Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

5 Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi

Pesan Cermin Pada Desember

Sudahkah kau berdiri di hadapanku?
Apa yang kurang dari dirimu?
Sudahkan kau meraih apa yang kau inginkan?

Ingat, bayanganmu adalah alarm
paling dini tentang kondisi fisikmu.
Sedangkan hatimu
adalah sirine paling peka terhadap
kondisi batinmu.

Berkacalah jika kau merasa
salah.
Bercerminlah jika kau merasa
kalah.

Purbalingga, 2025


Sumatera

Langit meneteskan
air mata melihat
ratusan pohon ditebang
oleh tangan-tangan jahil
yang suka
cuci tangan.

Purbalingga, 2025



Pesan Seorang Bapak Di Kursi Kekuasaan

Jadilah anak Ibu Pertiwi
niscaya semua aduan yang kau lontarkan
hanya dianggap sebagai ocehan jalanan.
Yang penting, anak cucuknya
bisa hangat dalam pelukan kekayaan.
Syukur-syukur juga khusuk
dalam dekapan kekuasaan.

Purbalingga, 2025


Mustahil

Jika air mata saudaraku
di Sumatera dijadikan tinta,
Maka, akan kulahirkan
sajak-sajak mustahil
yang tidak bisa dibaca oleh mata-mata
manusia yang kerap jalang
dan tak punya belas kasih.

Purbalingga, 2025



Piknik

Sudah aku arungi semua akun
dari yang gersang followers
hingga berjuta subscriber.

Keresahan tetaplah tumbuh
subur dalam kepalaku.
Akarnya merambat jauh
nian hingga hatiku.

Kelelahanku pasca berkunjung
ke berbagai aplikasi
tidak bisa diredakan
dengan tidur yang arif dan
budiman.

Justru tidurku yang kerap kali goyah
tatkala dipanggil oleh
Yang Terhormat Media Sosial.

Purbalingga, 2025


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

6 tanggapan untuk “5 Puisi Yanuar Abdillah Setiadi”

  1. Avatar
    Anonim

    Puisinya bagus Kak

  2. Avatar Mirabella
    Mirabella

    Puisi “Pesan Cermin Pada Desember” berhasil mengajak pembaca melakukan refleksi diri melalui simbol cermin yang sarat makna. Diksi yang digunakan sederhana, tetapi mampu menyampaikan pesan secara mendalam. Alur penyampaian gagasan terasa runtut dan mudah dipahami. Akan lebih menarik jika unsur imaji diperkuat agar pengalaman emosional pembaca semakin terasa.

  3. Avatar Mirabella
    Mirabella

    Puisi “Sumatera” berhasil menyampaikan kritik terhadap kerusakan lingkungan dengan bahasa yang singkat namun bermakna. Personifikasi pada larik pembuka mampu membangun suasana sedih dan kepedulian terhadap alam. Pilihan diksi juga mempertegas kritik sosial yang ingin disampaikan. Pengembangan imaji alam akan membuat puisi ini semakin kuat secara estetis.

  4. Avatar Mirabella
    Mirabella

    Puisi “Pesan Seorang Bapak di Kursi Kekuasaan” menyampaikan kritik sosial dan politik dengan gaya satir yang tajam namun tetap mudah dipahami. Penyair berhasil menggambarkan ironi kekuasaan melalui pilihan kata yang lugas. Pesan yang disampaikan terasa relevan dengan realitas kehidupan. Akan semakin kuat apabila simbol-simbol puitis lebih banyak dimanfaatkan untuk memperhalus sekaligus memperdalam makna.

  5. Avatar Mirabella
    Mirabella

    Puisi “Mustahil” menghadirkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan melalui metafora yang menyentuh. Ungkapan “air mata dijadikan tinta” menjadi kekuatan utama dalam membangun suasana emosional. Pesan yang disampaikan mampu menggugah empati pembaca. Penyempurnaan ritme dan pemenggalan larik akan membuat keindahan puisinya semakin maksimal.

  6. Avatar Mirabella
    Mirabella

    Puisi “Piknik” berhasil merefleksikan kegelisahan manusia modern di tengah kehidupan digital yang serba cepat. Kontras antara popularitas di media sosial dan keresahan batin menjadi gagasan yang menarik. Bahasa yang digunakan terasa dekat dengan realitas sehingga mudah dipahami pembaca. Penguatan citraan dan majas akan semakin memperkaya nilai estetika serta kedalaman makna puisi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *