Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Labirin Memori dan Perjuangan Eksistensial: Membedah Konflik Batin Segara Alam dalam Novel Namaku Alam oleh Leila S. Chudori

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Syifa Nurjamilah

Novel Namaku Alam yang ditulis oleh Leila S. Chudori merupakan novel spin-off (novel yang berasal dari karya yang sudah ada) dari novel Pulang yang menggeser fokus dari lanskap geopolitik menuju ranah psikologis individual. Berbeda dengan novel Pulang yang menyoroti diaspora dan eksil politik secara lebih luas, novel Namaku Alam menghadirkan narasi coming-of-age (peralihan masa remaja menuju dewasa) yang menekankan pembentukan identitas diri di bawah bayang-bayang trauma sejarah 1965 (G30S/PKI). Segara Alam sebagai tokoh utama, direpresentasikan sebagai subjek yang mengalami konflik batin akibat stigma ‘dosa turunan’ sebagai anak dari Hananto Prawiro seorang eks-tapol yang dieksekusi. Hal ini tercemin dalam narasi identitas ‘dosa’ yang diletakkan sejak lahir.

“Ternyata banyak sekali bayi yang lahir dengan dosa. Dosa itu mengalir di dalam darah, terpatri di dahinya, bahwa untuk selamanya dia terlahir sebagai putra atau putri ayah yang terkutuk”

Kutipan ini menunjukan bagaimana konstruktif identitas Alam dibentuk bukan sekadar kegalauan remaja biasa, Alam adalah medan tempur antara memori yang traumatis, stigma sosial, dan pencarian jati diri yang autentik. Trauma yang dialami Alam berakar pada pengalaman masa kecil yang represif. Alam menyaksikan langsung kekerasan negara terhadap keluarganya, sebagaimana tergambar dalam adegan penodongan senjata.

 “Ibu langsung menjerit sekuat tenaga, meminta laki-laki dengan pistol itu menyingkirkan senjatanya”, “Satu lagi membawa senapan panjang karena aku bisa melihat pucuknya dari bawah meja”

Pengalaman ini kemudian tersimpan dalam ingatan bawah sadar sebagai memori traumatis. Dalam perspektif Sigmund Freud, struktur kepribadian manusia dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil yang mengendap di alam bawah sadar. Alam mengalami trauma yang sangat ekstrem di usia tiga tahun, Alam menyaksikan penodongan senjata dan penyekapan keluarganya oleh aparat.

“Sebagian besar, trauma yang mencekam dan mengerikan, biasanya kusimpan sedalam-dalamnya di lapisan ingatanku paling bawah, termasuk ingatan saat aku berusia tiga tahun dan ditodong pistol”

Menurut teori Freud, peristiwa traumatik ini menciptakan luka pada Ego Alam. Ketidakmampuan Alam kecil untuk memproses kekerasan tersebut menyebabkan munculnya mekanisme pertahanan diri yang meledak-ledak di masa remaja. Anger issues (Masalah amarah) yang dialami Alam hingga Alam sering pindah sekolah adalah bentuk dari displacement (pengalihan). Kemarahan yang seharusnya ditujukan pada ketidakadilan sistemik dan aparat yang merusak masa kecilnya dialihkan kepada teman sebayanya yang memprovokasi. Di sini, identitas Alam yang penuh insting perlawanan sering kali menabrak Superegonya, kebutuhan untuk bersikap tenang demi keamanan ibu dan keluarganya, sehingga menciptakan ketegangan batin yang konstan.

Salah satu elemen paling unik dalam novel ini adalah kemampuan photographic memory yang dimiliki Alam. Dalam konteks psikologi, kemampuan ini justru memperumit proses penyembuhan traumanya. Jika manusia pada umumnya memiliki mekanisme lupa untuk meredam kepedihan masa lalu, Alam dipaksa hidup dalam detail yang presisi. Alam mengingat bau ruangan penyekapan, ekspresi ketakutan ibunya, dan dinginnya laras senjata. Seluruh pengalaman yang terjadi dalam diri Alam terekam secara detail.

