Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Razia Kuku dan Misteri Spidol Permanen

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Tisa Febriani

Pada senin pagi anak – anak SD Kartika pertiwi bukan cuma soal upacara bendera yang panasnya minta ampun. Hari senin adalah hari penghakiman. Didepan gerbang, pak kepala sekolah yang kumisnya setebal sikat lantai sudah berdiri tegak dilapangan, membawa penggaris kayu panjang.

“ KUKU! RAMBUT! KAUS KAKI!” teriaknya setiap kali ada murid yang lewat.

Topan, siswa kelas 6 yang biasanya paling santai kini mendadak pucat. Ia lupa satu hal, tadi malam topan baru saja membantu ayahnya memperbaiki rantai sepeda yang putus. Hasilnya? Di bawah kuku jempol dan telunjuknya terselip sisa oli hitam yang membandel.

Rencana darurat di belakang barisan

“Mat, gawattt! Kuku saya matt hitam semua!” bisik topat pada rohmat saat barisan upacara mulai dibubarkan.

Rohmat pun melihat kuku topan dengan tatapan prihatin. “wahh pan, itumah bukan kuku lagi, itumah oli. Pak kepala sekolah pasti gaakan ngelolosin kamu pan. Hayoloh,,,, hukumannya lari 10 keliling lapangan loh”.

Topan pun membayangkan lari di lapangan dibawah terik matahari sambal memakai sepatu warrior nya yang sudah tipis. “Mat kamu ada ide nggak?”

Rohmat yang otaknya selalu bekerja cepat kalua urusan melanggar aturan, merogoh kedalam tasnya. Ia mengeluarkan sebuah benday aitu : spidol hitam permanen.

“Aku punya ide. Kalau kuku kamu item di dalem, kenapa ngga kita itemin aja sekalian semua kuku kamu pake spidol hitam permanen? Bilang aja itu gaya baru, atau bilang aja kamu habis ngebantuin ngecat rumah,” usul rohmat ngawur.

“Itu ide yang paling bodoh yang pernah aku denger, mat.” Kata topan. “T-tapi ya udah, buruan sini.”

Operasi spidol.

Di belakang kelas, dekat jemuran serbet, rohmat dengan teliti “mewarnai” sepuluh kuku jari topan dengan spidol permanen. Hasilnya? Kuku topan terlihat seperti habis terjepit pintu sepuluh kali, atau seperti memakai kutek versi anak metal.

“Selesai! Sekarang kuku kamu nggak keliatan kotor oli lagi, tapi kelihatan,,,,,artistic”? Rohmat mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Masalahnya muncul, saat pemeriksaan dimulai. Satu persatu murid di minta maju kedepan kelas oleh bu ratna, guru kelas yang matanya setajam elang.

“Ilham, bersih. Bagus.”

Budi, kuku panjang! Potong besok, ya.”

Kini giliran topan. Jantungnya berdegup seperti dentum drum band sekolah. Ia melangkah maju dengan tangan di sembunyikan di balik punggung.

“Topan, tunjukan tanganmu.” Perintah bu ratna

Topan pun menyodorkan tanganya dengan gemetar. Bu ratna terdiam. Beliau mendekatkan kacamatanya kea rah jari – jari topan yang hitam legam dan berkilat terkena cahaya lampu kelas.

Aroma penghakiman

“Topan,,,, kenapa kuku kamu warnanya hitam begini?” tanya bu ratna pelan tapi nadanya penuh selidik.

“Anu bu… itu… saya habis membantu ayh saya mengecat pagar rumah pakai cat minyak warna hitam, bu. Terus gabisa hilang.” Jawab topan dengan acting sedih yang ia pelajari dari sinetron sore hari.

Bu ratna tidak langsung percaya. Beliau mengambil sedikit minyak kayu putih dari mejanya, langsung meneteskannya ke selembar kapas. Beliau menggosok pelan jempol kuku topan.

Warna hitam spidol itu luntur, menyisakan noda oli asli dibawahnya.

“Mengecat pagar, ya? Kok baunya seperti spidol yang sering hilang dimeja ibu?” sindir bu ratna smbil menahan senyum.

Geri tertunduk lesu. Seluruh kelas menahan tawa termasuk rohmat yang pura – pura sibuk membaca buku Bahasa Indonesia padahal bukunya terbalik.

Hukuman kuku yang berwarna.

Akhirnya topan tidak di suruh lari keliling lapangan. Bu ratna punya hukuman yang lebih kreatif. Topan disuruh berdiri di depan kelas, memegang papan bertuliskan, “KUKU SAYA BUKAN PAPAN TULIS.”

Lebih parahnya lagi, ia harus membersihkan papan tulis kelas selama seminggu penuh menggunakan penghapus yang biasanya bikin debu kapur bertebaran dimana mana.

Saat jam istirahat, topan duduk dikantin sambal mencoba menggosok sisa spidol dijarinya pakai sabun colek. Rohmat datang dengan wajah tanpa dosa, membawa dua bungkus es lilin.

            “Nih buat kamu satu, maaf ya ide aku agak gagal “, kata rohmat.

Topan melihat jarinya yang masih belang – belang, lalu  melihat es lilin ditangan rohmat. Ia tertawa kecil. “ lagian aku juga bego, kenapa mau – mauan diwarnain pake spidol.”

“Tapi jujur, pan,” bisik rohmat. “ tadi kamu kayak penyanyi band rock tahu.”

Pelajaran dari jari hitam

Hari itu topan belajar bahwa oli motor lebih mudah dibersihkan daripada rasa malu karena ketahuan berbohong pakai spidol. Tapi di sisi lain, momen itu jadi cerita paling lucu yang mereka bahas sampai lulus SD.

​            Masa SD memang tempatnya melakukan hal-hal tidak logis demi menghindari hukuman, yang ujung-ujungnya malah jadi hukuman yang lebih aneh lagi. Dan bagi topan, kuku hitam itu adalah tanda bahwa Seninnya tidak pernah membosankan selama ada sahabat seperti rohmat.

Bionarasi Penulis

Perkenalkan saya Tisa Febriani mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di salah satu kampus IKIP. Sebagai calon pendidik, Saya memiliki ketertarikan besar dalam memahami dunia anak-anak melalui tulisan. Lewat karya-karyanya, saya mencoba mengangkat kembali keseruan dan kepolosan masa kecil yang seringkali terlupakan. Bagi Saya, menulis bukan sekadar hobi, tapi juga caranya untuk lebih menyelami karakter anak didik di masa depan dengan cara yang menyenangkan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *