Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Membaca Kenangan, Kehilangan, dan Rumah dalam Antologi Cerpen “Sajak-Sajak tentang Lie”

[Sumber gambar: dokumentai penulis]

Penulis: Nida Nur Auliya

Buku antologi cerpen Sajak-Sajak tentang Lie karya Heri Isnaini mengangkat tema rindu yang tidak sederhana. Berdasarkan sinopsis pada sampul buku, rindu dalam antologi ini tidak hanya ditujukan kepada seseorang, tetapi juga kepada masa kecil, rumah, orang tua, bahkan bagian dari diri sendiri yang tanpa sadar telah kita tinggalkan. Sudut pandang tersebut menarik karena menempatkan rindu sebagai pengalaman manusia yang luas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tokoh Lie hadir sebagai nama, sebagai tokoh, sekaligus sebagai ingatan yang menghubungkan cerita-cerita di dalam buku ini.

Dari daftar judulnya, antologi ini memperlihatkan keberagaman suasana dan kemungkinan pengalaman yang ditawarkan kepada pembaca. Ada judul yang terdengar puitis dan sendu, seperti “Perempuan yang Menenun Hujan”, “Burung yang Tidak Pulang saat Senja”, dan “Nama-Nama yang Hilang”. Ada pula judul yang terasa dekat dengan kehidupan keluarga, seperti “Sepeda Tua Kakek” dan “Kakek Penjual Bunga”. Sementara itu, “Surat Keputusan Masa Persiapan Lebaran (SKMPL)” menghadirkan kesan yang lebih jenaka, selaras dengan sinopsis yang menyebut humor sebagai salah satu cara rindu hadir. Beberapa judul juga menyebut Lie secara langsung, misalnya “Senja untuk Lie” dan “Lie, di Beranda Itu Aku Menunggumu”. Menurut saya, keberadaan judul-judul tersebut membangun benang merah yang menarik, meskipun setiap cerita memiliki ruang dan persoalannya sendiri.

Hal yang membuat gagasan rindu dalam buku ini menarik adalah kemampuannya menjangkau pengalaman yang sering kali luput dari perhatian. Rindu tidak selalu muncul dalam peristiwa besar atau perpisahan yang dramatis, tetapi bisa hadir melalui benda sederhana, suasana rumah, percakapan yang telah lama berlalu, atau kebiasaan seseorang yang kini hanya tersisa dalam ingatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap baru menyadari arti sebuah kehadiran setelah sesuatu atau seseorang tidak lagi berada di dekat kita. Karena itu, tema rindu dalam antologi ini berpotensi mengajak pembaca mengenali kembali pengalaman personal yang selama ini tersimpan, bahkan pengalaman yang semula dianggap biasa saja.

Nama Lie juga menarik untuk diperhatikan sebagai kemungkinan pusat ingatan dalam antologi ini. Lie bukan semata-mata nama yang disebut dalam beberapa judul, melainkan dapat dibaca sebagai penghubung antara berbagai pengalaman emosional yang tersebar dalam cerita. Pembaca mungkin akan bertanya-tanya, siapakah Lie sesungguhnya, mengapa namanya hadir kembali, dan bagaimana keberadaannya berkelindan dengan tokoh-tokoh lain dalam buku tersebut. Pertanyaan semacam ini membuka ruang penafsiran yang membuat pembacaan sastra menjadi lebih personal. Setiap pembaca dapat menemukan Lie yang berbeda, sesuai dengan pengalaman kehilangan, perjumpaan, dan kenangan yang mereka bawa ketika membaca.

Dari sisi pilihan judul, antologi ini juga memberikan kesan bahwa pengalaman manusia dapat dihadirkan melalui beragam nada penceritaan. Judul yang puitis menawarkan suasana kontemplatif, sedangkan judul yang dekat dengan kehidupan keluarga menghadirkan kemungkinan cerita yang lebih akrab dan membumi. Kehadiran judul yang bernuansa humor memperlihatkan bahwa rindu tidak selalu harus disampaikan dengan kesedihan. Ada kalanya kenangan justru membuat kita tersenyum karena sesuatu yang dahulu terasa biasa kini menjadi berharga. Perbedaan nada tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena pengalaman emosional manusia memang tidak pernah berdiri dalam satu warna.

Secara keseluruhan, Sajak-Sajak tentang Lie tampak menjanjikan bagi pembaca yang menyukai cerita bernuansa renungan tentang cinta, kehilangan, keluarga, dan kenangan. Saya sendiri belum selesai membaca seluruh cerita di dalamnya. Namun, berdasarkan sinopsis dan judul-judul yang tercantum, buku ini menarik untuk dijelajahi lebih jauh, terutama bagi pembaca yang menyukai bacaan dengan ritme tenang dan ruang refleksi yang cukup luas. Bagi pembaca yang terbiasa dengan alur cepat dan konflik yang bergerak intens, suasana kontemplatif semacam ini mungkin terasa lebih lambat. Akan tetapi, ketenangan tersebut justru dapat menjadi daya tarik bagi mereka yang ingin menikmati cerita tanpa harus tergesa-gesa sampai pada akhir.

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa membaca bukan hanya kegiatan mengikuti perjalanan tokoh atau mencari penyelesaian konflik, melainkan juga kesempatan untuk berjumpa kembali dengan pengalaman diri sendiri. Sebuah cerita dapat membawa kita pada kenangan yang telah lama tersimpan, mempertemukan kita dengan sosok yang pernah berarti, atau menyadarkan kita bahwa ada bagian dari kehidupan yang belum sepenuhnya selesai kita pahami. Barangkali, di antara cerita-cerita dalam Sajak-Sajak tentang Lie, pembaca tidak hanya akan menemukan Lie sebagai tokoh, tetapi juga menemukan sesuatu yang lebih dekat: dirinya sendiri, rumah yang dirindukan, atau seseorang yang namanya masih tinggal dalam ingatan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *