Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Transformasi Berpikir melalui Bahasa: Ketika Bahasa Membentuk Hati dan Pikiran

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Sary Sukawati

Belakangan ini media sosial ramai membicarakan sebuah lomba cerdas cermat nasional. Seorang peserta mendapat pengurangan nilai meskipun ia dan banyak penonton merasa jawabannya benar. Ketika peserta mencoba menjelaskan, salah satu juri mengatakan bahwa “artikulasinya tidak jelas”. Kalimat itu kemudian viral dan memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat. Menariknya, persoalan terbesar dalam peristiwa tersebut ternyata bukan hanya tentang benar atau salahnya jawaban, melainkan tentang bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana seseorang diperlakukan melalui ucapan.

Peristiwa seperti ini mengingatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar alat bicara. Bahasa dapat memengaruhi suasana hati, membentuk cara berpikir, bahkan menentukan apakah seseorang merasa dihargai atau direndahkan. Satu kalimat bisa membangun semangat, tetapi satu kalimat lain juga dapat menjatuhkan seseorang dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam ilmu linguistik, bahasa dipahami bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga alat berpikir. Kata-kata yang kita gunakan setiap hari perlahan membentuk cara kita memandang diri sendiri, orang lain, bahkan kehidupan. Ketika seseorang terus berkata, “Saya gagal”, “Tidak ada harapan”, atau “Semua buruk”, maka pikirannya perlahan dipenuhi rasa putus asa. Sebaliknya, ketika seseorang mulai membiasakan diri berkata, “Insyaallah ada jalan”, “Saya sedang belajar”, atau “Saya pasti bisa melewati ini”, maka pikirannya bergerak menuju harapan dan ketenangan.

Karena itu, Islam memberi perhatian besar terhadap cara manusia berbicara. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 53 agar manusia mengucapkan perkataan yang lebih baik. Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan ucapan yang benar, tetapi juga ucapan yang baik dan bijak. Sebab tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang keras. Kadang-kadang, kata-kata yang benar justru melukai ketika kehilangan kelembutan dan empati.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering terlalu cepat berbicara, tetapi lambat memahami perasaan orang lain. Kita mudah mengoreksi, mencela, bahkan menghakimi, terutama di media sosial. Padahal bisa jadi yang dibutuhkan seseorang bukan tambahan tekanan, melainkan sedikit penghargaan dan cara bicara yang lebih manusiawi.

Bahasa sebenarnya bekerja jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan. Bahasa memengaruhi pikiran. Pikiran membentuk sikap. Sikap melahirkan tindakan. Tindakan yang terus diulang menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akhirnya membentuk karakter manusia. Karena itu, ucapan sederhana yang keluar setiap hari sesungguhnya sedang membentuk masa depan diri kita sendiri.

Tidak heran jika lingkungan yang dipenuhi kata-kata negatif sering melahirkan rasa marah, pesimis, dan mudah menyalahkan. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi bahasa yang sehat cenderung membangun ketenangan, semangat, dan rasa saling menghargai. Dunia nyata maupun dunia maya hari ini sebenarnya sama-sama membutuhkan bahasa yang mampu menjaga hubungan, membangun suasana, dan menghadirkan solusi.

Sebagai seorang dosen, saya merasa hal ini sangat penting dalam dunia pendidikan. Kadang-kadang seorang mahasiswa kehilangan rasa percaya dirinya bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu sering mendengar kalimat yang meremehkan. Sebaliknya, satu ucapan sederhana yang baik dapat membuat seseorang bangkit dan percaya pada dirinya sendiri. Bahasa yang baik bukan berarti selalu memuji, tetapi mampu menyampaikan kebenaran tanpa meruntuhkan harga diri orang lain.

Mungkin karena itu, sebelum berbicara kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini perlu? Dan apakah ucapan ini akan memperbaiki keadaan? Sebab tidak semua yang benar harus diucapkan saat ini, tidak semua yang baik cukup tanpa kebenaran, dan tidak semua kata yang indah itu bijak.

Pada akhirnya, bahasa bukan hanya cermin pikiran manusia, tetapi juga jalan yang perlahan membentuk siapa dirinya. Karena sering kali, karakter seseorang tidak dibangun oleh peristiwa besar, melainkan oleh kata-kata yang terus ia ucapkan, ia dengarkan, dan ia yakini setiap hari.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *