
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Nurfadilla Annisa Pratiwi
Suatu sore, saya duduk di teras rumah sambil mengerjakan tugas kuliah PGSD tentang perencanaan pembelajaran. Seperti mahasiswa pada umumnya di era digital, saya memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencari referensi dan menyusun contoh perangkat pembelajaran. Tidak perlu menunggu lama. Dalam hitungan detik, jawaban yang saya butuhkan muncul dengan rapi dan cukup lengkap di layar.
Saat itu, sempat terlintas sebuah pertanyaan dalam pikiran saya: jika AI mampu memberikan jawaban dengan begitu cepat, apakah suatu hari nanti teknologi ini benar-benar dapat menggantikan guru?
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi ternyata tidak mudah dijawab. Saya kemudian teringat pada pengalaman ketika melakukan observasi di sekolah dasar. Di sana saya melihat secara langsung bagaimana guru tidak sekadar berdiri di depan kelas untuk menjelaskan materi. Guru menyapa siswa, memperhatikan perubahan sikap mereka, membantu ketika ada yang kesulitan, menenangkan siswa yang sedang kecewa, bahkan terkadang menjadi tempat anak bercerita tentang persoalan yang mereka hadapi.
Dari pengalaman itu, saya mulai memahami bahwa pendidikan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar memberikan jawaban. Pendidikan juga berbicara tentang hubungan, perhatian, keteladanan, dan proses membentuk manusia.
Tidak dapat dimungkiri, AI memang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengolah informasi. AI dapat menjelaskan rumus pecahan, membuat contoh soal matematika, menyusun materi pembelajaran, mencari ide kegiatan kelas, bahkan mengubah materi IPA yang rumit menjadi bahasa yang lebih sederhana untuk anak sekolah dasar. Jika ukurannya hanya kecepatan mencari informasi dan menghasilkan jawaban, AI tentu memiliki keunggulan yang sulit ditandingi manusia.
Pemanfaatan AI juga mulai memberikan kemudahan bagi guru. Teknologi ini dapat digunakan untuk mencari referensi, menyusun soal, membantu membuat bahan ajar, hingga mendukung proses penilaian. Penelitian Asbara dan kawan-kawan (2024), misalnya, menunjukkan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Sementara itu, Hanis dan Wahyudin (2024) membahas pemanfaatan AI dalam membantu guru menyusun asesmen pembelajaran.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kehadiran AI sebenarnya tidak perlu selalu dipandang sebagai ancaman. Dalam banyak hal, AI justru dapat menjadi teman kerja guru. Teknologi dapat membantu menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan waktu cukup panjang sehingga guru dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan mesin.
Dalam mata kuliah Sumber dan Media Pembelajaran Berbasis IT, saya belajar bahwa teknologi dapat menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran. Media digital dapat membuat kegiatan belajar lebih variatif dan menarik. Dalam konteks tersebut, AI merupakan salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan guru untuk memperkaya pembelajaran.
Namun, ada satu hal yang perlu diingat: teknologi hanyalah alat.
Guru tetap menjadi orang yang menentukan bagaimana teknologi digunakan, untuk apa digunakan, dan apakah penggunaannya sesuai dengan kebutuhan siswa. AI mungkin dapat memberikan puluhan contoh soal dalam waktu singkat, tetapi guru yang mengetahui apakah soal tersebut sesuai dengan kemampuan siswanya. AI mungkin dapat memberikan materi pembelajaran, tetapi guru yang memahami kapan materi itu perlu disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya agar dapat diterima oleh siswa.
Hal ini menjadi semakin jelas ketika saya mengingat kembali pengalaman observasi di sekolah dasar. Saya melihat bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Ada siswa yang sangat aktif bertanya, ada yang lebih senang diam, ada yang cepat memahami materi, tetapi ada pula yang membutuhkan penjelasan berulang kali. Ada siswa yang percaya diri untuk tampil di depan kelas, tetapi ada juga yang merasa takut dan membutuhkan dorongan dari gurunya.
Perbedaan tersebut membuat guru harus mampu menyesuaikan cara mengajar. Guru perlu mengenali siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang perlu diberi kesempatan lebih banyak untuk berbicara, dan siapa yang membutuhkan pendekatan berbeda.
AI dapat mengenali pola berdasarkan data, tetapi belum dapat menggantikan kepekaan manusia dalam membaca situasi emosional seorang anak secara langsung. Ketika seorang siswa tiba-tiba menjadi pendiam, misalnya, guru dapat melihat perubahan ekspresi, perilaku, dan kebiasaannya. Guru mungkin kemudian bertanya, “Kamu kenapa hari ini? Ada yang ingin diceritakan?”
Pertanyaan sederhana seperti itu mungkin tidak masuk dalam daftar tugas sebuah teknologi, tetapi bisa menjadi sangat berarti bagi seorang anak.
Di sekolah dasar, belajar memang bukan hanya persoalan memindahkan informasi dari buku ke kepala siswa. Anak juga sedang belajar menjadi manusia. Mereka belajar mengantre, berbagi, bekerja sama, meminta maaf, menghargai orang lain, menerima kekalahan, menghadapi kegagalan, dan mengelola rasa kecewa.
Nilai-nilai tersebut tidak cukup diajarkan melalui definisi. Anak perlu melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika guru meminta siswa untuk berkata jujur, tetapi guru sendiri memberikan contoh kejujuran, pesan itu akan lebih mudah dipahami. Ketika guru mengajarkan pentingnya menghargai orang lain dan benar-benar menunjukkan sikap menghargai kepada siswa, anak akan mendapatkan pembelajaran yang jauh lebih bermakna.
Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari apa yang dilakukan guru.
Di sinilah letak salah satu perbedaan penting antara AI dan guru. AI dapat menjelaskan arti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, atau empati. Namun, guru dapat memberikan contoh nyata tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru juga memiliki peran dalam mengamati perkembangan siswa. Ketika seorang anak terlihat tidak bersemangat, kesulitan mengikuti pembelajaran, atau mengalami perubahan perilaku, guru dapat mencoba mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi anak sedang mengalami masalah dengan teman, memiliki persoalan di rumah, atau hanya sedang membutuhkan perhatian.
Pendekatan seperti ini membutuhkan kepedulian dan hubungan emosional. Guru tidak hanya membaca jawaban siswa, tetapi juga berusaha membaca keadaan siswanya.
Meski demikian, bukan berarti AI tidak memiliki tantangan. Justru semakin besar peluang pemanfaatannya, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikirkan. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas teknologi yang sama. Di sejumlah daerah, akses internet dan perangkat digital masih menjadi persoalan. Kompetensi digital guru juga perlu terus ditingkatkan agar AI digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Selain itu, ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu kemungkinan siswa menjadi terlalu bergantung pada teknologi. Jika setiap tugas selalu diserahkan kepada AI, siswa bisa kehilangan kesempatan untuk berpikir, mencoba, salah, memperbaiki kesalahan, dan menemukan jawaban dengan usahanya sendiri.
Padahal, proses belajar justru sering kali terjadi ketika seorang anak mengalami kesulitan.
Ada pula persoalan kejujuran akademik. Jika AI digunakan tanpa aturan dan pengawasan, siswa bisa saja menjadikannya sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa benar-benar memahami materi. Karena itu, sekolah dan guru perlu memberikan pemahaman mengenai penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab.
Bagi siswa sekolah dasar, pendampingan bahkan menjadi semakin penting. Anak-anak masih berada dalam tahap belajar membedakan informasi yang benar dan keliru. Mereka belum tentu mampu menilai apakah jawaban yang diberikan AI benar-benar akurat. Karena itu, guru tetap dibutuhkan untuk mengajarkan bagaimana mencari informasi, memeriksa kebenarannya, memahami isinya, kemudian menggunakannya secara tepat.
Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya bukan “Apakah AI akan menggantikan guru?”, melainkan “Bagaimana guru dan AI dapat bekerja bersama untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik?”
AI dapat membantu guru menghemat waktu. AI dapat membantu mencari ide, menyusun bahan ajar, membuat variasi soal, atau memberikan alternatif kegiatan pembelajaran. Guru kemudian dapat menggunakan waktu dan energi yang dimilikinya untuk melakukan pekerjaan yang jauh lebih manusiawi: membimbing, mendengarkan, memberikan motivasi, membangun karakter, dan mendampingi siswa.
Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Sebagai mahasiswa PGSD, saya melihat perkembangan AI bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Justru, kehadiran AI dapat menjadi peluang bagi calon guru untuk belajar menjadi lebih kreatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Guru masa depan tidak harus melawan teknologi. Sebaliknya, guru perlu memahami teknologi dan menggunakannya secara bijak.
Namun, semakin canggih teknologi berkembang, semakin kita perlu mengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan.
Ada hati yang perlu disentuh, karakter yang perlu dibentuk, dan anak-anak yang membutuhkan seseorang untuk percaya kepada mereka.
AI mungkin bisa menjawab ketika kita bertanya, “Apa itu kejujuran?” AI mungkin juga dapat memberikan contoh tentang sikap bertanggung jawab. Tetapi ketika seorang anak gagal dalam perlombaan lalu menangis di sudut kelas, siapa yang menggenggam pundaknya dan berkata, “Tidak apa-apa, coba lagi”?
Di situlah guru tetap memiliki tempat yang tidak mudah digantikan teknologi.
Pada akhirnya, AI bukan musuh guru. AI adalah alat yang dapat membantu guru bekerja lebih efektif jika digunakan dengan tepat. Yang perlu dihindari bukan kehadiran teknologinya, melainkan penggunaan teknologi tanpa arah.
Guru tetap menjadi pengendali utama dalam proses pembelajaran. AI dapat membantu memberikan informasi, tetapi guru membantu siswa memahami makna. AI dapat menyusun materi, tetapi guru menghidupkan pembelajaran. AI dapat memberikan jawaban, tetapi guru mengajarkan bagaimana menemukan pertanyaan yang tepat.
Mungkin, masa depan pendidikan bukan tentang AI menggantikan guru. Masa depan pendidikan justru tentang guru yang mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya.
Sebab, pada akhirnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu menjawab pertanyaan mereka. Mereka juga membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami, membimbing, dan percaya bahwa mereka mampu tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Bionarasi Penulis
Nurfadilla Annisa Pratiwi merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), IKIP Siliwangi. Ia memiliki ketertarikan terhadap dunia pendidikan, khususnya pengembangan media pembelajaran, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dan pendidikan karakter di sekolah dasar. Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan pandangan mengenai pentingnya memanfaatkan teknologi secara bijak dalam pendidikan tanpa mengesampingkan peran guru sebagai pendidik yang membimbing dan membentuk karakter peserta didik.












Tinggalkan Balasan