
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Herman Priatna
Hampir setiap ruang kelas di Indonesia mengenal Pancasila. Lambang Garuda biasanya tergantung di bagian depan kelas, berdampingan dengan simbol-simbol kenegaraan lainnya. Lima sila dibacakan dalam upacara, ditulis dalam buku pelajaran, dibahas dalam berbagai kegiatan sekolah, bahkan telah dihafalkan sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Begitu akrabnya Pancasila dengan kehidupan sekolah, sampai-sampai kita kadang merasa cukup mengenalnya hanya karena mampu menyebutkan kelima silanya dengan lancar.
Setiap tanggal 1 Oktober, kedekatan itu kembali diingatkan melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Secara resmi, tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967. Peringatan ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa dan selama bertahun-tahun dilaksanakan melalui upacara kenegaraan maupun kegiatan di berbagai lembaga, termasuk sekolah.
Namun, setiap peringatan sejarah seharusnya tidak hanya mengajak kita menoleh ke masa lalu. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat kehidupan kita hari ini.
Di sekolah, misalnya, kita dapat bertanya sesuatu yang sederhana: setelah Pancasila dibacakan dalam upacara, setelah kelima silanya diucapkan bersama-sama, lalu apa yang terjadi ketika murid kembali ke ruang kelas? Apakah nilai-nilai yang baru saja dibacakan ikut masuk bersama mereka? Ataukah Pancasila kembali tinggal di dinding, menunggu upacara berikutnya?
Pertanyaan itu menjadi penting karena Pancasila bukan sekadar rangkaian lima kalimat yang harus dihafalkan. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan justru memperoleh makna ketika hadir dalam hubungan antarmanusia. Di lingkungan sekolah, nilai-nilai itu dapat terlihat dari cara seorang murid memperlakukan temannya, cara sebuah kelompok menyelesaikan perbedaan pendapat, cara seseorang menggunakan kebebasannya, atau cara guru dan sekolah memberikan ruang yang adil bagi setiap anak.
Karena itu, mungkin pertanyaan utama yang perlu kita ajukan pada setiap 1 Oktober bukanlah seberapa hafal murid terhadap Pancasila, melainkan seberapa jauh mereka mengalami nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Pancasila tidak cukup dihafal. Ia harus dialami.
Ketika Nilai Pancasila Menjadi Pengalaman
Jika Pancasila memang harus dialami, sekolah sebenarnya merupakan salah satu tempat paling dekat untuk mewujudkannya. Setiap hari murid bertemu dengan orang lain yang tidak selalu sama dengan dirinya. Ada yang berbeda kebiasaan, kemampuan belajar, latar belakang keluarga, cara berbicara, minat, bahkan cara memandang suatu persoalan. Dalam ruang yang penuh perbedaan seperti itulah nilai Pancasila tidak lagi cukup dipahami sebagai pengetahuan. Ia mulai diuji melalui tindakan.
Kemanusiaan, misalnya, tidak selalu hadir melalui peristiwa besar. Di sekolah, nilai itu justru sering muncul dalam keputusan-keputusan sederhana. Seorang murid yang melihat temannya kesulitan membawa buku lalu memilih membantu sedang belajar tentang kemanusiaan. Seorang anak yang tidak ikut menertawakan temannya ketika salah menjawab sedang menunjukkan bahwa harga diri orang lain layak dihormati. Begitu pula ketika seorang murid mau duduk bersama teman yang sering dijauhi, tindakan kecil itu sesungguhnya mengandung pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar menghafalkan bunyi sila kedua.
Sebaliknya, sekolah juga dapat menjadi tempat nilai kemanusiaan diuji. Perundungan sering kali berawal dari sesuatu yang dianggap sepele: ejekan tentang bentuk tubuh, nama orang tua, kemampuan belajar, cara berbicara, atau kondisi ekonomi keluarga. Karena dilakukan berulang-ulang dan disambut tawa, ejekan semacam itu kadang dianggap hanya sebagai candaan. Padahal bagi orang yang menerimanya, sesuatu yang dianggap lucu oleh banyak orang dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan.
Dalam keadaan seperti itu, pendidikan Pancasila tidak sedang diuji melalui soal pilihan ganda.
Ia diuji melalui pilihan sikap.
Ketika seorang murid melihat temannya direndahkan, ia dapat ikut tertawa, memilih diam, atau berusaha menghentikannya. Pilihan itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi justru pada saat seperti itulah nilai kemanusiaan memperoleh bentuk yang nyata. Seorang anak mungkin belum mampu menjelaskan konsep kemanusiaan dengan bahasa yang panjang dan teoritis, tetapi ketika ia memiliki keberanian untuk berkata, “Sudah, jangan begitu,” ia sebenarnya sedang mempraktikkan sesuatu yang sangat penting.
Hal yang sama dapat kita lihat pada nilai persatuan.
Selama ini persatuan sering dibicarakan melalui gambaran besar tentang keberagaman Indonesia. Kita mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika, keragaman suku, bahasa, budaya, dan berbagai identitas yang hidup dalam satu bangsa. Semua itu penting. Namun bagi murid SMP, pengalaman tentang persatuan justru mungkin lebih mudah dimulai dari ruang yang jauh lebih kecil: kelompok belajar.
Dalam sebuah kelompok, tidak semua anggota mempunyai kemampuan yang sama. Ada murid yang cepat menemukan jawaban, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berani berbicara, ada yang lebih nyaman mendengarkan. Ada yang memiliki banyak gagasan, tetapi kesulitan menjelaskannya. Ada pula yang mungkin tidak menonjol dalam diskusi, tetapi sangat teliti ketika mengerjakan bagian tertentu.
Perbedaan itu dapat menjadi kekuatan apabila setiap anggota diberi ruang.
Namun perbedaan yang sama juga dapat berubah menjadi persoalan apabila hanya satu atau dua orang yang menentukan semuanya, sementara anggota lain sekadar menuliskan nama pada lembar tugas.
Karena itu, belajar bekerja dalam kelompok sebenarnya bukan hanya persoalan menyelesaikan tugas. Di dalamnya terdapat latihan untuk menghargai kemampuan orang lain, membagi tanggung jawab, mendengarkan gagasan yang berbeda, dan menerima bahwa keberhasilan tidak selalu harus menjadi milik satu orang.
Di situlah persatuan menemukan bentuknya yang sederhana.
Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama.
Persatuan justru terlihat ketika orang-orang yang berbeda masih mampu bekerja bersama tanpa harus menghilangkan perbedaannya.
Nilai kerakyatan juga dapat dipelajari melalui pengalaman yang dekat dengan murid. Kata musyawarah mungkin sudah mereka kenal sejak sekolah dasar. Mereka dapat menjelaskan bahwa keputusan sebaiknya dibicarakan bersama. Tetapi memahami definisi musyawarah belum tentu sama dengan mengalami prosesnya.
Ketika sebuah kelas harus memilih ketua, menentukan bentuk kegiatan, membagi tugas, atau menyelesaikan perbedaan pendapat, sebenarnya ada kesempatan untuk belajar berdemokrasi. Murid belajar bahwa setiap orang boleh mempunyai pendapat, tetapi tidak setiap pendapat harus diterima. Mereka belajar menyampaikan alasan, mendengarkan keberatan, mempertimbangkan gagasan orang lain, lalu menerima keputusan bersama.
Pengalaman seperti itu menjadi penting karena dalam kehidupan nyata kita tidak akan selalu bertemu dengan orang yang sepemikiran.
Ada saat ketika pendapat kita diterima.
Ada saat ketika pendapat kita ditolak.
Ada pula saat ketika kita harus mengakui bahwa gagasan orang lain ternyata lebih baik.
Kemampuan menerima keadaan seperti itu bukan tanda kelemahan. Justru di sanalah seseorang belajar bahwa hidup bersama membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berbicara. Ia juga membutuhkan kemampuan mendengarkan.
