
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Yulia Herliani
Apresiasi Sastra dari Tiga Siswa SMK Profita
Ada kebahagiaan tersendiri bagi seorang penulis ketika buku yang ditulisnya menemukan pembaca, terlebih ketika pembaca itu datang dari kalangan generasi muda. Shelvia, Dinia, dan Azzia, tiga siswa SMK Profita, turut mengapresiasi karya sastra Heri Isnaini, termasuk buku antologi cerpen dan buku puisi Sajak-Sajak Tentang Lie. Perjumpaan sederhana antara siswa dan buku ini menghadirkan satu catatan penting tentang keberlangsungan sastra di lingkungan pendidikan.
Membaca karya sastra bukan sekadar kegiatan mengenali kata, memahami kalimat, atau mengikuti jalan cerita. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk memasuki pengalaman orang lain, menyelami pergulatan batin tokoh, serta menemukan makna yang mungkin belum pernah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Cerpen mengajak pembaca menelusuri kehidupan melalui peristiwa dan karakter, sementara puisi membuka ruang bagi perasaan, ingatan, dan tafsir yang lebih personal. Keduanya dapat menjadi jalan bagi siswa untuk mengenali kehidupan dari cakrawala yang berbeda.
Apresiasi Shelvia, Dinia, dan Azzia memperlihatkan bahwa buku sastra masih memiliki ruang di tengah kehidupan generasi muda. Kehadiran teknologi digital dan derasnya arus informasi memang mengubah kebiasaan membaca, tetapi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan manusia terhadap cerita dan bahasa yang mampu menyentuh pengalaman batinnya. Tantangannya terletak pada bagaimana buku diperkenalkan, didekatkan, dan diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan siswa.
Bagi penulis, apresiasi semacam ini juga mengandung makna yang lebih dalam. Ketika sebuah buku berpindah dari meja penulis ke tangan pembaca, karya itu mulai menjalani kehidupan yang berbeda. Penulis tidak lagi sepenuhnya menguasai maknanya, sebab pembaca membawa pengalaman, pengetahuan, dan kepekaannya sendiri ketika berhadapan dengan teks. Di situlah sastra menemukan kemungkinan-kemungkinan baru: sebuah cerita dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman pribadinya, sedangkan sebuah puisi dapat menghadirkan pertanyaan yang tinggal lebih lama daripada saat halaman terakhir dibaca.
Perjumpaan Shelvia, Dinia, dan Azzia dengan karya Heri Isnaini menjadi pengingat bahwa budaya literasi tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar. Ia dapat tumbuh dari peristiwa sederhana: seorang siswa memegang buku, membaca beberapa halaman, kemudian menemukan sesuatu yang terasa dekat dengan dirinya. Dari pengalaman kecil semacam itu, kebiasaan membaca dapat berkembang menjadi kecintaan terhadap bahasa, keberanian menafsirkan, dan kesediaan memahami kehidupan melalui beragam perspektif.
Semoga apresiasi ini menjadi bagian dari tumbuhnya iklim literasi yang lebih hidup di lingkungan sekolah. Sebab, buku yang baik tidak hanya menunggu untuk dibaca, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antara penulis, pembaca, dan kehidupan itu sendiri. Ketika generasi muda bersedia memberi tempat bagi sastra, selalu ada harapan bahwa kata-kata akan terus menemukan jalan untuk tumbuh, bahkan jauh setelah penulisnya selesai menuliskannya.












Tinggalkan Balasan