
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Nisa Fitria
Malam…
Ia merayap pelan di luar sana, ketika jemariku menelusuri baris demi baris kisah tentang seseorang bernama Lie dalam sebuah prosa.
Tidak ada yang istimewa pada malam itu, kecuali selembar cerita yang diam-diam sedang mencari jalan menuju bagian paling sunyi dalam diriku. Di sana ada keheningan yang teramat asing, ada sebuah pilu yang tidak berteriak, menyusup halus seperti kabut malam yang membasahi sudut-sudut jiwa yang tak terjamah.
Awalnya, kukira aku hanya sedang membaca kisah cinta. Hingga tanpa kusadari, mataku mulai berhenti lebih lama pada setiap kalimat, seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang menahan jemari ini agar tidak lekas membalik halaman. Begini katanya,
”Banyak orang mengira cinta adalah memiliki. Padahal, mungkin cinta adalah kemampuan untuk menjaga sesuatu tetap hidup, meskipun tidak pernah menjadi miliknya.”
Kalimat itu tidak sekadar kubaca. Ia menghujam pelan, meresap ke dalam petak-petak dadaku. Ada rasa sesak yang tiba-tiba berdesakan di tenggorokanku. Itu sanggup meremukkan ketenangan malamku saat ini.
Aku meraih cangkir, menyesap perlahan cairan pekat yang masih menyimpan sisa-sisa hangatnya. Rasa pahit yang menyapu lidah seketika beradu dengan keheningan kamar yang kian membeku, seolah menyadarkanku bahwa ada kepedihan yang jauh lebih pahit sedang bersembunyi di balik tiap lembaran di hadapanku. Aku memandangi uap tipisnya membubung pelan di udara sebelum akhirnya mataku kembali terkunci pada kisah di pangkuanku.
Membaca lembaran demi lembaran itu terasa seperti menggenggam selembar kertas tua di bawah remang lentera. Setiap kalimat yang dituliskan oleh sosok tanpa nama dalam cerita itu merambati nadiku, menyintesis rasa perih tentang bagaimana ingatan sanggup menyembunyikan seseorang yang pernah menjadi seluruh semesta. Di antara wangi secangkir kopi yang ditinggalkan setengah penuh dan tumpukan sajak di dalam kotak kayu kecil, aku terseret masuk ke dalam heningnya dunia Lie. Aku menyaksikan sebuah bentuk cinta yang teramat sunyi, cinta yang tidak pernah menuntut wujud, tidak meminta balasan, dan hanya hadir seperti cahaya pagi yang menembus celah jendela tanpa pernah berisik memamerkan hangatnya.
Makin jauh mataku menelusuri sajak-sajak itu, makin aku menyadari betapa kejam sekaligus indahnya cara waktu menyembunyikan seseorang. Bagaimana mungkin kita sanggup melupakan rupa sosok yang pernah menjadi seluruh semesta, sementara kelembutannya masih terus memanggil kita untuk pulang ke tempat pertama kali langit membawa kita pergi?
Lalu, tatkala cerita itu membawa Lie melangkah ragu menuju lorong-lorong ruang tunggu bandara, dadaku kian sesak oleh ngilu yang tak bernama. Ada kepedihan yang begitu runcing di sana. Di sana, aku tak lagi membaca dengan tenang. Jari-jariku menggenggam ujung halaman, sementara mataku mengikuti setiap kata dengan perasaan yang kian sukar kujelaskan. Ada yang begitu menyakitkan dari sebuah penantian yang tidak gaduh. Tidak ada tangisan yang meminta didengar, tidak ada langkah yang memaksa seseorang untuk kembali. Hanya ada Lie yang berdiri terpaku di antara derap langkah koper dan riuh perpisahan orang-orang asing, serta aku yang tertahan dalam napas yang kian memburu.
Aku menutup buku itu perlahan, tetapi kisahnya tidak ikut tertutup. Di hadapanku, halaman terakhir telah kehilangan suara, tetapi kalimat-kalimatnya terus bergaung di dalam kepala. Aku mengusap halaman terakhir dari cerita itu, seakan-akan ada sesuatu yang tertinggal di sana dan belum sempat kuselamatkan. Malam semakin larut, dan aku masih duduk bersama kesedihan yang entah milik siapa. Mungkin milik Lie. Mungkin milik seseorang yang selama ini menunggu tanpa pernah meminta ditemukan. Atau mungkin milik bagian kecil dalam diriku yang diam-diam takut dilupakan, tetapi lebih takut lagi jika suatu hari harus melupakan seseorang yang pernah mencintaiku dengan begitu tulus.
Sejak malam itu, aku mengerti bahwa beberapa cerita tidak selesai ketika halaman terakhir dibaca. Ada cerita yang justru mulai hidup setelah buku ditutup, menetap di sela-sela napas, menyelinap ke dalam doa, dan membuat kita memandang dunia sedikit berbeda. Sajak-Sajak tentang Lie telah mengajariku satu hal yang sederhana sekaligus menyakitkan: bahwa tidak semua orang yang mencintai akan tinggal, tidak semua yang pergi benar-benar hilang, dan tidak semua penantian ditakdirkan berakhir dalam pelukan.
Malam itu, ketika akhirnya aku beranjak, ada satu pertanyaan yang kubawa bersamaku: jika suatu hari ingatanku mengkhianatiku, jika wajah-wajah yang kucintai perlahan menjadi asing, akankah ada seseorang yang masih mengingatku dengan utuh? Seseorang yang menyimpan hal-hal kecil tentangku, yang tahu bagaimana aku diam ketika terluka, yang mengenali lelah di balik senyumku, dan yang tetap menyebut namaku dalam hati meski dunia telah lama berhenti melakukannya?
Tapi…
Aku tidak menemukan jawabannya malam itu. Aku hanya tahu, betapa rapuhnya kesempatan untuk saling mengingat, saling menemukan, dan saling mencintai sebelum waktu mengambil semuanya.
Cimahi, 14 Oktober 2026












Tinggalkan Balasan