Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Serayu & Apa-apa yang Tersisa

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Juli Prasetya

Sore ini, aku sudah berada di tepi sungai Serayu. Sebuah sungai legendaris yang di masa lampau pernah mengamuk menjadi air bah seperti dalam kisah Nabi Nuh yang memporak-porandakan seisi kota. Serayu yang sekarang kusaksikan sungguh benar-benar berbeda dengan Serayu yang kukenal 5 tahun lalu. Dulu pohon-pohon trembesi besar berdaun rindang masih berdiri berjejer menghiasi tepiannya, sekarang pohon-pohon besar itu nyaris tidak ada, hanya tinggal beberapa. Kemudian pohon palem yang dulu menjadi tempat kita bercengkrama dan bertukar tawa, kini sudah tiada.

 Sungai inilah yang dulu menyimpan kisah cinta kita yang tak selesai, maksudku tak bahagia. Sungai ini pula yang menjadi saksi saat aku dan kamu menyatukan jari kelingking dan mengucapkan janji untuk bersama selamanya. Janji yang begitu naif sekaligus muluk, janji sepasang kekasih polos yang ingin bersama-sama menantang dunia. Tapi pada akhirnya memang kita tak pernah benar-benar bersama. Janji hanya tinggal janji.

Setiap aku merindukan masa lalu, atau ketika aku merindukanmu, katakanlah. Entah mengapa aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat ini. Mungkin karena sungai ini menyimpan masa lalu dan kisah cintaku denganmu yang tak berakhir bahagia itu.

 Menurut kabar yang kudengar, sekarang kamu sudah memiliki seorang anak yang manis seperti Soleram. Kata seorang kawan, anakmu wajahnya mirip denganku. Mungkin itu omong kosong yang dibuat-buat agar aku merasa bahagia.  Atau memang itu semacam kengawuran seorang kawan, yang ingin mengejek kawan patah hatinya agar segera meneruskan hidup, melanjutkan perjalanan agar tidak berlarut-larut. Mungkin.

 Ah iya, aku masih mengingat kata-katamu, saat pertama kali kita saling menggenggam tangan dulu.  “Kamu tak akan melepaskan genggamanmu kan?” katamu sambil memandangiku

“Orang gila mana yang mau berpegangan tangan selamanya” kataku sambil menyeruput capucino cincau yang kita beli di pinggir jalan, satu cup capcin untuk kita seruput berdua secara bergantian. Entahlah dulu kita tidak terlalu mempermasalahkan antara mana yang disebut romantis dan mana yang disebut kikir.

“Berarti kamu ingin melepaskan genggamanmu?” katamu dengan mata sedih yang dibuat-buat

“Lah, kalau tangan kita terus menggenggam seperti ini, nanti kita makan pakai apa?”

“Ya pakai sendoklah” katamu sambil tertawa.

Mengingat kenangan itu, aku hanya bisa tersenyum kecut, senyum yang berkali-kali kuupayakan agar bisa berdamai dengan masa laluku sendiri, berdamai dengan kenangan tentangmu. Tapi mau tidak mau pada akhirnya aku sampai juga pada ingatan pahit itu.

“Aku dijodohkan Mas” katamu suatu hari, kalimat yang keluar dari mulutmu itu bak petir di siang bolong yang menyambar telingaku.

“Dan kamu mengingankan itu?” tanyaku. Kamu menggeleng.

“Restu ayahku adalah segalanya Mas ” katamu dengan wajah sendu

“Tapi ini hidupmu Sya”

“Hidupku adalah Ayahku, Mas. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga”

“Lalu selama ini kamu anggap aku apa? Sampah? Atau gedebong pisang yang tak memiliki perasaan?”

***

Aku mengeluarkan sebatang rokok kretek, Mustika. Lalu menyulut ujungnya, mengisapnya, terasa pahit dan berat. Semenjak ditinggalkan olehmu 5 tahun yang lalu, aku belajar merokok. Awalnya untuk belajar melupakanmu, lalu melupakan rasa sakit yang belum sembuh benar di hatiku. Tapi lama kelamaan ternyata merokok enak juga, meskipun penyakit bengekku akan kambuh setelahnya. Sekarang merokok malah jadi kebiasaan, untuk sekadar  melamun, mencari inspirasi, atau membunuh waktu. Padahal kamu dulu sangat membenci seorang perokok kan ya. Dan sekarang berarti aku menjadi seseorang yang paling kamu benci ya? Duh sungguh ironis.

Sambil duduk di tepi sungai Serayu, aku mengisap rokok kretek Mustika dan mengembuskan asapnya ke udara. Aku memandangi langit sore, memandangi matahari  yang perlahan turun, menciptakan bayangan awan yang kehitaman di satu sisi, dan gradasi ungu yang perlahan berubah warna menjadi jingga di sisi yang lain. Tiba-tiba saja aku mengingat kembali pertengkaran hebat kita sore itu. Persis di tempatku duduk sekarang, 5 tahun yang lalu, saat aku dan kamu benar-benar memilih untuk berpisah.

***

“Untuk apa kita dipertemukan bila akhirnya berpisah Mas? Untuk apa kita saling mencintai jika akhirnya kita memilih menyerah seperti ini?” tanyamu dengan suara isak yang ditahan.

“Kita mungkin ditakdirkan bertemu, tapi tak untuk menyatu” kataku nyaris seperti filsuf gadungan.

“Memang menurutmu kita bertemu untuk apa Mas?” tanyamu lagi

“Tuk berpisah” kataku keceplosan

“Berarti kamu sudah ikhlas Mas?” katamu. Mendengar pertanyaanmu itu, sejenak ada jeda keheningan di antara kita berdua.

“Mana ada lelaki yang ikhlas saat melihat kekasihnya dilamar orang lain” kataku kesal

“Apa kita benar-benar tidak bisa mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik ya Mas? Padahal dulu saat awal-awal kita menjalin hubungan kan baik-baik ya”

“Baik-baik? Mana ada dua orang yang saling mencintai dan saling mengasihi kemudian mereka berpisah secara baik-baik. Kalau mereka berpisah, berarti mereka sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada istilah perpisahan baik-baik, Nesya”

Kamu mulai tersedu waktu itu, air matamu mengalir perlahan dari pinggiran kelopak matamu turun ke pipi “Aku masih sayang sama kamu Mas, sungguh aku masih mencintaimu. Tapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku bingung” katamu waktu itu sambil menangis seperti habis ditinggal oleh orang tersayang mati.

“Ya sudah terima saja lamaran itu, toh itu juga membuat ayahmu senang kan?”

“Lah Mas gimana?”

“Ya ngga gimana-gimana, kalau memang lelaki itu bertanggung jawab, bisa membahagiakanmu, dan ayahmu merestuinya, kenapa tidak?”

“Tapi aku sayangnya ke kamu loh Mas, bukan ke lelaki itu”

“Ya sekarang bilangnya gitu, nanti juga rasa itu akan memudar Sya, seiring berjalannya waktu”

“Berarti kamu tidak ada niatan untuk menahanku Mas?”

“Lah aku kan sampah. Katanya kebahagiaanmu adalah ketika kau bisa membahagiakan ayahmu. Restu ayahmu adalah segalanya bagimu. Apalagi?”

***

            Aku masih ingat ketika aku mengucapkan kata-kata itu, kamu benar-benar menangis sejadi-jadinya. Dan aku terus memukuli mulut tololku beberapa kali. Aku jadi tertawa sendiri saat mengingat itu, tawa getir lebih tepatnya. Rokok Mustika yang kuisap sudah setengah jalan. Aku memandang sekelilingku. Ada seorang perempuan dan lelaki yang sedang menuntun anak balitanya. Sebuah keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia. Aku membayangkan lelaki itu adalah aku. Dan perempuan itu adalah kamu, dan balita itu adalah anak kita. Tapi itu hanya tinggal kenangan, hanya tinggal bayangan, hanya tinggal harapan yang bersulih rupa menjadi angan yang tak sampai, dan tak akan pernah sampai.

            Aku masih memandangi keluarga kecil itu. Tiba-tiba air mataku jatuh. Entah apa yang terjadi, aku sendiri tidak tahu. Sejak kapan aku menjadi lelaki dengan usia hampir kepala tiga yang cengeng seperti ini. Ah ini semua pasti gara-gara aku mengingatmu Sya.

            “Andai saja waktu itu aku lebih berani dan bisa meyakinkan ayahmu Sya, kita pasti bahagia. Pasti bahagia Sya” kata-kata itu tiba-tiba lolos dari batinku sendiri. Ia sebentuk harapan sekaligus penyesalan. Tapi apa yang sudah lewat dan terjadi bukankah tidak bisa diulang kembali. Mengingatmu ternyata semenyakitkan ini Sya. Padahal sudah 5 tahun semenjak perpisahan kita yang tak baik-baik saja itu. Tapi rasa sakit dan pedihnya masih terasa hingga sekarang.

            Langit makin gelap, matahari condong ke barat, dan sebentar lagi ia menghilang di balik bukit yang ditumbuhi pohon-pohon beraroma damar dan getah karet yang begitu kuat. Aku harus segera mengemasi segala kenangan dan rasa rindu ini, mengemasi semua tentangmu, Serayu, dan apa-apa yang tersisa darinya. Semoga segalanya akan kembali seperti sediakala, agar aku bisa kembali merasakan cinta itu, semusim dan semusim lagi.

Purwokerto, Maret 2025

Bionarasi Penulis

Juli Prasetya adalah seorang penulis muda asal Banyumas. Kumcer terbarunya diterbitkan dengan judul Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. Whatsapp. 089649016878


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: