
[Sumbe gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Nida Triwidya
Raport Merah: Ketika Nilai Bukan Segalanya, tetapi Terasa Seperti Segalanya
(Esai Reflektif tentang Dunia Anak SD dan Tekanan yang Tak Kasat Mata)
Setiap bulan Juni dan Desember, ada satu amplop cokelat yang mampu mengubah suasana rumah dalam hitungan detik. Bukan surat tagihan. Bukan undangan. Bukan kabar duka. Hanya selembar kertas yang di bagian atasnya tercetak nama seorang anak, kelas, dan nomor urut absen lalu di bawahnya berjejer angka-angka yang oleh orang dewasa dianggap sebagai cermin masa depan.
Raport. Bagi sebagian anak SD, raport adalah benda paling netral di dunia: hanya kertas, hanya angka. Tetapi bagi sebagian lainnya, ia adalah hakim yang tidak pernah benar-benar adil. Ketika Angka Lebih Keras Berbicara daripada Cerita. Di balik tembok kelas yang catnya mulai mengelupas, di atas bangku yang permukaannya penuh ukiran nama dan gambar iseng, seorang anak bernama Dimas duduk dengan pensil yang setengahnya sudah digigit. Bukan karena lapar. Tetapi karena ia sedang berpikir keras dan mencoba mengingat rumus perkalian yang semalam sudah diulang berkali-kali bersama ibunya, tetapi kini lenyap begitu saja di hadapan lembar soal ulangan.
Dimas bukan anak malas. Ia bangun pagi, sarapan, berangkat sekolah tidak pernah terlambat. Ia hafal nama semua pahlawan yang fotonya tergantung di dinding kelas. Ia tahu bahwa Sumpah Pemuda lahir pada tanggal 28 Oktober. Ia bahkan bisa menceritakan kembali dongeng Malin Kundang dengan dramatis, termasuk menirukan suara ombak dan tangisan ibu.
Tetapi di lembar matematika itu, tangannya berhenti.
Dan ketika raport dibagikan, angka di kolom Matematika berwarna merah. Satu angka merah di antara kolom-kolom lainnya yang cukup baik dan hanya itulah yang pertama kali dilihat oleh ayahnya saat amplop cokelat itu dibuka di meja makan. Percakapan itu tidak panjang. Tetapi Dimas mengingat setiap katanya.
Sekolah Dasar: Tempat Pertama Manusia Belajar Dinilai. Salah satu hal yang jarang disadari oleh orang dewasa adalah bahwa sekolah dasar bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ia adalah arena pertama di mana seorang manusia belajar bahwa dirinya bisa dinilai bahwa ada standar, ada perbandingan, ada yang lebih pintar dan ada yang dianggap kurang.
Sebelum masuk SD, seorang anak tumbuh dalam logika yang sangat berbeda. Ia berlari karena ingin berlari. Ia menggambar karena senang menggambar. Ia bertanya karena memang ingin tahu. Tidak ada yang menilai apakah gambarnya bagus atau jelek. Tidak ada yang menghitung apakah larinya lebih cepat atau lebih lambat dari anak sebelahnya. Lalu ia masuk ke sebuah gedung bernama sekolah.
Dan perlahan, dunia yang tadinya luas dan bebas itu mulai memiliki kolom-kolom. Kolom nilai. Kolom peringkat. Kolom “perlu ditingkatkan.” Bukan berarti sekolah itu buruk. Bukan berarti guru-gurunya tidak peduli. Banyak guru SD adalah manusia-manusia luar biasa yang dengan sabar menghadapi tiga puluh anak sekaligus, mengajar dari pagi hingga siang, lalu masih menyempatkan diri untuk menuliskan catatan kecil di buku tugas muridnya: “Pertahankan!” atau “Lebih rajin lagi, ya!”
Tetapi sistem, bagaimanapun baiknya orang-orang di dalamnya, tetaplah sebuah sistem. Dan sistem penilaian yang terlalu seragam sering kali gagal melihat bahwa tidak semua kecerdasan datang dalam bentuk angka. Ada anak yang tidak bisa menghafal tabel perkalian, tetapi mampu memimpin teman-temannya bermain dengan cara yang membuat semua orang merasa dilibatkan. Ada anak yang nilai bahasa Indonesianya rendah, tetapi setiap bercerita, seluruh kelas diam mendengarkan. Ada anak yang selalu dapat ranking terakhir, tetapi ia yang pertama datang membantu teman yang jatuh di lapangan.
Kecerdasan-kecerdasan seperti itu tidak punya kolom di raport. Persahabatan di Antara Jajan Lima Ratus Perak Namun di balik semua tekanan itu di balik ulangan, PR, dan ancaman tidak naik kelas — ada sesuatu yang membuat dunia SD menjadi salah satu masa paling murni dalam hidup manusia. Persahabatan.
Bukan persahabatan yang dibangun di atas kepentingan, jabatan, atau kesamaan visi karier. Tetapi persahabatan yang lahir dari hal-hal sesederhana: duduk sebangku, berbagi penghapus, atau sepakat bahwa es lilin rasa melon adalah yang terenak di antara semua es lilin yang dijual di depan gerbang sekolah.
Di dunia SD, konflik bisa selesai dalam dua puluh menit. Pagi bertengkar karena rebutan giliran main ayunan. Istirahat kedua sudah berlarian bersama lagi seolah tidak ada yang terjadi. Tidak ada dendam yang dibawa pulang. Tidak ada grup chat yang penuh pesan pasif-agresif. Tidak ada subtweet yang menyindir tanpa menyebut nama.
Anak SD marah dengan cara yang jujur: langsung, keras, dan selesai. Mereka juga bahagia dengan cara yang sama langsung, keras, dan menular. Satu anak menemukan belalang di halaman sekolah, dalam hitungan menit seluruh kelas sudah berkerumun, berjongkok, dan berdebat apakah belalang itu jantan atau betina. Tidak ada yang peduli bahwa mereka sedang jam istirahat dan bel masuk akan berbunyi tiga menit lagi. Momen seperti itu kecil, tidak penting, tidak terdokumentasi adalah salah satu hal yang paling sulit ditemukan kembali ketika manusia tumbuh dewasa.
Yang Paling Diingat Bukan Nilai, tetapi Rasa. Bertahun-tahun kemudian, ketika manusia-manusia itu sudah dewasa, sudah bekerja, sudah punya anak sendiri, jarang sekali yang mengingat berapa nilai matematika mereka di kelas empat SD. Yang diingat adalah: Bau kapur tulis di pagi hari, ketika guru menulis jadwal pelajaran di papan hijau dengan tulisan yang selalu miring ke kanan.
Bunyi bel sekolah yang entah kenapa selalu terdengar lebih merdu saat berbunyi untuk istirahat daripada saat berbunyi untuk masuk. Rasa panik meminjam pensil kepada teman sebangku karena lupa membawa, lalu ternyata pensil itu juga hampir habis dan harus dipakai bergantian. Momen ketika guru bercerita melenceng dari pelajaran tentang pengalamannya waktu muda, tentang desa asalnya, tentang bagaimana dulu belum ada televisi dan seluruh kelas tiba-tiba menjadi sangat sunyi, bukan karena takut, tetapi karena benar-benar mendengarkan. Yang diingat adalah rasa. Dan rasa itu tidak pernah bisa dinilai dengan angka.
Menutup Buku Tugas, Membuka Kenangan. Pada akhirnya, dunia SD adalah dunia yang paradoks. Di satu sisi, ia adalah tempat pertama manusia merasakan tekanan untuk memenuhi standar nilai, peringkat, ekspektasi orang tua dan guru. Di sisi lain, ia juga adalah tempat terakhir di mana manusia bisa gagal tanpa kehilangan segalanya. Tempat di mana seorang anak bisa menangis karena kehilangan pensil, dan tangisan itu dianggap sah, dianggap wajar, bahkan kadang dihibur dengan pemberian permen oleh teman sebelahnya.
Mungkin inilah yang membuat banyak orang dewasa menyimpan kerinduan yang sulit dijelaskan terhadap masa SD mereka bukan karena masa itu sempurna, tetapi karena di sanalah mereka terakhir kali hidup dengan sangat apa adanya. Belum pandai berpura-pura. Belum terbiasa menyembunyikan perasaan. Belum tahu bahwa dunia kadang menghargai penampilan lebih dari kejujuran.
Di bangku SD, seorang anak belum belajar untuk menjadi siapapun selain dirinya sendiri. Dan mungkin, itulah pelajaran paling berharga yang tidak pernah tertulis di raport mana pun. Ditulis dengan rasa rindu pada bau kapur, bunyi bel, dan jajan di depan sekolah yang harganya tidak pernah lebih dari seribu perak.
Bionarasi Penulis
Nida Triwidya biasa dipanggil Nida oleh keluarga, teman, dan orang-orang di sekitarnya. Nida lahir di Bandung pada tanggal 15 Agustus 2006. Saat ini, Nida sedang menempuh pendidikan di IKIP Siliwangi pada program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Nida memiliki ketertarikan dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran untuk anak sekolah dasar. Selama menjalani perkuliahan, Nida terus berusaha mengembangkan kemampuan dan menambah pengalaman agar dapat menjadi guru yang baik di masa depan. Selain itu, Nida juga senang belajar hal-hal baru yang dapat menambah wawasan dan keterampilan.













Tinggalkan Balasan