Dan mungkin itulah salah satu hal yang perlu semakin sering dialami murid di sekolah.
Sebab di zaman ketika siapa pun dapat menyampaikan pendapat melalui media sosial, tantangan kita bukan hanya bagaimana membuat anak berani berbicara.
Tantangannya juga bagaimana membuat mereka mampu berbeda tanpa saling merendahkan, berpendapat tanpa menghina, dan mempertahankan keyakinan tanpa harus memusuhi orang yang memiliki pandangan lain.
Di titik itu, Pancasila mulai benar-benar turun dari dinding kelas.
Ia tidak lagi hanya dibaca.
Ia mulai dilakukan.
Pancasila Ketika Tidak Ada yang Mengawasi
Nilai lain yang sangat dekat dengan kehidupan sekolah adalah keadilan. Barangkali, dibandingkan nilai-nilai lainnya, keadilan merupakan sesuatu yang paling cepat dirasakan oleh seorang anak. Murid mungkin belum mampu menjelaskan keadilan dengan bahasa yang panjang dan teoritis, tetapi mereka tahu bagaimana rasanya ketika diperlakukan secara adil. Mereka juga tahu bagaimana rasanya ketika melihat seseorang mendapatkan perlakuan berbeda tanpa alasan yang dapat mereka pahami.
Keadilan dapat muncul dalam hal-hal yang tampaknya sederhana. Ketika tugas kelompok dibagi secara seimbang, ketika semua anggota memperoleh kesempatan berbicara, ketika aturan berlaku bukan hanya bagi sebagian orang, atau ketika seorang guru bersedia mendengarkan penjelasan sebelum mengambil kesimpulan, sesungguhnya murid sedang mengalami pelajaran tentang keadilan. Pengalaman semacam ini mungkin tidak tertulis sebagai materi di papan tulis, tetapi sering kali justru lebih lama tinggal dalam ingatan mereka.
Namun adil tidak selalu berarti memberikan sesuatu yang sama persis kepada setiap orang. Di dalam sebuah kelas, kita berhadapan dengan anak-anak yang berbeda. Ada murid yang mampu memahami materi hanya melalui satu kali penjelasan. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang mudah mengungkapkan pikirannya secara lisan, tetapi mengalami kesulitan ketika harus menuliskannya. Ada pula yang tidak banyak bicara, tetapi menunjukkan ketekunan melalui pekerjaan yang dilakukan secara perlahan dan sungguh-sungguh.
Jika semua perbedaan itu dipaksa masuk ke dalam satu ukuran yang sama, mungkin kita telah memperlakukan semua anak secara seragam, tetapi belum tentu secara adil.
Karena itu, keadilan di sekolah juga menyangkut kesediaan untuk melihat manusia di balik angka.
Nilai sembilan puluh memang layak diapresiasi. Namun seorang murid yang sebelumnya memperoleh nilai lima puluh lalu berjuang hingga mencapai tujuh puluh juga sedang menunjukkan sesuatu yang penting. Anak yang berani tampil di depan ratusan orang mungkin pantas mendapatkan pujian. Tetapi anak yang selama berbulan-bulan tidak pernah berani berbicara kemudian suatu hari mengangkat tangan untuk menyampaikan satu kalimat pun sebenarnya sedang memenangkan perjuangannya sendiri.
Tidak semua keberhasilan mempunyai bentuk yang sama.
Dan barangkali pendidikan yang adil dimulai ketika sekolah mampu melihat hal itu.
Dari keadilan, kita kemudian sampai pada sesuatu yang lebih sunyi: kejujuran.
Kejujuran menarik karena nilainya justru sering diuji ketika tidak ada orang yang melihat.
Seorang murid dapat menjelaskan bahwa menyontek adalah perbuatan yang tidak baik. Ia mungkin mampu memberikan contoh tentang pentingnya kejujuran. Tetapi ujian sebenarnya datang ketika ia duduk menghadapi soal yang sulit, guru sedang tidak memperhatikannya, dan jawaban milik temannya berada cukup dekat untuk dilihat.
