
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Herman Priatna
“Pak, membaca itu bikin ngantuk…”
“Pak, teksnya panjang sekali…”
“Pak, saya tidak tahu harus menulis apa…”
Bagi guru Bahasa Indonesia, kalimat-kalimat seperti itu bukan sesuatu yang baru. Hampir setiap hari ungkapan serupa terdengar di ruang kelas. Ada siswa yang membuka buku hanya karena diperintah. Ada yang membaca sekilas, lalu pandangannya beralih ke jendela, ke teman sebangku, atau diam-diam ke layar telepon genggam. Sebagian guru lalu sampai pada kesimpulan yang terasa masuk akal: anak-anak sekarang memang malas membaca.
Kalimat itu sering diucapkan, bahkan seolah sudah menjadi diagnosis kolektif di dunia pendidikan. Generasi digital dianggap kurang sabar, kurang fokus, terlalu bergantung pada teknologi, dan lebih tertarik pada hiburan dibandingkan pengetahuan.
Namun, sebelum kita terlalu cepat menyalahkan siswa, ada satu pertanyaan yang seharusnya lebih dulu kita ajukan kepada diri sendiri:
Benarkah siswa malas membaca? Atau jangan-jangan, mereka sedang bosan dengan cara kita mengajarkan membaca?
Pertanyaan ini mungkin terasa mengusik. Sebab dalam banyak diskusi pendidikan, yang paling sering menjadi objek evaluasi adalah siswa: motivasinya rendah, daya bacanya lemah, kemampuan menulisnya kurang, atau konsentrasinya pendek. Jarang sekali guru dengan jujur menempatkan dirinya sebagai bagian dari persoalan.
Padahal, jika kita melihat lebih dekat, masalahnya tidak selalu sesederhana “siswa malas”.
Di banyak ruang kelas, membaca masih diperlakukan sebagai kewajiban akademik, bukan pengalaman intelektual. Siswa diminta membaca teks, mencari ide pokok, menjawab pertanyaan, mengidentifikasi struktur, lalu mengerjakan latihan. Semua dilakukan sesuai target kurikulum. Semua tampak berjalan. Namun ada satu hal yang sering hilang: makna.
Membaca yang seharusnya membuka jendela dunia, justru terasa seperti mengisi lembar kerja.
Membaca yang seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu, justru berubah menjadi rutinitas yang melelahkan.
Lalu ketika siswa kehilangan minat, kita memberi mereka label: malas.
Padahal, bisa jadi mereka bukan malas membaca. Mereka hanya belum pernah merasakan membaca sebagai pengalaman yang hidup.
Saya pernah menjumpai seorang siswa yang hampir selalu mengeluh setiap kali diminta membaca teks pelajaran. Buku terbuka, tetapi matanya kosong. Ketika diberi tugas menulis, ia sering berkata, “Saya tidak bisa, Pak.” Bahkan beberapa kali kertas tugasnya kosong.
Namun suatu hari, saya mencoba pendekatan yang berbeda. Saya membawa artikel populer tentang dunia yang dekat dengan kehidupannya tentang sepak bola, media sosial, dan kisah remaja seusianya. Tanpa diminta berkali-kali, ia mulai membaca. Beberapa menit kemudian, ia mengangkat tangan dan mulai berpendapat.
Saat itu saya menyadari satu hal penting: siswa itu bukan tidak bisa membaca.
Ia hanya belum merasa bahwa apa yang ia baca punya hubungan dengan dirinya.
Inilah persoalan yang sering luput kita sadari. Banyak materi pembelajaran terlalu jauh dari pengalaman hidup siswa. Mereka diminta membaca sesuatu yang tidak mereka pahami konteksnya, tidak mereka rasakan manfaatnya, dan tidak mereka lihat kaitannya dengan dunia mereka.
Bagaimana mungkin mereka tertarik?
Hal serupa juga terjadi dalam keterampilan menulis.
Tidak sedikit siswa yang mengatakan, “Saya tidak bisa menulis.” Kalimat ini begitu sering muncul, seolah menjadi identitas baru dalam diri mereka. Mereka merasa menulis adalah kemampuan yang hanya dimiliki siswa pintar. Mereka takut salah, takut diejek, takut dinilai buruk.
Namun yang menarik, ketika siswa diajak bercerita tentang pengalaman pribadi, tentang konflik dengan teman, tentang mimpi, keluarga, game, musik, atau hal-hal yang mereka sukai, mereka bisa berbicara panjang lebar. Mereka bisa menjelaskan dengan detail. Mereka bisa membangun cerita dengan emosi.
Artinya, mereka bukan tidak punya ide.
Mereka hanya belum dibantu mengubah pengalaman menjadi tulisan.
Dan di sinilah pembelajaran bahasa sering menghadapi ironi. Kita meminta siswa menghasilkan tulisan, tetapi belum memberi ruang bagi mereka untuk berpikir. Kita menuntut karya, tetapi belum membangun keberanian.
Siswa diminta menulis teks deskripsi, tetapi belum diajak mengamati.
Siswa diminta menulis argumentasi, tetapi belum dibiasakan berdiskusi.
Siswa diminta membuat cerpen, tetapi belum diberi ruang untuk merasakan dan berekspresi.
Bagaimana siswa bisa menulis jika mereka belum terbiasa berpikir?
Bagaimana siswa bisa mencintai literasi jika pengalaman belajar mereka lebih banyak diisi target, nilai, dan koreksi?
Inilah tantangan guru Bahasa Indonesia di era digital.
Tugas kita hari ini bukan hanya mengajarkan struktur teks, kaidah kebahasaan, atau unsur intrinsik. Semua itu penting. Namun jauh lebih penting dari itu adalah menghidupkan bahasa sebagai alat berpikir, alat berekspresi, dan alat memahami kehidupan.
Bahasa harus hadir dalam diskusi.
Bahasa harus hidup dalam pengalaman.
Bahasa harus tumbuh dalam masalah nyata.
Ketika siswa diajak membaca artikel populer, menganalisis berita digital, membahas fenomena sosial, atau menulis dari pengalaman hidupnya sendiri, pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna. Mereka tidak lagi belajar sekadar untuk menjawab soal. Mereka belajar untuk memahami dunia.
Dan di titik itulah literasi mulai tumbuh.
Guru juga perlu memahami bahwa suasana kelas dibangun bukan hanya oleh materi, tetapi juga oleh bahasa yang kita gunakan. Kalimat seperti “Salah,” “Kurang bagus,” “Ulangi lagi,” mungkin terdengar biasa bagi guru, tetapi bisa menjadi beban psikologis bagi siswa.
Sebaliknya, kalimat sederhana seperti “Idemu menarik,” “Coba lanjutkan,” atau “Kamu punya sudut pandang yang bagus,” dapat menjadi bahan bakar kepercayaan diri mereka.
Karena pada akhirnya, literasi tidak tumbuh dari tekanan.
Literasi tumbuh dari rasa aman.
Literasi tumbuh dari keberanian.
Literasi tumbuh ketika siswa merasa bahwa suara mereka penting.
Maka ketika kita kembali melihat siswa yang tampak malas membaca, enggan menulis, atau takut berbicara, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi:
Mengapa siswa sekarang sulit belajar bahasa?
Tetapi pertanyaan yang jauh lebih jujur:
Apakah siswa benar-benar malas belajar… atau kita yang belum berhasil membuat mereka jatuh cinta pada bahasa?












Tinggalkan Balasan