
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Asri Nuraeni
Hari-Hari dengan Seragam Merah Putih
Pagi di desa kecil itu selalu datang bersama udara dingin dan aroma tanah basah. Kabut tipis masih menggantung di antara perkebunan ketika Sera berdiri di depan cermin kecil kamarnya sambil merapikan pita merah di rambutnya. Dari luar kamar, suara ayam berkokok terdengar saling bersahutan, bercampur dengan suara televisi kecil dari ruang tengah dan bunyi panci dari dapur. Rumah sederhana itu tidak pernah benar-benar sepi, selalu ada suara sandal diseret, suara kakaknya yang ribut sejak pagi, atau aroma masakan ibunya yang memenuhi rumah. Hangat dengan caranya sendiri.
โAdekkkk! Bangun! Nanti telat!โ teriak kakak laki-lakinya dari luar kamar.
โIyaaa!โ jawab Sera dengan suara setengah mengantuk.
Bukannya langsung bangun, ia malah kembali menjatuhkan tubuh ke kasur.
Bruk.
Lima detik kemudianโ
โDEKKKK!โ
โIH IYA KAN UDAH JAWAB!โ
Suara tawa langsung terdengar dari ruang tengah, Sera adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ia memiliki dua kakak perempuan, sementara kakak laki-lakinya paling suka menggodanya setiap pagi. Kakak perempuan keduanya hanya berbeda tiga tahun darinya, sehingga mereka sangat dekat walaupun sering bertengkar hal kecil.
โHeh, anak paling bawel udah siap sekolah belum?โ goda kakaknya ketika Sera akhirnya keluar kamar dengan rambut masih sedikit berantakan.
Sera langsung manyun.
โDaripada Kakak, udah gede masih rebutan remot!โ
โYa habis kamu nyebelin.โ
Ibunya terkekeh kecil sambil menaruh nasi goreng hangat ke atas piring.
โUdah, jangan berantem pagi-pagi. Sini sarapan dulu.โ
Sera duduk di lantai sambil mulai makan cepat-cepat. Ayahnya baru keluar kamar sambil memakai jaket favoritnya.
โNanti dianter nggak, Yah?โ tanya Sera penuh harap.
Ayahnya pura-pura berpikir.
โHmโฆ tergantung.โ
โTergantung apa?โ
โTergantung anak ayah hari ini nggak ngambek.โ
โAku kan nggak pernah ngambek!โ
Semua langsung tertawa, meski rumah mereka sederhana, Sera selalu merasa cukup. Ayah dan ibunya mungkin tidak bisa memberi barang-barang mewah, tapi mereka selalu membuat rumah terasa nyaman untuk pulang.
Hari itu ayahnya mengantar Sera menggunakan sepeda motor tua mereka. Jalanan desa masih sepi. Mereka melewati perkebunan, sawah hijau, dan sungai kecil yang airnya mengalir jernih. Sera memeluk pinggang ayahnya sambil menikmati angin pagi.
โYah.โ
โHm?โ
โNanti kalau Sera udah gede, pengen tetap tinggal di desa.โ
โKenapa?โ
โKarena di sini enak.โ
Ayahnya tersenyum kecil.
โKalau itu bikin Sera bahagia, ayah dukung.โ
Sera tersenyum senang.
Sesampainya di sekolah, suasana sudah ramai, anak-anak berlarian di halaman, beberapa sibuk membeli jajanan, sementara yang lain bercanda di depan kelas. Hampir semua orang mengenalnya, bukan karena ia pintar sekali atau selalu juara kelas, melainkan karena tingkahnya yang selalu ada saja. Kadang terlalu banyak bicara saat pelajaran. Kadang tertawa paling keras di kelas. Kadang malah sibuk menggambar di buku tulis ketika guru sedang menerangkan. Namun anehnya, guru-guru tetap menyayanginya.
โSelamat pagi, Bu!โ seru Sera ketika masuk kelas.
โPagi, Sera. Tumben nggak telat.โ
โIya dong, aku kan anak rajin.โ
Seketika teman-temannya langsung bersorak.
โBOHONG!โ
Kelas pun dipenuhi tawa, hari-hari Sera di sekolah selalu terasa menyenangkan. Saat istirahat, ia bisa bermain dengan siapa saja. Hari ini bermain lompat tali., besok bermain petak umpet, lusa bermain karet di halaman belakang sekolah. Sera memiliki banyak teman, namun ia tidak memiliki teman dekat. Tidak ada seseorang yang selalu duduk di sampingnya setiap hari, tidak ada yang selalu mencarinya lebih dulu ketika pembagian kelompok. Sera akrab dengan semua orang, tapi tidak benar-benar dekat dengan siapa pun. Awalnya hal itu tidak terlalu mengganggunya, baginya selama masih bisa tertawa dan pulang ke rumah dengan cerita menyenangkan, semuanya baik-baik saja.
Meski Sera sering bermain dengan banyak teman di sekolah, kebiasaannya sepulang sekolah tetap sama. Menunggu kakak perempuannya, kakak keduanya bersekolah di SMP yang letaknya tidak terlalu jauh dari SD Sera. Karena itu, mereka sering pulang bersama, kadang Sera duduk di depan gerbang sekolah sambil memainkan ujung pita merahnya, kadang ia membeli cilok seribuan sambil menunggu.
โBelum pulang, Ser?โ tanya salah satu temannya.
โBelum, nunggu Kakak.โ
โNggak bosan?โ
Sera menggeleng kecil.
โEnggak. Malah seru.โ
Tak lama kemudian, kakaknya datang sambil membawa tas besar di pundaknya.
โDekkk!โ
โNah tuh kakakku.โ
Kakaknya menghampiri sambil mengusap kepala Sera asal.
โNunggu lama?โ
โLumayan.โ
โNgambek?โ
โDikit.โ
Kakaknya terkekeh kecil.
โYaudah nanti dibeliin es.โ
โJANJI?โ
โIya cerewet.โ
Akhirnya mereka berjalan pulang bersama melewati jalan kecil di tengah Perkebunan, kadang mereka saling mengejek, kadang berebut jajanan, kadang malah lomba siapa yang sampai rumah duluan. Walaupun sering berantem kecil, Sera suka momen-momen itu. Karena baginya, perjalanan pulang tidak pernah terasa sepi.
Suatu hari, Bu Rani masuk ke kelas sambil membawa beberapa kertas warna-warni.
โNanti minggu depan kita akan mengadakan pentas seni antar kelas.โ
Anak-anak langsung heboh.
โAku mau nyanyi!โ
โKita bikin drama aja!โ
โAku mau jadi pemeran utama!โ
Bu Rani tersenyum melihat kelas yang mendadak ribut.
โSekarang bentuk kelompok sendiri. Minimal lima orang.โ
Semua anak langsung berpindah tempat, mereka sibuk memilih teman kelompok masing-masing. Sera ikut berdiri sambil tersenyum kecil, namun beberapa menit berlaluโฆ Ia mulai sadar. Semua orang sudah punya kelompok, semua orang terlihat punya tempatnya masing-masing, sedangkan dirinya masih berdiri sendiri di tengah kelas. Ia mencoba mendekati beberapa temannya.
โKalian kurang anggota nggak?โ
โOhโฆ kayaknya udah cukup deh.โ
โMaaf ya, Ser.โ
Sera tersenyum kecil, sembari menjawab
โIya, nggak apa-apa kok.โ
Ia mencoba lagi ke kelompok lain, namun jawabannya tetap sama. Untuk pertama kalinya, keramaian kelas terasa membuatnya asing, Bu Rani yang menyadari hal itu langsung menghampiri.
โSera belum dapat kelompok?โ
Sera buru-buru menggeleng kecil.
โBelum, Buโฆ tapi nggak apa-apa.โ
Akhirnya Bu Rani memasukkan Sera ke salah satu kelompok yang masih kurang anggota, namun selama latihan drama, Sera merasa seperti orang asing.
โAdegan ini buat aku aja ya.โ
โSera pegang properti aja.โ
โNanti jangan salah ngomong ya.โ
Kalimat-kalimat kecil itu terdengar biasa saja, tapi entah kenapa membuat dada Sera terasa tidak nyaman, padahal biasanya ia selalu ceria namun sekarang, ia merasa tidak benar-benar dibutuhkan.
Hari itu hujan turun cukup deras saat jam pulang sekolah, anak-anak sibuk menunggu jemputan di depan kelas, sebagian sudah pulang membawa payung warna-warni. Sera duduk sendiri di dekat jendela sambil melihat hujan, ia sebenarnya ingin cepat pulang, tetapi tiba-tiba seseorang menghampirinya.
โSer.โ
Sera menoleh, itu Mila.
โKamu belum pulang?โ
โBelum. Nunggu hujan reda.โ
Mila duduk di sebelahnya, beberapa detik mereka diam mendengarkan suara hujan, lalu Mila berbicara pelan.
โMaaf ya.โ
Sera bingung.
โHah?โ
โSoal kelompok drama.โ
โOhโฆโ
โAku sebenarnya mau ngajak kamu dari awal. Tapi anak-anak lain udah duluan bikin kelompok.โ
Sera tersenyum tipis,
โNggak apa-apa kok.โ
โTapi kamu keliatan sedih.โ
Sera menatap hujan di luar,
โAku cuma bingung aja.โ
โBingung apa?โ
Sera diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan,
โAku punya banyak temanโฆ tapi kadang rasanya nggak punya siapa-siapa.โ
Hujan masih terdengar jatuh di atap sekolah, Mila menatap Sera cukup lama.
โAku kira kamu selalu bahagia,โ katanya pelan.
โAku juga manusia kali,โ jawab Sera sambil tertawa kecil.
Mila ikut tertawa, untuk pertama kalinya hari itu, hati Sera terasa sedikit lebih ringan. Tak lama kemudian, kakak Sera datang sambil sedikit basah karena hujan.
โSera! Maaf lama!โ
Sera langsung berdiri.
โGapapa.โ
Kakaknya melihat Mila lalu tersenyum ramah.
โAyo pulang. Nanti keburu makin deres.โ
Di bawah payung kecil, Sera berjalan bersama kakaknya melewati jalan perkebunan yang basah. Sepanjang jalan, kakaknya terus bercerita tentang sekolahnya hingga membuat Sera perlahan melupakan rasa sedihnya.
Sesampainya di rumah, ibunya langsung sadar ada yang berbeda.
โKok muka anak ibu asem begitu?โ
Sera mencoba tersenyum,
โNggak apa-apa bu.โ
โSini cerita.โ
Sera duduk di dekat ibunya di dapur, aroma sayur bening memenuhi ruangan kecil itu. Awalnya ia diam cukup lama, namun akhirnya semua cerita keluar begitu saja. Tentang kelompok drama, tentang rasa asing, tentang perasaan tidak punya tempat. Ibunya mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Setelah Sera selesai bicara, ibunya mengusap kepala anak bungsunya itu perlahan.
โDek.โ
โHm?โ
โKamu tahu nggak kenapa banyak orang suka sama kamu?โ
โKarena aku lucu?โ
Ibunya tertawa kecil.
โKarena hati kamu hangat.โ
Sera diam mendengarkan.
โOrang yang mudah membuat orang lain nyaman biasanya sering terlihat kuat. Padahal sebenarnya mereka juga bisa kesepian.โ
Mata Sera mulai berkaca-kaca.
โTapi ingat satu hal.โ
โApa?โ
โNggak semua orang yang belum menemukan teman dekat berarti sendirian.โ
Sera menunduk pelan.
โDan rumah ini,โ lanjut ibunya sambil tersenyum lembut, โakan selalu jadi tempat kamu pulang.โ
Air mata Sera akhirnya jatuh juga, namun bukan karena sedih sepenuhnya, ada rasa hangat yang memenuhi dadanya.
Hari pentas seni akhirnya tiba, sekolah ramai sekali hari itu. Banyak balon warna-warni dipasang di halaman sekolah. Anak-anak memakai kostum lucu dan wajah mereka dipenuhi semangat, kelompok drama kelas Sera tampil cukup baik. Walaupun awalnya gugup, Sera berhasil membawakan perannya dengan bagus hingga banyak penonton tertawa. Bahkan setelah pertunjukan selesai, beberapa teman memujinya.
โSer, tadi kamu lucu banget!โ
โIya sumpah cocok jadi pemeran utama.โ
Wajah Sera langsung cerah lagi. Saat sedang membereskan properti drama, Mila tiba-tiba menghampirinya sambil membawa dua es lilin.
โNih.โ
โBuat aku?โ
โIya.โ
Sera menerima es itu sambil tersenyum bingung, Mila duduk di sebelahnya.
โSer.โ
โHm?โ
โMulai sekarang pulang bareng yuk.โ
Sera menoleh,
โKenapa emangnya?โ
โKarena kayaknya seru.โ
Sera tertawa kecil.
โBoleh.โ
Sore itu langit desa terlihat jingga, Sera berjalan pulang bersama Mila melewati jalan kecil di tengah perkebunan. Angin sore meniup lembut rok merah putih mereka.
โSer.โ
โHm?โ
โNanti kalau udah gede jangan sombong ya.โ
โYaelah emang aku bakal jadi apa?โ
โSiapa tahu jadi orang terkenal.โ
Sera tertawa keras.
โKalau aku terkenal, kamu jadi asistennya aja.โ
โOgah.โ
Kakaknya tertawa melihat mereka tertawa bersama, di kejauhan rumah kecil Sera mulai terlihat, dan seperti biasanya, rumah itu selalu terasa hangat. Tempat di mana suara tawa tidak pernah benar-benar hilang, tempat di mana seorang anak perempuan bernama Sera tumbuh menjadi anak ceria. Di antara jalan perkebunan, suara hujan, tawa di kelas, dan hari-hari sederhana berseragam merah putihโฆ Sera akhirnya mengerti satu hal, bahwa tidak semua rasa sepi berarti tidak dicintai. Karena terkadang, kebahagiaan sederhana sudah cukup ditemukan dalam rumah kecil yang hangat, keluarga yang selalu mendukung, dan seseorang yang berkataโ
โPulang bareng, yuk.โ
Biografi Penulis
Asri Nuraeni merupakan mahasiswi Program Studi PGSD di IKIP Siliwangi. Cerpen Hari- Hari dengan Seragam Merah Putih terinspirasi dari pengalaman dan kenangan masa kecil penulis yang tumbuh di lingkungan pedesaan dengan suasana keluarga yang hangat dan penuh dukungan. Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dapat ditemukan dalam rumah sederhana, perjalanan pulang sekolah, suara tawa keluarga, serta hari-hari kecil yang dilewati dengan seragam merah putih. Bagi penulis, cerita bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga tempat menyimpan kenangan agar tetap hidup dan dapat dikenang kembali di kemudian hari.













Tinggalkan Balasan