
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Farel Eka Giantara
Rinai hujan turut berdatangan takala sinar surya meredup. Dalam kehampaan cakrawala yang temaram,suaranya berbisik lembut bak di sapu angin. Hari itu,di depan teras dengan aroma petrikol yang mengudara di sepenjuru halaman,ku lihat ibu yang berjalan dalam keheningan. Wajahnya pucat,matanya sembab tak lupa dengan pandangan kosong yang sering ku lihat sesekali lewat sorot matanya yang kini menatapku dengan garis lengkung yang terpatri di bibirnya.
Ibu mengusap suraiku seraya bersuara,“Belajar yang bener yo nduk,jangan males-malesan.”
Dan pagi itu,di iringi senyun cerah walau tak secerah cuaca pagi ini,aku menganguk mantap kearanya dan mencium satu tanganya dengan kepala menunduk.
“Hari ini Alya ada ulangan mapel kimia loh,Bu. Nanti kalo aku dapet nilai bagua mau dongbdi belikan sepatu baru.”
Tanpa ragu,tanpa memikirkan cara untuk menolakku,Ibu tersenyum dan menjawab nggih dengan nada suara lembut penuh akan afeksi. Sampai waktu yang aku tunggu pun terjadi,aku keluar kelas dengan wajah berseri dan berjalan melewati teman-temanku dengan langkah tak santai. Aku berlari menerobos hujan dengan berjalan kaki melewati gang sebelum sampai ke rumahku yang terletak di paling ujung.
Dan untuk terakhir kalinya dalam hidupku,aku dengan langkah bangga mendorong pintu dengan hasil ujianku yang di katakan sempurna. Aku memanggil-manggil ibu dengan wajah berseriyang belum kunjung luntur dari wajahku. Ku cari sosok ibu ke sepenjuru ruangan yang anehnya tak kunjung ku temukan di manakah dia.
“Bu? Alya pulang,Bu. Ibu di mana?”
Lalu saat ku cari ke gudang,aku masih belum menemukan keberadaan ibuku. Di manakah dia? Seingatku ibu tidak memberi tahuku jika akan pergi tadi. Sampai ku putuskan untuk berhenti melangkah,yang kini ku sadari jika ada secarik kertas yang tersimpan di atas meja makan. Aku mendekat,keningku berkerut. Tak biasanya ibu pergi tanpa berpamitan dan lagi? Ibu meninggalkan kertas berisi tulisan tanganya kala itu.
Ibu pamit.
Tidak untuk pergi ke saudarnya ataupun orang terdekatnya. Sore itu,dengan secarik kertas yang aku remas,aku menjatuhkan diri di lantai dengan pandangan kosong. Kali kedua aku di tinggalkan,dan ini yang paling menyakitkan dari semua kehilangan yang telag aku rasakan.
Lalu,hujan kali ini tepat di sore hari kembali membawaku bernostalgia akan kehilangan di tinggal pergi seseorang yang sangat berarti di hidupku. Dan seiring betjalanya waktu,kini aku menyadari jika ibu pergi bukan tanpa alasan. Dia tidak bahagia hidup dalam kesengsaraan dengan menghidupi satuborang anak. Ibu kesusahan,tapi dia tak pernah sekalipun mengungkap kan. Hanya memilih diam dan pergi dengan memberiku pelajaran bahwa seseorang akan terasa begitu berharga saat dia berada jauh dari kita. Kini,aku menyadari jika hanya dengan ibu di sisiku saja itu sudah lebih dari cukup,daripada hidup dalan kesendirian yang setiap harinya terasa asing untuk di jalani.
Dan terkadang kita selalu menyalahkan takdir yang membuat banyak orang di hidup kita petgi. Tanpa tahu di balik itu,semesta tengah menguji seberapa dewasa kita menghadapi sebuah kehilangan. Dan di sana dapat kitabnilau seberapa kuatnya kamy dalam mengatasi kehilangan.
Bionarasi Penulis
Nama saya Farel Eka Giantara. Saat ini saya merupakan mahasiswa PGSD kelas A1 dengan semangat untuk terus belajar dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Saya memiliki ketertarikan besar pada dunia pendidikan karena bercita-cita menjadi seorang guru sekolah dasar yang dapat memberikan manfaat bagi banyak anak di masa depan. Bagi saya, menjadi pendidik bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang membimbing, memberi motivasi, dan menjadi contoh yang baik.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saya dikenal sebagai pribadi yang sabar dan berusaha bertanggung jawab terhadap apa yang saya kerjakan. Saya juga memiliki keinginan untuk menjadi orang yang sukses melalui usaha dan kerja keras sendiri. Selain fokus menjalani perkuliahan, saya senang mencoba hal-hal baru, belajar dari pengalaman, serta terus memperbaiki diri agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Di tengah kesibukan kuliah, saya tetap berusaha menjaga semangat dan konsisten dalam mengejar tujuan hidup. Saya percaya bahwa proses yang dijalani hari ini akan menjadi langkah penting untuk mencapai masa depan yang saya impikan. Dan saya punya moto hidup dari seorang musisi bernama baskara putra atau bisa dikenal dengan hindia dia berkata ”sehari lagi aja coba bertahan sehari lagi ga kerasa lama kelamaan 1 bulan 1 tahun dan carilah cinta yang membuatmu ingin hidup setiap harinya”












Tinggalkan Balasan