Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ironi Kesalehan dan Kritik Sosial dalam Cerpen Robohnya Surau Kami

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Syifa Nur Rohman

Karya sastra berupa cerita pendek berjudul Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis adalah salah satu cerita pendek yang penting dalam perkembangan sastra Indonesia di era modern. Cerpen ini tidak hanya menyajikan cerita yang menarik, tetapi juga menyampaikan kritik sosial yang tajam mengenai kehidupan masyarakat, terutama dalam mengartikan makna keberagamaan. A. A. Navis menggunakan bahasa yang lucu dan penuh makna ganda agar pembaca teringat betul tentang kaitan antara ibadah ritual dan tugas dalam masyarakat. Cerita ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya tentang hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga tentang cara membangun rasa peduli terhadap orang lain.

Dalam cerpen tersebut, A. A. Navis memperkenalkan tokoh Kakek sebagai seseorang yang seumur hidupnya selalu berdedikasi di surau. Ia dikenal sebagai seseorang yang berakhlak baik, konsisten dalam beribadah, dan menjauhi kehidupan yang terlalu terlibat dengan urusan dunia. Namun, di balik sikap baik itu, muncul kritik yang sangat dalam. Kakek tidak dianggap memberikan kontribusi yang nyata terhadap berbagai masalah sosial di lingkungan sekitarnya. Ia lebih suka menghabiskan hidup dengan melakukan aktivitas ritual daripada terlibat dalam usaha-usaha untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Dengan cara ini, penulis ingin menggambarkan bahwa kesalehan yang hanya fokus pada ibadah sendiri bisa jadi tidak bermakna jika mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan rasa peduli terhadap sesama.

Dari sudut pandang kritik moral, cerpen ini menguji konsep kesalehan yang terbatas. Biasanya orang-orang menganggap seseorang yang sering shalat dan beribadah sebagai orang yang terhormat dan dekat dengan Tuhan. Namun, A. A. Navis justru membalikkan pandangan itu dengan menceritakan kisah tokoh Haji Saleh, yang akhirnya masuk neraka karena hanya fokus pada ibadah pribadinya saja. Kalimat โ€œIa masuk neraka karena hanya mementingkan ibadahnya sendiriโ€ menjadi bagian penting dalam cerpen karena menyampaikan kritik yang tajam terhadap cara berpikir religius yang bersifat individualis. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ibadah ritual tak bisa dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Dengan demikian, cerpen ini mengajak pembaca untuk memahami agama secara lebih luas dan mendalam.

Selain kritik moral, cerpen ini juga bisa dianalisis melalui pendekatan sosiologi sastra. Dalam pendekatan ini, karya sastra dianggap sebagai gambaran dari keadaan sosial masyarakat. Robohnya Surau Kami muncul saat masyarakat Indonesia sedang menghadapi berbagai masalah sosial, seperti tingginya tingkat kemiskinan, ketimpangan dalam perekonomian, serta rendahnya rasa peduli terhadap sesama. A. A. Navis menggunakan cerpen ini sebagai cara untuk mengkritik masyarakat yang terlalu fokus pada ibadah formal, namun tidak memperhatikan masalah sosial di sekitar mereka. Kritik tersebut masih relevan hingga saat ini. Salah satu contohnya terlihat pada kasus korupsi bantuan sosial COVID-19 yang melibatkan pejabat negara pada tahun 2020. Bantuan yang seharusnya diberikan kepada masyarakat terdampak pandemi justru disalahgunakan demi kepentingan pribadi. Peristiwa tersebut menunjukkan adanya krisis moral dan rendahnya tanggung jawab sosial, meskipun nilai-nilai keagamaan terus digaungkan dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini selaras dengan kritik yang disampaikan A. A. Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami, yaitu pentingnya menyeimbangkan kesalehan pribadi dengan kepedulian terhadap sesama.

Dalam kehidupan masyarakat saat ini yang terbilang modern, fenomena kepercayaan terhadap agama secara formal masih terus terlihat. Banyak orang mengungkapkan agama mereka melalui simbol-simbol dan kebiasaan beribadah, tetapi belum tentu peduli secara sosial. Misalnya, masih ada orang yang tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat yang miskin, pengangguran, atau korban ketidakadilan sosial, meskipun kegiatan keagamaan terus berkembang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan oleh A. A. Navis tetap memiliki relevansi lintas zaman. Cerpen ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai agama sebaiknya diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan sosial.

Dari segi struktur cerita, A. A. Navis menyusun alur secara runtut dan efektif. Cerita dimulai dengan pemandangan surau yang tenang dan tokoh Kakek yang hidup dengan cara sederhana sebagai orang yang menjaga surau. Kemudian konflik berkembang melalui cerita Ajo Sidi tentang pendekatan Haji Saleh yang masuk neraka. Teknik cerita dalam cerita ini menjadi menarik, karena berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial. Cerpen Robohnya Surau Kami juga menggunakan cara cerita yang berbentuk alegori membuat pesan yang ingin disampaikan lebih terasa jelas dan kuat, serta tidak diungkapkan secara terang-terangan. Pembaca diminta untuk memahami sendiri makna yang terkandung dalam cerita pendek tersebut.

Meskipun demikian, cara menggambarkan tokoh dalam cerpen ini umumnya terlihat sederhana. Tokoh Kakek lebih sering dianggap sebagai simbol dari kepercayaan agama yang tidak aktif, dibandingkan dianggap sebagai orang dengan kepribadian yang sangat rumit dan berbagai sifat yang berbeda. Pembaca tidak mendapat penjelasan yang cukup mengenai perasaan dalam hati atau alasan yang benar-benar membuat Kakek memutuskan untuk hidup demikian. Akibatnya, tokoh itu lebih digunakan untuk menyampaikan kritik sosial daripada menjadi karakter yang realistis. Meski demikian, penyederhanaan karakter ini justru membuat pesan moral dalam cerita lebih mudah dicerna oleh pembaca.

Dari aspek stilistika atau gaya bahasa, A. A. Navis berbicara dengan bahasa yang tegas, mudah dipahami, namun memiliki makna yang dalam. Gaya satire dan ironi menjadi alat utama dalam cerita pendek ini. Ironi terasa ketika tokoh yang dianggap sangat berakhlak justru ditampilkan menerima hukuman. Teknik ini membuat pembaca terkejut sekaligus membantu penulis menyampaikan kritik sosial dengan lebih kuat. Penggunaan ironi membuat pembaca kembali merenung tentang arti kesalehan dan tujuan beragama dalam hidup mereka.

Selain itu, percakapan dalam cerpen terasa nyata dan seperti kehidupan sebenarnya. Percakapan di antara tokoh-tokoh tersebut membantu menciptakan suasana yang lebih jelas dan memperkuat konflik yang terjadi. Bahasa yang digunakan tidak terlalu sulit sehingga mudah dipahami oleh para pembaca. Kesederhanaan bahasa ini justru menjadi keunggulan karena memudahkan penyampaian pesan sosial dalam cerpen secara efektif. A. A. Navis berhasil menggabungkan unsur estetika sastra dengan pendekatan kritik sosial secara seimbang.

Cerpen ini juga memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Melalui cerita Kakek dan Haji Saleh, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan arti sebenarnya kehidupan manusia. Manusia tidak hanya wajib beribadah kepada Tuhan, tetapi juga harus ikut berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Kesalehan yang benar bukan hanya terlihat dari seberapa rajin seseorang beribadah, tetapi juga dari sikap peduli, tekun bekerja, dan memperhatikan serta membantu orang lain. Pemikiran ini menunjukkan bahwa agama dan kehidupan sosial sebaiknya hidup bersama, bukan dipisahkan satu sama lain.

Dalam bidang pendidikan sastra, Robohnya Surau Kami memiliki nilai yang sangat penting. Cerpen ini bisa dipakai sebagai bahan pembelajaran untuk membentuk sikap kritis pada peserta didik. Dengan membaca dan menganalisis cerpen, siswa bisa memahami hubungan antara sastra dan kondisi sosial di sekitar kita. Selain itu, karya ini juga bisa membantu meningkatkan rasa tanggung jawab moral bahwa keberagamaan seharusnya diwujudkan melalui tindakan sosial yang nyata. Oleh karena itu, sastra tidak hanya digunakan untuk menghibur, tetapi juga menjadi cara untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan memantulkan kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis adalah karya sastra yang sangat kuat dalam menyampaikan kritik terhadap isu sosial dan tata nilai. Cerpen ini berhasil menggambarkan konflik antara kesalehan ritual dan tanggung jawab sosial melalui teknik ironi yang sangat tajam. Meski ada keterbatasan dalam pengembangan karakter, pendekatan penelitian yang digunakan tetap menjadikan karya ini relevan hingga saat ini. A. A. Navis berhasil menggunakan sastra sebagai alat untuk mencerminkan isu sosial yang mampu membangun kesadaran pembaca mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah dan rasa peduli terhadap sesama manusia.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *