Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dari Bangku Kuliah ke Ruang Kelas: Membaca Kembali Ritus Hujan Heri Isnaini

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Via Roidah

Saya mengenal Ritus Hujan karya Heri Isnaini ketika masih menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi pada 2019. Waktu itu, saya belum membayangkan bahwa sebuah buku puisi yang saya kenal dari lingkungan perkuliahan akan bertahan begitu lama dalam ingatan. Saya membacanya sebagai mahasiswa yang sedang belajar sastra, belajar mengenali puisi, dan belajar memahami bahwa kata-kata yang sederhana sekalipun dapat menyimpan pengalaman yang tidak sederhana. Kini, setelah beberapa tahun berlalu dan saya menjalani profesi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Pasundan 5 Bandung dan SMK Profita Bandung, saya justru semakin sering teringat pada buku tersebut, terutama ketika harus membawa pembelajaran puisi ke dalam ruang kelas.

Ritus Hujan diterbitkan pertama kali pada September 2016 oleh SituSeni, Bandung, dengan ISBN 978-602-60048-4-0. Data bibliografis tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi bagi saya sekarang angka tahun 2016 memiliki arti tersendiri. Buku itu lahir beberapa tahun sebelum saya mengenalnya sebagai mahasiswa. Ketika saya membacanya pada 2019, ia sudah bukan buku yang benar-benar baru, tetapi justru pada saat itulah buku tersebut memasuki perjalanan membaca saya. Dalam catatan yang kemudian dimuat kembali dalam Montase: Sepilihan Sajak, Ritus Hujan disebut memuat 106 puisi yang sebagian besar ditulis pada 2015. Ada pula sumber pembaca yang mencatat 107 karya, sehingga perbedaan jumlah tersebut tampaknya berkaitan dengan cara pengelompokan teks dalam edisi atau sumber yang digunakan. Yang bagi saya lebih penting adalah kenyataan bahwa buku tersebut merekam salah satu fase awal perjalanan kepenyairan Heri Isnaini.

Ketika pertama kali membacanya, saya tidak terlalu memikirkan persoalan tersebut. Saya hanya merasakan bahwa buku itu mempunyai suasana yang khas. Hujan hadir berulang kali, tetapi bukan hujan yang hanya berfungsi sebagai latar. Ia menjadi semacam ruang tempat cinta, rindu, penantian, kenangan, dan kesunyian bertemu. Saya membaca puisi-puisinya dengan pengalaman seorang mahasiswa yang mungkin belum memiliki cukup bekal untuk menjelaskan mengapa sebuah puisi dapat terasa dekat, tetapi saya tahu ada sesuatu yang membuat saya ingin kembali membacanya.

Barangkali karena saya mengenal hujan sebagai sesuatu yang sangat biasa. Hujan hadir dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu kita undang. Ia turun di halaman kampus, di jalan ketika pulang kuliah, di atas atap rumah, atau di antara perjalanan yang harus ditunda. Akan tetapi, melalui Ritus Hujan, sesuatu yang biasa itu berubah menjadi bahasa. Hujan tidak lagi sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan sesuatu yang dapat membawa ingatan dan perasaan. Di sanalah saya mulai memahami bahwa sastra sering kali bekerja dengan cara mengubah sesuatu yang akrab menjadi sesuatu yang kembali layak direnungkan.

Saya juga kemudian memahami mengapa kata โ€œritusโ€ dalam judul buku tersebut terasa penting. Hujan tidak hanya diperlakukan sebagai fenomena alam, tetapi seperti sebuah pengalaman yang terus berulang dan selalu memungkinkan manusia menemukan makna baru. Setiap hujan memang tampak sama, tetapi tidak pernah benar-benar sama bagi orang yang mengalaminya. Hujan pada suatu sore dapat berarti kegembiraan, pada sore yang lain dapat berarti kesepian, dan pada waktu tertentu dapat tiba-tiba mengembalikan seseorang kepada kenangan yang sudah lama disimpan. Karena itu, Ritus Hujan bagi saya bukan hanya tentang hujan, tetapi tentang bagaimana manusia memberi makna kepada sesuatu yang datang berulang kali dalam hidupnya.

Hal lain yang membuat buku ini terus saya ingat adalah hubungan antara hujan, cinta, dan penantian. Dalam pengantar Prof. Aquarini Priyatna yang dimuat dalam Montase, disebutkan bahwa kata โ€œhujanโ€ muncul 48 kali, โ€œcintaโ€ 38 kali, โ€œmencintaiโ€ 8 kali, dan โ€œmenungguโ€ 45 kali dalam keseluruhan kumpulan puisi. Angka-angka tersebut menarik bukan karena banyaknya pengulangan semata, tetapi karena menunjukkan jaringan kata yang membentuk dunia puitik Ritus Hujan. Hujan dan cinta tidak berdiri sendiri; keduanya berkelindan dengan tindakan menunggu, dengan hati, dengan kenangan, dan dengan pengalaman batin penyair. Prof. Aquarini bahkan membaca kecenderungan tersebut sebagai bagian dari eksplorasi cinta Heri, termasuk cinta kepada kekasih, Tuhan, hujan, dan cinta itu sendiri.

Ketika masih mahasiswa, saya mungkin belum dapat membaca hubungan tersebut sedalam itu. Saya hanya tahu bahwa puisi-puisi dalam Ritus Hujan memiliki suasana yang membuat saya betah berlama-lama. Sekarang, ketika saya kembali membacanya setelah menjadi guru, saya melihat sesuatu yang lain: buku tersebut ternyata sangat mungkin dibawa ke ruang pembelajaran karena berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa. Hujan, cinta, penantian, kenangan, alam, dan hubungan manusia merupakan pengalaman yang tidak asing bagi mereka, meskipun cara mereka memaknainya tentu berbeda.

Pengalaman itulah yang kemudian membuat Ritus Hujan tetap saya bawa dalam ingatan ketika mengajar Bahasa Indonesia. Saya tidak selalu menjadikannya bahan ajar secara langsung, tetapi buku itu menjadi salah satu rujukan batin saya ketika menjelaskan kepada siswa bahwa puisi tidak hanya terdiri atas tema, diksi, majas, rima, dan citraan. Semua unsur tersebut memang penting untuk dipelajari, tetapi di baliknya ada pengalaman manusia yang sedang berusaha menemukan bentuk melalui bahasa. Saya ingin siswa memahami bahwa ketika seorang penyair menulis hujan, yang sedang dibicarakan mungkin bukan hanya hujan. Bisa jadi yang sedang dibicarakan adalah seseorang yang telah pergi, sebuah rumah yang tidak lagi sama, sebuah cinta yang belum selesai, atau sebuah ingatan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Dari Ritus Hujan, saya belajar bahwa pembelajaran sastra tidak harus selalu dimulai dari teori. Kadang-kadang pembelajaran dapat dimulai dari ingatan. Saya dapat meminta siswa mengingat satu benda, satu tempat, atau satu peristiwa yang memiliki arti khusus bagi mereka, kemudian mengubah pengalaman tersebut menjadi bahasa puitik. Dari sana mereka dapat belajar tentang metafora, citraan, simbol, dan diksi tanpa merasa bahwa mereka sedang berhadapan dengan istilah yang terpisah dari kehidupan. Mereka sedang belajar memberi nama kepada pengalaman mereka sendiri.

Bagi saya, inilah salah satu alasan Ritus Hujan tetap memiliki tempat khusus dalam ingatan setelah bertahun-tahun. Buku itu hadir pertama kali ketika saya masih mahasiswa di IKIP Siliwangi, tetapi maknanya berkembang ketika saya memasuki dunia pendidikan. Dahulu saya membacanya sebagai pembaca yang sedang belajar memahami karya sastra. Sekarang saya mengingatnya sebagai seorang guru yang setiap hari berhadapan dengan pembaca-pembaca muda. Perubahan posisi tersebut membuat saya sadar bahwa sebuah karya sastra tidak pernah benar-benar selesai pada saat pertama kali dibaca. Ia dapat berubah mengikuti usia, pengalaman, pekerjaan, bahkan cara kita memandang kehidupan.