“Semua jawaban ada padaku, bukan karena aku gemar menginat-ngingat, tetapi pada dasarnya seluruh kepalaku mudah sekali menyerap setiap kalimat yang kubaca, setiap visual, foto dan gambar, bau, bentuk, gerak yang melintas begitu saja di hadapanku. Peristiwa yang terjadi di sekelilingku bagai besi-besi yang berisi informasi lantas berloncatan melekat ke otaku yang seperti magnet”

Kemampuan ini menjadikan alam sebagai arsip hidup dari kekerasan masalalu. Bahkan dalam keseharian, ingatan tersebut berfungsi praktis. Namun secara psikologis, kondisi ini menghambat proses penyembuhan karena trauma terus direaktualisasi. Alam selalu terjepit di antara masa lalu dan masa kini. Ia sulit melakukan transendensi karena memorinya terus-menerus menariknya kembali ke titik nol traumanya. Memori ini menjadi beban berat yang menghalangi pembentukan identitas diri yang baru karena Ia selalu merasa terikat pada narasi kematian ayahnya. Selain itu, konflik batin Alam juga dapat dianalisis melalui persepktif eksistensialisme Simone de Beauvoir yang menekankan konsep bahwa manusia seringkali dikontruksi menjadi Liyan (The Other) oleh masyarakat. Alam adalah representasi sempurna dari konsep ini. Alam tidak dipandang sebagai individual otonom, melainkan representasi dari identitas ayahnya yang distigmatisasi. Dengan demikian, Alam mengalami proses othering, yaitu dijadikan ‘yang lain’ oleh masyarakat.

Beauvoir berpendapat bahwa kebebasan sejati tercapai ketika individu menolak definisi yang diberikan oleh orang lain dan mulai menentukan esensinya sendiri. Dalam novel ini, konflik batin yang didapatkan Alam mencapai puncaknya pada perlawanan terhadap stigma ini. Alam bergelut dengan pertanyaan “Apakah aku hanyalah perpanjangan dari nasib ayahku atau aku bisa menjadi diriku sendiri?” Upaya Alam untuk hidup secara autentik di sekolah baru, dimana Alam mencoba mengontrol emosinya, membangun relasi sosial baru, dan mengekspresikan diri melalui tulisan serta persahabatan. Dalam kerangka Frued proses ini dapat dipahami sebagai bentuk sublimasi, yakni transformasi dorongan destruktif menjadi aktivitas yang lebih konstruktif. Alam belajar bahwa tinju tidak akan mengubah catatan sejarah, namun kontrol diri dan integritas karakter akan membuktikan bahwa Alam lebih besar dari label yang disematkan padanya. Dengan demikian perkembangan karakter Alam menunjukan proses dialektika antara trauma dan kebebasan,  Alam tidak sepenuhnya terbebas dari masa lalu, tetapi mulai mampu mengelola ingatan tersebut. Pendewasaan yang dialaminya bukanlah penghapusan trauma, melainkan negosiasi dengan trauma itu sendiri.

Namaku Alam bukan sekadar memoar penderitaan. Melalui pendekatan Freud, kita melihat bagaimana trauma masa lalu membentuk keretakan jiwa Alam, sementara melalui kacamata Simone de Beauvoir, kita melihat kegigihan Alam dalam merebut kembali kemerdekaan eksistensialnya. Konflik batin yang dialami Segara Alam adalah cermin dari luka kolektif bangsa yang dipersonifikasikan ke dalam tubuh seorang remaja. Leila S. Chudori berhasil menunjukkan bahwa meskipun sejarah bisa merenggut masa lalu seseorang, sejarah tidak harus merenggut masa depannya selama individu tersebut berani menghadapi iblis di dalam batinnya sendiri


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *