
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Andi Sopandi
MASALAH DAN UJIAN: CARA TERCEPAT NAIK TINGKAT
Memeriksa hasil ujian anak didik terkadang menjadi sesuatu yang mengasyikkan sekaligus mengisyaratkan sebuah hikmah.
Dalam sebuah ujian terdapat pertanyaan teka-teki silang: “Tokoh wayang, anak tengah Pandawa.” Tersedia kotak A _ _ U _ _. Sebanyak 30% siswa saya menjawab, “ASTUTI.”
Pertanyaan selanjutnya, “Kapan pagelaran wayang golek biasa disajikan?” Soal ini berbentuk pilihan ganda. Sebanyak 20% siswa menjawab, “Ketika acara kenaikan kelas”; 10% menjawab, “Ketika malam takbiran Idulfitri”; dan yang paling lucu, 10% menjawab, “Ketika upacara pemakaman jenazah.” Subhanallah.
Percayakah kawan jika saya katakan bahwa anak didik saya tersebut sudah mendapatkan kisi-kisi ujian dua minggu sebelum ujian dilaksanakan? Seminggu sebelumnya, kami melakukan review, dan 40% soal dalam review tersebut bahkan sama dengan soal ujian.
Tapi, hasilnya? Sangat jauh dari harapan.
Tidak menutup mata, banyak anak yang mendapatkan nilai 100 atau di atas 90. Namun, lebih banyak lagi yang memperoleh nilai di bawah itu. Mengapa?
Jawaban yang paling sering kita dengar adalah, “Setiap anak memiliki keterbatasan dalam kemampuannya.” Bila sudah berbicara tentang hal itu, selesai sudah.
Setiap ujian yang diberikan oleh guru—khususnya guru kelas, bukan ujian yang digagas oleh dinas—pada dasarnya merupakan pengulangan dari materi yang telah diberikan. Sumber dan rujukannya jelas, materinya tegas, kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya pun lengkap.
Sejujurnya, andai kita mau berusaha, belajar, dan mendalami materi yang ada, ulangan atau ujian itu akan menjadi sesuatu yang sangat mudah. Setuju?
Andai kita menempatkan Allah Swt. sebagai Maha Guru, maka sangat wajar jika Dia memberikan ujian kepada kita—murid-Nya. Dan seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap ujian hakikatnya merupakan pengulangan dari materi yang telah kita terima, disertai kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya—dalam hal ini agama dan Al-Qur’an.
Sebagaimana firman-Nya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(Q.S. Al-Baqarah: 155)
Mari kita cermati ayat di atas. Allah mengatakan “sedikit ketakutan”, bukan ketakutan atau kecemasan yang tak berkesudahan. Ini berarti setiap ujian yang kita terima hanyalah sebagian kecil dari karunia yang Dia berikan.
Contohnya, ketika kita kehilangan barang, apakah seluruh harta kita hilang? Tidak pernah. Yang hilang hanya sebagian kecil dibandingkan dengan seluruh harta yang kita miliki.
Ketika ada orang yang membenci kita, apakah seluruh manusia di dunia membenci kita? Tidak pernah. Hanya sekelompok orang yang tidak menyukai kita, sementara masih ada sekumpulan orang lain yang menyayangi kita.
Ketika ditimpa kemalangan, apakah tidak ada lagi alasan untuk tersenyum? Masih banyak hal yang dapat membuat kita tersenyum.
Tidak ada satu pun ujian yang Allah berikan kepada kita yang melebihi kemampuan kita atau melebihi rahmat-Nya.
Allah tidak akan menimpakan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Allah tidak akan menjadikan seseorang diuji untuk menjadi presiden jika mentalnya baru sampai pada tingkat ketua RT. Allah juga tidak akan menguji seseorang dengan menjadi miliuner jika mentalnya justru lebih kuat ketika hidup dalam keadaan sederhana. Percaya?
Setiap ujian memiliki tujuan.
Ujian di sekolah diberikan untuk mengukur kelayakan siswa, apakah ia layak naik ke kelas selanjutnya atau tidak. Begitu pula ujian dari Allah. Ujian diciptakan untuk mengukur kadar ketakwaan kita.
Semakin tinggi ketakwaan, semakin berat pula cobaan yang mungkin kita hadapi. Ujian adalah salah satu cara tercepat untuk mencapai kenaikan tingkat. Laksana kelas akselerasi, jika kita berani menghadapi risiko dari ujian yang lebih berat, maka kita pun berpeluang lebih cepat mencapai tingkat ketakwaan yang lebih tinggi.
Berbicara tentang masalah dan ujian, timbullah pertanyaan: bagaimana cara menyikapi dan menghadapinya?
Saya mengambil contoh dari seorang manusia yang diberi kelebihan oleh Allah, yaitu salah satu orang tercerdas abad lalu, Albert Einstein. Sebagai seorang yang cerdas, ternyata salah satu kunci keberhasilannya adalah kemampuannya mengurai masalah yang dihadapi dan memecahkannya, serumit apa pun masalah tersebut.
Beginilah cara berpikir dan mengurai masalah yang dapat kita tempuh.
1. Mengidentifikasi Masalah
Sering saya mendengar keluhan dari teman-teman, “Duh, aku lagi banyak masalah, nih. Lagi suntuk.”
Pernah suatu ketika saya iseng memberikan selembar kertas dan sebuah pena kepada teman yang sedang mengeluh. Kemudian saya memintanya menuliskan seluruh masalah yang ia miliki.
Hasilnya?
Lima menit kemudian, hanya ada deretan angka, mungkin untuk mengurutkan nomor masalahnya. Sepuluh menit kemudian, tidak berubah. Setengah jam kemudian, kertas tersebut malah berpindah ke dalam tong sampah.
Pernah mengalami hal itu?
Itulah kita.
Sering merasa bingung, galau, bimbang, atau apa pun istilahnya, tanpa benar-benar mengetahui masalah apa yang sebenarnya sedang menimpa kita.
Kadang-kadang, hanya karena hal sepele, kita membesar-besarkan masalah. Mendramatisasi, menambahkan berbagai hal yang sebenarnya tidak ada. Setelah ditelusuri, ternyata bukan itu masalah yang sebenarnya.
Tanpa mengetahui musuh kita, mana mungkin kita siap berperang? Mana mungkin kita bisa menang?
Oleh karena itu, kenali musuh kita. Pahami masalah kita.
Masalah adalah ketidaksesuaian antara keadaan dengan aturan atau harapan.
Contohnya, saya sudah bekerja sangat keras. Menurut aturan, seharusnya hasil yang saya dapatkan besar, tetapi ternyata tidak. Itu masalah.
Saya sudah belajar dengan baik, tetapi nilai ulangan saya jelek. Itu masalah.
Saya telah berusaha mengajar dengan baik, tetapi anak-anak masih banyak yang kurang baik dalam belajar. Itu masalah.
Saya sudah berusaha memahami pasangan saya, tetapi dia tidak juga memahami saya—bagi yang telah berkeluarga. Itu masalah.
Saya tidak bekerja, kemudian tidak mendapatkan penghasilan. Itu bukan masalah. Itu akibat dari perbuatan.
Saya tidak belajar, kemudian tidak naik kelas. Itu bukan masalah. Itu akibat dari perbuatan.
Saya tidak mau memahami keadaan pasangan saya, kemudian dia bersikap cuek. Itu pun akibat.
Jadi, apa masalahmu?
2. Mengenali Pola Masalah
Setiap masalah memiliki proses: timbul, berkembang, kemudian mencapai klimaks dalam sebuah rangkaian pola.
Kenali pola tersebut, maka kita akan memiliki semacam “peramal pribadi” yang dapat menuntun kita mengambil tindakan pada langkah selanjutnya.
Contohnya, penghasilan yang besar ternyata bukan semata-mata hasil dari bekerja keras, tetapi juga dari bekerja cerdas. Semakin pintar kita bekerja, semakin besar peluang memperoleh penghasilan.
Bukan sebanyak apa waktu yang kita gunakan untuk bekerja, melainkan seberapa berkualitas waktu tersebut kita gunakan. Itulah pola dalam pekerjaan.
Begitu pula dengan belajar.
Belajar ternyata bukan sekadar mampu menjawab soal yang diajukan dalam ujian, tetapi memahami konsep dasar dari setiap materi. Dengan memahami konsep dasar, seberat apa pun soal yang diberikan dan bagaimanapun variasinya, kita akan mampu mengerjakannya. Bahkan, mungkin dengan waktu belajar yang lebih singkat.
Begitu pula dalam hubungan.
Hubungan yang baik—baik persahabatan, suami-istri, maupun keluarga—terjalin atas dasar kejujuran dan keterbukaan. Dengan saling jujur dan terbuka, setiap orang akan saling menghargai dan mengisi kekurangan.
Jangan pernah berharap sebuah hubungan akan berjalan langgeng jika kejujuran dan keterbukaan tidak pernah diikutsertakan.
Itulah pola hubungan.
3. Melanggar Asas Konvensional atau Aturan
Asas konvensional atau aturan adalah sesuatu yang dipahami setiap orang sebagai sebuah keharusan dalam tahapan menyelesaikan masalah atau menyikapi ujian.
Namun, dengan berani melampaui hal tersebut—setelah dua tahapan sebelumnya kita lalui—kita justru dapat menemukan alternatif yang lebih baik.
Percaya?
Kata orang, semakin keras kita bekerja, semakin besar hasil yang kita peroleh. Sekarang kita coba balik aturan itu: semakin santai kita bekerja, semakin besar penghasilan kita.
Lihatlah para bos. Apakah mereka lebih sibuk daripada office boy yang harus selalu siap sedia? Tidak selalu.
Mereka bekerja dengan lebih santai, tetapi cerdas. Waktu mereka berharga.
Tempatkanlah diri kita sebagai seorang bos—bukan dalam hal sifat, melainkan dalam hal mentalitas dan cara pandang. Kita harus siap mengelola berbagai hal, terutama waktu.
Pilih jalan dan peluang yang paling tepat untuk berusaha agar usaha yang kita lakukan menjadi efektif.
Begitu pula dalam hal belajar agama.
Kata orang, belajar agama itu sulit dan membutuhkan waktu lama. Hanya orang tua yang mampu melakukannya.
Kita balik sudut pandang tersebut.
Belajar agama itu mudah, menyenangkan, dan juga untuk kaum muda.
Belajar agama berarti belajar disiplin, belajar hidup bersih, belajar menjadi warga yang baik.
Ubahlah sudut pandang kita tentang agama. Agama bukan hanya tentang kitab kuning, fikih, dan tarikh, tetapi juga tentang sesuatu yang lebih sederhana: hidup selaras dengan hati nurani dan kejujuran untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap hari.
Mudah, kan?
Kata orang, untuk mendapatkan pasangan hidup, seseorang harus melewati fase “pacaran”.
Kita balik.
Untuk mencapai fase “pacaran”, kita harus menikah.
Sederhana.
Tapi, beranikah kita?
Ini memang melawan arus.
Contoh inspiratif saya ambil dari seorang kawan dekat. Seorang perempuan yang menjaga kehormatannya. Ia dianugerahi kecantikan yang luar biasa. Kalau saya hitung, entah berapa puluh laki-laki yang menginginkannya. Namun, ia tetap menjaga kehormatannya.
Pada pertengahan tahun 2012, ia berkata bahwa akan menikah pada akhir tahun tersebut.
Saya pun bertanya, siapakah laki-laki beruntung yang menjadi pacar atau calon suaminya?
Ia menggelengkan kepala.
Kemudian ia berkata, “Saya nggak pacaran. Allah pasti ngasih, kok, nanti.”
Dan terbukti.
Tanggal 3-12-12 ia bertemu dengan seorang laki-laki. Tanggal 6-12-12 ia dilamar oleh laki-laki tersebut. Tanggal 12-12-12 mereka melangsungkan pernikahan.
Subhanallah.
4. Menemukan Solusi
Solusi adalah jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.
Setelah kita mengetahui masalah, mengenali polanya, dan mencoba melampaui aturan untuk mendapatkan alternatif penyelesaian, saatnya melakukan gerakan sapu jagat: menuntaskan masalah hingga ke akarnya.
Masalah apa yang sedang kita hadapi?
Jika kita benar-benar telah melakukan tiga tahapan sebelumnya, sesungguhnya kita telah mengetahui solusi apa yang harus kita ambil.
Namun, kuncinya kembali kepada kita.
Berani atau tidak kita mengambil solusi tersebut?
Memiliki mental seorang bos—mampu mengelola, inovatif, berpandangan ke depan, dan bekerja cerdas—dalam pekerjaan berarti siap menghadapi risiko dan tanggung jawab yang sangat besar.
Belajar dan mengajar secara kreatif merupakan sesuatu yang sulit dan memerlukan pembiasaan yang luar biasa.
Sanggupkah?
Mengamalkan agama adalah tuntutan yang berat, tetapi jika dijalankan setiap hari secara bertahap dan konsisten, ia akan menjadi bagian dari kehidupan.
Maukah kita?
Terbuka, jujur, dan selalu pengertian dalam hubungan adalah sebuah keharusan. Itu memang berat sekali.
Sanggupkah?
Solusi terkadang sebenarnya sudah kita ketahui. Kita hanya membutuhkan keberanian untuk mengambil dan melaksanakannya.
Pesan saya, jangan menjadi orang lemah.
Bila kita lemah menghadapi kehidupan, kehidupan akan terasa keras terhadap kita.
Sebaliknya, bila kita berani dan tegas menghadapi kehidupan, hidup akan terasa lebih lunak kepada kita.
Ujian dan masalah adalah cara tercepat untuk menaikkan level kita jika kita mampu menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh.
Bionarasi
Andi Sopandi adalah seorang guru Bahasa Sunda di SMA Negeri 2 Padalarang. Ia terlahir di Kota Kembang beberapa bulan sebelum Tembok Berlin diruntuhkan sebagai tanda berakhirnya Perang Dingin.
Ia menempuh pendidikan di UPI pada Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah dan lulus pada tahun 2012. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Bahkan, ia pernah menjadi guru berhitung bagi siswa usia TK dan PAUD. Pengalaman inilah yang membawanya menikmati dunia belajar bersama anak-anak.
Seorang ayah dari seorang anak yang kini duduk di sekolah dasar ini memiliki kegemaran membaca dan bercerita. Ketertarikannya pada dunia literasi pula yang menuntunnya berkuliah di jurusan bahasa dan sempat aktif di UKM jurnalistik di jurusannya.
Saat ini, ia diamanahi menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di sekolah tempatnya mengabdi.