Saya juga tertarik pada catatan Prof. Rebecca Fanany yang menyebut Ritus Hujan memuat 106 karya dan melihat buku tersebut sebagai karya yang mempertemukan metafora khas Nusantara dengan pengalaman Indonesia modern. Menurutnya, puisi-puisi tersebut menggunakan bentuk bebas, tetapi tetap memperlihatkan hubungan dengan cara pandang alam dan metafora yang telah lama hadir dalam tradisi sastra Indonesia. Pembacaan tersebut membuat saya semakin memahami bahwa hujan dalam buku ini tidak berdiri sebagai simbol yang terlepas dari kebudayaan. Ia berada dalam ruang pengalaman masyarakat yang sejak lama dekat dengan alam, musim, air, tanah, langit, dan berbagai tanda kehidupan.

Namun, yang paling saya ingat dari Ritus Hujan tetap bukan teori tentangnya, melainkan pengalaman ketika pertama kali membacanya sebagai mahasiswa. Saya ingat bahwa pada masa itu saya sedang berada dalam tahap belajar mengenali banyak hal: mengenali sastra, mengenali teori, mengenali cara membaca, dan mungkin tanpa disadari juga mengenali diri sendiri. Karena itu, ketika sekarang saya mengingat buku tersebut, yang hadir bukan hanya judul dan nama pengarangnya, melainkan juga suasana masa kuliah yang menyertainya.

Bertahun-tahun kemudian, saya menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP Pasundan 5 Bandung dan SMK Profita Bandung. Saya berada di sisi yang berbeda dari proses pendidikan. Dahulu saya menerima bacaan dari lingkungan akademik; sekarang saya harus memilih bacaan yang dapat saya perkenalkan kepada siswa. Dahulu saya bertanya apa yang dimaksudkan penyair melalui puisinya; sekarang saya lebih sering bertanya bagaimana sebuah puisi dapat membuat siswa memiliki pengalaman membaca yang berarti. Pertanyaan itulah yang membuat Ritus Hujan masih saya kenang.

Saya tidak tahu apakah semua siswa akan mengingat buku atau puisi yang pernah saya bawa ke kelas. Mungkin sebagian akan lupa setelah ujian selesai. Namun, saya berharap ada sesuatu yang tertinggal, sebagaimana Ritus Hujan meninggalkan sesuatu dalam perjalanan membaca saya. Barangkali bukan seluruh puisi, bukan pula seluruh nama dan istilah yang pernah dibicarakan, melainkan kesadaran bahwa sastra dapat membuat sesuatu yang biasa menjadi bermakna.

Kini, ketika hujan turun dan saya melihat siswa-siswa memasuki kelas dengan sepatu yang basah atau mendengar suara air mengenai atap sekolah, saya kadang teringat kembali pada buku yang saya kenal pada 2019 itu. Ritus Hujan terbit pada 2016, tetapi bagi saya ia memiliki waktu hidup yang jauh lebih panjang daripada tahun penerbitannya. Ia pernah menjadi bagian dari masa kuliah, kemudian menjadi bagian dari ingatan, dan kini menjadi salah satu pengalaman membaca yang ikut membentuk cara saya memandang pembelajaran sastra.

Mungkin memang demikian cara sebuah buku bertahan. Ia tidak selalu bertahan karena terus dibicarakan, tetapi karena pernah tinggal cukup dalam di dalam ingatan seseorang. Ritus Hujan bagi saya adalah buku semacam itu: sebuah buku yang pertama kali saya baca sebagai mahasiswa, tetapi sampai sekarang masih saya bawa sebagai guru. Hujannya telah berlalu, tahun-tahun telah berganti, ruang kuliah telah saya tinggalkan, tetapi ingatan terhadap buku itu masih kembali setiap kali saya membuka pembelajaran puisi di kelas.

Dan mungkin, di situlah saya memahami makna lain dari Ritus Hujan: beberapa bacaan memang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah tempat, dari halaman buku ke ingatan, dari ingatan ke pengalaman, lalu dari pengalaman seorang pembaca ke ruang kelas tempat pembaca-pembaca baru sedang belajar menemukan makna mereka sendiri.

Bandung, 27 September 2026

Penulis:
Via Roidah adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Pasundan 5 dan SMK Profita Kota Bandung. Dia juga alumni PBSI IKIP Siliwangi

Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Dari Bangku Kuliah ke Ruang Kelas: Membaca Kembali Ritus Hujan Heri Isnaini”

  1. Avatar Samsul
    Samsul

    Iya, saya juga pernah membaca buku tersebut. Bagus dan Menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *