
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Refi Murfianto
Bahasa sejatinya diperoleh melalui dua cara, yaitu pembelajaran dan pemerolehan. Pembelajaran merupakan proses memperoleh dan mempelajari bahasa melalui pembelajaran secara formal ataupun secara sengaja dengan niat untuk belajar. Sementara itu, pemerolehan merupakan proses mempelajari bahasa melalui pergaulan dan kehidupan sehari-hari, yang berbeda dengan pembelajaran formal.
Pembelajarn Bahasa tidak dibatasi hanya secara formal dalam pembelajaran bahasa saja, akan tetapi juga bisa melalui interaksi dengan lingkungan sosial, kebiasaan ataupun pengelaman sehari-hari. Sadar ataupun tidak pembelajaran melalui pemerolehan seringkali lebih cepat ketimbang pembelajaran, hal tersebut karena lebih nyata dan lebih berulang ketimbang pembelajaran formal.
Pada dasarnya, belajar berbahasa tidak cukup hanya dengan mempelajari kaidah-kaidah kebahasaan, tetapi juga memerlukan pengalaman nyata agar seseorang dapat lebih mudah memahami dan menggunakan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Dalam konteks berorganisasi, bahasa digunakan secara fungsional untuk menyampaikan gagasan, berdiskusi, membangun kesepakatan, dan menyelesaikan berbagai persoalan. Hal ini bukan berarti bahwa penggunaan bahasa secara fungsional lebih penting daripada mempelajari kaidah kebahasaan, melainkan keduanya saling melengkapi.
Pembelajaran kaidah kebahasaan memberikan landasan teoretis, sedangkan pengalaman nyata memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam berbagai situasi komunikasi. Dengan demikian, pembelajaran bahasa yang dipadukan dengan pengalaman nyata akan lebih bermakna dalam membentuk dan mengembangkan kemampuan berbahasa seseorang dibandingkan dengan pembelajaran yang hanya berfokus pada aspek teoretis.
Organisasi merupakan lingkungan sosial yang memungkinkan seseorang mengasah dan mengembangkan kemampuan berbahasa melalui proses pemerolehan secara lebih komprehensif. Berbagai aktivitas kebahasaan berlangsung dalam proses berorganisasi, baik secara sadar maupun tidak. Bahasa digunakan untuk berdiskusi, menyampaikan gagasan, membangun kesepakatan, menyelesaikan perbedaan, dan mencapai tujuan bersama.
Penggunaan bahasa tersebut terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari forum formal organisasi hingga percakapan sehari-hari, seperti ketika berbincang santai sambil menikmati kopi bersama rekan-rekan organisasi. Dengan demikian, pemerolehan bahasa melalui kegiatan organisasi berlangsung secara alami melalui beragam bentuk interaksi, tidak terbatas pada kegiatan formal semata. Sebagai gambaran, seseorang yang aktif berorganisasi memiliki kesempatan lebih luas untuk membiasakan diri menyampaikan pendapat di hadapan orang lain dibandingkan dengan seseorang yang tidak memiliki pengalaman serupa.
Tidak sedikit pula tokoh publik yang memiliki pengalaman berorganisasi sebelum dikenal luas karena kemampuan komunikasinya. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi dapat menjadi salah satu ruang sosial yang mendukung perkembangan kemampuan berbahasa melalui praktik komunikasi yang berulang dan beragam.
Organisasi pelajar merupakan salah satu lingkungan sosial yang memungkinkan seseorang membiasakan diri dalam berbahasa secara lebih percaya diri, santun, dan bertanggung jawab. Berbagai kegiatan organisasi, seperti rapat OSIS, diskusi MPK, presentasi, kegiatan ekstrakurikuler, dan organisasi kepemudaan di lingkungan sekolah, menjadi ruang bagi pelajar untuk melatih keberanian berbicara, menyimak pendapat orang lain, memilih kata yang tepat, serta menyampaikan gagasan dengan baik.
Melalui berbagai aktivitas tersebut, pelajar tidak hanya belajar menggunakan bahasa secara formal, tetapi juga memperoleh pengalaman berbahasa melalui interaksi dan pergaulan sehari-hari. Sadar ataupun tidak, pengalaman berorganisasi dapat membentuk kebiasaan berkomunikasi yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran bahasa di dalam kelas. Pelajar belajar bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan orang lain, mempertahankan pendapat dengan alasan yang logis, serta menghargai perbedaan pandangan untuk mencapai kesepakatan bersama. Dengan demikian, organisasi pelajar bukan hanya menjadi tempat untuk mengembangkan kepemimpinan dan kerja sama, tetapi juga menjadi ruang awal dalam membangun kompetensi berbahasa yang percaya diri, santun, dan sesuai dengan konteks komunikasi.
Organisasi mahasiswa merupakan lingkungan sosial yang memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan berbahasa secara lebih kompleks, terutama dalam mengasah nalar kritis dan menyampaikan argumentasi. Berbagai aktivitas organisasi, seperti diskusi akademik, debat, advokasi, orasi, penulisan kajian, serta penyusunan pernyataan sikap di BEM, HIMA, UKM, dan organisasi ekstra kampus, menuntut mahasiswa untuk mampu menyusun gagasan secara logis, kritis, sistematis, dan persuasif.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga membiasakan diri dalam membangun argumen berdasarkan alasan yang jelas, menanggapi perbedaan pandangan, serta mempertahankan gagasan secara bertanggung jawab. Sadar ataupun tidak, pengalaman berorganisasi menjadi proses pembelajaran bahasa yang berjalan seiring dengan pembentukan pola pikir kritis.
Bahasa tidak lagi sekadar menjadi alat untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk menguji gagasan, menganalisis persoalan, memengaruhi pemikiran, dan memperjuangkan kepentingan bersama. Dengan demikian, organisasi mahasiswa menjadi ruang pemerolehan bahasa yang mempertemukan keterampilan berkomunikasi dengan kemampuan berpikir kritis, berargumentasi, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Pengalaman berorganisasi selama menempuh pendidikan memungkinkan seseorang memiliki lebih banyak pengalaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Masyarakat sejatinya merupakan organisasi besar yang memiliki dinamika lebih kompleks dibandingkan dengan organisasi di sekolah atau kampus. Namun demikian, pengalaman berorganisasi sejak masa pendidikan dapat membantu seseorang lebih terbiasa menghadapi berbagai dinamika dalam kehidupan sosial sehingga lebih siap beradaptasi ketika terlibat dalam organisasi di masyarakat.
Di lingkungan masyarakat, terdapat berbagai organisasi yang dapat ditemui, seperti organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, organisasi pendidikan, organisasi kepemudaan, organisasi sosial, dan masih banyak lagi. Dalam organisasi tersebut, bahasa digunakan dalam musyawarah, rapat kerja, negosiasi, pidato, surat-menyurat, penyusunan proposal, laporan kegiatan, hingga penyampaian aspirasi masyarakat.
Dalam konteks ini, kecakapan berbahasa membantu seseorang membangun kepercayaan, menjembatani perbedaan, memimpin komunikasi, dan menggerakkan partisipasi masyarakat. Dengan beragam pengalaman berorganisasi yang dimiliki, seseorang diharapkan lebih siap menghadapi berbagai dinamika komunikasi dan interaksi sosial di lingkungan masyarakat.
Berorganisasi sejatinya memberikan banyak peluang bagi seseorang untuk membiasakan diri menggunakan bahasa melalui berbagai aktivitas dan dinamika yang terjadi di dalamnya. Namun demikian, keikutsertaan dalam organisasi tidak serta-merta menjadikan seseorang pandai dalam berbahasa. Kemampuan berbahasa juga perlu disertai dengan kemauan dan semangat untuk terus belajar.
Ketika berada dalam organisasi, seseorang perlu memiliki semangat belajar dan keterbukaan terhadap berbagai pengalaman yang ada. Kebiasaan membaca, kemampuan menyimak, evaluasi diri, penggunaan bahasa yang tepat, serta kesadaran terhadap etika komunikasi sangat diperlukan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa.
Selain itu, keterbukaan terhadap berbagai dinamika dan pengalaman dalam organisasi juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Pembiasaan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk terus berlatih, sedangkan refleksi dan kesadaran berbahasa membantu mengolah pengalaman tersebut menjadi kompetensi berbahasa yang lebih baik.
Organisasi memiliki potensi untuk menjadi ekosistem bahasa yang berlangsung sepanjang hayat. Setiap organisasi perlu membangun budaya diskusi yang sehat, tradisi membaca yang berkelanjutan, kebiasaan menulis, membangun forum bertukar pikiran yang baik, serta mampu menghargai setiap perbedaan. Budaya diskusi memungkinkan seseorang untuk mampu berinteraksi dan membuat tradisi kebahasaan yang sederhana tetapi tetap bermakna.
Tradisi membaca mengajak seseorang senantiasa belajar dan mencari ilmu, serta melalui kebiasaan membaca membuat seseorang memiliki berbagai kosakata dan gaya bahasa beragam. Kebiasaan menulis memungkinkan seseorang untuk menyampaikan gagasan serta mendokumentasikan pemikirandan mudah untuk dibagikan.
Apa yang sudah dibiasakan tersebut kemudian dibiasakan dalam forum-forum untuk disampaikan sehingga dapat di evaluasi, diperbaiki, dan disebarkan kepada orang lain melalui forum untuk bertukar pikiran. Dan tentunya terahir organisasi perlu untuk untuk mengembangkan saling menghargai pemikiran orang lain, hal itu juga merupakan bagian dari dinamika dan kekayaan organisasi. Organisasi yang baik tidak hanya melahirkan individu yang aktif dan mampu memimpin, tetapi juga individu yang literat, kritis, santun, dan cakap berkomunikasi dalam kehidupan sosial.












Tinggalkan Balasan