Pada saat seperti itu, tidak ada pertanyaan dalam buku.
Tidak ada pilihan jawaban.
Tidak ada guru yang memberi petunjuk.
Hanya ada dirinya dan sebuah keputusan kecil yang harus diambil.
Menoleh atau tidak.
Menyalin atau mengerjakan semampunya.
Mengambil jalan yang mudah atau menerima hasil dari kemampuan sendiri.
Keputusan seperti itu barangkali berlangsung hanya beberapa detik. Tidak akan ada sertifikat bagi anak yang memilih tidak menyontek. Tidak ada tepuk tangan. Bahkan mungkin tidak seorang pun mengetahui bahwa pada saat itu ia baru saja memenangkan pertarungan kecil melawan dirinya sendiri.
Namun bukankah justru di situlah karakter terbentuk?
Karakter mungkin memang tidak selalu tumbuh melalui peristiwa besar. Ia dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berkali-kali. Mengembalikan barang yang ditemukan. Mengakui kesalahan sebelum ditanya. Memenuhi tugas yang telah disepakati dalam kelompok. Tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Meminta maaf ketika menyakiti orang lain. Menolak ajakan teman ketika mengetahui bahwa sesuatu yang akan dilakukan adalah salah.
Hal-hal semacam itu sulit dimasukkan ke dalam angka.
Kita dapat menghitung nilai ujian. Kita dapat membuat rata-rata kelas. Kita dapat menyusun grafik hasil belajar. Kita bahkan dapat mengetahui dengan sangat rinci berapa banyak soal yang mampu dijawab dengan benar oleh seorang murid.
Tetapi bagaimana kita mengukur keberanian untuk mengatakan yang benar ketika teman-temannya memilih diam?
Bagaimana memberi angka kepada kepedulian?
Bagaimana memasukkan kesediaan meminta maaf ke dalam sebuah tabel?
Dan berapa nilai yang seharusnya diberikan kepada seorang anak yang diam-diam berbagi bekal dengan temannya karena mengetahui temannya tidak membawa makanan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah hanya berurusan dengan sesuatu yang dapat diukur.
Ada bagian penting dari pertumbuhan manusia yang hanya dapat dilihat melalui kebiasaan dan pilihan hidupnya.
Menariknya, gagasan bahwa pendidikan Pancasila tidak cukup berlangsung melalui pelajaran di kelas juga mendapat penekanan dalam kebijakan pendidikan saat ini. Pada 29 September 2026, Kemendikdasmen menyatakan bahwa penguatan Pendidikan Pancasila tidak hanya ditempuh melalui pembelajaran, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, dan pengalaman nyata murid dalam kehidupan sehari-hari. Kementerian juga menyebut tiga aspek: pengetahuan tentang Pancasila, pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata, serta internalisasinya dalam kepribadian.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa ruang untuk belajar Pancasila sesungguhnya jauh lebih luas daripada jam pelajaran.
Koridor sekolah dapat menjadi ruang belajar Pancasila.
Lapangan upacara dapat menjadi ruang belajar Pancasila.
Kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang belajar Pancasila.
Kantin, perpustakaan, ruang organisasi siswa, kegiatan kelompok, bahkan percakapan sederhana di sela-sela pergantian pelajaran dapat menjadi tempat nilai itu diuji. Dengan demikian, sekolah sebenarnya dapat dipandang sebagai sebuah masyarakat kecil. Di dalamnya ada aturan yang harus ditaati. Ada hak yang perlu dihormati. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Ada pemimpin dan mereka yang dipimpin. Ada perbedaan kemampuan, kepentingan, kebiasaan, dan pendapat. Ada persahabatan, tetapi terkadang juga muncul konflik. Ada keputusan yang harus diambil dan ada konsekuensi yang harus diterima.
Justru karena itulah sekolah merupakan tempat yang sangat penting untuk mengalami Pancasila. Jika dalam masyarakat kecil bernama sekolah seorang anak belajar bahwa mereka yang kuat boleh mempermalukan yang lemah, pelajaran itulah yang mungkin ia bawa ke kehidupan yang lebih luas. Jika ia belajar bahwa aturan dapat dilanggar selama tidak ketahuan, pengalaman itulah yang dapat tertanam.
Jika ia belajar bahwa orang yang berbeda harus dijauhi, bahwa pendapat hanya didengar ketika berasal dari orang tertentu, atau bahwa kesalahan dapat ditutupi selama tidak menimbulkan masalah, maka ada sesuatu yang perlu kita pertanyakan dari pendidikan nilai yang kita jalankan.
Sebaliknya, jika sekolah memberikan pengalaman bahwa perbedaan dapat dihargai, bahwa orang lain layak didengarkan, bahwa kejujuran lebih penting daripada sekadar angka, bahwa kesalahan dapat diakui dan diperbaiki, serta bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab, murid tidak lagi hanya mempelajari Pancasila.
Mereka sedang mengalaminya.
Mungkin karena itu pendidikan Pancasila seharusnya tidak hanya bertanya, “Apakah murid mengetahui nilai Pancasila?”
Pertanyaannya perlu bergerak lebih jauh:
Apakah sekolah telah menciptakan pengalaman yang memungkinkan murid merasakan bagaimana nilai Pancasila bekerja?
Sebab seorang anak dapat melupakan definisi yang pernah dihafalkannya.
Ia dapat lupa soal yang pernah keluar dalam ujian.
Ia bahkan mungkin tidak lagi mengingat halaman buku tempat sebuah materi pernah dibaca.
Namun anak sering kali mengingat bagaimana dahulu ia diperlakukan.
Ia akan mengingat guru yang bersedia mendengarkan ketika dirinya merasa tidak dipahami.
Ia akan mengingat teman yang berdiri di sampingnya ketika yang lain menertawakan.
Ia akan mengingat ketika pendapatnya pertama kali dianggap penting.
Ia akan mengingat kesempatan kedua yang diberikan setelah melakukan kesalahan.
Dan ia akan mengingat bagaimana rasanya berada di sebuah lingkungan yang membuat dirinya merasa dihargai sebagai manusia.
Barangkali melalui pengalaman-pengalaman itulah Pancasila memperoleh daya hidupnya.
Bukan karena lima sila terus diulang hingga hafal.
Tetapi karena nilai di dalamnya perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan berubah menjadi sikap.
Dan sikap, ketika terus dipelihara, suatu hari menjadi karakter.
Setiap 1 Oktober, kita kembali diingatkan pada Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa. Namun bagi sekolah, peringatan itu seharusnya tidak berhenti setelah upacara selesai dan murid kembali ke kelas. Justru setelah itulah nilai-nilai Pancasila diuji dalam kehidupan yang paling sederhana: ketika seseorang memilih menghargai temannya, ketika perbedaan diselesaikan tanpa merendahkan, ketika kejujuran dipertahankan meskipun tidak ada yang mengawasi, ketika kesalahan diakui, dan ketika setiap orang memperoleh kesempatan untuk tumbuh. Di situlah Pancasila tidak lagi hanya menjadi pengetahuan yang dihafalkan, melainkan pengalaman yang perlahan membentuk cara seseorang melihat dan memperlakukan manusia lain.
Mungkin itulah makna paling dekat yang dapat kita bawa dari Hari Kesaktian Pancasila ke ruang pendidikan. Kita tentu perlu terus mengajarkan sejarah dan nilai-nilai Pancasila kepada murid, tetapi tugas pendidikan tidak selesai ketika mereka mampu menyebutkan kelima silanya dengan benar. Pekerjaan yang lebih besar adalah menciptakan sekolah tempat mereka dapat merasakan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Pancasila tidak menjadi kuat hanya karena terus-menerus diucapkan. Pancasila menjadi kuat ketika terus-menerus dilakukan. Dan mungkin, pada saat itulah Pancasila benar-benar turun dari dinding kelas dan hidup di antara kita.











Tinggalkan Balasan