
[sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Syawalya Andhita Ginara
Dua karya Heri Isnaini, antologi esai Susu Mbok Darmi dan Seni Menjual Ketaksaan serta antologi cerpen Sajak-Sajak tentang Lie, menawarkan ruang pembacaan yang mempertemukan bahasa, makna, dan pengalaman manusia. Keduanya dapat menjadi bahan apresiasi sastra sekaligus latihan untuk memahami bahwa sebuah persoalan tidak selalu selesai ketika dibaca melalui satu sudut pandang. Dalam bahasa, selalu ada kemungkinan tafsir; dalam cerita, selalu tersedia ruang bagi pembaca untuk menelusuri makna yang tidak seluruhnya dinyatakan secara langsung.
Antologi esai Susu Mbok Darmi dan Seni Menjual Ketaksaan menarik dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami hubungan antara pilihan bahasa dan cara manusia berpikir. Ketaksaan, dalam konteks ini, bukan sekadar kerancuan makna, melainkan kemungkinan hadirnya lebih dari satu penafsiran terhadap suatu persoalan. Pembaca diajak untuk tidak tergesa-gesa menerima makna yang tampak di permukaan, tetapi menimbang konteks, pilihan kata, dan sudut pandang yang membentuknya. Dari proses tersebut, membaca menjadi kegiatan berpikir kritis, bukan sekadar menemukan informasi.
Sementara itu, antologi cerpen Sajak-Sajak tentang Lie menghadirkan kemungkinan pembacaan yang mempertemukan puisi, cerita, dan sosok atau konsep bernama Lie. Hubungan yang tersirat dalam judulnya dapat menjadi titik berangkat untuk menelusuri bagaimana unsur puitik bekerja di dalam prosa, bagaimana sebuah tokoh atau gagasan memperoleh makna, serta bagaimana pembaca membangun tafsir melalui peristiwa dan bahasa cerita. Apresiasi terhadap cerpen tidak berhenti pada pemahaman alur, tetapi juga mencakup perhatian terhadap cara pengarang menyusun pengalaman menjadi narasi.
Membaca kedua karya tersebut pada dasarnya merupakan latihan untuk merawat ketelitian dalam memahami bahasa dan keterbukaan dalam menafsirkan makna. Pembaca belajar bahwa teks tidak selalu menyediakan satu jawaban yang mutlak, sementara perbedaan tafsir perlu disertai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Di situlah nilai penting kedua karya Heri Isnaini: sastra dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kecermatan membaca, keluasan perspektif, dan keberanian berpikir tanpa tergesa-gesa menutup kemungkinan makna.
Kedua karya tersebut juga memperlihatkan pentingnya posisi pembaca dalam proses pemaknaan. Teks sastra tidak hadir sebagai benda mati yang hanya menunggu penjelasan, tetapi membuka hubungan antara bahasa yang ditulis pengarang dan pengalaman yang dibawa pembaca. Seseorang mungkin menemukan persoalan yang berbeda ketika membaca sebuah esai dibandingkan dengan pembaca lainnya, demikian pula ketika menelusuri tokoh dan peristiwa dalam cerpen. Perbedaan itu tidak dengan sendirinya menandakan adanya pembacaan yang keliru, sebab penafsiran dapat berkembang melalui latar pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan masing-masing pembaca, selama tetap berpijak pada bukti yang terdapat di dalam teks.
Dalam konteks pendidikan, Susu Mbok Darmi dan Seni Menjual Ketaksaan serta Sajak-Sajak tentang Lie dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan membaca yang lebih reflektif. Pembaca dapat diajak mengidentifikasi persoalan, menelusuri pilihan bahasa, membandingkan kemungkinan makna, dan menyampaikan alasan atas tafsir yang dikemukakan. Kegiatan semacam ini penting karena keterampilan membaca tidak cukup diukur dari kemampuan menemukan informasi tersurat. Pembaca juga perlu belajar mengenali asumsi, mempertimbangkan konteks, dan menguji apakah suatu kesimpulan benar-benar didukung oleh teks yang dibacanya.
Hal lain yang menarik ialah kemungkinan mempertemukan pembacaan esai dan cerpen dalam satu kegiatan apresiasi. Esai dapat menjadi pintu masuk untuk mendiskusikan cara bahasa membentuk pemahaman, sedangkan cerpen memberi kesempatan kepada pembaca untuk mengamati bagaimana persoalan manusia dihadirkan melalui tokoh, peristiwa, dan struktur cerita. Dengan memperbandingkan kedua bentuk tulisan tersebut, pembaca dapat memahami bahwa gagasan tidak hanya disampaikan melalui argumentasi langsung, tetapi juga dapat tumbuh melalui pengalaman naratif. Perbedaan bentuk sastra justru memperkaya cara kita mendekati suatu persoalan.
Membaca kedua buku Heri Isnaini, dengan demikian, dapat menjadi kesempatan untuk melatih ketekunan dalam berhadapan dengan bahasa dan keragaman makna. Pembaca tidak perlu buru-buru menetapkan satu tafsir sebagai satu-satunya kemungkinan, tetapi juga tidak berarti semua penafsiran dapat diterima tanpa pertimbangan. Keterbukaan perlu berjalan bersama ketelitian, sedangkan kebebasan menafsirkan perlu disertai kesanggupan menjelaskan dasar pembacaannya. Dalam pertemuan antara keduanya, kegiatan membaca memperoleh arti yang lebih luas: bukan hanya memahami apa yang dituliskan pengarang, melainkan juga memeriksa bagaimana kita membangun pengertian tentang teks, orang lain, dan dunia yang kita alami.












Tinggalkan Balasan