Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kritik Atas Esai “Mendidik yang Tak Terlihat” Karya Herman Priatna

[Sumber gambar: Infografik AI]

Penulis: Refi Murfianto

Esai Mendidik yang Tak Terlihat karya Herman Priatna membahas persoalan penting dalam dunia pendidikan, yaitu pengaruh proses pembelajaran yang terjadi secara tidak langsung terhadap perkembangan siswa. Dalam tulisannya, Herman Priatna menyoroti bahwa pendidikan modern masih terlalu berfokus pada hasil akademik seperti nilai, ujian, dan capaian kompetensi, sementara pengalaman emosional, interaksi sosial, dan keteladanan guru sering kali kurang diperhatikan.

Penulis ingin menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan karakter melalui pengalaman yang dialami siswa setiap hari di lingkungan sekolah.

Gagasan yang disampaikan dalam esai ini cukup relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Herman Priatna berhasil menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi ketika guru menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga melalui sikap guru, suasana kelas, cara berbicara, serta hubungan sosial yang tercipta di sekolah. Pengalaman-pengalaman tersebut secara perlahan membentuk pola pikir dan karakter siswa, bahkan sering kali bekerja melalui proses bawah sadar.

Penulis juga mengkritik praktik pendidikan modern yang terlalu menitikberatkan pada hasil akademik, sementara hubungan emosional antara guru dan siswa kurang diperhatikan. Kritik tersebut terasa penting karena banyak sekolah masih menjadikan nilai sebagai ukuran utama keberhasilan pendidikan.

Menurut pandangan saya, pola pendidikan saat ini memang masih terlalu menekankan aspek kognitif dibandingkan pembentukan karakter dan pengalaman belajar siswa. Banyak sekolah lebih sibuk mengejar target kurikulum, nilai ujian, dan capaian administrasi dibandingkan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Akibatnya, siswa sering merasa belajar hanya sebagai kewajiban, bukan kebutuhan.

Saya berpendapat bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang yang mampu membuat siswa merasa dihargai, didengar, dan nyaman untuk berkembang sesuai potensi mereka. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu menjadi teladan dalam sikap, komunikasi, dan cara memperlakukan siswa.

Pandangan tersebut diperkuat oleh penelitian Shoumi dan Yuris (2024) yang menjelaskan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter siswa melalui interaksi sosial, keterlibatan guru, budaya sekolah, dan suasana belajar yang positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang baik mampu membentuk karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kejujuran pada siswa. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan, tetapi juga institusi pembentukan nilai moral dan karakter peserta didik.

Selain itu, Hutapea dan Simamora (2025) menyatakan bahwa guru memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter melalui keteladanan, pembiasaan, bimbingan, dan interaksi edukatif di lingkungan sekolah. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa siswa belajar melalui proses modeling atau peniruan terhadap perilaku guru. Dengan demikian, sikap jujur, disiplin, sopan, dan tanggung jawab yang ditunjukkan guru akan sangat memengaruhi perkembangan karakter siswa. Hal ini sejalan dengan gagasan Herman Priatna bahwa pendidikan yang paling berpengaruh sering kali hadir melalui proses yang tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Selain itu, saya juga melihat bahwa sikap guru di sekolah sering kali lebih membekas dalam ingatan siswa dibandingkan materi pelajaran itu sendiri. Cara guru berbicara, menghargai pendapat siswa, maupun menghadapi kesalahan siswa akan memengaruhi rasa percaya diri dan perkembangan emosional mereka. Oleh karena itu, saya setuju dengan gagasan Herman Priatna bahwa pendidikan yang paling berpengaruh sering kali terjadi melalui proses yang tidak terlihat. Pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana proses itu diberikan kepada siswa.

Esai ini memiliki nilai reflektif yang kuat. Herman Priatna mampu mengajak pembaca, khususnya guru, untuk menyadari bahwa tindakan kecil dalam proses pembelajaran dapat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan emosional siswa. Bahasa yang digunakan juga sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat mengikuti alur pemikiran penulis dengan baik. Penyampaian gagasan dilakukan secara runtut mulai dari kondisi pendidikan saat ini, pengaruh pengalaman belajar terhadap siswa, hingga pentingnya keteladanan guru dalam membentuk karakter peserta didik.

Namun demikian, dari sudut pandang kritis, esai ini masih memiliki beberapa kelemahan. Penulis lebih banyak menggunakan pendekatan reflektif dan opini pribadi tanpa didukung data empiris atau hasil penelitian yang memadai. Ketika menjelaskan bahwa sikap guru dapat memengaruhi perkembangan psikologis siswa, penulis tidak menyertakan teori pendidikan maupun pendapat ahli yang dapat memperkuat argumentasinya. Akibatnya, beberapa bagian terasa kurang kuat secara akademik dan lebih menyerupai pandangan pribadi.

Selain itu, pembahasan mengenai pendidikan yang bekerja melalui proses bawah sadar masih disampaikan secara umum dan abstrak. Penulis belum memberikan contoh konkret mengenai bagaimana guru dapat menerapkan konsep tersebut dalam pembelajaran sehari-hari. Misalnya, penulis dapat menjelaskan bentuk interaksi guru yang mampu menciptakan suasana belajar positif atau memberikan ilustrasi nyata mengenai dampak perilaku guru terhadap siswa. Kurangnya contoh praktis membuat pembaca harus menafsirkan sendiri penerapan konsep yang dimaksud.

Di sisi lain, esai ini juga lebih banyak menyoroti peran guru dibandingkan faktor lain yang turut memengaruhi pembentukan karakter siswa, seperti lingkungan keluarga, budaya sekolah, maupun pengaruh media sosial (Zuschaiya dan Kusherawati 2024). Padahal, perkembangan siswa tidak hanya dibentuk oleh proses yang terjadi di sekolah. Jika pembahasan diperluas pada aspek-aspek tersebut, analisis penulis akan terasa lebih mendalam dan seimbang.

Secara keseluruhan, esai Mendidik yang Tak Terlihat karya Herman Priatna merupakan tulisan reflektif yang berhasil mengingatkan pembaca bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berkaitan dengan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter melalui pengalaman, interaksi, dan keteladanan yang dialami siswa setiap hari. Meskipun masih memiliki kelemahan pada aspek data empiris, kedalaman teori, dan contoh penerapan, esai ini tetap memberikan kritik yang penting terhadap praktik pendidikan modern yang terlalu berorientasi pada hasil akademik. Tulisan ini layak dibaca karena mampu membuka kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan siswa, tetapi juga dari bagaimana pendidikan membentuk sikap, karakter, dan kemanusiaan mereka.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Kritik Atas Esai “Mendidik yang Tak Terlihat” Karya Herman Priatna”

  1. Avatar Hamba allah
    Hamba allah

    “pendidikan modern yang terlalu berorientasi pada hasil akademik” setuju sama kata- kata ini

  2. Avatar
    Anonim

    Semangat pak reffi,,, saya menyukai artikel anda👍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *