Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Suara yang Akhirnya Berani

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Agnia Sri Rahayu

Namanya Ayu, saat itu Ayu duduk di kelas 4 SD. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam dan jarang berbicara di kelas. Setiap pagi, Ayu selalu berangkat sekolah sendiri karena ayah dan ibunya sama-sama bekerja. Ayah dan ibu Ayu berangkat kerja sejak pagi, karena itu, Ayu sudah terbiasa menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri lalu berjalan kaki menuju sekolah. Walaupun pergi sendiri, sebenarnya Ayu tidak pernah merasa sedih karena ia tahu ayah dan ibunya bekerja keras untuk keluarga.

Namun, beberapa teman mulai mengejek Ayu karena tidak pernah diantar ke sekolah. Mereka sering tertawa saat melihat Ayu datang sendirian ke kelas. Bahkan ada yang sengaja berkata keras agar didengar teman-teman lain. Ayu hanya diam lalu duduk di bangku paling belakang sambil berpura-pura tidak mendengar. Semakin lama, ejekan itu berubah menjadi tindakan yang membuat Ayu semakin takut pergi ke sekolah setiap hari.

Suatu pagi, saat Ayu masuk ke kelas, tasnya tidak ada di kursi. Ayu langsung panik mencari ke bawah meja dan sudut kelas. Beberapa anak terlihat menahan tawa sambil memperhatikan Ayu yang kebingungan. Ayu terus mencari sampai akhirnya melihat tasnya berada di dekat tong sampah belakang kelas. Tas itu memang tidak rusak, tetapi Ayu merasa sangat malu karena semua teman melihat kejadian itu sambil tertawa.

โ€œItu tempat tas Ayu!โ€ kata salah satu anak sambil tertawa keras. Ayu segera mengambil tasnya sambil menahan malu. Ia tidak berani marah dan hanya membersihkan tasnya pelan-pelan. Setelah itu, Ayu kembali duduk sambil menundukkan kepala karena merasa sedih dan malu. Sejak kejadian itu, Ayu mulai merasa takut masuk ke kelas karena khawatir akan diejek lagi oleh teman-temannya.

Beberapa hari kemudian, saat jam olahraga, Ayu meninggalkan kelas sebentar untuk membeli minum. Ketika kembali, kotak pensilnya hilang. Ayu mencarinya ke mana-mana hingga akhirnya menemukan pensil dan penghapusnya di toilet belakang sekolah dalam keadaan basah. Beberapa anak tertawa melihat wajah Ayu yang hampir menangis. Ayu hanya diam sambil mengambil pensilnya satu per satu lalu membersihkannya pelan-pelan di dekat keran air.

Kejadian lain juga pernah terjadi saat hujan turun deras pada jam istirahat. Halaman sekolah menjadi becek dan penuh lumpur. Saat bel masuk berbunyi, semua murid berlari menuju kelas. Ayu berjalan pelan sambil membawa buku di dada agar tidak terkena air hujan. Tiba-tiba ada yang mendorongnya dari belakang hingga lumpur mengenai rok dan kaus kakinya. Teman-teman langsung tertawa melihat seragam Ayu yang kotor terkena lumpur.

โ€œEh, bajunya kotor!โ€ kata mereka sambil tertawa keras. Wajah Ayu langsung memerah karena malu. Ia cepat-cepat masuk ke kelas sambil menundukkan kepala agar tidak dilihat teman-temannya. Sejak saat itu Ayu menjadi semakin pendiam. Saat istirahat, ia lebih sering duduk sendiri di dekat perpustakaan kecil sekolah sambil melihat buku gambar dan menghindari teman-temannya.

Menjelang naik ke kelas 5, Ayu semakin sering merasa sedih di sekolah. Tidak hanya karena perlakuan teman-temannya, tetapi Ayu juga merasa kurang diperhatikan oleh wali kelasnya saat itu. Suatu hari murid-murid diminta mengumpulkan tugas ke depan kelas. Ayu sebenarnya sudah selesai lebih dulu dan berdiri paling depan. Namun saat Ayu ingin menyerahkan tugasnya, bu guru malah menyuruh Ayu menunggu di belakang.

Teman-teman lain yang awalnya berada di belakang Ayu justru dipanggil lebih dulu dan tugas mereka langsung dinilai. Saat Ayu kembali maju, ia malah kembali diminta pindah ke belakang barisan. Ayu merasa sedih dan bingung. Ia merasa seperti usahanya tidak terlihat walaupun sudah berusaha mengerjakan tugas dengan baik.

Saat pembagian rapor, Ayu juga merasa kecewa. Di depan ibunya, bu guru pernah bertanya, โ€œAyu sering tidak mengerjakan tugas ya, Bu?โ€ Padahal Ayu selalu berusaha mengerjakan tugas sekolah dengan baik. Bahkan beberapa hasil tugas Ayu dipajang di lemari dan jendela kelas.

Mendengar hal itu, ibu Ayu terlihat bingung lalu bertanya pelan, โ€œBukannya itu tugas Ayu yang dipajang di sana, Bu?โ€ Ayu juga ikut menjawab pelan bahwa tugas itu memang hasil pekerjaannya sendiri. Namun bu guru justru mengelak dan berbicara dengan nada marah kepada ibu Ayu.

Ayu hanya diam sambil menundukkan kepala. Saat itu hatinya terasa sangat sedih karena merasa usahanya tidak dipercaya walaupun ia sudah berusaha belajar dan mengerjakan tugas dengan baik.

Ketika ujian berlangsung, Ayu selalu berusaha belajar dan mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh. Setelah lembar jawabannya dibagikan, Ayu melihat banyak jawabannya diberi tanda benar dan hanya beberapa yang salah. Namun Ayu terkejut saat melihat nilainya. Hampir semua pelajaran mendapatkan nilai yang sama, yaitu 70. Ayu hanya diam sambil melihat kertas ujiannya. Ia merasa bingung karena sudah berusaha belajar dengan baik.

Semua kejadian itu membuat Ayu semakin takut berbicara di depan kelas. Setiap kali guru bertanya, ia memilih diam walaupun sebenarnya tahu jawabannya. Ia takut salah bicara dan ditertawakan lagi. Lama-kelamaan Ayu merasa bahwa suaranya tidak penting untuk didengar orang lain.

Saat naik ke kelas 5, Ayu ternyata masih sering mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari beberapa teman. Ia masih diejek dan dijadikan bahan tertawaan di kelas. Hal itu membuat Ayu sempat takut untuk kembali percaya diri. Namun, Ayu merasa bersyukur karena di kelas 5 ia bertemu dengan guru yang baik dan sabar, yaitu Bu Sari.

Bu Sari sering memberi semangat kepada Ayu dan memperlakukan semua murid dengan baik. Suatu hari, Bu Sari menghampiri Ayu yang sedang duduk sendiri saat jam istirahat. Bu Sari duduk di samping Ayu sambil tersenyum lembut dan mencoba mengajak Ayu berbicara perlahan. Awalnya Ayu hanya diam karena merasa malu, tetapi Bu Sari tetap berbicara dengan lembut tanpa memaksa Ayu menjawab.

โ€œAyu, kok sendiri terus?โ€ tanya Bu Sari lembut. Ayu hanya menggeleng kecil karena bingung harus menjawab apa. Bu Sari lalu melihat buku gambar yang sedang dipegang Ayu dan memuji gambar buatan Ayu. Untuk pertama kalinya, Ayu merasa ada seseorang yang memperhatikannya dengan baik.

Beberapa hari kemudian, saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Sari meminta murid-murid membaca cerita di depan kelas secara bergantian. Saat nama Ayu dipanggil, jantungnya langsung berdebar cepat. Ayu berjalan pelan menuju depan kelas sambil membawa buku dengan tangan yang terasa dingin dan gemetar. Semua mata langsung melihat ke arah Ayu sehingga ia semakin gugup.

Saat mulai membaca, suaranya sangat kecil dan terbata-bata. Beberapa teman langsung tertawa dan mengejek Ayu karena suaranya terlalu pelan. Ayu langsung menunduk karena malu dan hampir kembali ke tempat duduknya. Namun tiba-tiba Bu Sari meminta semua murid diam dan tidak menertawakan teman sendiri.

โ€œAyu, coba lagi pelan-pelan. Ibu yakin kamu bisa,โ€ kata Bu Sari sambil tersenyum. Ayu menarik napas panjang lalu mencoba membaca kembali. Walaupun masih gugup, akhirnya Ayu berhasil menyelesaikan bacaannya sampai akhir. Bu Sari kemudian memberikan tepuk tangan kecil untuk Ayu dan meminta teman-teman lain ikut menghargai keberanian Ayu.

Sejak hari itu, Bu Sari sering membantu Ayu agar lebih berani berbicara. Kadang sepulang sekolah, Bu Sari melatih Ayu membaca cerita pendek di depan beliau. Sedikit demi sedikit Ayu mulai berubah dan merasa lebih percaya diri. Ia mulai berani menjawab pertanyaan guru walaupun suaranya masih pelan.

Suatu hari sekolah mengadakan acara Hari Kartini. Setiap kelas harus menampilkan sesuatu di depan murid lain dan para guru. Bu Sari menunjuk Ayu untuk membaca puisi di depan aula sekolah. Awalnya Ayu merasa takut dan ingin menolak, tetapi Bu Sari terus memberi semangat dan mengatakan bahwa Ayu pasti bisa jika mau mencoba.

Hari penampilan pun tiba. Aula sekolah sangat ramai oleh murid dan guru. Tangan Ayu terasa dingin saat namanya dipanggil untuk maju ke depan. Kakinya gemetar dan ia hampir ingin kembali ke tempat duduk. Namun Ayu melihat Bu Sari tersenyum sambil memberi semangat dari kejauhan. Ayu akhirnya menarik napas panjang lalu mulai membaca puisi di depan semua orang.

Awalnya suaranya masih kecil, tetapi lama-kelamaan Ayu mulai lebih percaya diri. Ayu mengingat semua latihan bersama Bu Sari dan mencoba membaca dengan lebih jelas sampai puisi itu selesai. Saat Ayu selesai membaca, seluruh aula langsung bertepuk tangan. Ayu terdiam beberapa detik karena tidak percaya. Tidak ada yang menertawakannya. Wajah Ayu perlahan tersenyum bahagia karena untuk pertama kalinya ia merasa berani berbicara di depan banyak orang.

Setelah acara selesai, Bu Sari menghampiri Ayu sambil tersenyum bangga. Hari itu Ayu belajar bahwa satu orang yang baik bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat dan lebih berani. Sejak saat itu, Ayu mulai percaya bahwa dirinya juga bisa seperti anak-anak lain yang berani berbicara di depan kelas.

Bionarasi Penulis

Hallo nama saya Agnia Sri Rahayu Mahasiswi aktif di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) IKIP SILIWANGI. Saya memiliki minat dalam bidang ilmu pendidikan khususnya pendidikan dasar. Saya senang mempelajari dunia anak-anak dan saya memilih program studi PGSD bukan tanpa alasan, saya memiliki cita-cita untuk menjadi guru yang dapat membantu dan menginspirasi siswa. Cerpenโ€Suara Yang Akhirnya Berani โ€œterinspirasi dari pengalaman pribadi saya pada masa sekolah dasar, namun beberapa nama dan bagian tertentu telah disamarkan. Melalui cerita ini saya berharap dapat menyampaikan pesan tentang sebegitu pentingnya dukungan, semangat dan rasa percaya diri bagi anak-anak di lingkungan sekolah.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

13 tanggapan untuk “Suara yang Akhirnya Berani”

  1. Avatar Rivaldi Saputa_A1 2023
    Rivaldi Saputa_A1 2023

    Cerpen yang bagus, menyuarakan isu krusial mengenai proses penaklukan rasa takut dan pentingnya keberanian bagi seorang anak untuk mengekspresikan diri atau melawan penindasan di lingkungan sekolah. Namun dari aspek struktur naratif, cerita ini terasa terlalu terburu-buru dalam melakukan lompatan dramatis menuju resolusi, di mana perubahan karakter dari sosok yang tertekan menjadi berani terjadi secara instan tanpa proses transisi psikologis yang gradual.

  2. Avatar Eni Anjani
    Eni Anjani

    Cerita ini menghadirkan pesan yang sangat baik tentang pentingnya keberanian untuk mengungkap kebenaran. Alur cerita disusun dengan logis agar pembaca dapat memahami perjalanan tokoh dalam mengatasi rasa takutnya. Nilai keberanian, kejujuran, dan kepedulian yang ditampilkan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah. Akan lebih menarik bila penulis memberikan sedikit penjelasan tentang perubahan sikap tokoh yang berani berbicara. Terima kasih atas karya yang memberikan motivasi bagi pembaca untuk lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat.

  3. Avatar Nurfadilla Annisa Pratiwi
    Nurfadilla Annisa Pratiwi

    Menurut aku, cerita ini sangat menyentuh karena mengangkat pengalaman tentang bullying dan pentingnya peran seorang guru dalam mendukung siswanya. Alur ceritanya juga mengalir dengan baik, jadi aku ikut merasakan apa yang dialami Ayu dari awal sampai akhir. Bagian yang paling berkesan buat aku adalah saat Bu Sari memberikan semangat kepada Ayu sampai akhirnya ia berani tampil membaca puisi di depan banyak orang. Cerita ini mengajarkan bahwa perhatian dan dukungan kecil dari seorang guru bisa memberikan perubahan yang besar bagi rasa percaya diri seorang anak. Menurutku akan lebih menarik lagi kalau beberapa dialog antar tokohnya diperbanyak supaya emosi dalam ceritanya terasa lebih hidup. Semoga penulis terus semangat berkarya karena cerita seperti ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap teman dan menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman bagi setiap anak.

  4. Avatar Viona Seftarania Putri F
    Viona Seftarania Putri F

    Tema yang diangkat dalam cerpen ini cukup menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penulis berhasil menyampaikan pesan cerita dengan cara yang tidak menggurui pembaca. Karakter tokohnya juga digambarkan dengan cukup jelas sehingga mudah dipahami wataknya. Namun, mungkin akan lebih kuat lagi apabila konflik dalam cerita dikembangkan sedikit lebih dalam. Terlepas dari itu, tulisan ini sudah sangat layak untuk diapresiasi.

    1. Avatar farel eka giantara
      farel eka giantara

      Cerita ini berhasil menyoroti pentingnya keberanian untuk bersikap jujur dengan cara yang logis dan mudah dipahami. Nilai-nilai moral di dalamnya sangat relevan bagi siswa. Meskipun saya berharap ada penjelasan lebih mendalam soal transisi sikap tokoh, secara keseluruhan karya ini sukses menjadi pengingat yang baik bagi kita semua untuk berani mengutarakan pendapat. Terima kasih banyak atas karyanya

  5. Avatar Yasyfa Shofiyatur Ro'wah
    Yasyfa Shofiyatur Ro’wah

    Cerita ini memberikan motivasi agar setiap orang berani menyampaikan pendapat dengan percaya diri. Nilai keberanian dan saling menghargai tergambar dengan sangat baik dalam cerita. Alur yang disusun juga membuat pembaca ikut merasakan perjalanan tokoh utama. Saya sangat menikmati pesan positif yang disampaikan melalui tulisan ini. Terima kasih atas karya yang inspiratif dan penuh makna.

  6. Avatar Aysha Dinda A
    Aysha Dinda A

    Cerita nya sangat menyentuh dan membuat saya ikut merasakan apa yang dialami Ayu. Pesan tentang pentingnya menghentikan perundungan dan saling menghargai teman tersampaikan dengan baik. Saya juga suka dengan tokoh Bu Sari yang menunjukkan bahwa perhatian seorang guru bisa mengubah rasa percaya diri seorang anak. Semoga cerita seperti ini semakin banyak dibaca agar kita lebih peduli terhadap teman di sekitar. Terima kasih kepada penulis atas cerita yang inspiratif.

  7. Avatar
    Anonim

    Menurut saya cerita ini berhasil mengangkat isu bullying yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah sehingga terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cara penulis menyampaikan emosi tokoh Ayu juga membuat cerita terasa lebih hidup dan mudah dipahami pembaca.

  8. Avatar Nida Triwidya
    Nida Triwidya

    Cerita yang memberikan pesan yang sangat baik tentang pentingnya keberanian dalam menyampaikan pendapat. Menurut saya, pesan ini juga relevan dengan pembelajaran berbasis IT karena media digital dapat menjadi sarana bagi peserta didik untuk lebih percaya diri dalam berdiskusi dan menyampaikan ide. Tulisan ini menginspirasi pembaca bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk belajar, tetapi juga untuk membangun komunikasi yang positif. Terima kasih atas karya yang inspiratif, semoga terus menghasilkan tulisan yang bermanfaat dan memotivasi banyak orang.

  9. Avatar Siti Faridah
    Siti Faridah

    Cerita ini berhasil menunjukkan bahwa keberanian untuk menyampaikan pendapat tidak datang begitu saja, tetapi membutuhkan proses dan dukungan dari orang-orang di sekitar. Alurnya mengalir dengan baik sehingga membuat pembaca ingin terus mengikuti perkembangan tokoh utama. Menurut saya, akan lebih menarik jika beberapa bagian diberi sedikit lebih banyak konflik atau tantangan agar perubahan tokohnya terasa semakin kuat. Dialog antartokohnya juga bisa dibuat lebih berkesan supaya emosi dalam cerita lebih sampai kepada pembaca. Secara keseluruhan, cerpen ini menyampaikan pesan yang positif bahwa setiap orang memiliki suara yang layak didengar asalkan berani untuk menyampaikannya.

  10. Avatar Ai Melda Sabila Rizki
    Ai Melda Sabila Rizki

    Tulisan ini memiliki pesan yang baik tentang pentingnya empati, kepedulian, dan dukungan terhadap anak yang mengalami perundungan. Tokoh Ayu digambarkan dengan kuat sehingga pembaca dapat memahami perasaan dan perjuangannya. Kehadiran Bu Sari menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan diri peserta didik. Cerita ini mengajarkan bahwa setiap anak perlu dihargai dan didukung agar mampu berkembang. Menurut saya, tulisan ini sudah menyampaikan nilai karakter yang baik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

  11. Avatar Nadhira Aprilia Dafita Zahrah
    Nadhira Aprilia Dafita Zahrah

    Alurnya mengalir dengan baik, bahasanya mudah dipahami, dan emosi yang dibangun terasa sampai kepada pembaca. Pesan yang disampaikan juga sangat bermakna, yaitu bahwa setiap orang berhak didengar dan tidak perlu takut untuk berbicara demi kebaikan. Semoga penulis terus berkarya dan menghadirkan cerita-cerita inspiratif seperti ini.

  12. Avatar Siti Alifa Wulandari
    Siti Alifa Wulandari

    Cerpen ini menyampaikan pergulatan batin tokohnya dengan cara yang tenang, tetapi mampu meninggalkan kesan yang kuat. Keberanian untuk akhirnya menyuarakan apa yang selama ini dipendam terasa begitu manusiawi dan mudah dipahami pembaca. Alur yang sederhana justru membuat emosi cerita semakin mengena. Semoga penulis terus menghadirkan karya-karya yang jujur dan menyentuh seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *