kebanggaan di wajahnya yang tidak bisa disembunyikan.

“Terima kasih sudah berani bercerita, Ilham,” katanya pelan.

Ilham kembali ke bangkunya dengan pipi sedikit merah. Tetapi ada sesuatu yang berbeda di dadanya. Untuk pertama kali sejak lama, ia merasa suaranya benar-benar didengar.

Sejak hari itu, suasana mulai berubah.

Saat jam istirahat, beberapa teman mulai mendekati bangkunya.

“Hams, ajarin gambar pohon dong.”

“Ilham, pinjam pensil warna boleh?”

Kadang mereka mengajaknya bermain bola meski Ilham lebih sering menjadi penjaga gawang karena tidak terlalu pandai berlari.

Gambar-gambar buatannya juga mulai dipasang di mading sekolah. Anak-anak sering berhenti di depan mading hanya untuk melihat hasil gambarnya yang detail dan penuh cerita.

Ilham masih tetap anak yang pendiam.

Ia masih duduk di bangku paling belakang dekat jendela.

Namun kini, ketika guru bertanya sesuatu, beberapa teman sering menoleh kepadanya lebih dulu seolah tahu bahwa anak kurus yang jarang bicara itu menyimpan banyak hal di dalam pikirannya.

Dan perlahan, Ilham mulai percaya bahwa suaranya memang layak didengar.

Karena ternyata, tempat duduk seseorang tidak pernah menentukan seberapa besar mimpi yang ia miliki.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *